"Mak, Aku Mau Nikah."

Mak, Aku Mau Nikah.

Bismillahirohmanirohim.
Alhamdulillah, tahun 2020 sudah menyapa. Semoga panjang umur dan setiap tulisan Tumiesn ada manfaatnya ya. Dan Allah tetap mengizinkan saya untuk terus menulis.
Semoga 365 hari menulis di tahun 2020 tanpa henti bisa terus terlaksana. Tidak gagal seperti rencana tahun sebelumnya hehe.

Ditulisan pertama diblog ini, sengaja saya mau bercerita tentang sebuah pembaharuan, perenungan dari niatan. Muhasabah diri dari kegagalan. Kalibrasi hati yang sempat salah jalan.

Siang ini di tanggal 1 Januari 2020 mungkin waktu yang tepat untuk bercerita dan bicara minta restu, kali ini bukan hanya ingin. Tapi sebuah ikhtiar yang harus sungguh-sungguh. Mengingat kembali salah satu cita-cita yakni menikah tahun 2019 setelas wisuda dipendidikan stara satu pupus.
Tapi, mungkin karena memang belum waktunya, belum dipertumukan dengan yang tepat. Tahun 2019 mengalami gagal, patah hati dan sepertinya harus kalibrasi hati hehehe.

Siang ini telphone Mamak, yang kebetulan sedang berkunjung ke Palembang, Sumatera Selatan. Dan yang mengangkat Mbak ke dua dari anak Mamak. Dan dia pun menggoda, "Kenapa sih nyariin Mamak terus, perasaan tadi pagi baru telphone."

"Kan aku memang selalu telephone Mamak." aku tertawa.

"Ooh iya ya, iya." hanphone jadul itu pun dikasih ke Mamak yang sedang asik memantau dua cucuk yang lagi main yakni Fajril (anak mbak ke 3) dan Nauval (anak mbak ke 2).

Seperti biasa setelah tanya sedang apa, sudah makan atau belum, dan sebagainya. Saya mulai berbisik dibalik handphone pintar yang bisa download beberapa aplikasi selagi ada internet dan ada memori.

"Mak, aku mau bicara serius. Tapi jangan ada yang dengar."

Mamak menurut dan pindah tempat.

"Mak, aku mau nikah. Aku mau coba ikhtiar dengan taaruf ya. Bolehkan?"

"Ooh iya."

"Doakan aku ya dapat yang terbaik tanpa harus menyebutkan nama dia lagi (sesorang yang menurut saya pernah spesial dan sempat diperjuangkan tapi belum ada jalan kejelasan bahkan sudah hilang selera harapan, berhenti diujung jalan."

"Iya, mamak doakan."

"Mak, kasih aku nasihat untuk melangkah menikah."

"Siapapun dia, kalau serius cari mamak, temui mamak. Cari dimana mamak tinggal. Dan pertemukan dengan keluarga, bicarakan."


Yah, Mamak memang selalu sederhana dalam memandang sesuatu. Bahkan soal pilihan beliau menyerahkan keanaknya, tanpa menuntut ini dan itu. Hanya sering berpesan, "Kalau menikah dengan lelaki sederhana saja, tidak usah yang kaya raya. Tapi kamu dan dia mau sama-sama berusaha menggapai impian bersama."


Setelah percakapan tentang minta izin dan ku ceritakan tentang menata niat ulang, mempebaharui niat dengan matang. Beliau mengaminkan.

Setiap orang tua itu sederhana, menyimpulkannya pun tidak pernah rumit. Mungkin saja perjalanan seorang anak terasa rumit dalam menemukan jodohnya adalah salah satu ujian. Tentang hidup yang tidak sekadar basa-basi, tapi akan ada konsekuensinya dalam setiap pilihan yang diambil.


Untuk menuju menikah dari sendiri menjadi berdua, dengan siapa pun yang nanti Allah pilihkan, sandingkan. Pelajaran berharga adalah untuk menemukan cinta atau ditemukan itu tidak sekadar jatuh hati, tapi ada usaha dan nilai-nilai tersendiri dalam kriteria yang dicari.

Menikah tidak bisa hanya asal menikah. Bukan soal naksir semata. Tapi ada keyakinan yang dimana jika bersamanya hidup akan tentram. Bersamanya semakin dekat dengan Allah.

Menikah untuk siap jatuh cinta berulang-ulang, siap merawatnya dengan keadaan apapun yang akan terjadi dikemudian hari.

Menikah adalah bukan sekadar ingin, tapi benar-benar sudah siap lahir dan batin. Saling melengkapi dan niat ibadah dibulatkan. Sebab, dengan menikah itu artinya menjalankan ibadah terpanjang sepanjang hidup.

Bersamanya yang nanti siapapun Allah pilihkan, akan terus bertumbuh bersama. Hijrah cinta untuk mendekap cinta-Nya, menggapai cita-cita masuk surga dengan melalui ibadah lewat rumah tangga. Menyusun tangga, membangun surga.

Menikah sekali saja, mencintai selamanya.
Menjalankan ibadah bersama-sama, menentramkan hati dan jiwa.
Melahirkan dan mendidik generasi yang mencintai Islam.

Cikarang, 1 Januari 2020

-Tumiesn-
#Day1-OF-365D

    Artikel (365 Hari Menulis 2020)dari kategori yang sama
    Tahun ke-13 di Tanah Rantau
    Tahun ke-13 di Tanah Rantau(2020-07-11 08:18)

    Ketika Kita Semakin Dewasa
    Ketika Kita Semakin Dewasa(2020-07-06 05:48)

    Pakai Masker Ya!
    Pakai Masker Ya!(2020-04-04 23:11)

    Jangan Khawatir
    Jangan Khawatir(2020-04-03 13:41)


     
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

    削除
    "Mak, Aku Mau Nikah."
      Komentar(0)