Waktu, Namamu

Waktu, Namamu

Aku suka berteduh bahkan hatiku rasanya ingin selalu bermukim disana.
Bukan sekedar musim, tetapi setiap jengkal keelokan waktu yang bisa berubah kapan saja.
Kau tahu tentang sejuknya hembusan angin saat tiba waktu Ashar?
Terlebih sejuk manakala wajah terbasuh dengan air wudhu, kewajiban didirikan dan menikmati setiap sujud?
Lalu, kau keluar dari Surau itu, sekali lagi rasakan hembusan semilir angin bersahabat menentramkan perasaan.
Aku selalu berharap setiap tempat-tempat suci yang kudatangi saat ini masih sendiri, kelak akan ada kamu yang menemani.
Namamu yang terpilihkan untukku.

Disetiap keelokan waktu, gemetar hati di waktu-waktu utama, selalu ku panggil namamu lirih.
Sosokmu yang belum mampu ku terka-terka nama indahmu.
Di antara keriangan hari kelak, ku ingin kau yang mengajak putra-putri kecilku gemar menuju Surau.
Wajah teduhmu yang akan jadi panutan akan pentingnya waktu.

Biarku tunggu namamu dalam pemantasan diri.

Cikarang, 11 Agustus 2017

Tumiesn

    Artikel (Buku)dari kategori yang sama
    Ilmu Efisien, PAS Nikah
    Ilmu Efisien, PAS Nikah(2019-01-11 12:01)

    Nikah, Bukan Perlombaan
    Nikah, Bukan Perlombaan(2018-10-04 12:35)

    KENAPA ADA KECEWA?
    KENAPA ADA KECEWA?(2018-08-24 12:30)

    1 Skripsi, 1 Buku
    1 Skripsi, 1 Buku(2018-08-21 07:48)


     
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

    削除
    Waktu, Namamu
      Komentar(0)