Kematian itu, Pasti.

Kematian itu, Pasti.




Februari 2016, hujan jatuh begitu deras diminggu pertama dibulan itu. Duka datang dikeluarga besar.
Kepedihan mendalam, sebuah garis tangan yang nyatanya benar-benar ada.
Sesuatu yang akan terjadi kepada setiap manusia.

Pagi itu, langit mendung seperti ikut berduka. Tak ada percakapan yang menarik seperti biasanya ketika ku ayunkan kaki kekampung halaman. Melainkan, mendung kepada setiap mata. Air mata yang tumpah, banjir hingga mengering sendiri terkuras sudah.
Semua orang menangis berderai-derai.
Hanya satu orang yang nampak tersenyum dalam tidurnya.
Anak remaja itu nampak tenang dalam tidurnya yang nyenyak, seperti tersenyum. Sungguh ia begitu nyaman dalam lelapnya.

Hujan yang jatuh turun begitu nyaring, satu persatu namun pasti. Seakan mengiringi setiap jerit tangis keluarga. Namun, entah mengapa sosok pria yang baru kelas 2 SMA itu tidur begitu nikmat.

Bukan hanya mataku yang bengkak karena semalaman tidak tidur dan air mata yang terus mengalir.
Sepupuku, engkau benar pergikah?

Senin itu, adalah untuk pertama kalinya aku melihat sebuah prosesi akhir dari sebuah kehidupan didunia ini. Yakni, tentang terbujuru kakunya seorang mahluk Allah, dimandikannya, dikafani, dishalatkan dan dikebumikan. Diri ini seperti ditampar-tampar dan diingatkan sekali lagi, bahwa kematian itu, pasti.

Dia anak yang baik juga soleh.
Semua orang tahu persis bagaimana sikapnya kepada semua orang.
Ia anak remaja yang mencintai Al-qur'an dan sering mengajak teman-temannya untuk hal yang baik.
Ya, Allah hingga detik inipun aku masih belum percaya jika ia telah kembali kepada-Mu.

Wajah itu sangat tenang, seperti saat dulu semasa hidupnya ia berbicara kepadaku.
Tenang dan polos, itu yang ku ingat.
Namun, usianya yang belum genap 17 tahun ia harus beranjak meninggalkan hidup didunia ini untuk melanjutkan hidup selanjutnya.

Saat prosesi penguburan, hujan semakin deras jatuh kebumi.
Sepertinya langit ikut menangis dan semua malaikat turun memberikan ketenangan diantara hujan yang jatuh.
Ya, Allah itu sungguh hal pertama yang kulihat, manakala hujan jatuh mengiringi kepergian hamba-Mu dengan begitu teduh.
Namun, Subhanallah saat 7 langkah kaki meninggalkan rumah terkahirnya, langit terang sungguh hujan berhenti. Sementara angin kesejutkan seperti menyapu sum-sum tulang. Sungguh semilir anginnya begitu sejuk.


Kematian itu pasti. Akan datang kepada setiap mahluk ciptaan-Nya.
Lalu buat apa kita yang hanya tercipta dari tanah dan hanya tulang belulang ini selalu bersikap sombong?
Terlebih kesombongan hati yakni melupakan setiap perintah-Nya,

Kepergiannya membuatku menangis atas rasa kehilangan saudara.
Namun, kepergiaannya itu membuatku menangis sejadi-jadinya.
Menyadarkan bahwa hidup ini hanya sebentar sekali. Dan kematian itu sangat dekat dan pasti.

Aku menangisi diri sendiri, manakala kusadari aku akan merasakannya.
Menikmati setiap prosesnya, dimulai dari ditariknya roh ini dan berakhirnya nafas.
Terpejamnya mata untuk selama-lamanya.
Ditangisi keluarga, terbujur kaku.
Dimandikan untuk terakhir kalinya.
Digantikaan pakaian yang putih bersih, yang disebut kain kafan.
Dishalatkan oleh banyak orang, "Sungguh merugi jika semasa hidup kita meninggalkan Shalat." lihatlah hari itu saatnya tiba, kita yang akan dishalatkan oleh orang lain.
Dimasukannya didalam kereta yang sangat indah untuk pertama dan terakhir.
Dan dikuburnya tubuh ini dalam liang lahat, dimana tempat itu hanya ada diri seorang.
Sepi, tak ada teman dan gelap.

Kesendiran itu, seperti burung yang menepi dalam sebuah tempat.
Tak ada teman untuk mencari mangsa.
Bagaikan burung yang tak memiliki sayap untuk terbang.
Lalu, apa yang bisa diperbuat?

Manusia adalah mahluk yang pasti akan merasakan yang namanya kematian.
Tidak mengenal tua, muda, kaya, miskin, cantik, jelek atau imut sekalipun.
Semuanya, akan merasakannya kematian itu pasti.

Kematian itu sangat dekat.
Tidak tahu kapan akan datangnya.
Berserah diri kepada-Nya pemilik hidup adalah jalan yang terbaik.
Kembali kepada jalan yang benar, mencari Ridha-Nya.

Allah selalu membuka pintu maaf seluas-luasnya.
Dengan cinta-Nya ia ada.
Semoga nama-Nya selalu ada dihati kita.
Dan khusnul khotimah semoga menjadi akhir dihidup di dunia ini.

Cikarang, 1 Oktober 2016
Tumiesn
"Aku bukanlah manusia sempurna."


    Artikel (Inspirasi)dari kategori yang sama
    Ketika Kita Semakin Dewasa
    Ketika Kita Semakin Dewasa(2020-07-06 05:48)

    Nikmat dari-Nya
    Nikmat dari-Nya(2020-05-04 18:23)

    Pakai Masker Ya!
    Pakai Masker Ya!(2020-04-04 23:11)

    Jangan Khawatir
    Jangan Khawatir(2020-04-03 13:41)


     
    Komentari Artikel ini
    Tumiku syg
    Posted by Mas al at 2016/10/23 13:17
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

    削除
    Kematian itu, Pasti.
      Komentar(1)