Nikah, Bukan Perlombaan





Ngomongin perkara pernikahan saat ini untuk pria dan wanita di usia 21 tahun ke atas adalah hal yang konon seru untuk diperbincangkan. Sebuah face kehidupan dimana setiap orang mulai mencanangkan dengan lantang dalam diary kehidupan tentang persoalan pendamping di masa depan. Ada yang ingin pasangannya berkriteria dari A bahkan sampai Z, ada yang ingin dapat pasangan dari tetangga saja yang katanya kalau besanan gak perlu jauh-jauh harus berkendara ke kota tetangga, nyebrang ke pulau berbeda atau bahkan tak harus pesan tiket pesawat hingga ke luar negri.

Untuk persoalan cinta dan masa depan setiap orang pastilah menginginkan point-point yang di idam-idamkan, baik itu lahir dari harapan hati si jomblowan maupun jomblowati, bahkan sebuah point kriteria calon mantu idaman bagi ayah dan bunda.

Persoalan pendamping gampang atau mudah tergantung bagaimana sekenario Allah yang memutuskan.
Ada yang di usia masih dini sudah ketemu pasangan, ada pula yang sudah berusia matang baru menemukan tambatan hati kiriman sang Illahi. Kamu, hanya perlu terus berjuang, berdo'a dan memantaskan diri bukan?
Jangan mimpi pengen punya pasangan berstandar high quality, kalau diri sendiri masih banyak NG-nya (not Good) duh di kira produk barang dagangan kali ya hehe.
Jangan ngarep pasangan yang soleh, kalau diri sendiri jauh dari kata soleha dan sebaliknya.
Karena pada akhirnya, pasangan itu hadir sesuai cerminan diri sendiri. Bukan begitu?

face128face128face128

Sabtu malam minggu kemarin hingga pagi tadi sempat diskusi dengan jomblowati sebut saja Mawar, karena dia tidak ingin disebut melati, dan perbincangan kami dinamakan Diskusi Forum Jomblo.





Pernah ngerasain gak sih kamu buat kaum Jomblo yang belum menikah ataupun kamu sebagai pelaku yang suka ngebuly orang yang belum menikah. Sering mendengar!
"Woy buruan nikah, keburu tua."
"Woy buruan nikah, anak gue aja sudah lima."
"Woy buruan nikah, jangan mau kalah sama bocah yang baru gede."
"Woy buruan nikah, keburu komunitas kaum jomblo abis."
"Woy buruan nikah, keburu rambut ubanan."
dan masih banyak lagi ucapan yang sebanarnya, (please gue kurang sepakat dan ini menyakiti kaum jomblo).

Dan sebuah kalimat tercetus :

Nikah itu bukan perlombaan. Dimana yg nikah dluan d katakan menang, dan yg blm nikah dikatakan kalah


Pernah berpikirkah apa tujuan menikah?
Pernikahan itu adalah sebuah perkara yang sangat serius, bukan ajang coba-coba ataupun lagi ngetrend nikah muda dengan ego yang masih besar, atau agar terlihat keren dengan status sosial. bukan itu kan?
Menikah itu tentang kemantapan hati, kesiapan dan yang pasti ilmu pernikahan di perlukan kan?
Jadi, jangan sembarangan bilang menikah itu gampang, karena semua orang perlu proses dan pendewasaan.

Jangan hanya karena lihat anak tetangga baru gede udah pada nikah, kamu akan lari-lari kaya balapan karung saat agustusan, baper-baper gak karuan. Hingga akhirnya salah memilih pasangan. Jangan begitu, karena keputusan untuk pernikahan saat ini menentukan bagaimana masa depan mu esok hari.

Nikah itu ibarat berlayar, bukan berarti yg berlayar lebih dahulu dapat sampai di tujuan dengan cepat dan selamat. Kita tidak tahu akan ada ombak yg menerjang, bisa jadi yg belakangan berlayar dapat terhindar dari ombak itu.

Coba pelajari dan pahami serta renungkan, berapa banyak presentase angka perceraian di Indonesia setiap tahunnya.
Bukankan perceraian terjadi oleh dua pasang anak manusia yang berstatus menikah karena ketidak stabilan meredam ego masing-masing?
Menikah itu bukan untuk berpisah dalam sidang pengadilan bukan?
Tapi tentang penyatuan hati untuk selamanya, bukan sekadar dunia.
Cobalah berpikir untuk menikah satu kali seumur hidup, bukan sekadar pernikahan dan bersama di dunia, tapi hingga ke surga.

Menikahlah karena kamu dan dia saling cinta bukan karena nafsu, tapi bagaimana prioritaskan tujuanmu menikah. Jangan biarkan diri salah pasangan, ingat menikah bukan ajang balapan. Tapi menikah adalah jalan untuk Ibadah.

Menikahlah jika sudah mampu, mulai dari kesiapan diri dan kemantapan hati.
Bila kamu sempat gagal dalam urusan cinta, jangan prustasi, coba bangkit dan temukan cinta sejati.
Yang pergi mungkin itu sekadar ujian hati, tapi yang datang adalah hadiah terbaik.

Luruskanlah niat menikah karena Allah, mengikuti sunah Rosullah, bukan karena apa kata mereka yang tidak tahu luar dalam mu.

Cikarang, 4-10-2018

Tumiesn

#Project buku WDJ


    Artikel (Buku)dari kategori yang sama
    KENAPA ADA KECEWA?
    KENAPA ADA KECEWA?(2018-08-24 12:30)

    1 Skripsi, 1 Buku
    1 Skripsi, 1 Buku(2018-08-21 07:48)

    Waktu, Namamu
    Waktu, Namamu(2017-08-11 20:09)


     
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

    削除
    Nikah, Bukan Perlombaan
      Komentar(0)