Sepucuk Surat Cinta di November






Untuk yang tercinta...

November dibatas-batas waktu, aku tersenyum melihat bagaimana wajah haru mu.
Kau memeluk ku, erat.
Hari itu ku tanya, "kenapa engkau menangis?"
Katanya, "dirimu amat bahagia, tak menyangka."

Surat ini ku tulis untuk mu, biasanya sesuatu yang tertuju hanya untuk mu akan ku sampaikan, ku bacakan dan dibisikan pada telingamu bersama angin bahagia.
Rasanya baru kemarin kau timang-timang aku, kau gendong aku, engkau saksikan pula bagaimana seorang anak kecil harus ikut terjun payung menggendong dagangan ke pasar untuk menyambung hidup.

Masa kecil yang tak akan diluputkan, tentang berlatih berjuang kerasanya hidup, hujan yang tak diperdulikan ketika jatuh membaluri seluruh tubuh kecil itu tatkala menyebrangi sungai, mendaki dari perbuktikan satu ke perbukitan yang lain, juga tentang panas yang tak pernah dirisaukan, meski keringat bercucuran.
Momentum kehidupan masa kecil untuk meraih impian, membantu mu dikebun tercinta yang mengandalkan musiman buah-buahan, mengayunkan kaki menggendong daganganmu ke para pemborong jualan mu, juga kaki ku yang tak pernah berkhianat untuk belari mengejar impian melalui pendidikan dimasa Sekolah dasar juga sekolah menengah pertama.

Hari itu tatkala ku kenakan toga, aku yang katanya telah disahkan oleh perguruan tinggi, sebagai salah satu anak manusia yang mengemban amanah baru bukan sekadar tambahan huruf dibelakang nama. Engkau peluk aku, tak menyangka bagaimana anakmu ini bisa mengenakan kain itu yang tak pernah engkau bayangkan, sosok anak ingusan belasan tahun lalu yang hampir kandas berhenti sekolah Karena merasa malu atas cemohan bocah-bocah sebaya.

Aku tersenyum, menangkap matamu.
Dan kini ku paham, cintamu tak pernah hilang, do'a mu selalu terpanjat menembus langit, dan diturunkan hujan-hujan keberkahan.
Terima kasih teruntuk engkau Mama,
Kesetiaan dan cinta mu adalah pembuktian, kepada suami dan anak-anak mu, bahwa menikah sekali dan mendidik anak-anak semampu mu dengan do'a-do'a yang tak pernah di lupakan.

Sepucuk Surat cinta di November, aku kini tahu rasanya jatuh cinta terhadap caramu mencintai keluarga, Mama.

Cikarang, 30-11-2018

-Tumiesn-
#tumiesn #NulisAsikTebarManfaat
#menulitpotensimanusia #lampung




    Sudahi & Cukup




    Merenda Cinta






    Disetiap senja yang datang silih berganti
    Pada dermaga aku menanti
    Tentang mataku yang mentap ke depan

    Aku selalu mendo'akan dalam tumpah ruah
    Tangisku yang sering pecah
    Bila ku ceritakan tentang mu pada-Nya
    Kau tahu? Bagaimana rasa ini berjuang menunggu mu

    Duhai engkau, sudikah membawaku berlayar?
    Merenda cinta, membangun surga
    Apakah kau tega menenggelamkan ku pada rindu terlalu lama?.

    Kamu yang tercipta dalam syair terindah
    Mendekatlah agar surga semakin dekat untuk kita raih

    View this post on Instagram

    • *Merenda Cinta* -Tumiesn- Disetiap senja yang datang silih berganti Pada dermaga aku menanti Tentang mataku yang mentap ke depan Aku selalu mendo'akan dalam tumpah ruah Tangisku yang sering pecah Bila ku ceritakan tentang mu pada-Nya Kau tahu? Bagaimana rasa ini berjuang menunggu mu Duhai engkau, sudikah membawaku berlayar? Merenda cinta, membangun surga Apakah kau tega menenggelamkan ku pada rindu yang terlalu lama? Kamu yang tercipta dalam syair terindah Mendekatlah agar surga semakin dekat untuk kita raih • • • • • • • Terima kasih teruntuk Voice : @citraatp Model : @citraatp Editor : @romemory13 Puisi : @tumiesn23 • #tumiesn #puisi #puisitumiesn #mudaberkarya #indovidgram

    A post shared by T U M I E S N (@tumiesn23) on



    Cikarang, 25-11-2018

    -Tumiesn-






    Pindang Ikan Patin Lampung, Rp. 30.000 Jadi 4 Porsi




    Sabtu sore kemarin merupakan hari seseruan dengan teman kuliah,
    Kak Hana, Muli (gadis) Lampung timur.
    Nah, kebetulan aku yang dari Bandar Lampung ini emang tertarik pengen belajar masak salah satu menu khasnya orang Lampung yakni pindang ikan patih.

    Ikan patin sendiri ada 2 jenis, ada yang air tawar dan laut. Tapi, kita milih ikan tawar.
    Ooh ya, kemarin kami masak Syantik bukan cuma masak, tapi sambil menghitung berapa kocek yang harus kami keluarkan, dan yang pasti dalam rumusan alamiah urusan perdapuran, memasak sendiri akan lebih hemat dari pada beli diluar.

    Biasanya aku kalau lagi pengen makan ikan patin harus ke rumah makan Palembang yang cukup jauh dari rumah, dan ini cukup mahal sekitar Rp.23.000 sampai Rp.25.000 (pakai kerupuk hehe).

    Nah kami dalam memasak Pindang Ikan Patin Lampung, hanya mengeluarkan kocek Rp.30.000 untuk 4 porsi, dan Silahkan di hitung sendiri perbandingannya.

    Berikut penjelasan untuk bahan, harga, resep, caranya ya.

    Bahan + harga =
    1. Ikan patin 600 gram (1 ekor jadi 4 potong) = Rp.15.000
    2. Nanas tua (jangan mateng) = Rp. 4000
    3. Cabe merah besar + Cabe rawit untuk sambal = Rp. 2000 (dikit aja)
    4. Lengkuas + serai = Rp. 1000
    5. Jeruk nipis = Rp. 1000
    6. Bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, garem, terasi = Rp. 2000
    7. Daun bawang = Rp. 1000
    8. Daun kemangi = Rp. 1000
    9. Tomat = Rp.1000
    10. Air = Rp. 2000 (anggap masuk perhitungan ya)

    Cara membuat :
    *Bumbu yg dihaluskan
    1. Cabe merah besar
    2. Bwang merah
    3. Bawang putih (dikit saja)
    4. Kunyit
    5. Terasi dkit
    6. Garam
    Dihaluskan tp agak kasar jgn terlalu halus

    *Bumbu digeprek :
    1. Lengkuas dan sereh

    *Bahan pelengkap :
    1. Nanas buah tua tapi jangan yg terlalu masak , kupas dan potong dadu besar.
    2. Tomat (potong dadu)
    3. Daun bawang dan kemangi (potong besar-besar)

    *Bahan utama
    1. Ikan patin tawar (1 ekor jadi 4, cuci hingga bersih)
    2. Lumuri ikan dengan jeruk nipis, diamkan 15 menit agar membantu menghilangkan bau amis

    Cara memasak :
    Masukan ikan yang telah dilumuri dengan jeruk nipis pada panci atau wajan, masukan bumbu yang dihaluskan dan bumbu yang digeprek.
    Masukan air mineral, kemudian panaskan pada api alias kompor jangan terlalu besar nanti gosong (kalau ditinggal pergi 1 jam hehe)
    Setelah ikan dirasa sudah matang, masukan potongan nanas , tomat, daun bawang dan daun kemangi.

    Jika rasa sudah pas alias sesuai selera, angkat dan hidangkan.
    Siap disantap, dan lebih nikmat saat panas.

    Ooh ya, sebagai pelengkap dari ikan patin buatlah sambal terasi atau sambal buah pakel alias limus. Kalau orang Lampung khasnya sambal terasi, terdiri dari cabai, bawang merah, bawang putih, garam, tomat, terasi. Goreng bijian terus tumbuk. Jadi deh.

    Silahkan di coba di rumah kamu.

    Cikarang, 25-11-2018

    Tumiesn
    (Story masak Syantik)
    And makasih kak Hana.





    Lembutnya Perasaan Perempuan Buku ke-5 (antologi)




    Baca, ide, nulis, berbagi, love dan inilah life.
    Dan aku tetap happy :-)

    Alhamdulillah udah mendekati angka menuju 4 tahun berkarya untuk saya, semoga Allah selalu limpahkan rahmat-Nya, dan kasih sayang-Nya sehingga apapun yang saya kerjakan semog berkah.




    Beberapa tahun belakangan emang sempat gak produktif, karena banyak alasan hehe.
    Ketika waktu kerja, kuliah dan belajar nulis semunya harus berjalan seimbang, tapi tetap ada yang tak bisa di fokuskan karena memilih mana yang lebih urgent untuk di kerjakan.

    Alhamdulillah satu masa selesai dengan baik,
    Yakni menyelesaikan study, sebuah jurusan yang dahulu saya jatuh hatikan sambil berjalan, yakni manajemen pemasaran, sebuah jurusan sepasang dari kepenulisan, #happy.

    Nah, satu buku ini Lembutnya Perasaan Perempuan terbit setelah wisuda, alhamdulillah.

    Antologi alias kumpulan tulisan dari para penulis perempuan dalam project Nulis Bareng Robi di batch 6.
    Masya Allah, Allah baik sekali hingga saat ini masih memberikan karunia-Nya untuk saya hingga bisa berbagi kepada sesama melalui karya tulis.

    Buku ke 5 ini berupa antologi semoga dapat bermanfaat.

    Cikarang, 24-11-2018
    -Tumiesn-




    Hujan di Puisi mu





    Terbentang luas jalan telah dicapai
    Ditengok ulang setangkai pena yang telah usang
    Ku gapai, digenggam perlahan mata nanar mengingat lalu terkupas ulang semua kenangan
    Tentang mu, puisi yang pernah tercipta dalam sajak-sajak sederhana

    Di hujan musim yang telah terlewat aku menangkap dua bola matamu, berbinar Indah
    Mengikat senyum juga tawa riang mengalahakan gemericik hujan yang berjatuhan
    Hujan di puisi mu membekas pada memori kenang
    Tak berubah meski purnama telah jauh meninggalkan jejak
    Kau meneduhkan, dalam kenangan yang pernah di semogakan
    Jua rasa yang pernah melebur pada taburan bunga
    Jatuh dan bangun cinta yang pernah di usahkan
    Hujan di puisi mu, kau yang terkenang dalam rasa dan do'a
    Pelayaran pada purnama yang telah terlampaui

    Bila kembali arah tak mungkin
    Bisa jadi kita berjumpa pada dermaga yang bertujuan sama atau berpisah ulang
    Hujan di puisi mu, sajak tentang mu terbuka ulang

    Cikarang, 23-11-2018

    -Tumiesn-

    #tumiesn #puisi #NulisAsikTebarManfaat #menulitpotensimanusia #bltmingguke-4
    #berbagilewattulisan




    Terima Kasih Untuk Kamu Triangulasi Sumber (Pembaca, Penulis & Komunitas) Skripsi Solusi





    Perjuangan adalah aktualisasi bukan sekadar deskripsi dari gabungan kata-kata, seperti perjuangan hidup seseorang dalam merajut setiap asa, apa pun itu.

    2018, masa dimana saya harus berjuang di semester akhir. Tentang tugas akhir yang harus di hadapi, dilakoni dan bukan sekadar 'Menyusun Skripsi' tapi sebuah karya yang harus diperjuangkan & di pertahankan.

    Allah, baik sekali.
    Sebuah impian Skripsi yang telah saya idamkan sejak 2017, tentang kegelisahan-kegelisahan yang muncul sebagai seorang penulis pemula yang cukup merasa kesulitan dalam menyebarkan karyanya, sebuah pengaruh dari minat baca di lingkungan yang begitu minim, kesedihan hati yang menimbulkan tanya, mengapa? Kenapa? Ada apa? Dan harus bagaimana?
    Tapi, dibalik kegelisahan itu justru Allah kirimkan dosen yang memahami, mengerti dan mendukung sepenuh hati apa yang saya impikan, yakni #SkripsiSolusi

    Sejak semester awal, saya memang memiliki impian besar, bukan sekadar kuliah, berteman dengan satu kelas, pulang, cari uang buat bayar spp dan selesai. Tidak, hal seperti itu saya jauh-jauhkan, tapi bagaimana saya tumbuh mencari passion, membuka jaringan lebih luas, bukan soal nilai ipk, tapi value buat hidup saya, karena moment 4 tahun (kuliah harus tepat waktu) harus memiliki kisah yang unik, terkenang, mengesankan dan bisa diceritakan tentang persoalan perjuangan (cerita lengkap tentang perjalanan #Kuliah Tumiesn mungkin akan diceritakan di postingan selanjutnya ya).
    Semester awal saya pernah do'a minta sama Allah, "Ya Allah, kirimkan saya dosen yang mengerti saya."
    Sebuah do'a-do'a yang tak cukup sekali atau dua kali saya panjatkan, tapi berkali-kali.

    Suatu musim mendekati semester akhir Allah kabulkan do'a sejak semester awal yakni Allah dekatkan saya dengan seorang dosen Marketing yang sangat baik, dan memahami saya, alhamdulillah itu merupakan kado terbaik yang saya dapatkan.
    "Bu, saya ingin bikin Skripsi tentang buku, penulis dan blablabla."
    Dan beliau berdiskusi dengan suaminya, yapz, sebuah variabel yang ditemukan saat di komunitas MRC tahun lalu 'Personal Branding'

    2018, sejak Maret saya bolak-balik kampus curhat soal skripsi, tanya bagaimana dan harus seperti apa.
    Dan Allah kasih petunjuk, dengan mengirimkan dosen sepasang sprofesi di bidangnya, Bu Yunita & Pak Edy merekalah dosen inspirasi yang sangat membantu mewujudkan #SkripsiImpian #SkripsiSolusi
    Sebuah arahan-arahan yang terus saya ikuti dan pelajari, sebuah Skripsi berjenis Kualitatif Deskriptif berjudul, Tumiesn : Peta Mental Personal Branding Penulis Pemula (Aplikasi Zaltman Metaphor Elicitation Technique).
    Sebuah Skripsi yang ingin saya persembahkan kepada para penulis pemula agar tetap semangat berkarya, bertumbuh tanpa henti.

    Selain mengunakan triangulasi teknik, saya juga menggunakan triangulasi sumber data yakni :
    Pembaca, Penulis & Komunitas, sebuah syukur yang ingin saya sampaikan kepada kalian para triangulasi sumber.
    1. Pembaca -> mereka adalah sumber-sumber yang menjadi partisipan yang sudah sangat baik mau di wawancarai sejak bulan April 2018. Meluangkan waktu untuk bertemu yang tak cukup sekali bertemu dan tak cukup sejam menghadapi setiap pertanyaan yang saya lontarkan.

    2. Penulis -> para penulis pemula yang menjadi obyek penelitian.
    Kalian yang saya temui dalam komunitas-komunitas kepenulisan, para penulis pemula yang memiliki semangat juang dalam berkarya yang tak mudah, terima kasih sejak Maret hingga Agustus kalian mau ku wawancarai baik secara langsung maupun dengan media elektronik, karena saya hanya mampu menjangkau teman penulis pemula sampai Jakarta saja, untuk di luar pulau jawa dan selebihnya menggunakan media yang saling terhubung.

    3. Komunitas -> sebuah tempat para perkumpulan para penulis yang memilik minat yang sama dalam dunia literasi,
    Terima kasih banyak teruntuk perwakilan dari teman penulis pemula dari komunitas :
    1. Kelas Nulis Asik Tebar Manfaat
    2. Kampung Blog
    3. Saung Literasi
    4. Simfoni Aksara
    5. Mentoring Menulis Online
    6. Author Associate Inspirator Akademi
    7. Bikin Buku Club Indonesia

    Perwakilan para penulis pemula yang saya temukan di komunitas, Komunitas-komunitas tersebut juga telah sangat berjasa dalam membangun brand bagi penulis untuk saling berkarya dan tumbuh bersama.

    Tak ada kata yang lebih indah dari 'Alhamdulillah' sebuah masa yang telah berhasil dilewati, sebuah impian yang Allah mudahakan, semua itu tidak terlepas dari kalian, para dosen pembimbing, Triangulasi sumber dan orang-orang terbaik.

    Do'akan Skripsi yang saya teliti berbulan-bulan lamanya yakni lebih dari 8 bulan, semoga tak hanya selesai di rak perpustakaan kampus dan rak buku saya, tapi di rak kamu (para pembaca).

    Terima kasih, untuk ketulusan kalian yang tak bisa disebutkan satu persatu.

    Cikarang, 20 November 2018

    Tumiesn.

    (Curhatan mini Tumiesn)






    Kecewa mu, Agar Engkau Bersyukur




    Pernahkah kamu merasa kecewa?
    Tatkala Asa yang tengah dirajut, harapan jua telah dijunjung, namun kenyataan tak sepadan.
    Bagaimana perasaan mu tatkala itu?
    Kesal, marah, menangis, atau bagaimana?
    Lalu, saat kecewa mu melanda apakah pikiran dan hatimu mampu bekerjasama? Yakni membentuk satu kesatuan dalam ketenangan?

    Mengkontrol diri dalam keadaan selelah-lelahnya hati yang berbalut kecewa adalah tugas yang sangat berat, bila kita mampu menaklukan rasa kecewa dalam ketenangan adalah hal yang sangat luar biasa.
    Lalu, bila kita tak bisa?
    Kebanyakan dari kita saat kegelisahan, kelelahan bahkan kecewa mendalam menyapa, akan sulit mengendalikan diri dalam ketenangan setara kenormalan, butuh waktu, penenangan.

    Marilah kita coba merenungkan hal ini.
    Disuatu hari kita kecewa dalam suatu hal, marah, benci dan rasanya putus asa menggelora, apakah kita pernah berpikir saat itu bahwa semua yang tengah terjadi akan ada maknanya?
    Mungkin saat itu kita memang belum mengerti 'Ada apa?' 'Kenapa?' dan 'Mengapa?' hal itu terjadi.
    Sebuah kecewa yang hadir rasanya membuat hati lebam.
    Hari itu, bisakah kita berpikir jernih?

    Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk melapisi kecewa dengan sebuah obat kesembuhan, ada yang berjuang mati-matian mengubur ingatan, bahkan ada yang merana dalam ketidak wajaran dan sebagainya.
    Tapi, apakah kita pernah berpikir ada satu hal yang harus dilakukan?
    Yakni tentang rasa syukur.

    Karena bisa jadi, kecewa yang hadir hari itu adalah hikmah yang begitu Indah di hari selanjutnya.
    Allah menguji manusia dengan memberikan rasa kecewa, bisa jadi hal itu Karena agar hati kita tersentuh, dan mensyukuri bahwa yang terlewati adalah hadiah terindah di hari selanjutnya.

    Kecewa mu, agar engkau bersyukur dan lebih dekat lagi dengan-Nya.
    Datangnya kecewa mungkin karena hal itu tak baik untuk mu, Karena Allah akan segera gantikan dengan hal yang terbaik, untuk menyempurnakan asa mu.

    Cikarang, 4-11-2018

    -Tumiesn-