Madrasah Pertama Penuh Cinta




Sebuah buku yang ditulis sejak Oktober hingga Desember 2019. Dan hari ini mendarat di Cikarang dari penerbit @temannulis.id .
Sebuah karya non fiksi pertama yang saya buat. Spesialnya lagi buku ini ditulis bukan saya sendirian, tapi dengan 6 Ibu-Ibu lainnya.
Para Ibu yang saya tahu mereka sibuk bekerja, bekerja selama 24 jam untuk keluarga, belum lagi ada yang menambah pekerjaan di luar rumah.

Setiap Ibu bagi saya adalah wanita karir, baik itu berkarir di luar atau di dalam rumah.
Jangan pernah bilang, "Istri nganggur! Atau jadi Ibu diem-diem bae."
Serius gak ada perempuan yang menganggur di dunia ini, kecuali kalau sudah hilang akal sehat hehehe.

Btw proses penulisan buku ini tuh unik banget, gimana gak unik. Para Ibu-Ibu ini setor tulisan melalui whatsapp karena keterbatasan alat menulis (baca : laptop/komputer). Namun, mereka semua keren, mampu diajak kerja sama untuk menyelesaikan 1 buku bersama.

Seorang ibu adalah madrasah pertama penuh cinta.
Untuk kamu yang sudah menjadi ibu semangatlah dengan perjuangan menjadi ibu, semoga akan menjadi pahala dan hadiahnya surga.

Untuk kamu yang sedang berjuang untuk menuju (menjadi) ibu, tetap semangat jangan pantang menyerah.

Dan doakan saya juga, semoga kelak saya bisa menjadi ibu yang sebagaimana seharusnya.





Cikarang, 16/3/2020
-Tumiesn-




    Perencanaan atau Kosong?





    Selamat tanggal 1 di awal tahun, 2019.
    Nah, untuk tulisan di awal tahun ini saya mau bercerita tentang sebuah perencanaan.
    Bagi setiap orang pasti udah mulai sibuk ya dari kemarin-kemarin untuk membuat planner di tahun 2019.
    Tentang perencanaan apa sih yang akan di buat untuk di capai?

    Tahun baru bagi saya sendiri bukan untuk sebuah perayaan, hura-hura. Tapi lebih ke perenungan, introspeksi diri.
    Ingat lagi tahun-tahun sebelumnya (bukan hanya 2018) kira-Kira adakah perencanaan yang pernah dibuat lalu gagal?
    Adakah setiap perjalanan yang di lewati banyak menyakiti orang lain, baik lisan maupun tulisan?
    Tentang sikap dan sifat yang pasti jauh dari kata sempurna sehingga banyak menyebalkannya?

    Awal tahun mungkin kita (sebagian orang) akan sibuk membuat resolusi untuk hidup lebih baik lagi.
    Bisa di tulis di Buku catatan Kecil atau di pajang di dinding dengan ukuran yang besar (terlihat).
    Tetapi, kadang kita justru sibuk mengoreksinya di akhir tahun saja, bukan Setiap hari (termasuk saya)
    Perencanaan atau kosong? alias sekadar gemes-gemes menulis keinginan di awal tahun, tapi tindakan? Akh.. Kalau itu hanya pribadi kita sendiri yang tahu.

    Lalu apakah menuliskan perencanaan itu perlu?
    Menurut saya, perlu.

    Menulis planner merupakan salah satu cara bersyukur, mawas diri, melatih lebih disiplin, dan membuat ingatan kita lebih baik dan tetap memiliki keinginan untuk tumbuh dalam kehidupan (asal Jangan hidup kita termakan ambisi dunia).

    Perencanaan dengan di imbangi ACTION akan lebih baik bukan?
    Dari pada hanya sekadar Kosong alias lembaran kertas tertulis tapi aksinya NOL.

    Kita hidup sebentar saja di dunia, dan yuk merancang hidup lebih bermakna.
    Bebas, semua orang memiliki caranya sendiri. Tapi harus ingat kembali setiap tindakan harus ada alurnya dan tanggung jawabnya.
    Termasuk perencanaan, kita yang membuat dan kita pula lah yang bertanggung jawab dengan cara action jangan di abaikan.

    2019 move on, dari malas menjadi giat.
    Dari tak ada tujuan mari memiliki tekad untuk bertujuan.
    Dan dari yang sendiri semoga di segerakan bertemu dengan teman, teman hidup.

    Cikarang, 1 Januari 2019

    -Tumiesn-
    1 of 365


    #30HARIBERCERITA #30hbc19 #tumiesn #mudaberkarya #2019