WAKTU

WAKTU



Kita tidak pernah bisa menghentikan waktu atau ingin kembali mengulangnya.
Sebab, ia akan terus berjalan.

Ini tentang waktu yang hari ini izinkan aku menuliskan, tentang waktu yang membuat kejutan-kejutan tersendiri. Kamu boleh membacanya, atau sama sekali tidak. Bila kelak aku sudah tiada (wafat) biarkan tulisan ini salah satunya yang tersisa.

~~~~~

Satu minggu lalu, sekitar setengah tujuh pagi tepatnya di hari Jum'at, 3-5-2019 sebelum berangkat bekerja (aktivitas seperti biasa) aku berbicara dengan Ninik (*Nenek), sebuah suara yang tak asing, dan terekam hingga hari ini. Perempuan berusia 86 tahun yang raut wajahnya terbasuh sabar dan tenang. Tak pernah mengeluh dengan sakitnya yang mendera sejak Desember 2018 lalu.
Satu minggu lalu, kami berbicara seperti biasa lewat jejaring telephone. Yah, handphone adalah salah satu alat komunikasi kami, sebab tidak bisa tiap hari melihat. Februari 2019 kemarin aku pulang ke Lampung untuk mengecek kondisinya, yang belum terlalu parah seperti tanggal 3-5-2019.

Aku tahu beliau sakit, dan beliau pun mengadukan hal itu. Makin parah katanya, tapi tetap suara tenangnya terdengar. Aku mencoba menahan tangis, berharap semua baik-baik saja.

"Ninik sudah sarapan?"
"Sudah tadi pakai tahu." jawabnya.

Yah, semenjak sakit beliau tidak bisa makan enak, hanya beberapa makanan yang bisa dimakan.

Hari itu jam sudah menunjukan waktu aku harus berangkat kerja,
"Ya sudah aku berangkat kerja dulu ya, Ninik jangan lupa makan, shalat."
seperti biasa, aku tak pernah bosan bilang seperti itu. Beliau mengiyakan, dan mengingatkan aku juga.

Dan sebelum ku akhiri salam diujung telephone seperti biasa ku bilang, "Aku sayang Ninik."
dan seperti biasa pula hari itu beliau membalas dengan suara tawa diujung telphone. (Semoga itu tawa bahagia bahwa aku menyayanginya).

Hari itu aku memang merasa aneh, ada yang berbeda.Tapi tak tahu ada apa dan kenapa. Saat ku tutup telephone ada hal yang tak seperti biasa ku rasa.

Jum'at sepanjang bekerja, hatiku gelisah, kepala sakit ringan, sakit kepala yang kadang ku rasa datang tiba-tiba beberapa hari sebelum hari jum'at hingga hari tersebut.

******

Jum'at sore aku sudah ada jadwal bertemu dua dosen disalah satu tempat makan, ada hal yang harus dibahas untuk project kami. Sambil menunggu, aku membalas beberapa pesanan puisi. Namun, dibalik sedang merangkai puisi ada pesan masuk dari sepupu, mengabarkan Ninik masuk rumah sakit. Perasaanku makin gak jelas. Menahan air mata, sebab menjaga profesional dan malu pula banyak orang.

Selepas pertemuan itu aku hubungi seluruh orang rumah di Lampung dan beberapa keluarga di pulau Jawa. untuk kabar itu. Dan Jum'at malam aku masih sempat menulis satu tulisan diblog, tentang Ruang Renung yang dimana mata ku mulai basah, aku tak bisa menghentikan air mata tentang ujian-ujian yang kali ini Allah memberi di periode kehidupan ini. Mungkin karena Allah sayang, datangnya ujian di keluarga untuk menguatkan, manaikan kelas. Aku menulis pun tentang Ninik. Sebab, salah satu caraku melegakan perasaan ialah dengan menulis.

Malam sabtu aku sama sekali tak tenang, tidak bisa tidur. Hingga selepas subuh aku telephone Mamak yang sedang berjaga di rumah sakit. Katanya Ninik belum sadarkan diri, dan hal itu membuatku tak tenang.

Kalender aktifitas ku ditanggal 4 dan 5 Mei itu penuh, sudah ada jadwal hingga minggu malam. Mau tak mau dihentikan, aku meminta maaf pada mereka, para relasi yang sudah menjadwalkan untuk pertemuan sejak minggu-minggu sebelumnya :-(. Niatku segera ke Lampung mau bilang sayang dan menguatkan Ninik, mau bilang "Ninik pasti sembuh, aku ada di sini, berbisik di gendang telinganya."

Tapi, hari sabtu 4-5-2019 jam 11:00 WIB, sebuah panggilan telephone dari Kakak Ipar dengan isak tangis yang sulit bicara, sesak di dada. Ninik sudah meninggal. Aku menjerit, kehilangan.

Sabtu itu aku gak ngerti kenapa Allah cepat banget menggulung waktu. Baru saja kemarin aku bilang sayang seperti biasanya. Tapi dengan pergantian waktu, Allah yang punya kendalinya, kapan saja nyatanya Allah yang punya kuasa untuk mencabut nyawa siapa pun.

*****

Perasaan kehilangan itu menyadarkan ku tentang banyak hal. Tentang pentingnya waktu, tentang menyanyangi, menghargai, menghormati, saling memaafkan dan kesempatan. Jika waktu berhenti segalanya usai yang ada dipergerakan bumi ini.
Kita memang gak bisa mengulang waktu, tapi kita memiliki peran untuk mengelolanya.

Sederhananya begini, sayangi orang-orang disekitar kita yang masih ada, terutama orang tua.
Sebab, kita gak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkan dunia ini lebih dulu, kita atau mereka?
Saling memaafkan, mengharagai dan mendo'akan.

Dan dari menyaksikan berpulangnya orang terdekat, nyatanya membawa hikmah dan pesan mendalam,
"Tum, kalau kamu mati nanti udah siapa bawa bekal apa aja?"

Yah, pertanyaan untuk diri sendiri.

*****
Waktu adalah pedang, kita akan gunakan untuk membabat semak belukar untuk mencari jalan terang, atau justru kita yang akan terbabat habis oleh pedang itu karena hura-hura pada waktu, menyia-nyiakan).

Do'akan Ninikku khusnul khotimah ya, dan semoga kita yang masih diberi kesempatan hidup ini kelak meninggal dalam keadaan baik pula :-)


Cikarang, 10-5-2019

-Tumiesn-



    Artikel (Inspirasi)dari kategori yang sama
    Jumpa Mentor Paket Lengkap
    Jumpa Mentor Paket Lengkap(2019-05-21 00:32)

    Perpisahan
    Perpisahan(2019-05-08 22:40)

    Hidup dan Kesempatan ke-2
    Hidup dan Kesempatan ke-2(2019-04-30 19:13)

    Kenapa Belum Nikah?
    Kenapa Belum Nikah?(2019-04-03 23:00)

    Mamak, Perempuan Setia
    Mamak, Perempuan Setia(2019-02-23 07:50)


     
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

    削除
    WAKTU
      Komentar(0)