Tahun ke-13 di Tanah Rantau




~lanjutan dari tulisan ramadhan tahun ke 14.

Banyak pelajaran yang tertemukan selama merantau sejak tahun 2007 hingga hari ini, alhamdulillah.
Tentang bagaimana menggapai impian dengan meneruskan sekolah, cita-cita, perjuangan hidup, dan masih banyak lagi warna-warninya. Semua itu tidak lepas dari doa seorang Mamak.

Sudah 7 purnama tidak merapat ke kampung halaman. Rasa rindu terasa bertumpuk. Bukan aku saja, pasti banyak kawan sejagad raya yang merantau memilih menahan rindu yang menggebu demi kesehatan bersama.

Cukup was-was kemarin dapat informasi ulang tentang update insan manusia yang terkena covid-19, masa new normal yang justru meningkat. Entah sampai kapan kondisi wabah masih setia melalang buana di bumi ini.

Protokol kesehatan perlu dijaga, bukan hanya untuk diri sendiri saja, tetapi juga untuk banyak orang lain. Pergi-pergi masih minim dilakukan, yang sangat urgent-lah yang dilaksanakan. Hingga ternyata lihat galeri photo-photo kenangan lama yang masih berkuasa, belum ada photo baru karena efek kebanyakan dirumah.

Ternyata dengan kebayakan di rumah saja kita harusnya banyak belajar, apa lagi bagi perempuan. Tentang nikmatnya menjaga rumah.

Rindu memang, sudah lama tak menyapa sanak saudara di tanah Sumatera. Rindu sekali. Hanya baru via suara untuk saling bercakap pesan, nasehat, pendapat dan oborlan sederhana saja atau sekadar tanya kabar. Ya, baru itu yang dibisa, sebab belum berani singgah ke sana, bukan tak sayang, justru karena sayang.

Merantau di tahun ke 13 banyak mengajarkan hal. Tapi aku memilih mengingat yang positif saja. Banyak hal yang harus disyukuri, hingga hari ini. Begitu baiknya Allah, alhamdulillah.

Rindu memang berat, maka sapa-lah orang tua sesering mungkin. Jika yang masih satu atap sering-sering ajak berbincang sederhana tapi penuh kehangatan, jika yang jauh jangan kalah, bisa menggunakan alat teknologi yang sudah tersedia. Banyaklah minta maaf ketika alfa tak berkabar, dan banyak-banyaklah saling mendoakan keluarga, khususnya orang tua. Sebab orang tua tak pernah lalai mendoakan anaknya.

Cikarang, 11/7/2020

-Tumiesn-

lama by @widya_widya3

#tumiesn #rinduanakrantau




    Ramadhan Tahun ke 14 di Tanah Rantau Tanpa Seni Mudik Lebaran




    Tahun 2007 Allah menakdirkan jalan hidup seorang anak lugu dari tanah Sumatera ke Pulau Jawa.
    Seorang gadis remaja yang kala itu masih sangat polos mengadukan nasib peruntungan jauh dari pelukan seorang Mamak. Memulai hidup yang tak pernah terpikirkan sebelumnya untuk keluar dari kampung halaman.

    Kala itu, gadis remaja yang lugu dan belum mengetahui dunia luar berpegang banyak nasihat dari Mamak, tentang hidup yang harus berpijak pada kejujuran, pesan saling welas asih terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan, tentang hati yang harus belajar lapang, tentang pentingnya perempuan harus menjaga kehormatan, dan tentang "Jangan tinggalkan shalat."

    Gadis itu awal merantau disebabkan untuk meneruskan pendidikan, yang awalnya nasib sekolah tamat Mts. tak ada bayangan untuk mengenyam tingkat sekolah putih abu-abu apalagi menjadi sarjana seperti yang dilihat di sinetron-sinetron TV berlayar hitam putih.

    Gadis itu adalah aku, yang pada sekenario dari-Nya diri ini sangat bersyukur. Tentang banyaknya kasih sayang-Nya melalui proses kehidupan yang unik. Jalan cerita, kesempatan hidup hingga perlunya hati dan akal yang harus sigap memaknai hidup yang Allah beri.

    Tahun 2020 adalah ke 14 kalinya Ramadhan di tanah rantau. Biasanya beberapa hari jelang lebaran adalah moment mudik ke kampung halaman. Yah, bertemu dengan Mamak yang tak pernah Alfa selalu mendoakan anak-anaknya, bertemu keluarga besar yang melengkapi dalam ruang cerita. Kali ini, lebaran tahun ini, rasa rindu yang membuncah hanya mampu terlepas via suara. Sebab, peluk kali ini harus terjeda.

    Pulang kampung biasanya memang tak hanya terjadi setahun sekali saja, beberapa kali untuk melepas rindu dari anak gadis yang manja dipelukan Mamak.

    Tapi, aku tak sendiri.
    Ada kamu, ada mereka dan ada kita semua yang bernasib sama terhalang masa pandemi. Ketika hanya doa yang mampu sebagai pewakil penawar rindu.
    Tatkala kecanggihan teknologi sebagai media bertemu tanpa bercakap sempurna.
    Bersabarlah kita semua :)

    ~Bersambung...

    Cikarang, 20/5/2020
    -Tumiesn-

    #tumiesn #merantau #lebaran #ramadhan #tanahrantau #sumatera #lampung #pulaujawa #jawabarat #bekasi #cikarang #memaknaihidup #cerita #prosa




    Dari Aku untuk Diriku




    Ternyata usiamu sudah bertambah ya, hari ini Mamak bilang, "28 tahun sudah kamu lahir di dunia ini."

    Hingga akhirnya aku berpikir sejenak, tentang hidupku.

    Setiap bertambahnya angka usia dan sudah jelas itu artinya berkurang jatah hidup.
    Hal ini merupakan bahan evaluasi diri sendiri.

    Hal apa yang sudah dikerjakan?
    Kegagalan apa yang bikin ambyar?
    Gimana caranya introspeksi dari kegagalan?
    Sudahkah bermanfaat?
    Gimana niatan nikah sudah lurus?
    Prestasi apa yang sudah dicapai?
    Gimana bacaan Alqurannya, sudah terus diperbaiki?
    Gimana hafalannya, sudah sampai mana?
    Berbenah dirinya sudah seriusan?
    Cara bicara sudah gimana, masih ngegas-ngegas?
    Masih ngeyel-ngeyelan?
    Gimana pengaturan keuangan?
    Gimana konsisten ibadahnya?
    Gimana udah istiqomah?
    Gimana soal karya?
    Gimana soal manajemen waktunya?
    Dan gimana udah rela akan setiap takdir?
    dan gimana-gimana buat jalanin hidup dalam memanfaatkan sisa hidup yang gak tahu kapan akan pulang?

    Gimana? Sudah siap terus bergerak buat terus belajar jadi baik?

    "Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)."
    (QS. Ar-Rahman ayat 60)

    Cikarang, 14/3/2020
    -Tumiesn-

    #tumiesn #story #perjalanan #hidup #hijrah




    Pulang Kampung, Jam Terbatas




    Sejak usiaku masih belasan tahun tepatnya memutuskan untuk sekolah menengah kejuruan di jawa barat, aku kerap pulang pergi sendiri.
    Menghabiskan pagi hingga sore ataupun malam hingga pagi dalam setiap perjalanan.

    Mereka (Keluarga) akan menjadi aktor-aktor yang paling sibuk tatkala aku balik "Aku pulang ke Lampung ya."
    Saat sampai rumah mereka dengan riang menyambut anaknya yang belum jadi apa-apa ini tapi tetap bersyukur (insya Allah) dengan apa yang sudah dimiliki.

    Sebuah peluk hangat dan senyum, dan merapat. Mulai yayuk-yayuk (mbak) ada yang sibuk membuat makanan kesukaan ku meski itu sekadar "Aku pengen makan sama sambal dan ikan laut"

    Yah, sebuah keadaan hangat keluarga sederhana kami yang rumahnya berada di puncak gunung, dingin kalau malam. Tapi, itulah yang selalu ku rindu untuk bertandang pulang, meski kadang aku pulang hanya hitungan jam, pernah pagi sampai rumah malamnya harus balik lagi ke tanah rantau.

    Hingga kadang, aku berpikir "sampai kapan ya begini?"
    Tapi, aku balik berpikir lagi, pulang adalah tentang menuntaskan rindu dan sebuah pelukan hangat yang semoga bisa menyembuhkan yang sakit.

    Seperti kemarin saat jum'at siang ku dengar kabar Nini (nenek) sakitnya belum kunjung sembuh, aku panik dan sorenya memutuskan pulang, hanya ingin peluk.
    Yah, sebuah dekapan yang semoga Dia Sang Maha Cinta memberikan kesembuhan dalam kehangatan dan rindu.

    Dan ini Sebuah pulang yang ku tanya ke mamak, "Mak aku pulang di rumah kali ini cuma berapa jam ya?"
    Mamak menghitung, "30 jaman aja kayanya ya?"

    Aku tersenyum dan semoga saja kelak bisa pulang pergi kampung halaman tidak harus di batasi waktu, dan peluk menyembuhkan orang tersayang dengan melepaskan rindu.

    Kapal Dharma Kencana IX, 10-2-2019

    -Tumiesn-

    #tumiesn #story #perjalanan #curhat #keluarga




    Sepucuk Surat Cinta di November






    Untuk yang tercinta...

    November dibatas-batas waktu, aku tersenyum melihat bagaimana wajah haru mu.
    Kau memeluk ku, erat.
    Hari itu ku tanya, "kenapa engkau menangis?"
    Katanya, "dirimu amat bahagia, tak menyangka."

    Surat ini ku tulis untuk mu, biasanya sesuatu yang tertuju hanya untuk mu akan ku sampaikan, ku bacakan dan dibisikan pada telingamu bersama angin bahagia.
    Rasanya baru kemarin kau timang-timang aku, kau gendong aku, engkau saksikan pula bagaimana seorang anak kecil harus ikut terjun payung menggendong dagangan ke pasar untuk menyambung hidup.

    Masa kecil yang tak akan diluputkan, tentang berlatih berjuang kerasanya hidup, hujan yang tak diperdulikan ketika jatuh membaluri seluruh tubuh kecil itu tatkala menyebrangi sungai, mendaki dari perbuktikan satu ke perbukitan yang lain, juga tentang panas yang tak pernah dirisaukan, meski keringat bercucuran.
    Momentum kehidupan masa kecil untuk meraih impian, membantu mu dikebun tercinta yang mengandalkan musiman buah-buahan, mengayunkan kaki menggendong daganganmu ke para pemborong jualan mu, juga kaki ku yang tak pernah berkhianat untuk belari mengejar impian melalui pendidikan dimasa Sekolah dasar juga sekolah menengah pertama.

    Hari itu tatkala ku kenakan toga, aku yang katanya telah disahkan oleh perguruan tinggi, sebagai salah satu anak manusia yang mengemban amanah baru bukan sekadar tambahan huruf dibelakang nama. Engkau peluk aku, tak menyangka bagaimana anakmu ini bisa mengenakan kain itu yang tak pernah engkau bayangkan, sosok anak ingusan belasan tahun lalu yang hampir kandas berhenti sekolah Karena merasa malu atas cemohan bocah-bocah sebaya.

    Aku tersenyum, menangkap matamu.
    Dan kini ku paham, cintamu tak pernah hilang, do'a mu selalu terpanjat menembus langit, dan diturunkan hujan-hujan keberkahan.
    Terima kasih teruntuk engkau Mama,
    Kesetiaan dan cinta mu adalah pembuktian, kepada suami dan anak-anak mu, bahwa menikah sekali dan mendidik anak-anak semampu mu dengan do'a-do'a yang tak pernah di lupakan.

    Sepucuk Surat cinta di November, aku kini tahu rasanya jatuh cinta terhadap caramu mencintai keluarga, Mama.

    Cikarang, 30-11-2018

    -Tumiesn-
    #tumiesn #NulisAsikTebarManfaat
    #menulitpotensimanusia #lampung




    Terima Kasih Untuk Kamu Triangulasi Sumber (Pembaca, Penulis & Komunitas) Skripsi Solusi





    Perjuangan adalah aktualisasi bukan sekadar deskripsi dari gabungan kata-kata, seperti perjuangan hidup seseorang dalam merajut setiap asa, apa pun itu.

    2018, masa dimana saya harus berjuang di semester akhir. Tentang tugas akhir yang harus di hadapi, dilakoni dan bukan sekadar 'Menyusun Skripsi' tapi sebuah karya yang harus diperjuangkan & di pertahankan.

    Allah, baik sekali.
    Sebuah impian Skripsi yang telah saya idamkan sejak 2017, tentang kegelisahan-kegelisahan yang muncul sebagai seorang penulis pemula yang cukup merasa kesulitan dalam menyebarkan karyanya, sebuah pengaruh dari minat baca di lingkungan yang begitu minim, kesedihan hati yang menimbulkan tanya, mengapa? Kenapa? Ada apa? Dan harus bagaimana?
    Tapi, dibalik kegelisahan itu justru Allah kirimkan dosen yang memahami, mengerti dan mendukung sepenuh hati apa yang saya impikan, yakni #SkripsiSolusi

    Sejak semester awal, saya memang memiliki impian besar, bukan sekadar kuliah, berteman dengan satu kelas, pulang, cari uang buat bayar spp dan selesai. Tidak, hal seperti itu saya jauh-jauhkan, tapi bagaimana saya tumbuh mencari passion, membuka jaringan lebih luas, bukan soal nilai ipk, tapi value buat hidup saya, karena moment 4 tahun (kuliah harus tepat waktu) harus memiliki kisah yang unik, terkenang, mengesankan dan bisa diceritakan tentang persoalan perjuangan (cerita lengkap tentang perjalanan #Kuliah Tumiesn mungkin akan diceritakan di postingan selanjutnya ya).
    Semester awal saya pernah do'a minta sama Allah, "Ya Allah, kirimkan saya dosen yang mengerti saya."
    Sebuah do'a-do'a yang tak cukup sekali atau dua kali saya panjatkan, tapi berkali-kali.

    Suatu musim mendekati semester akhir Allah kabulkan do'a sejak semester awal yakni Allah dekatkan saya dengan seorang dosen Marketing yang sangat baik, dan memahami saya, alhamdulillah itu merupakan kado terbaik yang saya dapatkan.
    "Bu, saya ingin bikin Skripsi tentang buku, penulis dan blablabla."
    Dan beliau berdiskusi dengan suaminya, yapz, sebuah variabel yang ditemukan saat di komunitas MRC tahun lalu 'Personal Branding'

    2018, sejak Maret saya bolak-balik kampus curhat soal skripsi, tanya bagaimana dan harus seperti apa.
    Dan Allah kasih petunjuk, dengan mengirimkan dosen sepasang sprofesi di bidangnya, Bu Yunita & Pak Edy merekalah dosen inspirasi yang sangat membantu mewujudkan #SkripsiImpian #SkripsiSolusi
    Sebuah arahan-arahan yang terus saya ikuti dan pelajari, sebuah Skripsi berjenis Kualitatif Deskriptif berjudul, Tumiesn : Peta Mental Personal Branding Penulis Pemula (Aplikasi Zaltman Metaphor Elicitation Technique).
    Sebuah Skripsi yang ingin saya persembahkan kepada para penulis pemula agar tetap semangat berkarya, bertumbuh tanpa henti.

    Selain mengunakan triangulasi teknik, saya juga menggunakan triangulasi sumber data yakni :
    Pembaca, Penulis & Komunitas, sebuah syukur yang ingin saya sampaikan kepada kalian para triangulasi sumber.
    1. Pembaca -> mereka adalah sumber-sumber yang menjadi partisipan yang sudah sangat baik mau di wawancarai sejak bulan April 2018. Meluangkan waktu untuk bertemu yang tak cukup sekali bertemu dan tak cukup sejam menghadapi setiap pertanyaan yang saya lontarkan.

    2. Penulis -> para penulis pemula yang menjadi obyek penelitian.
    Kalian yang saya temui dalam komunitas-komunitas kepenulisan, para penulis pemula yang memiliki semangat juang dalam berkarya yang tak mudah, terima kasih sejak Maret hingga Agustus kalian mau ku wawancarai baik secara langsung maupun dengan media elektronik, karena saya hanya mampu menjangkau teman penulis pemula sampai Jakarta saja, untuk di luar pulau jawa dan selebihnya menggunakan media yang saling terhubung.

    3. Komunitas -> sebuah tempat para perkumpulan para penulis yang memilik minat yang sama dalam dunia literasi,
    Terima kasih banyak teruntuk perwakilan dari teman penulis pemula dari komunitas :
    1. Kelas Nulis Asik Tebar Manfaat
    2. Kampung Blog
    3. Saung Literasi
    4. Simfoni Aksara
    5. Mentoring Menulis Online
    6. Author Associate Inspirator Akademi
    7. Bikin Buku Club Indonesia

    Perwakilan para penulis pemula yang saya temukan di komunitas, Komunitas-komunitas tersebut juga telah sangat berjasa dalam membangun brand bagi penulis untuk saling berkarya dan tumbuh bersama.

    Tak ada kata yang lebih indah dari 'Alhamdulillah' sebuah masa yang telah berhasil dilewati, sebuah impian yang Allah mudahakan, semua itu tidak terlepas dari kalian, para dosen pembimbing, Triangulasi sumber dan orang-orang terbaik.

    Do'akan Skripsi yang saya teliti berbulan-bulan lamanya yakni lebih dari 8 bulan, semoga tak hanya selesai di rak perpustakaan kampus dan rak buku saya, tapi di rak kamu (para pembaca).

    Terima kasih, untuk ketulusan kalian yang tak bisa disebutkan satu persatu.

    Cikarang, 20 November 2018

    Tumiesn.

    (Curhatan mini Tumiesn)






    Kebetulan Dan Rejeki, Betemu Bung Smas Penulis tahun 70-an






    Bagaimana rasanya ketika suatu hari engkau tak sengaja bertemu dengan seseorang yang menerutmu luar biasa?
    Jika kau gemar bernyanyi, bertemu dengan penyanyi senior di era terlebih dahulu?
    Begitu pula ketika saya dipertemukan dengan seorang penulis tahun 70-an, secara tidak sengaja.

    Baca terus jika ingin tahu kisahnya, tetapi bila enggan, segera keluar dari link cerita sejarah ini.
    Semoga saja, dari kisah ini kita bisa memaknai serunya akan nikmat Allah yang tak terduga.

    face167face167face167



    16 Mei 2018, jam setengah enam sore saya dan Jeng Aya Rekan kerja keluar kantor.
    Pulang kerja tidak langsung ke kostan masing-masing, tetapi secara kebetulan Aya ngajak ke rumah Om nya di Bekasi Timur untuk mengambil CD printer yang memang saya perlukan.

    "Ambil CD printernya buat instal nanti, tapi ke Bekasi Timur ya mbak tempat Om (Om iparnya, dimana suami almarhum dari Bibinya)
    Saya pun sore kemarin ngajak Jeng Aya ke Bekasi, karena saya sedang sangat membutuhkan printer warisan setelah Tugas Akhirnya untuk Skripsi saya hahaha.

    Cikarang ke Bekasi Timur butuh waktu satu jaman, selain jalan macet saya pun memang bawa motor sekarang pelan tapi tak seperti keong kok hehe.

    Setengah tujuh malam, sampailah kami dirumah berpagar hitam. Masuk ke pekarangan rumahnya saya takjub, dengan mata yang remang-remang karena sepertinya mata minus ini nambah sekaligus kondisi malam, rumah yang berwarnakan putih serta banyanya pas-pas bunga yang menggantung dengan lebih banyaknya dedaunan hijau. Tanamanan yang tumbuh serta tersusun rapi menjadi rasa takjub melihatnya.

    Pas sampai, Om nya lagi makan seorang diri. Karena menurut cerita Aya, beliau saat ini memang hanya tinggal berdua dengan sang adik (penulis juga, yang menulis bukunya pak SBY).

    Setelah si Om selesai makan. Saya yang duduk diruang tamu menunggu jeng Aya shalat, sebuah pertanyaan pertama terlontar dari seorang yang usianya 67 tahun.

    "Teman kantornya Aya nak?"
    "Iya Pak, Betul."
    "Asal mana?"
    "Lampung Pak. Tapi, keturunan jawa. Kebumen."
    "Ooh, Kebumen? berarti Lampung palsu ya. hahaha."
    Saya pun tertawa.
    Seperti biasa, kalau saya di ajak ngobrol, panjang deh. Ada timbal balik tanya jawab.
    Dan si Om yang belum saya kenal namanya, malah bercerita tentang sepinya sudah setahun ini ditinggal sang istri meninggal, tak ada yang memasak dan sebagainya.
    Hingga suatu pertanyaan saya terucap, "Dulu bapak profesinya apa?"
    Sebuah pertanyaan yang terlontar ketika saya merasa sudah akrab berbicara dengan orang baru.

    "Penulis."

    Saya tercengang, dan otak saya langsung bekerja teringat skripsi hahaha.
    Untuk Skripsi saya, masih rahasia judul mah ahahaha....

    "Jadi, bapak penulis tahun....?" gak enak bilang jaman dahulu.

    Beliau tersenyum.

    "Karya bapak sudah banyak? dulu nulis jenis buku apa saja pak? boleh gak saya wawancarai. Duh saya senang sekali, kebetulan saya penulis pemula pak." dan rentetan pertanyaan saya keluar.

    Mulailah beliau cerita.
    Dengan penuh kehangatan seperti kakek ke cucunya, bapak ini bercerita mulai dari silsilahnya, siapa beliau, dari mana asalhnya, cerita lahirnya hingga akhirnya dua jam kami ngobrol.

    Nama Aslinya Pak Slamet Mashuri. Nama pena (nama samaran dalam menulis ada beberapa), untuk kebutuhan dalam mengimbangi produktifitas. Tapi lebih terkenalnya, Bung Smas.. Beliau lahir pada tahun 1951 di Pelosok Tegal, menamatkan SMOA (Sekolah Menengah Olah Raga Atas) Negri Pekalongan sebagi lulusan terbaik tahun 1969. Tahun berikutnya menjadi seorang guru olah raga di daerah Mataram, Jakarta.

    Aktifitas menulisnya sejak SMP di koran daerah sekitar tahun 1963-an. Kecintaannya menulis turunan dari sang Ayah yang memang suka bersyair dan Kakeknya juga seorang penerjemah Al-Qur'an.
    Beliau menulis secara profesional pada tahun 1970. Telah menghasilkan 300 Novel lebih, yang terdiri dari Novel remaja, dewasa dan kebanyakan anak-anak baik berupa serial maupun non serial. Diterbitkan oleh penerbit-penerbit Gramedia, Gunung Agung, Rosda Jaya, Cypress dan masih banyak lagi penerbit di Indonesia. Novel-novel serial diantaranya, serial pulung, Noni, Keluarga sirkus, Trio Tifa, Qipty, Siasat.

    Sejak tahun 1973 sampai 2006, banyak buku Bung Smas dipesan oleh Depdikdup/Depdiknas untuk bacaan sekolah SD, SMP dan SLA. Beliau menggunakan beberapa samaran untuk mengimbangi produktifitasnya. Pernah menjadi redaktur beberapa koran mingguan dan majalah baik secara bergantian maupun rangkap. Juga menulis novel dan cerpen untuk beberapa koran mingguan maupun majalah diantaranya, Majalah Hai, Bobo, Kucica, Kawanku, Siswa dan lainnya.

    Gadis penakluk adalah film yang diangakat dari novel pemenang sayembara karaya Bung Smas. Film ini mendapatkan 7 Piala Citra dan dan sebuah medali emas dari lembaga Psykholgi Indonesia. Disinetronkan
    26 episode dengan judul yang sama oleh Rapi Film

    Beliau juga menulis cerita dan skenario untuk sinetron-sinetron Fantasia (TVRI - 12 Episode)
    Kedasih (TPI - 128 Episode), Surga di telapak Kaki Ibu (SCTV - 30 Episode, mendapat penghargaan dari MUI sebagai sinetron syiar ramadhan), beberapa judul sinetron seri Takdri Ilahi, dan sinetron-sinetron lepas lainnya.


    Ada satu pertanyaan saya yang dijawab dengan mantap oleh beliau dan dalam sekali maknanya.

    "Motivasi bapak menjadi penulis apa, Pak? sehingga sampai saat ini tetap menulis?"

    "Kecintaan dan kesetiaan pada profesi. Karena menulis itu kubutuhan hidup." jawabnya dengan mantap.

    Bung Smas ini mesikup usianya kepala enam, tetapi masih kerap membaca dan juga menulis, meskipun menulisnya tak seproduktif seperti dahulu.
    Beliau pun bercerita bahwa saat ini tengah merampungkan karyanya yang menceritakan tentang sejarah silsilah keluarga dan kehidupannya.

    "Insya Allah, habis lebaran ini mau terbit. dan sudah bekerja sama dengan salah satu penerbit. Kalau mau, kesini."
    Bapak penulis yang satu ini baik dan menginpirasi sekali.

    Berbincang-bincang dengan beliau membuat saya menjadi semakin bersemangat dalam berkarya. Belajar darinya yang sangat produktif sekali. Meskipun saat ini beliau sering sakit, tetapi cara bicara, pemikirannya tetap sehat, serta ingatan yang menurut saya sangat masih tajam.



    Senangnya saya diberikan satu buku bonus tanda tangan beliau hihi.
    Pertemuan secara kebetulan ini benar-benar rejeki bagi saya.
    Gak kebayang akhirnya di Bekasi ada penulis senior yang sangat produktif pada eranya.
    Penulis novel dan skenario sinetron baik RCTI, TVRI, TPI dan stasiun televisi nasional lainnya.

    Bung Smas
    penulis keren yang berhasil menginspirasi.
    Semoga lain waktu bisa berjumpa lagi.




    Saya : "Bapak pernah ditolak penerbit?"

    Bung Smas : "Tidak. karena sebelum saya mengirim tulisan baik untuk koran, majalah maupun penerbitan buku, saya selalu pelajari terlebih dahulu tentang bagaimana mereka. Saya termasuk orang yang ingin tahu."


    Menulis itu cinta, dan kesehatan.
    Terima kasih atas pertemuan kebetulan yang menebarkan virus cinta menulis Pak.
    Serta merasa tetap sehat, diusia senja.

    Cikarang, 18 Mei 2018
    Tumiesn

    Tag :Bung Smas




    Data bertambah (Usia), aktual berkurang (Umur)






    Matahari masih setia membasuh wajah,
    Menerangkan mata, dan mencerahkan rasa.
    Terima kasih untuk semuanya,
    Pesan do'a mu semoga di ijabah.
    Terucap dari bumi, terdengar hingga ke Langit.

    Salam manis penuh cinta, terima kasih untuk semuanya. Salam Nyegir dan ulala kece cetar membahana Haha.

    ****

    Selamat ulang tahun kakak, tambah syantik, tambah blablabalabla
    Dari semalam sampai saat ini, handphone saya dapat serangan. Bukan serangan galau ya, tetapi serangan pesan. Baik dari orang tua, keluaraga, sahabat, teman, dan semuanya deh. Alhamdulliah terima kasih untuk semuanya. Baik yang meng ucapkan secara lisan, teks, video dan lain-lain hehe. Bersyukur mengenal kalian semua.

    Tetapi, sejak semalam saya yang memang minim tidur alias ada project yang harus dikelarkan, hanya dapat menarik nafas panjang, dan memilih menyudutkan diri depan monitor, (eeeh.. itu mah emang kerjaan saya hihihi).

    Bukan itu, bukan.
    Sebuah rasa jlebbbb, nyes dan mikir keras.

    Allah baik banget sama saya, sampai sekarang memberikan kesempatan hidup didunia ini.
    Dia memberikan segala yang menurutnya baik dan saya butuhkan selama ini.
    Cinta-Nya tak pernah putus, meski saya banyak khilaf dan dosanya.
    Selalu memberikan kesempatan untuk saya kembali ke jalan-Nya.

    Saya hanya dapat meringis, ketika menyadari tentang apa yang sudah saya lakukan untuk sebuah keta'atan?'
    Akh.. lagi-lagi, saya masih banyak salahnya.

    1/4 abad sudah tepatnya saya terlahir didunia ini.
    Melihat indahnya dunia yang terkadang ada Teka Teki didalamnya.
    Hitam putih kisah telah dijalani. Semoga yang saya tempuh sekarang hingga ke depan adalah jalan terbaik dan penuh rahmat-Nya.

    Secara data usia manusia setiap waktunya terus bertambah. Tetapi, actualnya umur manusia berkurang.
    Misal, jika si A di kasih jatah hidup 75 tahun. Dan sekarang sudah 25 tahun. Berarti berapa lagi sisanya? Bisa menghitungkan? Ini hanya contoh ya. Karena kita tidak pernah tahu hingga sampai berapa umur kita di dunia ini.

    Sebuah tamparan keras bagi saya ketika melihat angka usia tentang diri ini yang belum baik. Berpikir, bekal apa yang sudah saya siapkan untuk menuju actual Umur yang terisisa?

    Sedih, iya hari ini saya merasa sedih.
    Bukan karena belum ada yang spesial alias mas jodoh disamping saya hahaha. Tetapi, sedih apakah setiap waktunya saya bisa menjadi manusia yang ta'at kepada-Nya?

    Hidup ini memang cepat banget. Sampai terkadang Saking asiknya bercengkrama dengan dunia hingga lupa Akhirat.

    Sesuai data dimana usia bertambah ini menjadikan motivasi saya untuk terus belajar menjadi lebih baik. Menggapai mimpi dengan terus berharap Dia meridhai. Karena, tanpa-Nya saya tidak bisa apa-apa.
    Dan dengan actual sisa umur, semoga saya bisa menghabiskan dengan hal yang baik dan bermanfaat.


    Satu kata penuh cinta, semoga tulisan ini bermanfaat.
    Biar usia bertambah, Umur berkurang. Tetaplah bersemangat dalam Menggapai hal.
    Jangan hanya berburu dunia. Yuk, perbaiki diri dalam pemantasan mempersiapkan bekal menuju akhirat.


    Cikarang, 14 maret 2017
    Tumiesn




    Terlahir dari desa kecil, bermimpi besar





    Dari sebuah desa kecil 25 tahun sudah raga ini terlahir. Melihat dunia untuk pertama kali, Maret 1992 tepatnya.
    Sempat menjadi cerita sendiri dan kasih sayang lembut dari seorang lelaki yang menjadi imam bagi keluarga. Dia yang dipanggil bapak. Namun, hanya mampu merasakan pelukannya 2 tahun 2 bulan saja.





    Tanda tangan dan Do'a, mengukir Sejarah







    Jika lidah kelu untuk berucap, sementara gerak ide pada ruang kepala terus membuas. Menjelma menjadi sesuatu yang awalnya hanya angan menjadi nyata!


    Salah satu mimpi saya sejak dahulu adalah ingin jadi penulis. Meskipun belum ada bayangan hehehe.
    Belum memiliki teman yang sevisi dan semisi.
    Mau nyari-nyari, tapi bingung mau cari dimana hehehehe