Ilmu Efisien, PAS Nikah





Nasehat dari seorang sahabat, tentang pentingnya ilmu sebuah pernikahan.
Sahabatku yang memang cara pandangnya simple, tapi elegan.
Sebuah cara pandang yang bukan dari materi, fisik, duniawi. Karena bagaimana pun ujung-ujungnya terkesan mengejar dunia, serakah.

Ini tentang ilmu "Efisien" yang digunakannya adalah bagaiman caranya adil dalam segala hal, tanpa melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangi, intinya PAS.

Sebuah contoh tentang pernikahannya di tahun kemarin, yang menurutku sangat menginspirasi, hingga kenapa akhirnya ku bagi? karena semoga ini menjadi bekal buat teman-teman yang mau menikah (khususnya perempuan yang pasti menikah sebagai jalan ibadah menuju Surga).

Ia memilih menikah dengan cara sederhana, tidak perlu berpesta-pesta ria, bergelamor (hura-hura) meski bisa saja Ia meminta itu kepada calon suami (saat sebelum akad nikah), meskipun menikah hanya sekali seumur hidup (insya Allah).
Sahabat ku yang seorang perempuan cerdas dalam pengaturan apa pun termasuk mengalokasikan biaya nikah. Dengan kecerdasan yang tak di bumbui nafsu dunia untuk bermegah-megahan nikah (tidak memberatkan pihak pria), biaya nikah diataurnya sedemikan rupa (tidak di habiskan untuk acara resepsi pernikahan, tetapi sebagian dibelikan perabotan rumah tangga) bukan soal dia ingin beli perabotan, tapi ada alasan sederhana tapi mengandung makna.

Ia memikirkan tentang tujuan menikah itu sendiri. Menikah itu kan dua orang jadi satu, Ia berpikir pemberian suami sebaiknya digunakan untuk manfaat berdua, untuk kebahagiaan. Kebahagiaan kan hal non fisik, biarpun bentuknya mesin cuci, kulkas, tv, springbed dsb. Ia gak lihat dari situnya, yang dipikirkan, dengan punya mesin cuci, gak capek sama nyuci doang, tapi bisa layanin suami lebih maksimal, dengan beli kulkas bisa simpan makanan dan masakin suami yang enak-enak juga bisa berhemat dimasa depan, dengan punya tv bisa punya hiburan di rumah. springbed bisa tidur enak berdua.

Selain itu juga Ia tidak mau jika sampai uang yang menjadi lelahnya calon suami dan diserahkannya sebagai uang seserahan pernikahan itu cuma dinikmati sama dirinya saja. Dengan menjadikannya sesuatu yang fungsional, Ia bisa adil sama pasangannya, sebab niat sebuah pernikahan bagi seorang perempuan ingin menjadi istri shalehah, maka niatkan yang betul, laksanakan seharian sebagai ibadah, modalnya ya dari uang tadi misalnya.

Ini juga sebagai cerminan untuk diri kita, kalau kita layak jadi istri yang akan membahagiakan dia, yang bisa menjaga hartanya, hatinya, jiwanya, bisa atur nafkah untuk jadi sesuatu yang berkah. Dan dia Sahabatku yang gak pernah bahas hal fisik, tetapi bilang hal "abstrak" , "iman", "kebahagiaan", "berkah".

Sebuah cara pandang yang sederhana bukan tentang kepuasan dunia.
Terima kasih untuk nasehat sebuah pernikahan sahabat terbaik ku.

Semoga yang sudah menikah, langgeng selalu dengan terus belajar menjadi pasangan terbaik.
Dan yang mau menikah mulai mempersiapkan diri, karena menikah ada ilmunya.

Cikarang, 11-1-2019

-Tumiesn-
Sebuah pesan pernikahan dari seorang sahabat




    Perencanaan atau Kosong?





    Selamat tanggal 1 di awal tahun, 2019.
    Nah, untuk tulisan di awal tahun ini saya mau bercerita tentang sebuah perencanaan.
    Bagi setiap orang pasti udah mulai sibuk ya dari kemarin-kemarin untuk membuat planner di tahun 2019.
    Tentang perencanaan apa sih yang akan di buat untuk di capai?

    Tahun baru bagi saya sendiri bukan untuk sebuah perayaan, hura-hura. Tapi lebih ke perenungan, introspeksi diri.
    Ingat lagi tahun-tahun sebelumnya (bukan hanya 2018) kira-Kira adakah perencanaan yang pernah dibuat lalu gagal?
    Adakah setiap perjalanan yang di lewati banyak menyakiti orang lain, baik lisan maupun tulisan?
    Tentang sikap dan sifat yang pasti jauh dari kata sempurna sehingga banyak menyebalkannya?

    Awal tahun mungkin kita (sebagian orang) akan sibuk membuat resolusi untuk hidup lebih baik lagi.
    Bisa di tulis di Buku catatan Kecil atau di pajang di dinding dengan ukuran yang besar (terlihat).
    Tetapi, kadang kita justru sibuk mengoreksinya di akhir tahun saja, bukan Setiap hari (termasuk saya)
    Perencanaan atau kosong? alias sekadar gemes-gemes menulis keinginan di awal tahun, tapi tindakan? Akh.. Kalau itu hanya pribadi kita sendiri yang tahu.

    Lalu apakah menuliskan perencanaan itu perlu?
    Menurut saya, perlu.

    Menulis planner merupakan salah satu cara bersyukur, mawas diri, melatih lebih disiplin, dan membuat ingatan kita lebih baik dan tetap memiliki keinginan untuk tumbuh dalam kehidupan (asal Jangan hidup kita termakan ambisi dunia).

    Perencanaan dengan di imbangi ACTION akan lebih baik bukan?
    Dari pada hanya sekadar Kosong alias lembaran kertas tertulis tapi aksinya NOL.

    Kita hidup sebentar saja di dunia, dan yuk merancang hidup lebih bermakna.
    Bebas, semua orang memiliki caranya sendiri. Tapi harus ingat kembali setiap tindakan harus ada alurnya dan tanggung jawabnya.
    Termasuk perencanaan, kita yang membuat dan kita pula lah yang bertanggung jawab dengan cara action jangan di abaikan.

    2019 move on, dari malas menjadi giat.
    Dari tak ada tujuan mari memiliki tekad untuk bertujuan.
    Dan dari yang sendiri semoga di segerakan bertemu dengan teman, teman hidup.

    Cikarang, 1 Januari 2019

    -Tumiesn-
    1 of 365


    #30HARIBERCERITA #30hbc19 #tumiesn #mudaberkarya #2019