Ruang Renung

Ruang Renung

"Ya udah ya, aku mau jalan berangkat kerja. Aku sayang Ninik."

"Iya Ninik juga sayang."

Aku tersenyum, "Asaalamualaikum Ninik, ya udah mana Mamak."

"Waalaikumsslam. Nih Mamak."

"Dadah Ninik, muah muah." ucapku, dan diujung telpon Ninik pun membalas.

______

Seperti biasa meski aku merantau di pulau Jawa, keluarga di Sumatera tepatnya Lampung, aku selalu berusaha telpon. Bukan diwaktu luang, tapi meluangkan waktu, buat mereka. Yah, orang-orang yang ku sayangi.
Seperti biasa, kalau aku telpon Mamak, pasti tanya kabar Ninik dan Kaki. Aku gak bisa gak tanya keadaan mereka, entah mengapa lidahku seakan sudah tersetting cek kabar Mamak, berarti harus tahu kabar Ninik dan Kaki juga.

*Mamak = Ibu
*Ninik = Nenek
*Kaki = Kakek

Ditulisan ini jujur, dadaku rasanya sesak. Aku sambil nangis :( jujur kali ini aku merasa lemah, tapi aku harus Kuat.
Ujian hidup seakan lagi datang berbondong-bondong menyapa keluarga besar, yah mungkin kami memang disuruh agar lebih lapang, ikhlas dan agar naik kelas.

Sore ini, 3-5-2019 saat aku lagi nunggu 2 Dosen buat meet up untuk sedikit pembahasan soal project buku kami, sebuh pesan masuk via chat whatsapp dari sepupu ngabarin Ninik masuk rumah sakit Bumi Waras Bandar Lampung.
Tadi aku coba nahan air mata, professional harus tetap dijaga, malu juga aku di tempat makan (Bebek Kaleo) kalau nangis di tempat banyak orang :(

Setelah meet up kelar, aku telpon Yayuk (mbak) di Lampung, soalnya telpon Mamak berkali-kali sibuk, mungkin lagi di telpon sama sanak saudara yang lain. Yayuk mengiayakan, Ninik harus dilarikan ke rumah sakit soal sakitnya yang sejak Desember 2018 belum kunjung sehat. Aku tuh pengen nangis, tapi posisi masih di parkiran motor, aku malu Kalo dilihatin tukang parkir :(

Aku gas motor beat, segera pulang ke rumah. Aku masih tahan, gak boleh nangis karena bahaya bawa motor. Aku di jalan berusaha tenang, inget Allah. Istighfar. Tapi berkali-kali bayangan keluarga muncul, aku inget Paman yang baru aja rabu kemarin ke luar rumah sakit habis operasi ambil pen dikaki habis kecelakaan, dan sekarang masih proses belajar jalan.

Aku inget mas Gio, suami yuk Mur di Palembang yang udah belasan hari masih di rawat di rumah sakit Karena Sakit pada ginjalnya, dan 2 hari yang lalu cuci darah memakan waktu 4 jaman. Dan aku inget Ninik yang tadi pagi aku telpon meski nahan sakit masih tetap bilang aku sayang.
Tapi tadi sore aku tuh galau dan kepikiran Ninik masuk rumah sakit :( aku belum bisa pulang ke Lampung sebab sabtu minggu ini udah ada jadwal yang harus di kerjakan.

Malam ini aku gak Kuat, aku harus nangis :(
Malam ini aku butuh ruang buat merenung.
Malam ini aku cuma pengen nangis
Malam ini aku butuh satu nasehat biar aku tenang
Malam ini aku berpikir gimana bisa bantu keluarga untuk biaya kesembuhan mereka.
Dan malam ini aku sadar dan yakin Allah ngasih ujian dan melibatkan hatiku gak bisa bersikap acuh, karena Allah mau naikin kelas. Naikin kelas bukan buat aku aja, tapi buat Keluarga.

Allah, ngasih jatah ujian Karena mungkin kami bisa melewati.
Allah, kasih hati agar nurani ini terisi cinta dan belas kasih.
Allah, kasih otak agar berpikir gimana cari solusi.

Dan aku yakin, sebab Allah sayang.

Cikarang, 3-5-2019

-Tumiesn-
*Do'akan ya agar aku bisa melewati setiap perjalanan hidup yang Allah beri. Dan Allah jaga hati ini agar tetap berprasangka baik sama Allah.

    Artikel (Cerita Tumi)dari kategori yang sama
    Jumpa Mentor Paket Lengkap
    Jumpa Mentor Paket Lengkap(2019-05-21 00:32)

    WAKTU
    WAKTU(2019-05-10 12:01)

    Perpisahan
    Perpisahan(2019-05-08 22:40)

    Jingga-Jingga, Ninik
    Jingga-Jingga, Ninik(2019-05-07 00:30)

    Hidup dan Kesempatan ke-2
    Hidup dan Kesempatan ke-2(2019-04-30 19:13)


     
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
     

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

    削除
    Ruang Renung
      Komentar(0)