Tinggalkan yang ketat, untuk Ta'at

Tinggalkan yang ketat, untuk Taat



Pakaian ketat itu sexy.” Pernah mendengar kalimat tersebut? Atau bahkan khususnya wanita justru pernah mengalami mengucapkan hal itu?

Sexy dan modis itu beautiful.” Atau kalimat ini yang sering ada dipikiran kita sebagai seorang wanita yang mengaku beragama islam?
Sayapun pernah mengalami masa-masa jahiliyah, dimana membiarkan diri sesudah baligh dengan mengenakan pakaian terbuka. Berpikir tentang modis itu cantik.
Saya dahulu adalah satu diantara milyaran wanita yang mengaku muslim sejak lahir, namun masih begitu membangkang dengan aturan Allah. Sering membuka aurat, merasakan gimana pacaran (meskipun hanya sekali), hura-hura, nongkrong-nongkorong tidak jelas, muterin mall jika ngeliat baju yang tipis dan gaul mata langsung hijau. Ngeliat jeans dengan ukuran pas, mata langsung biru. Aduh jika ingat masa jahiliyah itu rasanya sedih.

Saya terlahir sebagai seorang anak dari penganut agama Islam. Tetapi memahami tentang agama yang dalam baru saya pahami saat sudah dewasa.
Saat remaja tepatnya saat baligh hingga usia 20 tahun keatas, saya termasuk seorang yang mengaku muslim namun masih tergiur dengan pakaian yang ketat, trendi meskipun sudah mengenakan jilbab.
“Dulu saya mikir kalau gaya jilbab yang modis itu keren.”. Jilbab diuntel-untel muter-muter. Dihiasai semenarik mungkin. Tidak menutupi dada. Bajunya ngepas dibadan. Suka sekali dipadukan dengan jeans yang terkadang warna hitam atau biru saat itu adalah warna yang “gue banget”.

Namun, setelah kejadian itu saya sadar dan merubah cara pandang.
Tahun 2013 tepatnya dibulan Ramdhan, saya jatuh sakit. Badan rasanya melayang-layang bagaikan selembar daun yang terbang tanpa pasti kemana tujuannya. Wajah pucat pasih.Hingga tidak sadarkan diri. Hari itu Allah menguji saya, karena kasih sayangnya tubuh ini harus di opname hingga beberapa hari. Saat tangan harus ditusuk dan disambungkan dengan selang inpus, rasanya itu pasrah. Dan hati ini gelisah. Yang ada dipikiran saat itu adalah, “Ya Allah kasih saya kesempatan hidup.”

Hati ini rasanya cemas, takut mati dan ingat dosa masih menumpuk bergunung-gunung. Saat itu saya bagaikan seseorang yang berjalan dipadang pasir dan kehausan lalu kebingungan mencari setetes air saja untuk membasahi kerongkongan.

Yah, saat itu saya hanya berharap Allah panjangkan umur , serta memberikan kesempatan menjadi pribadi yang lebih baik. Pikiran saya saat itu bermacam-macam. Ingat dosa yang banyak banget. Dulu diri ini yang jarang shalat meski teman satu kosan sering mengingatkan. Jarang sekali baca Al-qur’an, meski teman sekamar selalu mencontohkan, ia yang tiap hari membaca ayat-ayat cinta Allah. Pakaian saya masih begitu ketat meski sudah mengenakan jilbab. Dan akh… saat itu saya hanya minta Allah kasih kesempatan sekali lagi untuk perbaiki diri.

Tahun 2014 memasuki masa kuliah. Celana jeans dan teman-temannya dengan jilbab yang diputer-puter tanpa menutupi dada masih menjadi kegemaran cara berpakaian. Masih merasa benar dengan pakaian sendiri, meskipun itu bukanlah mencirikan seorang Muslimah yang taat. Namun, saat waktu terus berjalan memasuki bulan selanjutnya, tiba-tiba hati ini bergemuruh dan begitu terpana setiap kali melihat mahasiswi-mahasiwi maupun dosen wanita yang memakai pakaian longgar. Dengan gamis ataupun rok yang anggun serta jilbab yang lebar dan pasti menutupi dada sebagaimana semestinya.

Saya benar-benar suka melihat wanita-wanita disekitar kampus yang pakaiannya begitu anggun. Ditambah keteduah wajah-wajah itu. Hingga membuat hati ini bergeming, “aku ingin berpakaian seperti mereka.”

Perlahan saya mencoba merubah gaya jilbab yang biasa saya kenakan dari yang diputer-puter menjadi lebih dijulurkan menutupi dada. Dan mulai merasa begitu nyaman dan tentram. Kemudian lebih suka memakai rok dan pakaian yang lebih longgar. Hingga kini rasa damai meninggalkan jeans dan teman-temannya terasa lebih tentram.

Allah selalu memberikan kesempatan kepada setiap hamba-Nya untuk berubah. Jadi, jangan buang-buang waktu lagi untuk merubah cara berpakaian seorang wanita muslimah yang terbuka untuk menjadi lebih tertutup. Jangan nunggu nikah baru menutup aurat! Memangnya ada yang dapat menjamin bisa mempunyai waktu hidup sampai menikah? Jangan nunggu baikin hati dulu baru menutup aurat! Menutup aurat itu wajib, perintah langsung dari Allah.

Untukmu saudariku yang semoga selalu dalam lindungan Allah. Jangan membiarkan aurat kita sebagai seorang muslimah terlihat oleh mata yang bukan haknya. Jangan biarkan!
Diri kita bukanlah tudung saji yang bisa dibuka lalu ditutup semaunya. Seorang muslimah haruslah menutup aurat sebagaimana semestinya. Memakai jilbab dengan syariat Islam bukanlah sebuah budaya arab yang sering orang katakan dan kita dengar. Memakai jilbab yang besar khususnya menutup dada dan pakaian yang longgar adalah salah satu kewajiban dimana untuk melindungi wanita. Janganlah memakai pakaian yang membentuk tubuh.

Selanjutnya tunggu antologi blog kami "Komunitas Kampung Blog."
Tema : From sesat to ta'at.

Cikarang, 14-11-2016

Tumiesn


    Artikel (Motivasi)dari kategori yang sama
    Positive Thinking Sama Allah
    Positive Thinking Sama Allah(2018-09-14 06:01)

    Tips Menghilangkan Baper
    Tips Menghilangkan Baper(2017-11-26 10:36)

    Sepaket
    Sepaket(2017-08-17 21:04)


     
    Komentari Artikel ini
    Aku masih suka pakai levis kaka... tulisan kaka nampar banget. Perubahan itu pasti tapi perubahan butuh proses doakan adikmu ini ya kaka....
    Posted by Wuriami at 2016/11/14 23:47
    Karena berubah memang pasti berproses. Hehehe
    Semangat Wuri Cantik :-)
    Posted by TumiesnTumiesn at 2016/11/15 09:50
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

    削除
    Tinggalkan yang ketat, untuk Ta'at
      Komentar(2)