Yang Pernah Mencintaimu




Pernah ada, dan kamu untuk diperjuangkan
Kamu tak pernah mengerti
Duri-duri tajam yang pernah ku lewati menujumu berdiri
Kala itu tetap saja aku keras kepala bertahan
Berharap kamu untuk dimiliki

Senja berganti fajar aku siap menyambangi
Tetap terjaga, tak rela kau pergi
Terlalu buram mata ini hingga tak peduli
Berlutut kaki pada perasaan sendiri meski berkali-kali teracuhkan

Pada serangan hujan, ku mulai sadar
Kesalahan mencintai adalah tatkala masih keras kepala mencintai tapi tak dihargai hingga membuat sakit sendiri
Jatuh cinta padamu pernah terjadi

Kali ini, aku sudah muak pada waktu yang terburu-buru untuk jatuh hati
Kau mudah datang juga tak kalah kerap pergi
Aku gontai, jatuh pada lubangan luka terabaikan
Kau tak peduli, sesuka hati melambaikan tangan tapi masih kerap menghampiri

Bahagialah, tak apa
Pergi saja
Aku baik-baik saja
Cukup sudah mencintaimu untuk rela terluka
Izinkanlah aku melepaskan luka
Menyembuhkannya dengan cinta yang sebenarnya, tanpa sandiwara
Cinta nyatanya perlu logika

____
Puisi : @tumiesn
Inspirasi : Curhatan teman yang belum kunjung move on
Gambar : download di google

Cikarang, 15-6-2019
-Tumiesn-

#puisitumiesn #puisi #sajak #sajakmelodi #baper #senimenulis #mantan #melupakan #sastara #menulis #melodicinta #cinta #sajakcinta




    Merantau Bagi Tumiesn




    Setiap dari kita memiliki arti tersendiri tentang merantau.
    Ada yang merantau cari pengalaman. Cari kebutuhan sandang, pangan dan papan. Mencari jati diri. Meneruskan pendidikan. Mencari pendamping hidup. Bahkan ada yang merantau karena menghindari mantan agar tak terserang bujukan balikan sama mantan.

    Balik lagi, semua itu tergantung masing-masing dari kita. Merantau mau apa?

    Sebuah renungan semalam datang menyerang, hingga malam gak nyaman tidur. Mengilhami sekali lagi soal tujuan saya merantau itu apa sih?
    Pas menghitung kembali, ternyata sudah 12 tahun merantau, saat itu lulus SMP memutuskan keluar dari tanah Sumatera (sementara waktu) ke pulau Jawa mengenyam pendidikan SMK hingga lulus kuliah.

    Menghitung lagi juga sudah berapa kali pindah tempat tinggal, pas dihitung sudah 10 tempat tinggal yang dijajali.
    Dan mengingat lagi, sudah 6 perusahaan hingga saat ini dilakoni.

    Tadi malam selepas shalat isya, adik menghampiri. Mengajak diskusi, sambil menangis. Berbicara tentang orang tua.
    Sudah 41 hari kami kehilangan seorang figur dari nenek yang begitu kami sayangi. Sebuah keadaan yang harus membuat kami berpikir serius untuk kondisi Ibu dan Kakek di kampung halaman yang tinggal sebelahan di rumah masing-masing.

    Sebuah keputusannya melesat, "Yu, lulus kuliah ini aku balik Kampung ya. Aku mau jaga Mamak. Surga ku ada di Mamak."
    "Kemarin kita lihatkan, Kaki mainan gendang di atas meja, menghibur diri. Pasti karena kesepian."
    "Kalau kamu gimana, Yu?"

    Hingga tadi pagi saya berpikir ulang tentang diskusi sederhana tapi serius.
    Sebuah renungan yang akhirnya menyadarkan tentang arti merantau itu sendiri. Apa sih?
    Bekal apa yang diambil dari merantau?

    Dan hal ini menyadarkan tentang saat ini kita yang masih hidup di dunia ini seperti sedang merantau kan? kira-kira bekal apa yang udah disiapkan untuk pulang nanti (meninggalkan dunia ini).

    Hari ini kita mungkin diselimuti dengan serunya bertemu orang banyak, tapi pada akhirnya saat kita pulang kita bakal sendirian, gak ada teman kecuali amal baik.

    Menurutmu apa itu merantau?

    Cikarang, 3/6/19
    -Tumiesn-

    #seminggumenulis #tanpahenti #challengemenulis #tumiesn #fiza #nulissyukasyuka #nulisbebas