Mei Berpuisi Day-30 "Rindu Tahu Rumahnya"






ku titip pesan untuk rindu
Tentang rasa yang tetap ada
Bukan bualan tanpa makna
Ini tentang kisah yang di lukis dalam Do'a

Aku menunggu mu dengan cara yang semoga terbaik
Merapatkan langkah yang di harap semoga Dia meridhoi
Tentang perjalanan menembus dinginnya pekat menuju terang
Aku dan engkau yang terbiasa sendiri, sabarlah nanti juga akan bertemu waktu bertamu

Rindu tahu rumahnya
Tentang menunggu, menjemput dan menerima
Tenang saja, semua tak akan kemana-mana

-Tumiesn-

Musikaliasi Puisi ada di IG @tumiesn23

#meinulisasik
#meiberpuisi
#tumiesn
#puisi
#day-30
30 Mei 2018




    Mei Berpuisi Day-29 "Teman Berlayar"






    Kau berlayar sesukamu
    Mencari impian masa depan
    Ku persilahkan dan sangat ku hargai setiap keputusan
    Aku tak akan mencegahmu

    Perahumu boleh bersandar di tepian mana yang akan di singgahi
    Ku bebaskan, sesuka mu saja
    Aku tak akan melarang
    Sadar ku saat ini kita bukan siapa-siapa

    Kau juga boleh pergi
    Membelah dunia dengan pertujukan gaya berlayarmu
    Melakukan pertualangan yang bagi mu perlu
    Menghabiskan masa labil mu, hingga akhirnya egomu luntur
    Dan Kau pun sadar tentang tujuan pelayaran perahu mu

    Sejauh apapun kau bertandang
    Seelok bagaimanapun tepian bersandar
    Pada akhirnya kau akan tetap pulang
    Menuju rumah yang sebenarnya untuk mu
    Bukan sekedar singgah sebentar
    Melainkan menetap dan membawa pemilik rumah hati mu sebagai teman berlayar

    -Tumiesn-

    #meinulisasik
    #meiberpuisi
    #Day-29
    29 Mei 2018




    Mei Berpuisi Day-27 "Nikmat Cinta-Nya"




    Tubuhku memang tak merasakan bagaimana sakitmu
    Luka yang sempat membuat batin kacau
    Episode kehidupan yang membanting jiwamu sekeras-kerasnya
    Tangis yang tak menetes lagi
    Dan kau sempat sulit mengendalikan tubuhmu

    Aku tahu bagaimana sulitnya menjadi dirimu
    Beberapa purnama Kali ini, cahaya sinar mentari sulit dinikmati
    Terkurung dalam ruang yang harus memaksamu tetap bertahan
    Dalam senyap yang tak pernah terbayangkan
    Kau diminta oleh-Nya, istirahat sebentar dulu

    Aku tetap bangga pada mu
    Dibalik raut sedih tentang pertanyaan mengapa terjadi?
    Kau masih tetap tersenyum, memberikan energi kasih sayang pada sekelilingmu
    Kau tetap berusaha bergerak melawan sesuatu yang sempat terlihat mustahil
    Nyatanya tak ada yang mustahil bukan? jika nikmat Cinta-Nya berlaku
    Sungguh aku terharu, Allah begitu baik

    Kau hebat, kesusahan dijadikan alasan untuk bangkit
    Lemah diganti agar tetap kuat
    Tak ada yang tak mungkin, ujarmu
    Kau percaya, nikmat Cinta-Nya selalu ada

    -Tumiesn-

    Tak ada yang mustahil bagi Allah.
    Lekas pulih pangeran Ibun.
    We love you

    #meinulisasik
    #meiberpuisi
    #tumiesn
    #paman
    #ramadhancinta
    #day-27
    27 Mei 2018
    Bumi Allah
    Di bawah Langit Allah, Pelangi hidup




    Mei Berpuisi Day-26 "Seperti Cahaya"


    Cahaya Impian



    Dalam setiap perjalanan aku menantimu
    Ku gerakan kaki melangkah secepat mungkin
    Menerjang kabut dan gelapnya yang bisa saja mencengkram uluh hati Kuat-kuat

    Aku memang merindukanmu
    Bersajak denganmu dan menyalakan cahaya impian

    Aku menantimu
    Meski entah penantian ini benar atau keliru
    Yang ku tahu rasa ini seperti cahaya yang menerangi gelap, kelamnya kisah

    -Tumiesn-




    #meinulisasik
    #meiberpuisi
    #tumiesn
    #perjalanan
    #cinta
    Day-26
    26 Mei 2018





    Mei Berpuisi Day-24 "Mendefinisikan Cinta"




    Kau tahu tentang rasanya jatuh cinta?
    Saat dia dekat sama sekali tak ingin berpisah
    Tatkala jauh, hati gundah rasanya ingin berjumpa

    Kau tak bisa melarang hatimu yang tengah kasmaran
    Sebelah matamu saja tak mungkin mampu menghentikan
    Tapi, mengapa banyak yang saling balas membenci tatkala cinta usai?

    Cinta seperti drama jika berpandang pada ambisi
    Tanpa tujuan hanya dilapisi sekedar terhipnotis akan hadirnya
    Cinta bukan begitukan?

    Katanya cinta memiliki banyak definisinya
    Tentang musim yang kadang subur bahkan kemarau mencekik pun jadi penabur kisah
    Kau bebas mengartikannya
    Hanya saja sikap dewasa mu yang membedakannya

    -Tumiesn-

    #meinulisasik
    #meiberpuisi
    #day-24
    #tumiesn
    24 Mei 2018





    Mei Berpuisi Day-23 "Hujan di Oktober"






    Hujan di oktober
    Memberiku ruang dalam senyap, sayup-sayup sepi
    Aku tak sendiri
    Meski banyak yang bilang dunia ku menyepi

    Tidak!

    Kadang cinta harus berakhir mana kala keyakinan mulai pupus

    Hujan di oktober
    Hari ini pasti tak sama dengan hari kemarin
    Atau hari ini mungkin tak sama dengan hari ke depan

    Lupakan saja, dan aku tak akan mencari
    Ya, aku akan melupakanmu tanpa harus meminta mu kembali
    Kecuali bilamana memang harus kaki kita saling terserat dekat dan mendekap
    Kita bisa apa?

    Hujan di oktober
    Kita saling patah hati

    HUJAN DI OKTOBER #meiberpuisi #meinulisasik #tumiesn #day-23 23 mei 2018 selengkapnya http://tumiesn.wagomu.id/e59678.html Atau klik di bio @tumiesn23 • Maafkan suara ini yang sangat falesss tingkat dari mbahnya fales Dan editannya yg masih ga jelas

    A post shared by Tumiesn (@tumiesn23) on




    Cikarang, 23-5-2018

    -Tumiesn-

    "Potongan Puisi ini berawal rekaman suara di oktober entah saat moment apa hehe"






    Kebetulan Dan Rejeki, Betemu Bung Smas Penulis tahun 70-an






    Bagaimana rasanya ketika suatu hari engkau tak sengaja bertemu dengan seseorang yang menerutmu luar biasa?
    Jika kau gemar bernyanyi, bertemu dengan penyanyi senior di era terlebih dahulu?
    Begitu pula ketika saya dipertemukan dengan seorang penulis tahun 70-an, secara tidak sengaja.

    Baca terus jika ingin tahu kisahnya, tetapi bila enggan, segera keluar dari link cerita sejarah ini.
    Semoga saja, dari kisah ini kita bisa memaknai serunya akan nikmat Allah yang tak terduga.

    face167face167face167



    16 Mei 2018, jam setengah enam sore saya dan Jeng Aya Rekan kerja keluar kantor.
    Pulang kerja tidak langsung ke kostan masing-masing, tetapi secara kebetulan Aya ngajak ke rumah Om nya di Bekasi Timur untuk mengambil CD printer yang memang saya perlukan.

    "Ambil CD printernya buat instal nanti, tapi ke Bekasi Timur ya mbak tempat Om (Om iparnya, dimana suami almarhum dari Bibinya)
    Saya pun sore kemarin ngajak Jeng Aya ke Bekasi, karena saya sedang sangat membutuhkan printer warisan setelah Tugas Akhirnya untuk Skripsi saya hahaha.

    Cikarang ke Bekasi Timur butuh waktu satu jaman, selain jalan macet saya pun memang bawa motor sekarang pelan tapi tak seperti keong kok hehe.

    Setengah tujuh malam, sampailah kami dirumah berpagar hitam. Masuk ke pekarangan rumahnya saya takjub, dengan mata yang remang-remang karena sepertinya mata minus ini nambah sekaligus kondisi malam, rumah yang berwarnakan putih serta banyanya pas-pas bunga yang menggantung dengan lebih banyaknya dedaunan hijau. Tanamanan yang tumbuh serta tersusun rapi menjadi rasa takjub melihatnya.

    Pas sampai, Om nya lagi makan seorang diri. Karena menurut cerita Aya, beliau saat ini memang hanya tinggal berdua dengan sang adik (penulis juga, yang menulis bukunya pak SBY).

    Setelah si Om selesai makan. Saya yang duduk diruang tamu menunggu jeng Aya shalat, sebuah pertanyaan pertama terlontar dari seorang yang usianya 67 tahun.

    "Teman kantornya Aya nak?"
    "Iya Pak, Betul."
    "Asal mana?"
    "Lampung Pak. Tapi, keturunan jawa. Kebumen."
    "Ooh, Kebumen? berarti Lampung palsu ya. hahaha."
    Saya pun tertawa.
    Seperti biasa, kalau saya di ajak ngobrol, panjang deh. Ada timbal balik tanya jawab.
    Dan si Om yang belum saya kenal namanya, malah bercerita tentang sepinya sudah setahun ini ditinggal sang istri meninggal, tak ada yang memasak dan sebagainya.
    Hingga suatu pertanyaan saya terucap, "Dulu bapak profesinya apa?"
    Sebuah pertanyaan yang terlontar ketika saya merasa sudah akrab berbicara dengan orang baru.

    "Penulis."

    Saya tercengang, dan otak saya langsung bekerja teringat skripsi hahaha.
    Untuk Skripsi saya, masih rahasia judul mah ahahaha....

    "Jadi, bapak penulis tahun....?" gak enak bilang jaman dahulu.

    Beliau tersenyum.

    "Karya bapak sudah banyak? dulu nulis jenis buku apa saja pak? boleh gak saya wawancarai. Duh saya senang sekali, kebetulan saya penulis pemula pak." dan rentetan pertanyaan saya keluar.

    Mulailah beliau cerita.
    Dengan penuh kehangatan seperti kakek ke cucunya, bapak ini bercerita mulai dari silsilahnya, siapa beliau, dari mana asalhnya, cerita lahirnya hingga akhirnya dua jam kami ngobrol.

    Nama Aslinya Pak Slamet Mashuri. Nama pena (nama samaran dalam menulis ada beberapa), untuk kebutuhan dalam mengimbangi produktifitas. Tapi lebih terkenalnya, Bung Smas.. Beliau lahir pada tahun 1951 di Pelosok Tegal, menamatkan SMOA (Sekolah Menengah Olah Raga Atas) Negri Pekalongan sebagi lulusan terbaik tahun 1969. Tahun berikutnya menjadi seorang guru olah raga di daerah Mataram, Jakarta.

    Aktifitas menulisnya sejak SMP di koran daerah sekitar tahun 1963-an. Kecintaannya menulis turunan dari sang Ayah yang memang suka bersyair dan Kakeknya juga seorang penerjemah Al-Qur'an.
    Beliau menulis secara profesional pada tahun 1970. Telah menghasilkan 300 Novel lebih, yang terdiri dari Novel remaja, dewasa dan kebanyakan anak-anak baik berupa serial maupun non serial. Diterbitkan oleh penerbit-penerbit Gramedia, Gunung Agung, Rosda Jaya, Cypress dan masih banyak lagi penerbit di Indonesia. Novel-novel serial diantaranya, serial pulung, Noni, Keluarga sirkus, Trio Tifa, Qipty, Siasat.

    Sejak tahun 1973 sampai 2006, banyak buku Bung Smas dipesan oleh Depdikdup/Depdiknas untuk bacaan sekolah SD, SMP dan SLA. Beliau menggunakan beberapa samaran untuk mengimbangi produktifitasnya. Pernah menjadi redaktur beberapa koran mingguan dan majalah baik secara bergantian maupun rangkap. Juga menulis novel dan cerpen untuk beberapa koran mingguan maupun majalah diantaranya, Majalah Hai, Bobo, Kucica, Kawanku, Siswa dan lainnya.

    Gadis penakluk adalah film yang diangakat dari novel pemenang sayembara karaya Bung Smas. Film ini mendapatkan 7 Piala Citra dan dan sebuah medali emas dari lembaga Psykholgi Indonesia. Disinetronkan
    26 episode dengan judul yang sama oleh Rapi Film

    Beliau juga menulis cerita dan skenario untuk sinetron-sinetron Fantasia (TVRI - 12 Episode)
    Kedasih (TPI - 128 Episode), Surga di telapak Kaki Ibu (SCTV - 30 Episode, mendapat penghargaan dari MUI sebagai sinetron syiar ramadhan), beberapa judul sinetron seri Takdri Ilahi, dan sinetron-sinetron lepas lainnya.


    Ada satu pertanyaan saya yang dijawab dengan mantap oleh beliau dan dalam sekali maknanya.

    "Motivasi bapak menjadi penulis apa, Pak? sehingga sampai saat ini tetap menulis?"

    "Kecintaan dan kesetiaan pada profesi. Karena menulis itu kubutuhan hidup." jawabnya dengan mantap.

    Bung Smas ini mesikup usianya kepala enam, tetapi masih kerap membaca dan juga menulis, meskipun menulisnya tak seproduktif seperti dahulu.
    Beliau pun bercerita bahwa saat ini tengah merampungkan karyanya yang menceritakan tentang sejarah silsilah keluarga dan kehidupannya.

    "Insya Allah, habis lebaran ini mau terbit. dan sudah bekerja sama dengan salah satu penerbit. Kalau mau, kesini."
    Bapak penulis yang satu ini baik dan menginpirasi sekali.

    Berbincang-bincang dengan beliau membuat saya menjadi semakin bersemangat dalam berkarya. Belajar darinya yang sangat produktif sekali. Meskipun saat ini beliau sering sakit, tetapi cara bicara, pemikirannya tetap sehat, serta ingatan yang menurut saya sangat masih tajam.



    Senangnya saya diberikan satu buku bonus tanda tangan beliau hihi.
    Pertemuan secara kebetulan ini benar-benar rejeki bagi saya.
    Gak kebayang akhirnya di Bekasi ada penulis senior yang sangat produktif pada eranya.
    Penulis novel dan skenario sinetron baik RCTI, TVRI, TPI dan stasiun televisi nasional lainnya.

    Bung Smas
    penulis keren yang berhasil menginspirasi.
    Semoga lain waktu bisa berjumpa lagi.




    Saya : "Bapak pernah ditolak penerbit?"

    Bung Smas : "Tidak. karena sebelum saya mengirim tulisan baik untuk koran, majalah maupun penerbitan buku, saya selalu pelajari terlebih dahulu tentang bagaimana mereka. Saya termasuk orang yang ingin tahu."


    Menulis itu cinta, dan kesehatan.
    Terima kasih atas pertemuan kebetulan yang menebarkan virus cinta menulis Pak.
    Serta merasa tetap sehat, diusia senja.

    Cikarang, 18 Mei 2018
    Tumiesn

    Tag :Bung Smas




    Mei Berpuisi Day-13 "Pamit Pulang, Duluan"





    Hari itu kau terbaring lemah
    Diranjang yang tak terlalu lebar
    Disisa-sia nafasmu katanya kau sempat berpesan
    Menitip pesan cinta untuk seluruh buah hati lewat kekasih hatimu
    Di bulan Mei dua puluh empat tahun silam engkau pamit pulang, duluan

    Aku masih terlalu lugu bahkan tak paham mengapa seisi rumah menangis serempak
    Jangankan untuk turut menangis, bahkan sama sekali tak ingat apa-apa
    Yang ku tahu, setelah melewati masa itu ku cari sosokmu
    Katanya, kau sedang pergi mengaji di rumah Allah
    Balitaku yang polos, hanya mengangguk saat itu

    Engkau pamit pulang duluan
    Dengan segala cinta yang kau tanam pada bidadari mu kini ku paham
    Bahwa cinta tak akan pernah pergi meski jasad telah bersemayam di perut bumi
    Duhai lelaki yang pernah memeluk saat ku bayi sampai balita
    Aku mencintamu, meski nyatanya semakin hari aku sadar aku jua nanti akan pulang seperti mu
    Engkau yang pulang lebih dulu , terima kasih telah mengajarkan cinta dan manisnya saling menjaga

    Cikarang, 13 Mei 2018

    Tumiesn

    "Hari ini aku hanya sedang merasa baper"

    #meinulisasik
    #meiberpuisi
    #day-13
    #tumiesn




    Mei Berpuisi Day-12 "Persimpangan Jalan"






    Aku berdiri dibawah serangan sinar lampu tepian jalan
    Yang kala itu pekat malam diterangi sedikit bintang
    Bulan yang tak bulat juga tak separuh bentuknya
    Aku menepi dalam diam yang semakin kalut

    Kau melambai tanpa praktik
    Bahumu tak terlihat
    Langkahmu sudah tak berbekas
    Kau hilang tanpa memberikan aba-aba

    Dipersimpangan jalan aku dipeluk angin malam
    Dihujani gerimis yang hampir saja tak disadari kehadirannya
    Ditertawakan oleh segerombolan kelalawar malam yang berterbangan
    Ditemani bayang-bayang, ingatan

    Cahaya yang sempat berkilau mulai meredup
    Memupuskan harap
    Memudarkan segenap asa
    Dipersimpangan jalan ku sadari, kita tak akan pernah sepakat

    -Tumiesn-

    #meinulisasik
    #meiberpuisi
    #tumiesn
    #jalan
    #Day-12
    12 Mei 2018