Menunggumu dengan Puisi #Buku ke 7 Tumiesn




Pada setiap diri kita mungkin memiliki kisah masing-masing, ada yang memang hanya cukup merasa sekali jatuh hati lalu kisah cintanya berakhir bahagia di depan penghulu. Ada juga yang harus merasakan kegagalan, kekecewaan, harapan palsu, harapan semu, berjuang sendirian, patah hati, ditinggal nikah duluan, dan sebagainya. Perih yang sempat membuat air mata jatuh.

Itu hanya drama-drama yang harus kita segera sadar bahwa tak perlu lama-lama perjalanan hidup ini dihabiskan hanya untuk hal itu. Sebab hidup bukan untuk menjadi budak cinta kan?

Semua memang pilihan, dan kembali lagi kesetiap orang yang merasakannya, tapi tahu tidak bahwa obat dari kepedihan ialah berdamai dengan diri sendiri. Yah, dengan begitu jika kita sudah selesai dengan urusan diri sendiri maka yakini saja Allah akan pertemukan dengan yang terbaik, karena hati kita sudah siap dan mulai paham ke mana arah tujuan cinta itu sebenarnya. Coba mari renungkan pada ruang sunyi masing-masing.

~~~ Menunggumu dengan Puisi hal. 33.



Buku ke 7 Tumiesn, alhamdulillah Mei 2019 ini Tumiesn menerbitkan sebuah buku dalam bentuk prosa berbalut puisi.



#buku #baru #puisi #prosa #menunggumudenganpuisi #cinta #pertemuan #tentangkamu #masabaru #moveon #syukur #life #Love #buku
#motivasi #hijrah #puisitumiesn #temantumiesn




    Jumpa Mentor Paket Lengkap




    Biasanya kalau minggu siang kamu ngapain?
    Apa lagi bulan puasa. Berjam-jam ngumpet di kamar alias tidur, nyari gebetan, ketemuan sama mantan atau apa?

    Gak usah dijawab di sini, nanti panjang hehe. Jawab saja dalam hati masing-masing, kamu yang lebih tahu ngapain.

    ____

    Minggu, 19 Mei 2019 dengan kekuatan gas motor ditemani terik matahari yang aduhai, saya dan beberapa orang yang belum kenalan menuju satu tempat. Yap, ke Waroeng The Box bukan ke rumah mantan, soalnya sudah lupa rumah mantan #eeh

    The Box salah satu tempat yang lagi ngehits abis pada kaula muda, setengah muda, dan mendekati tua. Nah Kalo kamu yang mana?

    Udah deh dari pada Tumiesn #curcoltumiesn muter-muter gak jelas, tolong ya baca review Saya ini yang seneng banget gitu lho dari siang ketemu mentor-mentor yang muda, menginspirasi, bikin meleleh ilmunya nyessss.

    ___

    Pada pertemuan kemarin saya beri judul "Jumpa Mentor Paket Lengkap"
    Wih cadaskan? hehehe

    Sebenarnya tema pertemuan kemarin adalah DEBOX TALK, Ngabuburit Bareng Mentor.

    Pematerinya itu ada 4 orang, tapi saya bilang ada 5 orang. Siapakah satu orangnya itu?
    Baca aja terus tulisan ini sampe habis (budayakan membaca, siapa tahu kamu makin jatuh cinta sama tulisan Tumiesn #eeh)

    1. Bisri Kembar
    Pria muda yang konon terlahir di bumi beberapa tahun silam gitu (mungkin di atas 20 tahunan) merupakan seorang public speaker yang sering saya kepoin dari tahun lalu, hal ini disebabkan beliau merupakan kembarannya salah satu teman nulis saya.
    Duh... Bukan itu maksudnya, jadi Bisri Kembar ini seorang public speaker yang Keren abis.
    Nah, saat kemarin beliau ngisi acara materinya berhasil buat aku terpana, sambil mikir "Aku bisa gak ya bicara di depan kek gitu tanpa beban, tanpa malu-malu, energik, pandai dan ulala kece!"

    Berikut ulasan tentang penyampiannya:

    Mentor Bisri Kembar bertanya, "Apa alasan besar anda berbicara di depan umum?"
    Dan saya menjawab lewat catatan buku kecil :
    "Saya Tumiesn, ingin menyampaikan cerita / pesan bukan sekadar tulisan (sebagai penulis pemula), tetapi juga lewat lisan, pesan yang bermanfaat untuk banyak orang."

    Nah, sebagian dari kita pastilah punya jawaban masing-masing alias punya alasan tersendiri.
    Saya punya alasannya, kamu juga.

    OK, sebelum terlalu jauh. Biar Tumiesn bisikin apa itu public speaking.
    *Public Speaking ialah menyampaikan gagasan alias ide di depan umum ataupun kompetensi berpidato.
    Dan Kalo kompetensi ini artinya bisa dilatih.


    Kadang kita mungkin suka bertanya pada diri sendiri, "Aku bisa gak bicara kek gitu? Gak malu? Gak gerogi?"

    Ya, bisa saja dong. Misalkan kamu menyampaikan ide kepada dihapan teman-temanmu, bilang "Gaes besok bukber yuk, rencankan yang matang jangan hanya wacana sampai ketemu lebaran tahun depan!" #tuhkansakit hihihi

    Public speaking itu ternyata luas, dan agar lebih meluas kita butuh ilmunya, carilah mentor, baca buku dan latihan.

    Bocoran dari Mentor muda satu ini, ternyata public speaking merupakan salah satu sunahnya Rosulullah, lho. Yakni tentang menteladani sifat wajib Rosul salah satunya yakni Tabligh yang artinya menyampaikan.
    Yapz, sampaikan kebaikan walau satu ayat.

    Dan untuk sampai ke hal ini alias menyampikan pesan lewat public speaking, kita harus mengubah ingin jadi kebutuhan. Cari Big Why nya.
    (Kita sendiri, masing-masing yang tahu Big Why kita sendiri).

    Untuk menjadi public speaker ternyata simple, tapi harus dilakuin dong, yakni setting mindset public speaker :
    *Bagaimana kita menghargai peserta
    *Niatkan karena Allah
    *Niatkan ibadah
    *Niatkan berbagi

    Dengan menyetting mindset kita, terlebih libatkan Allah, semoga yang mau kita sampaikan akan sampai pada penerima pesan (banyak orang).

    Modal utama bicara ala mentor Bisri yakni SLB.
    S = Seyum
    L = Lihat
    B = Bicara
    Dan lakukan hal ini secara bersamaan.

    2. Fikri Kembar
    Sudah kenal Fikri Kembar? Itu lho Penulis buku "Udah, Sendiri Saja Dulu"
    Dan bukunya masih banyak lagi. Puluhan gaes.
    Disesi ini, beliau sebagai mentor nulis. Memberi tebak-tebakan, tentang tokoh-tokoh seperti Ir. Soekarno sampai tokoh Tiktok yang tahun kemarin lagi ngehits #kayanya, saya gak ngikutin , tapi sebagai salah satu warganet kadang tak sengaja jadi tahu haha.

    Nah, disesi ini merupakan tamparan tajam.
    Kita sebagian orang pasti kenal dong sama tokoh-tokoh legenda di Indonesia atau bahkan luar negri, misal Mark Zuckerberg.

    Kenal? Kalo belum, kenalan gih cari di google.

    Namun, naas sungguh parah kita kadang mentok tahunya sebatas nama orang tua, nenek-kakek, dan bahkan embah buyut apa lagi Bapaknya apa lagi Kakeknya Buyut, sebagian dari kita gak tahu namanya, Iya gak? (termasuk saya), miris.

    Hal ini sebenarnya terjadi karena para sesepuh kita gak meninggalkan jejak nama, salah satunya berupa buku.
    Maka, Mentor Fikri ngasih pesan, "Jangan Mati Dulu, Sebelum Nulis Buku!"

    Jleb... Seketika saya sebagai Penulis yang masih urakan suka ngumpulin outline di laptop, teringat nasakah-naskah yang harusnya segera meyelesaikan buku-buku Tumiesn, ngeri keburu mati dulu :(

    Jadi, meninggalkan jejak dengan menulis merupakan salah satu cara agar anak cucu kita kelak tetap akan tahu siapa kita, meninggalkan rekaman dalam karya. Nah, kalau mereka kenal dan mereka merupakan generasi soleh dan soleha semoga akan terus doain kita. :)

    Oh Iya, mentor Fikri sebagai Penulis senior, memberikan tips kepada kita yang masih pemula atau baru banget mau gerak belajar nulis :
    *Hilangkan masalah minder, intinya nulis terus aja. Semakin banyak yang mengkritik, pedas, asem, manis, itu artinya makin oke. Gaspol saja terus.

    *Riset 80%, nulis 20%
    Nah, ternyata rahasia nulis lancar dan berkualitas itu banyakin riset, baik tulisan berbau non fiksi maupun fiksi.

    *Ubah sudut pandang

    *Hibur diri kita sendiri untuk menambah vitamin nulis

    Dan yang pasti menulis dan teruslah berlatih. Sebab, gak akan pernah ada tulisan berkualitas serta tulisan selanjutnya tanpa ada awalan tulisan yang sangat membuat pedas mata (membaca alias mblegedes), jadi semua itu butuh proses, ada masanya.

    3. Jee Muhammad
    Salah satu teman nulis saya juga nih disalah satu komunitas nulis, beliau merupakan Penulis Fiksi yang diksi-diksinya Keren.
    Nah, ternyata beliau merupakan mentor yang jago Slide Design.

    Pada sesinya, mentor Jee memberikan tips membuat tips slide presentasi yang menarik.

    Ooh ya, diawal masuk materinya, mentor Jee memberikan salah satu contoh slide yang buruk, membuat mata gatel alias jadi males liatnya. Dan itu merupakan cara pembuatan slide saya pas jaman-jaman 4 tahun lalu saat jadi mahasiswi hehe. Duh, coba pas jaman kuliah sudah ketemu mentor yang satu ini, mungkin slide presentasi saya tak seburuk dulu hahaha.
    Yang pasti ilmunya Keren, jadi mikir, "Aku kok dulu polos amat ya, gak ada kreatif-kreatifnya!" hehe.

    Mentor Jee memberikan tips nih agar membuat slide yang menarik.
    1. Pesan yang jelas
    2. Ilustrasi yang sesuai
    3. Efek yang harmonis

    Dan penting diingat bahwa, slide yang menarik itu : satu slide, satu pesan.

    Jangan takut, slide presentsi kita jumlahnya banyak, yang utama kan pesannya sampai.
    Setuju?

    Dan pada silde ini kita juga harus belajar, peka, dan kreatif dong. Tentang giman caranya agar silde sederhana tapi menarik. Mainkan konten di dalamnya, transisinya dan banyak lagi.

    Kalau mau memasukan animasi yang harmonis maka tipsnya adalah masukan animasi yang sesuai.

    Serta, perbaiki mindset kita.


    4. Fajaruddien Zakiany
    "Bila saja Tuhan memanggil dengan sebutan jiwa-jiwa yang tenang....
    Lantas mengapa hati harus diisi dengan keresahan."

    Sebuah pesan yang jleb.

    Mentor Fajar, merupakan seorang mentor yang baru pertama kali kemarin tanggal 19-5-2019 bertemu. Beliau merupakan seorang mentor Spiritual Motivation.

    Dan disesi akhirnya beliau berhasil membuat para peserta menangis, termasuk saya.
    Pada sebuah pertanyaan : Who am I?

    1. Kenapa anda ada di dunia ini?
    2. Apa tujuan anda di dunia ini?
    3. Mengapa Allah ciptakan anda?

    Dan... tangan saya bergetar, hati ini berdebar, air mata luruh tatkala tangan berusaha menulis, menjawab pertanyaan tentang "Who am I?"

    Sebuah tanya, yang pada akhirnya kita sadar. Betapa baiknya Allah, tanpa Allah kita bukan siapa-siapa.

    ___

    Pada awal sesi mentor Fajar mengisi, beliau memberikan pertanyaan kepada peserta, yang dimana kami diminta untuk menjawab pada halaman kertas atau catatan pada ponsel, secara pribadi. Tentang renungan.
    1. Mengapa anda bekerja?
    2. Mengapa hal itu anda pilih?
    3. Hal apa saja yang ingin dipersembahkan kepada kelurga, minimal 3.
    4. Apa yang membuat anda special?
    5. Mengapa anda special?
    6. Setiap anda adalah teladan.

    Pada Spiritual Motivation ini, mentor Fajar juga berbagi tentang :
    *Positive Felling.
    Luruskan niat
    *Positive Thinking.
    Selaraskan hidup kita dengan keinginan Allah.
    *High performance.
    positive growing.

    Kadang kita sering sekali sengaja atau entah tidak sengaja, suka tak melibatkan Allah pada urusan kita. Lupa bahwa Allah yang memiliki kendali.

    Kita perlu merenungi tentang apa-apa segalanya niatkan karena Allah, kembalikan pula hanya pada-Nya.

    5. Nunik (@teh_enik)

    Tahun 2015 lalu, bulan Oktober atau November gitu. Saya bertemu dengan seorang Ibu muda cerdas, energik dan memiliki banyak impian.
    Dalam sebuah pertemuan-pertemuan tempo lalu, kebaikan, ketulusannya berbagi dan mengajari saya tentang banyak hal. Saya yang masih anak bawang, kala itu semester 3 saat kuliah. Kami bertemu dalam wadah yang sama. Memperjuangkan yang diharapakan.
    Tak ada pertemuan tanpa perantara, yapz. Kami bertemu dengan perantara suatu bisnis.

    Beliau merupakan mentor saya yang gak pelit. Suka berbagi motivasi lisan, bahkan memberikannya berupa bacaan tentang motivasi agar berjiwa besar.

    Mba Nunik namanya. Salah satu mentor dibisnis itu yang paling saya idolakan, dengan kebijaksanaan, kesederhanaan dan tanpa pamrih.

    Saya banyak belajar dari beliau, tentang bagaimana bicara, bersikap, menemukan target dan tetap tenang.

    Kita Gak bisa bilang sembarangan tentang bisnis yang salah! Tapi mungkin hanya saja hati gak nyaman.
    Bisnis itu bersamanya (saya sebagai downline nya) memutuskan memundurkan diri, pada hitungan beberapa bulan saja untuk joint. Saya pamit, tak peduli tentang materi yang terlepas. (Mungkin bukan rejeki saya).
    Dan sebenarnya dalam hati saat memutuskan meninggalkan bisnis itu, mendoakan semoga mereka menemukan pilihan terbaik. Entah merasa nyaman pada bisnis itu, atau segera Allah berikan jalan bisnis yang terbaik dari yang baik.

    Saya pun demikian, anak bawang yang memutuskan pergi dengan membawa ilmu mental (percaya diri khusunya), memilih fokus pada kuliah yang saya sadari kala itu nilai kuliah dan kuliah saya berantakan. Serta memperbaiki impian awal, saya pengen jadi Penulis.

    Waktu berlalu, saya belajar menemukan jati diri dengan hilir mudik perjalanan hidup. Tentang mulai suka jualan dari hal-hal receh apa pun dicoba hehe. Mulai dari jualan : ice bubble, sosis bakar, jualan buku, jualan slempang wisuda, jualan kue. Saya lakukan di kampus :)

    Dan tahu-tahu udah lulus kuliah saja hehe.

    ____

    Sebuah keajaiban waktu pun datang. 8 Mei 2019 sebuah postingan disalah satu akun teman muncul tentang sebuah acara di daerah Cikarang.
    Wih, kerennya 2 pemateri yang disebut mentor ini saya kenal, teman nulis dalam sebuah padepokan menulis terkeren di muka bumi ini hehehe.

    Yapz, Kak Fikri dan Kak Jee. Terlebih ada Kak Bisri, kembarannya Fikri.
    Aku mikir pas liat postingan, "Wah ini nih salah satu do'a ku terkabul bisa ketemu Bisri dan Fikri si Kembar yang menginspirasi dalam satu waktu, di Cikarang pula."

    Saya hubungi Kak Jee deh, yang beberapa minggu sebelumnya sempat bertemu dalam acara kepenulisan dengan salah satu mentor nulis saya di Jakarta Timur.

    Akhirnya sore itu di musolah tempat bekerja selepas Ashar, dengan telah mengecek jadwal pada kalender yang masih kosong (Cie elah sok sibuk Tumi ya wkwkwk) saya daftarkan diri dan ngajak si Yuni teman kuliah, temen kerja, teman curhat, temen yang kadang-kadang butuh kealayan buat menghibur diri hehe.

    Waktu berjalan selepas daftar acara ke Kak Jee sebagai admin + salah satu mentor, jobnya beliau banyak ya hehe.

    Kejutan pun datang...
    Satu hari kemudian, tepatnya tanggal 9 Mei 2019, sebuah pesan pribadi lebih kerennya DM pada instagram muncul dari seseorang follower baru hehe.
    Namanya Teh Enik akunnya.
    Dan ternyata beliau adalah salah satu mentor saya, mba Nunik. Terkejut saya, senang dan haru.

    Selepas tahun 2016 sekitar Maret atau April gitu memutuskan hengkang dari bisnis yang saya merasa kurang nyaman ada di sana, Ponsel saya sempat rusak dan ganti, jadilah banyak nomor-nomor yang disimpan di memori telpon lenyap, termasuk nomor mba Nunik hihi.

    Ternyata usut demi usut, beliau adalah temannya teman saya. Yaitu, Fikri, Jee (yang udah kenal sebelumnya).

    Duuh terharu.
    Ramadan ini berkesan, bertemu teman lama yang tak terduga dan serunya lagi beliau temanannya masih di area yang sama.

    Mba Nunik, yang saya bilang tadi Ibu muda yang energik, merupakan seorang pemilik Waroeng Debox, tempat kece buat nongkrong.

    Pas kami ngobrol, beliau gak berubah, tetap sama. Tetap sederhana, dan berjiwa besar.
    Beliau bilang dan ini bikin saya haru saat saya tanya, "Itu semua Debox mba yang punya?"

    Jawabnya, "Yang punya Allah saya mah cuma diamanahin ngurusin."

    Jawaban yang membekas, meneduhkan dan itulah mba Nunik, seorang yang saya kenal di masa lalu tahun 2015. Beliau yang alhamdulillah sudah menemukan salah satu jalan bisnis dan semoga ini yang terbaik.

    Kami yang pernah bertemu dalam ruang yang sama, lalu saling meninggakan ruang itu, meski memiliki jarak waktu.
    Semuanya, Allah yang punya.

    Cikarang, 20 Mei 2019

    -Tumiesn-

    Bertemu, berbincang dengan para mentor, paket lengkap. Ilmunya daging.
    Alhamdulilah, terima kasih.




    WAKTU





    Kita tidak pernah bisa menghentikan waktu atau ingin kembali mengulangnya.
    Sebab, ia akan terus berjalan.

    Ini tentang waktu yang hari ini izinkan aku menuliskan, tentang waktu yang membuat kejutan-kejutan tersendiri. Kamu boleh membacanya, atau sama sekali tidak. Bila kelak aku sudah tiada (wafat) biarkan tulisan ini salah satunya yang tersisa.

    ~~~~~

    Satu minggu lalu, sekitar setengah tujuh pagi tepatnya di hari Jum'at, 3-5-2019 sebelum berangkat bekerja (aktivitas seperti biasa) aku berbicara dengan Ninik (*Nenek), sebuah suara yang tak asing, dan terekam hingga hari ini. Perempuan berusia 86 tahun yang raut wajahnya terbasuh sabar dan tenang. Tak pernah mengeluh dengan sakitnya yang mendera sejak Desember 2018 lalu.
    Satu minggu lalu, kami berbicara seperti biasa lewat jejaring telephone. Yah, handphone adalah salah satu alat komunikasi kami, sebab tidak bisa tiap hari melihat. Februari 2019 kemarin aku pulang ke Lampung untuk mengecek kondisinya, yang belum terlalu parah seperti tanggal 3-5-2019.

    Aku tahu beliau sakit, dan beliau pun mengadukan hal itu. Makin parah katanya, tapi tetap suara tenangnya terdengar. Aku mencoba menahan tangis, berharap semua baik-baik saja.

    "Ninik sudah sarapan?"
    "Sudah tadi pakai tahu." jawabnya.

    Yah, semenjak sakit beliau tidak bisa makan enak, hanya beberapa makanan yang bisa dimakan.

    Hari itu jam sudah menunjukan waktu aku harus berangkat kerja,
    "Ya sudah aku berangkat kerja dulu ya, Ninik jangan lupa makan, shalat."
    seperti biasa, aku tak pernah bosan bilang seperti itu. Beliau mengiyakan, dan mengingatkan aku juga.

    Dan sebelum ku akhiri salam diujung telephone seperti biasa ku bilang, "Aku sayang Ninik."
    dan seperti biasa pula hari itu beliau membalas dengan suara tawa diujung telphone. (Semoga itu tawa bahagia bahwa aku menyayanginya).

    Hari itu aku memang merasa aneh, ada yang berbeda.Tapi tak tahu ada apa dan kenapa. Saat ku tutup telephone ada hal yang tak seperti biasa ku rasa.

    Jum'at sepanjang bekerja, hatiku gelisah, kepala sakit ringan, sakit kepala yang kadang ku rasa datang tiba-tiba beberapa hari sebelum hari jum'at hingga hari tersebut.

    ******

    Jum'at sore aku sudah ada jadwal bertemu dua dosen disalah satu tempat makan, ada hal yang harus dibahas untuk project kami. Sambil menunggu, aku membalas beberapa pesanan puisi. Namun, dibalik sedang merangkai puisi ada pesan masuk dari sepupu, mengabarkan Ninik masuk rumah sakit. Perasaanku makin gak jelas. Menahan air mata, sebab menjaga profesional dan malu pula banyak orang.

    Selepas pertemuan itu aku hubungi seluruh orang rumah di Lampung dan beberapa keluarga di pulau Jawa. untuk kabar itu. Dan Jum'at malam aku masih sempat menulis satu tulisan diblog, tentang Ruang Renung yang dimana mata ku mulai basah, aku tak bisa menghentikan air mata tentang ujian-ujian yang kali ini Allah memberi di periode kehidupan ini. Mungkin karena Allah sayang, datangnya ujian di keluarga untuk menguatkan, manaikan kelas. Aku menulis pun tentang Ninik. Sebab, salah satu caraku melegakan perasaan ialah dengan menulis.

    Malam sabtu aku sama sekali tak tenang, tidak bisa tidur. Hingga selepas subuh aku telephone Mamak yang sedang berjaga di rumah sakit. Katanya Ninik belum sadarkan diri, dan hal itu membuatku tak tenang.

    Kalender aktifitas ku ditanggal 4 dan 5 Mei itu penuh, sudah ada jadwal hingga minggu malam. Mau tak mau dihentikan, aku meminta maaf pada mereka, para relasi yang sudah menjadwalkan untuk pertemuan sejak minggu-minggu sebelumnya :-(. Niatku segera ke Lampung mau bilang sayang dan menguatkan Ninik, mau bilang "Ninik pasti sembuh, aku ada di sini, berbisik di gendang telinganya."

    Tapi, hari sabtu 4-5-2019 jam 11:00 WIB, sebuah panggilan telephone dari Kakak Ipar dengan isak tangis yang sulit bicara, sesak di dada. Ninik sudah meninggal. Aku menjerit, kehilangan.

    Sabtu itu aku gak ngerti kenapa Allah cepat banget menggulung waktu. Baru saja kemarin aku bilang sayang seperti biasanya. Tapi dengan pergantian waktu, Allah yang punya kendalinya, kapan saja nyatanya Allah yang punya kuasa untuk mencabut nyawa siapa pun.

    *****

    Perasaan kehilangan itu menyadarkan ku tentang banyak hal. Tentang pentingnya waktu, tentang menyanyangi, menghargai, menghormati, saling memaafkan dan kesempatan. Jika waktu berhenti segalanya usai yang ada dipergerakan bumi ini.
    Kita memang gak bisa mengulang waktu, tapi kita memiliki peran untuk mengelolanya.

    Sederhananya begini, sayangi orang-orang disekitar kita yang masih ada, terutama orang tua.
    Sebab, kita gak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkan dunia ini lebih dulu, kita atau mereka?
    Saling memaafkan, mengharagai dan mendo'akan.

    Dan dari menyaksikan berpulangnya orang terdekat, nyatanya membawa hikmah dan pesan mendalam,
    "Tum, kalau kamu mati nanti udah siapa bawa bekal apa aja?"

    Yah, pertanyaan untuk diri sendiri.

    *****
    Waktu adalah pedang, kita akan gunakan untuk membabat semak belukar untuk mencari jalan terang, atau justru kita yang akan terbabat habis oleh pedang itu karena hura-hura pada waktu, menyia-nyiakan).

    Do'akan Ninikku khusnul khotimah ya, dan semoga kita yang masih diberi kesempatan hidup ini kelak meninggal dalam keadaan baik pula :-)


    Cikarang, 10-5-2019

    -Tumiesn-







    Perpisahan




    Kita tidak bisa menjeda pertemuan atau semaunya ingin selalu bersama tak mau dipisahkan, sebab dunia nyatanya sementara.

    Setiap yang terjadi pada kita, adalah bentuk cinta dan nikmat yang Allah beri, disiapkan khusus untuk kita. Entah itu bahagia atau bahkan lara. Tentang senang, tawa, ceria, sedih, pahit, kecewa dan macam-macam tawaran warna pada perjalanannya.

    Setiap takdir antara manusia yang satu dengan yang lainnya pun berbeda-beda, tidak sama. Mungkin inilah seninya.

    Bicara soal pertemuan, kebersamaan, kenyamanan, ketenangan, kegembiraan merupakan hal yang menyenangkan. Misal saja, tentang perkumpulan keluarga besar. Tentang pasangan, anak, orang tua, kakek, nenek, keponakan, sepupu, paman, uwa, dan sebagainya merupakan komponen-komponen penting yang menjadi ladang semangat bagi setiap orang. Tatkala tengah berbaur, tumpah ruah kebahagiaan dan rasanya tak mau cepat berlalu.

    Setiap potret kebersamaan biasanya menjadi bukti dan meninggalkan jejak hitam putih untuk cerita esok agar tak usang. Gelak tawa, senyum merona menjadi penawar untuk obat rindu di waktu mendatang. Apa kamu juga merasakan begitu takala tengah berada diantara kumpulan keluarga kecilmu atau besar?
    Tapi, pertanyaannya apa kita sudah siap akan kata perpisahan datang pada lembaran hidup kita?
    Yah, tentang perpisahan pada persinggahan di dunia ini. Entah kita duluan yang akan pamit meninggalkan mereka, atau diantara mereka yang akan berpulang dulu, menghadap sang pencipta.

    Sebuah keadaan yang tak pernah bisa kita hindari tatkala Allah yang punya kuasa menetapkan takdir itu pada kita.

    Perpisahan memang memilukan, sebab berpisah untuk selamanya dengan berakhirnya kehidupan dunia itu membuat hati tak kuasa, air mata luruh menjadi saksi kehilangan. Kita yang ditinggal hanya mampu melapangkan hati dan terus mendo'akan untuk yang berpulang duluan.
    Sebab, bersibuk ria pada gemuruh perih, jeritan tangis tak akan menjadi solusi bukan cara baik pula berlarut-larut tanpa do'a yang di langitkan.

    Do'akan orang-orang yang sudah berpisah dari kita dan tak terlihat lagi tawanya, sabarnya, sikapnya, senyumnya. Semoga tenang, damai dan diberi tempat terbaik disisi Allah. Dan tugas kita yang masih dipercaya untuk melanjutkan hidup, bernapas dengan apik tanpa harus kita bayar. Banyaklah bersyukur, terus belajar memperbaiki diri, dekati Allah dan cari jalan terang agar kelak rumah terakhir (perut bumi) kita pasti berharap terang.

    Allah yang terbaik, yang punya kuasa. Dan kita mahluknya teruslah berbaik sangka. Memaknai perpisahan, bahwa setiap dari kita dalam ruang pertemuan pasti akan ada waktu perpiasahan. Semangat untuk kita yang masih diberi banyak kesempatan.

    Cikarang, 8-5-2019

    -Tumiesn-




    Jingga-Jingga, Ninik




    Kau jingga-jingga yang pernah memeluk lara. Mendekap penuh cinta. Mendampingi Mamak merawatku sejak balita.
    Memelukku saat datang pulang bertandang kampung halaman. Memelukku erat tatkala ku pamit merantau. Sejak kemarin dan pagi tadi aku sudah tak mendapatkan dekapanmu lagi.
    Kau lebih tenang dan damai.

    Aku lara atas kepulanganmu lebih dulu, takdir tak mengizinkan kakiku yang tengah berlari menemui untuk membisikan kata sayang sekali lagi digendang telingamu. Tapi, sebaik-baiknya rencana hanya Allah yang punya.

    Kepergianmu mengajarkan dan membuka mata hati lebih dalam, bahwa yang bernyawa di bumi ini akan pulang.

    Ninik, aku tetap akan jadi cucukmu.
    4-5-2019 engkau pulang, pamit duluan dan tak akan terlihat lagi sosok sabarmu.
    3-5-2019, 07:30 wib terkahir aku bilang sayang, engkau membalas seperti biasa dengan tawa diujung telephon.

    Al-Fatihah.

    Cikarang, 6-5-2019

    -Tumiesn-




    Ruang Renung




    "Ya udah ya, aku mau jalan berangkat kerja. Aku sayang Ninik."

    "Iya Ninik juga sayang."

    Aku tersenyum, "Asaalamualaikum Ninik, ya udah mana Mamak."

    "Waalaikumsslam. Nih Mamak."

    "Dadah Ninik, muah muah." ucapku, dan diujung telpon Ninik pun membalas.

    ______

    Seperti biasa meski aku merantau di pulau Jawa, keluarga di Sumatera tepatnya Lampung, aku selalu berusaha telpon. Bukan diwaktu luang, tapi meluangkan waktu, buat mereka. Yah, orang-orang yang ku sayangi.
    Seperti biasa, kalau aku telpon Mamak, pasti tanya kabar Ninik dan Kaki. Aku gak bisa gak tanya keadaan mereka, entah mengapa lidahku seakan sudah tersetting cek kabar Mamak, berarti harus tahu kabar Ninik dan Kaki juga.

    *Mamak = Ibu
    *Ninik = Nenek
    *Kaki = Kakek

    Ditulisan ini jujur, dadaku rasanya sesak. Aku sambil nangis :( jujur kali ini aku merasa lemah, tapi aku harus Kuat.
    Ujian hidup seakan lagi datang berbondong-bondong menyapa keluarga besar, yah mungkin kami memang disuruh agar lebih lapang, ikhlas dan agar naik kelas.

    Sore ini, 3-5-2019 saat aku lagi nunggu 2 Dosen buat meet up untuk sedikit pembahasan soal project buku kami, sebuh pesan masuk via chat whatsapp dari sepupu ngabarin Ninik masuk rumah sakit Bumi Waras Bandar Lampung.
    Tadi aku coba nahan air mata, professional harus tetap dijaga, malu juga aku di tempat makan (Bebek Kaleo) kalau nangis di tempat banyak orang :(

    Setelah meet up kelar, aku telpon Yayuk (mbak) di Lampung, soalnya telpon Mamak berkali-kali sibuk, mungkin lagi di telpon sama sanak saudara yang lain. Yayuk mengiayakan, Ninik harus dilarikan ke rumah sakit soal sakitnya yang sejak Desember 2018 belum kunjung sehat. Aku tuh pengen nangis, tapi posisi masih di parkiran motor, aku malu Kalo dilihatin tukang parkir :(

    Aku gas motor beat, segera pulang ke rumah. Aku masih tahan, gak boleh nangis karena bahaya bawa motor. Aku di jalan berusaha tenang, inget Allah. Istighfar. Tapi berkali-kali bayangan keluarga muncul, aku inget Paman yang baru aja rabu kemarin ke luar rumah sakit habis operasi ambil pen dikaki habis kecelakaan, dan sekarang masih proses belajar jalan.

    Aku inget mas Gio, suami yuk Mur di Palembang yang udah belasan hari masih di rawat di rumah sakit Karena Sakit pada ginjalnya, dan 2 hari yang lalu cuci darah memakan waktu 4 jaman. Dan aku inget Ninik yang tadi pagi aku telpon meski nahan sakit masih tetap bilang aku sayang.
    Tapi tadi sore aku tuh galau dan kepikiran Ninik masuk rumah sakit :( aku belum bisa pulang ke Lampung sebab sabtu minggu ini udah ada jadwal yang harus di kerjakan.

    Malam ini aku gak Kuat, aku harus nangis :(
    Malam ini aku butuh ruang buat merenung.
    Malam ini aku cuma pengen nangis
    Malam ini aku butuh satu nasehat biar aku tenang
    Malam ini aku berpikir gimana bisa bantu keluarga untuk biaya kesembuhan mereka.
    Dan malam ini aku sadar dan yakin Allah ngasih ujian dan melibatkan hatiku gak bisa bersikap acuh, karena Allah mau naikin kelas. Naikin kelas bukan buat aku aja, tapi buat Keluarga.

    Allah, ngasih jatah ujian Karena mungkin kami bisa melewati.
    Allah, kasih hati agar nurani ini terisi cinta dan belas kasih.
    Allah, kasih otak agar berpikir gimana cari solusi.

    Dan aku yakin, sebab Allah sayang.

    Cikarang, 3-5-2019

    -Tumiesn-
    *Do'akan ya agar aku bisa melewati setiap perjalanan hidup yang Allah beri. Dan Allah jaga hati ini agar tetap berprasangka baik sama Allah.