Segaris rindu

Segaris rindu



Memenjarakan rasa diantara hempasan angin pantai dibiasai pertanyaan-pertanyaan.
Menyudutkan diri yang seakan terhempas dan terseret luka.
Segenggam rasa kehilangan membombardir seluruh sendi perasaan.
Kamu! Pemilik wajah teduh itu.

Ribuan pasir ku jamahi satu-satu diantara sela-sela tapak kaki.
Ku sapa butir demi butir. Namun, kali ini tidak seperti biasa.
Aku mematung seorang diri menyapa mereka.

Tentangmu, dan tentang kaki yang pernah mengiringi langkah ini menikmati senja-senja di pesisir pantai menyapa mereka yakni ribuan butir-butir pasir.
Serta, deburan ombak yang seakan menyambut kedatangan kita yang tak pernah mampu bergandengan tangan.
Kamu, tentang rasa yang tertahan dalam luka terdalam.

Lengkungan senyum dari bibirmu pernah tercurah untuk sosok jiwa yang haus akan rindu.
Gaya pesonamu yang menaklukan mataku, menyeret batin ku, hingga satu rasa tercipta diantara helaan nafas perasaan.
Kau berhasil membuatku jatuh dalam-dalam diantara butir-butir pasir yang tetap setia menyaksikan tapak kaki kita berjalan bersama meski harus berjauhan.

Engkau adalah segaris rindu.
Sosok anak manusia yang memberikan garis tersendiri didalam hati.
Sebuah rindu yang seakan seperti garis tanpa putus-putus, terus menyambung. Meski, tidak selamanya lurus baik-baik saja.
Kini, garis rindu seakan tertahan dan tersumbat diantara do'a dan pertanyaan-pertanyaan itu.

Kau memilih pergi, membungkus kenangan yang pernah terbangun dalam kisah.
Jiwamu melayang entah kemana sudah, kau sudahi rindu atau memang tidak pernah mengartikan segalanya?
Garis rindumu telah membasahi jantung hatiku perlahan demi perlahan.
Mencabik-cabik hingga seakan luka parah.
Kau memilih pergi, mencengkram kerinduan terdalam yang hanya diwakili oleh segaris rindu.

Telah ku bangun kesalahan pada kisah.
Ku biarkan engkau melayang menjauh diterpa kecewa.
Ku bisikan kesalahan-kesalahan yang tak pernah engkau suka.
Lalu, batinmu menanah hingga memilih melepaskan segalanya yang sempat direncana hidup bersama.

Segaris rindu
seakan memberikan pertanyaan-pertanyaan terbesar.
Tentangmu yang menghilang bersama luka.
Lalu aku? terdiam terpaku dalam-dalam diantara tapak kaki yang masih setia menyentuh lembut ribuan pasir dipesisir pantai.
Tentangmu, yang masih dirindu dalam bangunan kesalahanku.

Cikarang, 2 Januari 2017
Tumiesn

"Puisi ini adalah salah satu yang tedapat di dalam Novel ke-3 saya bersama sahabat saya hehehe
Mohon do'anya semoga ditahun 2017 ini bisa terbit."



    Artikel (Novel)dari kategori yang sama
    AENA, Namanya
    AENA, Namanya(2019-07-01 19:05)

    Untuk Tetap Tinggal
    Untuk Tetap Tinggal(2017-08-16 07:21)

    Assalamualaikum, Pak
    Assalamualaikum, Pak(2017-06-24 14:00)


     
    Komentari Artikel ini
    Keren sekali sajaknya makna nya juga ngena banget.
    Keren. Sampe nangis !
    Posted by YahyaYahya at 2017/01/02 14:30
    Kalo puisi memang tak pernah salah. Malah kesalahan dalam kadang punya makna tersendiri untuk kita. Sumpah kerenn... tapi pas awal baca nemu "dibiasain" mungkin bisa diganti "dihiasi" kali yak... hihihihi
    Posted by WuriamiWuriami at 2017/01/02 15:30
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

    削除
    Segaris rindu
      Komentar(2)