Vitamin Menulis, Diskusi Langsung Teman Penulis




24 Maret 2019, sebuah acara diskusi mini digelar.
Dengan tema : #NgobrolinNulis Chapter Jakarta bersama Rezky Firmansyah salah satu penulis muda yang produktif , dengan 24 buku yang sudah terbit.
Acara di @Laper Baper Resto
Jalan pisangan lima III Jakarta Timur.

Dalam pertemuan setengah hari ini saya mendaptakan banyak pesan bervitamin, sebuah moment yang sepertinya perlu banget sering dilakukan agar para penulis move on dari rasa malas banyak alasan buat gak nulis, mendemin nasakah (nunjuk diri sendiri).

Berikut beberapa hal yang saya dapatkan dari mereka :

1. Menulis moment

Hidup ini kita banyak menemukan kejadian yang kadang kita sering membiarkannya lewat begitu saja, padahal moment itu bisa diubah jadi hal yang lebih berharga agar bisa dimaknai, misalnya tatkala kita tengah jatuh cinta, patah hati dan sebagainya.

Banyak hal yang bisa kita tuangkan dengan setiap kejadian yang terjadi pada diri kita khusunya, menggalinya dan menuangkan serta sampaikan pesan kebaikan agar lebih bermakna, berwarna.

2. Nyicil Nulis

Pernah gak sih kita kena writer block?
Bingung mau nulis apa, padahal outline Sudah ada, konsep sudah sempurna alias tinggal dikembangkan, tapi mentok gak nemu feelnya.
Ini salah satu hal yang saya rasakan beberapa bulan belakangan, dengan banyak alasan :(

Dan dari mereka pun ada yang membagikan triknya agar naskah tulisan selesai yakni salah satunya dengan cara Nyicil dengan menulis setiap hari. Meluangkan waktu buat nulis bukan nunggu waktu luang.
Sebenarnya sesibuk apapun kegiatan kita di luar kepenulisan, kita tetap ada waktu, hanya saja cara mengatur atau manajemennya saja yang harus dibenahi.

Sepakat?
Kalau iya, lanjut terus bacanya ya :-).

3. Strong Why!

Kenapa sih kita pengen jadi Penulis?
Alasannya apa sih?
Setiap orang ataupun penulis pasti memiliki kekuatannya dalam menulis.
Dan jika punya alasan kenapa kita menulis buku yang sedang ditulis, maka hal ini akan memudahkan untuk menyelesaikan. Jika alasannya saja lemah gak ada kekuatan, bisa jadi cengap-cengap, loyo dan mati dijalan :(
Jadi, strong why itu perlu banget.

4. Bikin hal yang menantang buat diri sendiri

"1 bulan 1 buku"
Rezky Firmansyah membuat tantangan untuk dirinya sendiri di tahun 2019 ini.
Saya pun takjub, dan ini menarik juga lho. Selain agar tetap produktif, hal ini bisa menjaga eksistensi di dunia kepenulisan. Dan bikin tantangan buat diri sendiri bisa kita lakukan dengan banyak hal, jika belum sanggup 1 bulan 1 buku, bisalah 3 bulan nulis satu buku ya.

Juga aktifin tuh media sosialnya kita bikin lebih berwarna, misal kalau Tumiesn minimal 1 tahun di 2019 ini 100 video puisi di Instagram @tumiesn23 yang berkolaborsi dengan beberapa #temantumiesn yang unyu-unyu dan kreatif dong.



Masih banyak lagi sih yang bisa kita lakukan untuk memberikan tantangan pada diri sendiri, misal 30 Day 1 post, nulis apa saja bebas dipost di media sosial kita.

5. Motivasi yang Kuat

Dalam menulis kita butuh motivasi yang Kuat, dan ada 2 faktor nih yang mempengaruhi, yakni motivasi internal dan eksternal. Internal sendiri dari diri kita sendiri,
misal "Gue mau nulis buku ini nih agar para pembaca kangennya terobati dengan munculnya karya terbaru Gue"
Atau "Gue mau nulis buku ini hadiah buat calon pendamping, biar pas habis akad nikah photonya gak pegang buku nikah, tapi buku karya sendiri sebagai hadiah buat doi" hehe

Dan faktor eksternal itu sendiri biasanya karena tekanan dari luar diri, kalau kata Fikri Kembar, misalkan kita nulis karena proyekan agar dapat fee, kalau gak target gak dapat bayaran plus nama penulis itu sendiri akan jelek dong, hehe.

So, motivasi kita dikuatin lagi ya. :)

6. Aktifkan panca indra

Untuk merasakan dalam menulis kita butuh banget mengaktifkan panca indra kita, kalau kata Jee_Moch butuh riset dengan jalan langsung. Misalnya kita bikin novel settingnya di Kota Tua, datengin tempatnya jika memungkinkan. Potret lokasi, rasakan bau-bau lokasi dan tatanan tempatnya.

Biar lebih berasa dan bermakna jatuh hatikan kita pada naskah, bikin berasa.
Kalau kata Kak Dee, cerita yang ditulis ngena hati (klop).


7. Menulis pas dihati

Kalau kita nulis asal nulis yang gak sesuai hati, hasil dan rasanya mungkin akan berbeda alias hambar. Kita perlu tuh jatuh cinta alias melakukan pendekatan lebih awal dengan apa yang mau ditulis, yakni pas dihati. Kalau gak pas nanti bisa ugal-ugalan nulisnya, gak loe banget.

8.Fiksi keluar dari diri sendiri

Untuk menuliskan sebuah cerita, yang kita tulis gak bisa plek kaya penulisnya, gak seru.
Kita harus berani keluar dari diri kita, misalkan aslinya kita itu kalem, tatkala nulis tokohnya bawel, mau gak mau dong kita cari tahu tuh orang bawel kaya apa hehe.
Kalau kata Kak Dee, kalau memang harus matiin tokohnya dimatiin saja, jangan sungkan-sungkan.
Nih buat Penulis fiksi macem saya hehe.
Ooh ya, fiksi itu kan imajinasi ya, semua tulisan gak harus lahir dari diri kita sendiri, bisa jadi ide inspirasi dapat dari banyak pihak.

Kalau Tumiesn nyebutnya 3 sumber inspirasi itu dari kata LDR, yakni lihat, dengar dan rasa.

8. Bikin branding dalam menulis

Sejak 2017 saya sendiri bikin personal branding, Penulis Baper Positif.

Kenapa begitu?

Ya, setelah melewati banyak perjalanan menulis dan mencari suara rasa, hingga menemukannya, tulisan saya rada baper dan mellow hehe, tetapi meski begitu bukan berarti tulisan kosong makna.
Saya pun terus berusaha menulis meski itu fiksi tapi ada pesan kebaikan yang semoga bermanfaat, Karena apa? Dalam tulisan kita memiliki pertanggung jawabannya.
Intinya sih sayang banget kalau nulis sudah capek-capek tapi gak ada pesan kebaikannya. Sedihkan :(

Teman-teman juga bisa bikin yang loe banget, yang menurtmu asik dan bisa jadi penyemangat agar terus menulis.

9. Misi dalam menulis

Kita juga perlu tuh membuat misi dalam menulis bukan buat diri sendiri. Tulis sesuatu agar pesan kebaikan sampai ke banyak orang. Biarkan pembaca merasakannya, Penulis itu harus peduli bukan cuma nulis buat diri sendiri, tapi buat banyak orang.

Sepakat?

10. Masalah judul

Salah satu faktor kepusingan dari penulis itu soal judul.
Sebab judul dalam buku perlu banget menjual serta mempengaruhi visual atau pendengaran pembaca tatkala ada mendengar sebuah judul, memikat mereka.
Ya gak?

Tips dari mereka (hasil diskusi) :
*Judul sesuai tema
*Ketahui target pembaca
*Judul jangan panjang-panjang, Max. 4 kata
*Nyambung dengan isi cerita
*Pakai nama tokoh

11. Menulis Sinopsis butuh emosi

Kalau kita mau beli buku, selain lihat judul, cover buku pasti kita cari tahu bocorannya di belakang buku / blurb. Kalau kita merasakan, tertarik pasti beli. Kalau gak ada daya tariknya, males baca apa lagi beli. Iya gak?
Begitu pun kita sebagai si penulis, butuh kecerdasan dan kreatif dalam menulis bocoran dibelakang cover buku kita, cerdas di sini dalam arti bisa mancing calon pasar kita. Bikin daya tarik jangan biarkan calon pembaca kabur baru saja baca beberapa kalimat sudah malas hehe.
Ini PR penting buat penulis yang harus digali lebih dalam.
Ada dua nih tipsnya :
* Harus penuh emosi, menyentuh
*Mainkan diksi

12. Menulis itu biasa atau luar biasa?

Kalau menurut kamu menulis itu biasa atau luar biasa?

"Menulis itu itu biasa saja atau luar biasa tergantung dari gagasan itu sendiri." Rezky Firmansyah.

Jadi, gimana menurutmu? Biasa saja atau luar biasa?

13. Personal banget dari si penulis

Kalau kita mau jadi penulis, kita butuh yang namanya Gue banget alias punya personal branding.
Dalam menulis kita butuh yang namanya "Ini nih gue banget"
Menulis dengan otentik yang gue banget, karena kita gak bisa photo copy gaya penulis lain, gak original dong nanti hehe.
So, bikin yang gue banget!
OK?

14. PD aja dulu

Nulis itu butuh yang namanya PD (percaya diri). Dan hal ini lahir dari diri sendiri, secara internal. Intinya nulis dan mau jadi penulis PD aja dulu Karena teknis bisa dipelajari.


Cikarang, 26-3-2019

-Tumiesn-

*Special tulisan di pagi hari buat teman-teman penulis yang kemarin sudah hadir di acara ngobrolin nulis dan buat kamu para pembaca. Semoga bermanfaat.




Tag :Nyicil




    Beridiri Pada 5 Jari, Telapak Tangan





    "Kalau kita beridiri pada tapak kaki itu sudah biasa, tapi bagaimana jika kita bertahan berdiri pada telapak tangan yang terdiri dari 5 jari?"
    Kalimat dari seorang alumni Pelita Bangsa, namanya Ceceng Saepuloh.

    ________




    Sebuah pembahasan seru, dari #kolaborasi #mudaberkarya. Kebetulan Kamis sore selepas Magrib ditanggal 28-2-2019. Dalam kolaborasi rencana yang semoga terlakasana diberikan kelancarana, salah satu rencana bikin buku #tumiesn tahun ini adalah kolaborasi bareng 2 Dosen yakni Bu Yunita, Pak Edy dan Juga salah satu tempaan satu angkatan yakni Yuni Puspita.
    Kalau mau lihat perjalanan tentang 2 dosen ini bisa cek ditulisan ku :

    1. Gerbang Skripsi,Nulis Asik, Hati Bahagia

    2. Terima Kasih Untuk Kamu Triangulasi Sumber (Pembaca, Penulis & Komunitas) Skripsi Solusi

    Salah satu hal yang membuat kami dekat adalah soal Skripsi sejak tahu 20170-an. Hingga sebuah buku yang Insya Allah akan digarap bersama judul bukunya terinpspirasi dari soal penelitian juga, tepatnya sharing rencana penelian Pak Edy S.

    _____

    Oke, balik soal diskusi kemarin sore dengan Ceceng yang kami undang sebagai salah satu narasumber yang pasti inpiratif banget ya. Beliau ini bukan sembarang mahasiswa ugal-ugalan (biasa aja) tetapi, luar biasa. Banyak hal yang diceritakan saat proses #ceritaambilpesannya , ada hal yang paling menarik dan akhirnya saya tulis di blog ini.

    Pernah gak kita ngebayangin berdiri ditelapak tangan kita pada 5 jari? dimana biasanya tuh kalau berdiri di telapak kaki kan?
    Ini salah satu pandang Ceceng yang menurutku big idea and inspiration . Sebuah sudut pandang yang sayang kalau diabaikan, didengarkan mentah-mentah alias gak sampai ke seluruh ingatan (ruang otak).

    Jadi, yang dimaksud Ceceng berdiri di 5 jari pada telapak tangan ini adalah dia berpikir gimana sih dalam menghadapi polemik kehidupan ini mampu tetap berdiri alias hidup. Dengan jari-jarinya bisa mengahasilkan uang dalam kondisi ya intinya dia harus bertahan hidup.

    Jaman kuliah dulu, salah satu mantan karyawan disebuah perusahaan yang memutuskan resign tentang sebuah pilihan hidupnya, dan pasti ada alasan sendiri ya.
    Dan ketika itu dia harus tetap kuliah serta membiayai hidupnya. Alumni jurusan manajemen pemasaran ini yang awalnya saat mendaftar kuliah ingin ambil jurusan tekhnik infomatika karena terinpirasi dari teman (mentor) yang mengingatkannya untuk melanjutkan pendidikan ini, dia harus berpikir lho saat penghasilan jadi karyawan sudah off, berangkat ke kampus pakai bensi berarti mengeluarkan uang, gimana caranya di kampus gak sia-sia, mengeluarkan dan mendapatkan. Dan anak muda ini punya pikiran, melupakan malu dan gengsi, Ia jualan.

    Saat itu jualan nasi kuning, aqua botol dan snack. Baginya ambil barang di orang lain, dia harus dapat keuntungan. Katanya jika di ibaratkan 5 jari itu :
    1. Jempol dapat penghasilan dari nasi kuning
    2. Jari telunjuk dapat penghasilan dari aqua botol
    3. Jari tengah dapat pengasilan dari snack
    4. Jari manis penghasilan dari tempat lain
    5. jari kelingking pengasilan ditempat lain juga

    Dan secara continues . Dia yang kini juga memiliki ide buat bisnis, mulai dari rental PS di kampung halamannya Cianjur, serta photo copy di dekat kampus. Good idea soal bisnis dari sudut pandangnya tentang jari yang dimiliki, gimana caranya mendapatkan penghasilan dari berbagai sumber.

    ______

    Menjadi perantau dan berpetualang di kota orang, terkadang kita harus berani naik level ya meskipun prosesnya gak mudah. Salah satunya banting rasa malu, kantongin gengsi. Jalanin aja, dan nikmati prosesnya.Sebab dihidup ini gak ada hasil tanpa proses yang dilalui?

    ______

    Berdiri pada 5 jari, telapak tangan yang kita punya nyatanya perlu. Jalanin kehidupan yang bentar ini dan terlalu singkat menjadi hal yang tidak monoton. Sumber-sumber pendapatan untuk menjadi bekal perjuangan hidup itu perlu lho, kurangi kebanyakan gaya temukan cara menjadi diri yang lebih berisi.

    Cikarang, 1-3-2019

    -Tumiesn-

    Baca Juga : Walau Buruh Pabrik Bukan Penghalang Melanjutkan Pendidikan Kerja Sambil Kuliah? Siapa Takut! Ruang Saksi Bersama