10 Hari Tentang Paman

10 Hari Tentang Paman




Tertelungkup diri dalam kekacauan
Terombang-ambing dalam ketiada berdayaan
Gulungan badai perih menerobos hati yang lunglai
Jatuh tak bertuan, berderai linangan mutiara kelabu dari lensa

Ribuan do'a terucap
Keheningan memendam kegundahan menyatu
Tak ada tempat yang tentram selain bersujud kepada-Nya untuk mengadu
Kekalutan tak mampu ditenangkan kecuali mengingat nama-Nya
Hanya Dia pemberi segalanya
Pasrah diri tanpa harus banyak kompromi

8 Januari 2018 telah berlalu.
Ada cerita tersendiri, dibalik musibah pasti ada hikmahnya.
Dan adanya kelemahan pasti ada kekuatan, yang tidak lain juga kekuatan datangnya dari Dia, Pemilik cinta dari segala cinta.
Dia yang memberikan ujian, pasti pula ada alasannya, salah satunya ialah agar manusia memaknai hidup, mendekatkan diri dan belajar lebih baik lagi.

Mungkin kisah ini perlu di tulis agar menjadi pembelajaran dan pendewasaan.
Serta rasa syukur yang berlipat-lipat tak dapat terhitung, tentang sebuah ujian yang pasti semua karena cinta-Nya.

face167face167face167

Malam selepas Shalat Isya seperti biasa dari Warung Ibun di Cikarang, Paman (adik mama yang sejak kemarin ceritanya saya tulis "Memaknai Sehat") ini hendak berangkat bekerja ke tempat yang dimana minggu itu beliau mendapat giliran tugas malam. Selepas membantu Ibun (Istrinya) menutup warung Sosis & Ice Bubble di ruko sepetak, Paman segera melaju dengan kendaraan roda dua, jenis Beat.

Saat di pertengahan jalan, Paman yang seperti biasa mengendarai motor dengan kecepatan normal sekitar 40 km/jam, mendadak tidak sadarkan diri. Ambruk diperempatan jalan Kawasan Jababeka 1.
Entah apa yang terjadi, Ia tidak sadarkan diri. Menurut Saksi, sebuah motor RX-King yang di tumpangi 2 anak muda dengan kecepatan tinggi telah menumbangkan motor paman beserta paman yang terpental.

Jatuh, hilang kesadaran, berdarah, dan igauan tak karuan berjatuhan terdengar di telinga.

Malam itu, perut saya yang awalnya jam 21:00 WIB mulai lapar, mendadak tidak merasakan rasa lapar lagi. Yang ada, kaki ini rasanya lemas, hati tak karuan manakala Bundo (Bibi adik Paman) berkabar Beliau ada di rumah sakit Medirosa.
Bersama adik, tanpa memperdulikan malam yang semakin kalut, kami bergegas pergi menuju RS. tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Sampai di Medirosa dengan kegelisahaan menempati posisi emosi teratas, saya terperanjat sejadi-jadinya. Sosok Paman yang gagah dengan lembut biasa menyapa, tubuhnya di larikan kesubuah ruang Scan kepala. Darahnya membasahi wajah, kepalanya yang biasanya rambutnya selalu bersih penuh dengan tetesan darah. Tangannya yang selalu menyambut saya tatkala pulang ke rumahnya penuh luka, Kakinya tak mau kalah, bersimbah darah dan igauan dari bibirnya keluar. Berkali-kali di bisiki, mengingat nama Allah.

Dengan kelemahan manusia yang hanya tulang belulang, ia yang sedang merasakan sakit tiada tara. Allah berikan hati yang selalu kuat, dan tetap bertasbih. Ya Allah, malam itu saya mendadak menjadi manusia yang penuh kebingungan.

Kabut rasanya menerjang, malam yang semakin larut tak berhasil mengkantukan mata, tetap terjaga sepertinya otot tegang, efek hati dan kepala yang sedang berpikir keras dan terus bertanya, "Apa yang sedang terjadi."

UGD menjadi saksi kepedihannya, aliran inpus tak mampu membuatnya berhenti dari ucapan ngelanturnya.
Tetap bersyukur hasil scan kepala menunjukan tak ada keretakan atau saraf yang bermasalah. Hanya saja, kepedihan dan air mata mulai tumpah manakala mengetahui dan mendengar vonis dokter yang berjaga di malam itu, Paman Kaki kirinya patah, tulang rusuk kanan dan kiri ada yang patah serta kedua tulang wajahnya patah.

Bagaimana saya tak meringis pedih, menyaksikannya tak sadarkan diri. Semua orang tedekat disampingnya. Menuntunnya agar selalu menyebut nama Allah.
Rumah sakit tersebut tidak dapat menangani dengan kondisi parahnya. Bingung, Ya saya dan keluarga sangat bingung dalam keresahan. Beberapa rumah sakit besar di Bekasi penuh dan juga tak mampu menangani. Dan sekitar jam 01:00 WIB (dini hari) Allah membukakan jalan, salah satu rumah sakit Polri di Kramat jati bisa membantu paman dari rasa sakit dengan alat yang memadai.

Dahulu saya selalu ngeri lihat Ambulan, tetapi malam itu semuanya rasa itu hilang.
Sempat muntah darah saat tubuhnya berada di dalam ambulan, dan itu sangat membuat kami khawatir keras.

Malam itu sangat genting, pikiran kacau tak terbendung. Tak perduli tengah malam, dengan saudara yang lain kami segera meluncur. Menelindas aspal yang lengang dari keramaian, menerobos jalan tol yang jauh dari kata padat merayap. Di dalam mobil dengan tertinggal jauh dari ambulan, saya menangis sepi.

face167
face153face167

Ruang Resusitasi menjadi penyambut tubuhnya yang lemah. Seluruh administrasi segera di urus, kepanikan membanjiri seakan memeluk erat takut akan kata kehilangan. Mata terjaga, hingga subuh hendak beranjak menyapa.

Subuh itu, banjiran air mata terkuras sempurna. Terjatuh di atas sajadah. Meningat kembali bagaimana baiknya Paman.
Kamu tahu tentang bagaimana Rasulullah mencintai anak yatim? dan menganjurkan kita manusia yang bertebaran di bumi ini pun mencontohnya?

Itu yang Paman lakukan, dan Subuh itu saya yang salah satu anak yatim yang telah di angkatnya meminta agar kebaikan dan kasih sayangnyalah yang bisa membantunya melewati masa suram itu. Dimana karena kebaikannyalah saya meminta agar Allah berikan sekali lagi kesempatan hidup untuk ibadah lebih baik lagi.
Saya berharap Malaikat mengamini, langit mendengar dan juga mengamini.
Dan Ingin rasanya memeluk diri dan melepaskan kekalutan namun, nyatanya sujudlah segala tempat untuk menyandarkan hati yang penuh kekacauan.

face128face128face127

Selepas Subuh, nyatanya paman mendadak harus dibawa keruang ICU. Kamu tahu ruang apa itu?
Ruang yang tak sembarang orang bisa masuk, keluarga dan kerabat yang hanya mampu menjenguknya manakala jam-jam tertentunya. Yakni 2 kali sehari dengan hitungan 60 menit. Dan itupun bergilir max. 2 orang.

ICU termasuk tempat orang kritis yang mendekati gerbang antara hidup dan mati. Bagaimana tidak ngeri, sebelah paman dan beberapa ranjang penghuninya meninggal dan maut menjemput dengan caranya.
Selasa pagi itu, kacau balau hati dan pikiran. Pasrah diri salah satu obat terampu. Toh, Allah yang punya rencana dari segala rencana. Manusia hanya bisa berpasrah dengan upaya sebaik mungkin.

face128face128face128
Hilir mudik, Jakarta Timur melaju ke Cikarang mengambil berkas-berkas, Melaju Ke perusahaan tempat Paman bekerja di daerah Cibitung untuk mengurus administrasi yang diminta rumah sakit untuk sebuah perawatan di ICU yang sejak selepas Subuh di singgahi.
Hari itu hingga siang, sayapun lupa gimana rasanya makan dengan lidah merasa semua makanan itu enak, rasanya tidak enak untuk terkunyah.

Berkali-kali saya mengeja, "ICU, ICU" dan itu menjadi momok yang mengerikan sendiri. Posisi jiwa dimana, hati dimana dan pikiran entah dimana. Namun, dalam kondisi seperti itu saya tetap bersyukur karena Allah memberikan takdir hidup saya ditengah keluarga yang dimana mereka semua saling bahu-membahu, memeluk erat saat kalut membanjiri, dan saling berdo'a untuk hal yang terbaik. Dan nyatanya sikap dan dukungan keluarga adalah motivasi bagi siapapun dalam menjalani bahtera kehidupan ini.

Hingga malam saya dan keluarga masih setia menunggu diruang tunggu ICU, mendengar dengan baik-baik setiap penguman informasi, suara alarm panggilan untuk keluarga pasien yang terbaring lemas di ranjang setiap ruang-ruang ICU.

Hati ikut berdebar setiap alarm berbunyi. Dan mata yang sayu ikut pilu manakala beberapa orang dari keluarga pasien yang mendadak menangis berjama'ah tatkala salah satu pihak keluarga yang dipanggil dan memberikan kabar sendu. Beberapa orang diruang tunggu ICU yang sudah meningap beberapa hari dan adapun yang beberapa minggu satu persatu bergegas pamit dari ruangan, entah itu pamit karena keluarganya (pasien) pindah ruangan yang lebih baik atau pulang dengan di buntuti awan mendung, meninggal.

face167face167face167

Perjalana Cikarang-Jakarta timur, bolak-balik saya lakukan begitupula sanak saudara yang bertugas berjaga. Cuma satu harapan kami yakni Paman segera pulih. Keluar dari ruang ICU itu harapan kami. Rindu rasanya bercengkrama dengannya, tertawa dan banyak hal yang ingin diceritakan.

Ada keyakinan yang besar bahwa Paman bisa melewati masa kritisnya. Segera tersenyum, meski senin dan selasa iya belum kunjung sadar. Sebuah monitor dengan garis melengkung-lengkung tanda kehidupan masih tersedia membuat saya ngeri manakala masuk keruang itu. Memejamkan mata berkali-kali tak ingin mointor itu berubah bentuk garis. Dan ingin rasanya bilang kalau hari itu saya ada disitu, namun Paman hanya bisa melikir dan jika dipanggil hanya bilang, "Ha.." lirih!

Entah kenapa jiwa menangis saya keluar, air mata tak bisa dibendung, tumpah bak irama yang saling jatuhnya bersamaan. Tak kuasa menyaksikannya dengan keadaan lemah. Saya dan yang lain hanya bisa menjenguknya beberapa menit saja. Ya Allah, rasanya sedih.

Hingga rabu siang, Allah mengabulkan do'a. Paman segera di pindah ke ruang rawat inap utama dikarenakan kondisi sudah cukup membaik dan sepertinya ruang ICU cukup bangga karena beliau telah berhasil melewati masa kritisnya.

face167face167face167

Dengan segala rasa menahan sakit pada seluruh tubuhnya, ia hanya berbaring lemas di ruang 101 Gedung Rawat Inap Utama. Di ruangan yang terdapat 2 ranjang itu, membuat kami bermacam-macam rasa. Namun, ada keyakinan yang besar untuk pemulihan paman. Menanti operasinya, dan memandangnya penuh kebanggaan dan yang pasti rasa syukur yang tak ada habisnya.

Hari demi hari di lewati penuh dengan warna-warni.
Ada rasa macam-macam yang dihadapi, tentang kondisi yang kadang stabil dan tidak. Tapi sekali lagi yakin saja toh Allah segala pemberi apapun yang terjadi, skenario-Nya pasti yang terbaik.

Jum'at, selepas Magrib tidak kalah membuat saya cukup kebingungan. Tatkala Ibun bilang, Paman butuh darah. Segala upaya dengan bermacam-macam cara minta bantuan untuk beberapa kantong darah dan ini digunakan sebelum operasi. Yapz, operasi besar atas kondisi Paman.

Alhamdulilah Allah yang memudahkan. Di malam Sabtu itu, hingga tengah malam 3 teman bersedia mendonorkan darahnya. Teman saya, teman adik dan teman Paman yang tiba-tiba mengabari siap berbagi sekantong darahnya.
PMI Kramat Jati menjadi tempat saksi tengah malam kami melaju untuk satu nyawa.
Allah lagi, Allah saja dan Cukup berserah sama Allah.
Malam itu 2 kantong saya dapatkan, 1 dari kak Puja dan 1 dari Ahmad, sayang sekali dan belum rejeki Kak Eni berhasil berbagi namun, saya cukup salut dengannya karena Ia yang takut jarum memberanikan diri berniat berbagi menempuh perjalanan Cikarang - Jaktim. Bersyukur dan terima kasih buat kalian Pejuang Sekantong Darah

Dan Alhamdulillah satu kantong darah saya dapatkan lagi dari seorang wanita baik yang saya minta bantuan darahnya, tak pakai lama bersedia mendonorkan darahnya.

Saya kira urusan darah sudah selesai, namun nyatanya belum. Dan sabtu sore otak dan hati ini harus berpikir keras lagi bagaimana ini mendadak minta darah lagi untuk selepas operasi. Ya Allah, sore itu saya hanya bisa menangis. Bagaimana tidak, beberapa PMI terdekat saya hubungi dan belum bisa membuahkan hasil untuk beberapa kantong darah. Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah.

Beberapa cara saya lakukan, saya tak ingin menyerah, diam ditempat dalam sebuah tangis kepedihan. Bagi saya ini harus saya perjuangan untuk soal darah. Golongan darah A ini informasi akhir-akhir ini sedang sepi. Namun, saya meyakini pasti ada saja orang yang mau berbagi.
Saya telpon teman namanya Mas Irfan, seorang mas dari Magelang yang membantu cari info soal kontak PMI dan juga infokan butuh donor darah. Akh.. makasih banyak.

Masya Allah, menjelang Magrib Allah permudahkan 5 orang bersedia mendonorkan darah.
Yakni Mbak Susi & Mbak Rifa teman baru yang Allah pertemukan lewat perantara mas Irfan, mereka berdua siap membantu.
Om Sarpin dan Istrinya yang kebetulan darah A juga serta Om Tri, mereka bertiga adalah tetangga Paman yang siap sedia membantu mendonorkan darah serta tumpangan kendaraan untuk bergegas ke PMI Kramat jati selepas Magrib.
Lagi-lagi, Allah lah yang mempermudah.

Dan kabar bahagianya, mereka ber 5 bisa mendonorkan darah semua. Dan karena hanya butuh 3 kantong + 1 spare kantong untuk jaga-jaga akhirnya yang di ambil 4 orang pendonor. Masya Allah hati ini lega dan sangat-sangat berterima kasih.

face167face167face167

Allah yang permudahkan, setelah malam sabtu dan minggu berkelana mencari pendonor. Kemudian senin tanggal 15 Januari 2018 paman Operasi besar, mulai dari kaki, tulang rusuk dan tulang muka. Dan memakan waktu lebih dari 9 jam hingga penyadaran. Cinta Allah Ajaib, Allah permudahkan segalanya. Dengan Do'a, dukungan dari berbagai kalangan semuanya berjalan lancar. Allah, Allah dan hanya Allah. Semua ini tidak lain karena cinta-Nya.

Dan malam jum'at kemarin Paman yang memang sudah kangen rumah diperbolehkan pulang, meski belum bisa duduk apalagi jalan. Bersyukur Paman memiliki istri yang shaleha, selalu sabar dan setia untuk beliau. Ibun yang bersedia 24 jam untuk Paman. Dan saya meyakini kasih sayang, kesabaran, keikhlasan, keceriaan adalah motivasi ajaib untuk orang yang sedang sakit.

Saat ini alhamdulillah paman sudah bisa makan bubur, minum susu lewat mulut. Beliau yang beberapa hari lalu harus merasakan bagaimana rasanya minum susu lewat hidung. Alahmdulillah dan kini juga sudah bisa makan pisang. Harapan ini sederhana, Paman bisa sembuh, sehat, pulih kembali dan bisa membaca tulisan ini.
Betapa sayangnya kami. Paman sering pesan, "Tolonglah orang yang butuh pertolongan. Kalau bukan orang itu yang kelak tolong kita, pasti akan ada orang lain yang tolong." dan ini pun nasihat Mama yang sering di ucap.

Nyatanya benar, semakin kita belajar untuk terus menolong orang lain, maka Allah pun akan menolong kita lewat caranya yang ajaib. Termasuk sekantong darah. Kamu tahukan donor darah itu sangat nikmat!

face128 face128face128

Pesan buat semua dari cerita ini adalah :

Jaga diri, utamakan keselamatan berkendara. Jangan kebut-kebutan, karena jika tidak melukai sendiri maka ugal-ugalan di jalan juga bisa menyelakai orang lain. Paman orang baik, bahkan dia tidak ingin penabrak dipenjara, hanya ingin berdamai. Masya Allah saya bangga punya Paman kandung seperti beliau. Hatinya yang tulus, alhamdullilah terbalas pula dengan hati-hati yang tulus yang saling mendo'akan, berkunjung dan menginspirasi.

Allah lagi, Allah saja dan hanya Allah.
10 hari tentang Paman, semua itu karena cinta-Nya.
Dari mulai tabrakan hingga pulang kerumah, cerita ini biar saya rekam dalam tulisan.


Saling berbagi, mengasihi adalah cinta kepada sesama untuk saling memotivasi.

Jangan menunda kebaikan untuk berbagi.
Semuanya, kembalikan ke Allah yang balas kebaikan pula.

Cikarang, 20 Januari 2018
Tumiesn

"Terima kasih untuk Ibun, Acin, Bundo Pipit, Mama, Nini, Kaki dan keluarga besar semuanya yang telah berjuang bahu-membahu untuk kesembuhan Paman. Semoga Allah balas kebaikan kalian semua."

Cinta itu, dukungan dan motivasi.


    Artikel (Inspirasi)dari kategori yang sama
    Merantau Bagi Tumiesn
    Merantau Bagi Tumiesn(2019-06-13 15:21)

    Jumpa Mentor Paket Lengkap
    Jumpa Mentor Paket Lengkap(2019-05-21 00:32)

    WAKTU
    WAKTU(2019-05-10 12:01)

    Perpisahan
    Perpisahan(2019-05-08 22:40)

    Hidup dan Kesempatan ke-2
    Hidup dan Kesempatan ke-2(2019-04-30 19:13)

    Kenapa Belum Nikah?
    Kenapa Belum Nikah?(2019-04-03 23:00)


     
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

    削除
    10 Hari Tentang Paman
      Komentar(0)