Belajar Dari Mba Erna, Mami Muda Pengejar Mimpi





Tak ada mimpi yang dapat digapai jika hanya diam ditempat, tidak ada aksi dan tak mau gigih berjuang.
Tulisan ini saya persembahkan buat kaum hawa, yang semoga saja dengan cerita yang ditulis dapat menginspirasi.

Wanita, bukan lagi soal dapur, kasur, sumur dan diam tanpa memiliki target hidup.

face167face167face167

Namanya Mbak Erna, teman kuliah di Fakultas Ekonomi. Sosok ini saya kenal beberapa bulan lalu.
Teman satu kelas di jurusan Pemasaran. Tegur sapa paling lama kamipun terjadi saat itu, beliau kirim pesan singkat bertanya, "Mbak Kekampus?" yapz, minggu itu adalah jadwal pertemuan workshop untuk anak-anak Pemasaran semester akhir yang dimana membahas soal penelitian yang akan di angkat beberapa bulan mendatang.

Awalnya saya mengira mbak Erna yang satu ini masih seperti saya, si Jomblo yang suka keluyuran ditengah-tengah kampus hehehe.
Nyatanya usut demi usut saya mengetahui jika beliau adalah seorang mami muda dari status watshap beberapa minggu lalu muncul di aplikasi tersebut.
Mbak yang satu ini yang ternyata orang Lampung juga seperti saya cukup membuat penasaran. Awal perkenalan saya hanya tahu dia Mahasiswi tingkat akhir, Pekerja dan juga seorang perantau dari tanah Sumatera.

Baiklah, karena rasa penasaran dan berhasil saya tanya-tanya tentang sosoknya, saya akan bagi siapa dia sebenarnya.
Pengen tahu? lanjut terus bacanya sampai habis ya.

face119face119face119

Dia berpacaran dan cukup lama yakni 6 tahun dengan seorang pria yang kini jadi suaminya, ayah dari putrinya.Mereka menikah pada 10 September 2016. Awalnya Ia belum siap untuk menseriusi hubungan kejenjang yang lebih serius, salah satu faktornya adalah umurnya yang masih muda serta pendidikan dijenjang perguruan tinggi belum selesai.

Doi pun bercerita, satu tahun sebelum jatuh hari H akad, sepasang sejoli ini memang sudah bertunangan. Dengan desakan dan keinginan calon ibu mertua yang segera pengen punya mantu, merekapun cepat di nikahkan. Terasa cepat, meskipun meraka sudah menjalin hubungan lama.

face167face167face167

"Impianku, aku tuh pengen punya rumah sebelum punya anak." ucapnya.
Dan alasan ini tak lain adalah agar sang buah hati yang terlahir dari rahimnya nanti memiliki tempat bernaung yang layak, tidak harus berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain.

Dengan saling mendukung, Suami Istri ini akhirnya memabungun rumah / merenovasi sebuah perumahan yang telah dicicil oleh sang suami sejak mereka pacaran. Saling bahu membahu, bekerja sama untuk membangun rumah impian.

Uniknya lagi, sang suami tetap mendukung sang istri untuk tetap melanjutkan kuliah serta karir sang istri yang bekerja di sebuah perusahaan di Cikarang, untuk tetap di lakoni.
Sang suamipun mengajarkan kemandirian pada istrinya, dimana ketika sang istri hamil sampai 9 bulanpun sebelum cuti menjelang kelahiran, sang istri tetap melaju ketempat kerja maupu kekampus dengan roda dua.

Pagi sampai sore bekerja, serta diselepi dengan jualan online. Kemudian malamnya kuliah dan pulang tengah malam. Sang suami yang bekerja di sebuah perusahaan dan mengalami sistem shift tersebut kadang membuat mereka jarang bertemu. Namun, menurutnya agar cinta dan bangunan rumah tangga tetap utuh adalah dengan menjaga komunikasi.

Mbak Erna, anak ke 5 dari 6 saudara ini, ia di takdirkan seorang yatim sejak kecil. begitu sangat menyayangi dan menghormati sang Ibu. Baginya Ibu adalah segalanya. Salah satunya ialah patuh kepada sang ibu. Sikapnya ini dilakukan sejak kecil, baginya ridha Allah adalah ridha Ibu.
Bersyukur juga ia memiliki Ibu mertua yang sangat sayang, tidak pelit mencurahkan kasih sayang dan hal itupun dilakukan sebaliknya oleh Mbak Erna.

"Alhamdulillah lahiran ku saat itu di tanggal 27 Juni 2017 lahir normal dan sangat mudah." imbuhnya.
Ia merasa lahiran tidak terlalu sakit luar biasa, dimudahkan oleh Allah. Ia pun berpikir bahwa itu semua karena dari dulu Ia sangat hormat dengan sang Ibu.
"Pokoknya Air mata Ibu saya tuh neraka buat saya, sedih kalau nyakitin hati ibu. Tetapi, alhadmulillah saya selalu berusaha buat Ibu bahagia, tidak pernah buat kecewa. Dan akhirnya semoga urusan hidup saya lancar. Intinya mah, hormati Ibu dan jangan pernah menyakiti Ibu." jelasnya.

Wanita yang kini telah di karunia seorang putri cantik sangat bersyukur sekali. Dan dia pun bercerita gimana rasanya gak punya uang dan uang Rp. 2000 itu sangat berarti banget, untuk soal kehidupan. Dia bersyukur di hadiahkan suami yang terus mendukung tentang kegiatannya yang full. Terlebih saat ini sedang sibuk-sibuknya di akhir semester.

Dahulu semapat terbesih buat berhenti kuliah, tetapi keinginan itu segera di cegah. Mengingat kembali mimpinya untuk sarjana, menghadiahkan kepada sang Ibu yang ingin sekali Mbak Erna ini mendapat gelar yang ditempuhnya dengan suka cita serta penuh warna.

face128face128face128

Belajar dari Mba Erna, Mami Muda Pengejar Mimpi dimana setiap wanita itu memiliki hak untuk menaklukan dunia dengan cara mengejar mimpi serta meraihnya. Mengelola asa, dan menjadi sosok yang lebih baik sepanjang masa. Memberdayakan diri selagi muda dengan kemampuan semaksimal mungkin. Membagi waktu antara suami, anak, orang tua, pekerjaan, kuliah serta berlajar jualan.

"Aku juga jualan Olshop, apa saja seperti baju, celana dan intinya sesuai pesanan. Oh ya, Aku juga menerima pesanan salad buah serta kredit elektronik." turunya.

Dan bagi dia saat ini selagi muda ya usaha semaksimal mungkin, nabung yang banyak buat buka usaha. Biar tidak bekerja di pabrik terus. Agar bisa mengurus suami dan anak yang lebih baik kedepannya.

Cikarang, 26-1-2018
Tumiesn

*Jum'at Inspriasi*





    10 Hari Tentang Paman






    Tertelungkup diri dalam kekacauan
    Terombang-ambing dalam ketiada berdayaan
    Gulungan badai perih menerobos hati yang lunglai
    Jatuh tak bertuan, berderai linangan mutiara kelabu dari lensa

    Ribuan do'a terucap
    Keheningan memendam kegundahan menyatu
    Tak ada tempat yang tentram selain bersujud kepada-Nya untuk mengadu
    Kekalutan tak mampu ditenangkan kecuali mengingat nama-Nya
    Hanya Dia pemberi segalanya
    Pasrah diri tanpa harus banyak kompromi







    Cinta Allah Ajaib




    Ini masih cerita satu minggu berjuang untuk kesembuhan Paman, adik mama yang sudah seperti bapak sendiri.
    Senin minggu lalu tanggal 8 Januari 2018 menjadi cerita sedih yang berusaha di ubah menjadi sebuah kekuatan dibarengi saling mendo'a.
    Kecelakaan yang menimpa paman karena ditabrak motor R-King dari belakang di Kawasan Jababeka 1, Cikarang ini menginggalkan sebuah cerita dimana beliau harus mengalamai kesakitan yang luar biasa.
    Mengalami masa kritis hingga 24 jam lebih masuk ICU, yang membuat keluarga, kerabat dan orang-orang tedekat seperti di runtuhi gumpalan awan mendung.
    Tiada Tuhan selain Allah, pasrah tapi tetap optimis untuk sebuah kesempatan sekali lagi agar Paman di beri kesehatan kembali agar ibadah lebih baik lagi, itu sederhana do'a yang dimana kami hanya manusia yang memanglah harus berserah namun, harus saling bahu membahu untuk sebuah harapan.

    Setelah ICU dilewati, hati ini rasanya mulai plong.
    Lanjut ke ruang rawat inap, dan saya berharap kamar 101 di Gedung Rawat Inap Utama Rumah Sakit Bhayangkara Polri Kramat Jati, Jaktim segera bangga karena Paman segera pulih.

    Ruang yang terdiri dari dua ranjang ini menjadi saksi bagaimana tulang belulangnya seperti di remat-remat tak kakruan. Bayangkan saja karena kelalaian anak muda berboncengan dengan mengendarai motor kebut-kebutan, menyisahkan kisah bahwa kaki kiri paman patah, tulang rusuk kanan kiri juga patah, serta tulang wajah kanan kiri pun begitu, patah.
    Ya Allah kami hanya bisa pasrah.

    Kemarin, 15 Januari 2018
    Paman melewati operasi berkategori besar yang memakan waktu 9 jam lamanya.
    Alhamdulillah semua berjalan lancar, meski membuat hati berdebar tak karuan.
    Allah yang maha cinta dan pemberi segalanaya.
    Allah selalu menyajikan penawar di antara rasa sedih, Allah Maha Besar.

    Sekarang kami harus fokus untuk pemulihan.
    Terima kasih buat semuanya,
    Ya Allah terima kasih.

    Kereta Bekasi, 16 Januari 2018
    Tumiesn




    Pejuang Sekantong Darah




    Jum'at malam pukul 18.30 WIB saya cukup panik manakala telepon dari keluarga mengabarkan Paman yang lagi di rawat butuh sumbangan darah. kemarin saya yang masih mengenakan seragam kerja yang memang baru aja sampe kosan dari tempat kerja bergegas cari pendonor.

    Segeralah update status di Whatsapp dan kirim pesan di beberapa group Watshap.
    Baik itu group rumpi di kantor, rumpi genk di kampus, group keluarga dan group kelas Japania Juku.
    Alhamdulillah satu pesan masuk dari seorang teman, namanya Kak Eni teman kerja di tahun 2013 lalu. Dan kebetulan udah lama juga gak pernah ketemu tapi dengan tekadnya melawan jarum, yang memang kak Eni takut sama jarum memutuskan buat ikut mendonorkan darah A yang di cari.

    Beberapa respon pun masuk dari banyak teman yang bermacan-macam golongan darah.
    Alhamdulillah terima kasih atas keperdulian yang tidak bisa dibalas ini. Semoga Allah yang membalas atas kebaikan kalian.

    Teman dari adik pun si Ahmad bersedia mendonorkan darahnya buat paman yang sangat butuh darah. Saya, adik dan Ahmad pun bergegas menuju stasiun Cikarang untuk ketemuan sama Kak Eni yang menunggu. Kami bergegas siap menuju PMI Kramat jati Jakarta.

    Saat sedang menunggu kereta datang, tiba-tiba seorang teman dari rekan kerja paman kirim pesan dan bilang mau ikut serta donor darah. Alhamdulillah, namanya Kak Puja.

    Saya, Kak Eni, Ahmad dan Acin pun segera menuju stasiun Bekasi dengan kereta yang suaranya nyaring menelindas rel-rel besi.

    Jam sudah menunjukan jam setengah 10 malam. Saya dan 3 teman bergegas bertemu dengan kak Puja untuk naik kereta lagi menuju Stasiun Jatinegara.

    Dari Jatinegara menuju PMI (Palang Merah Indonesia) Kramat Jati kami naek Go-Car dan sampai PMI jam 22.00 WIB. Sekitar jam 00.00 WIB proses pengambilan darah setelah melewati beberapa tahap administrasi dan pengecekan kondisi.
    Kebetulan yang bergolongan darah A itu Ahmad, Puja, Eni dan Saya. Karena saya berhalangan alias tidak diperkanankan mengambil darah maka yang maju mereka bertiga.

    Dan alhamdulillah Puja dan Ahmad lolos kesehatan dan bisa ambil darah.
    2 kantong pendonor buat Paman Yanto pun siap di kantongi.

    Kondisi tengah malam PMI masih cukup ramai, tujuan mereka kebanyakan adalah donor untuk keluarga. Saya bergegas mencoba ngobrol dengan beberapa orang yang bersedia menodonorkan darahnya untuk Paman. Alhamdulillah 1 orang bergolongan darah A yang juga sedang menunggu keluarganya sedang berdonor untuk saudaranya yang juga butuh darah AB. Kak Kartika namanya, berambut sedikit ikal dengan kaca mata bulat serta senyum ramah bersedia membantu malam tadi.

    Alhamdulillah 3 kantong darah dalam hitungan 24 jam dengan proses melewati Lab akan bisa diambil untuk membantu Paman.
    Sekali lagi alhamdulillah, alhamdulillah dan alhamdulillah Allah memudahkan urusan.

    Betapa bersyukur Allah memudahkan ketika rasa gelisah hadir, Allah sediakan penawarnya. Allah permudahkan dengan komponen kesabaran yang masih di berikan di hati. Lagi pula urusan hidup ini memang kembalikan lagi ke Allah, serahkan ke Allah dan karena memang hanya Allah yang punya solusinya. Manusia diberikan otak untuk berpikir, hati untuk merasa dan lebih bergerak cepat serta kaki yany terus siap gesit melangkah dalam kondisi apapun.


    Saya percaya dibalik ujian musibah tabrakan parah yang terjadi terhadap Paman saya tanggal 8 Januari 2018 sekitar jam 19.30 WIB akan ada hikmahnya. Allah yang kasih sakit dan pasti Allah yang kasih sehat.
    Beliau yang berhasil melewati masa kritisnya di ICU tempo hari lalu, dan pasti bisa melewati proses operasi beberapa hari lagi. Serta pemulihan yang stabil hingga segera normal kembali.



    Allah lagi, Allah saja dan Allah terus.
    Terima kasih buat para pejuang sekantong darah.
    Kebaikan kalian sangat berarti dan membantu,
    Semoga Allah membalas kebaikan kalian atas jiwa sosial yang tertanam dalam jiwa serta keikhlasan yang tersusun indah.

    Stasiun Tambun, 13 Januari 2018

    Tumiesn
    "Perjalanan di dalam kereta menuju Cikarang"




    Memaknai Sehat




    Setiap apa yang Allah berikan adalah rejeki.
    Mata yang masih bisa melihat dengan jelas, nafas yang berhembus gratis tanpa disuruh bayar, kaki yang bisa di ajak melangkah kemanapun, tangan yang bisa memegang sesui perintah otak, dan tawa yang melengking, semua itu adalah karunia yang harus di syukuri. Dan masih banyak lagi nikmat Allah yang diberikan kepada setiap hamba-Nya.

    9 Januari 2018, sosok lelaki jangkung dengan wajah lembutnya harus masuk ruang ICU. Tempat yang dimana terkategory orang-orang kritislah yang masuk dan berbaring ditempat itu.
    Lelaki yang saya hormati dan sayangi harus merasakan nikmatmya dingin ruangan, tangan yang harus di tusuk oleh jarum, selang-selang yang menempel di dada, tangan, hidung dan suara monitor yang terus nyaring menandakan ada kehidupan di barengi dengan garis melengkung-lengkung.
    Tubuhnya yang lemah, berbaring dengan mata lebam mengantuk.
    Telinganya mendengar, dan bereaksi ketika dipanggil meski hanya menjawab, "Ha.. " dengan lirih dan melirik.

    Paman adik Mama yang selalu siap menjadi pendengar selama ini. Laki-laki hebat yang gak bosan nasihatin ketika jalan saya kadang salah. Sosok bapak yang selalu mendukung apapun yang saya inginkan. Seseorang yang menjadi peneduh rindu akan sosok ayah, Allah mengirmkannya untukku. Disekolahkan, dibiayai, dikasihi dan seperti anak sendiri sejak 10 tahun lalu.
    Laki-laki hebat yang selalu menginspirasi, membentuk saya tanpa harus mengekang. Pendukung hijrah diri ini saat banyak mata yang mendehem aneh.

    Paman, sehat selalu. Lekaslah sembuh agar bisa tertawa bersama lagi, berbagi cerita dan saling bahu-membahu. Banyak rencana yang mau dibangun sama Ibunkan?
    Saat ini mungkin dirimu gak bisa baca tulisan anakmu ini, tapi nanti kalau udah sehat lagi baca ya.
    Dan banyak sekali orang-orang yang sayang dan mendukung.

    8 Januari 2018 malam tubuhmu yang sehat bugar tiba-tiba memang mendadak ambruk dengan tabrakan yang tak diharapkan. Malam itu juga kau yang menahan sakit hanya dapat mengigau. Tapi aku yakin hatimu masih tetap utuh merasa, terlebih ketika yang mendukungmu selalu menuntun hatimu dan lisanmu agar selalu bertasbih, kau hebat Paman.

    Ruang ICU tak akan mengurungmu lama kok.
    Segera operasi ya, agar sakitmu tak meremas-remas waktumu.
    Selepas operasi kau akan sehat lagi, dirawat di tempat inap yang siapa saja bisa menengokmu, Ibun istrimu yang akan selalu mendampingimu.

    Setelah rawat inap, badanmu segar kembali, kau bisa berjalan lagi. Tenang, badanmu tak apa-apa. Iman, tenaga dan pikiranmu akan terus bergerak baik.
    Paman, sabar ya.
    Ini adalah ujian, agar kita memaknai betapa nikmatnya sehat.
    Ibarat kata saat ini Allah menanpilkan hamburan ladang syukur yang harus tetap dijaga oleh manusia. Paman, ruang ICU yang menakutkan dan selalu mendebarkan jantung ini gak akan betah mengurungmu. Ruang itu akan tersenyum bangga karena kau segera pulih sehat, dan segera menjadi sosok kepala keluarga seperti sedia kala di rumah untuk ibadah lebih baik lagi..

    Hai Paman Yanto, kami sayang dirimu.
    Semua keluarga berkumpul untuk mendukungmu. Bahkan dukungan ini lebih hebat dari dukungan spoter piala dunia sekalipun.

    Cepat bangun ya, nanti kita bisa ketawa bareng lagi. Makan ikan bareng-bareng dan dengar cerita terbaru dari anakmu ini.
    Semua sayang Paman.

    Salam sayang,
    10 Januari 2017

    Tumiesn

    Dari stasiun Bekasi (Di dalam Kereta dari Stasiun Jati Negara menuju stasiun Cikarang).





    Mengejar Dosen Cahaya




    Ini cerita tentang kami yang konon adalah para penduduk bumi yang sedang merasakan moment kejar tayang penuh dek-dekan.
    Pagi,siang, malam kepikiran tatkala jam semakin mendekat, soal prosiding yang harus segera di kumpulkan.

    Kamu bisa lihat di curcol Tumiesn sebelumnya ya "Mengejar Dosen Pengampu" tapi kali ini saya bersama 4 teman yang lain "Mengejar Dosen Cahaya"

    Pengen tahu ceritanya?
    Baca terus!

    ****
    6 Januari 2018 adalah hal yang membuat nafas saya, Yuni, Citra, Kiki dan Pipit bisa bernafas lega.
    Sebuah lembar Acc dari dosen pembimbing telah nampak, taburan tintanya telah menempel indah.
    Nyengir, seru, haru dan bisa ketawa. Terlebih beberapa hari sebelumnya kami sempat rada stres karena memang kelalaian kami.


    Beberapa hari yang lalu, group whatsapp untuk bimbingan bersama Ibu dosen ini nyaris angker, serem dan dakdikduk. Gimana enggak, pengumpulan hasil penelitian harus dikumpulkan mendekati sidang, sementara jangankan tanda tangan, hasil penelitian saja belum rampung. Sungguh, stres gimana enggak, Ibu dosen menegurnya seriusan. Kami yang sejak desember bimbingan jarang datang, dan komunikasi kurang.
    Alhasil, setelah liburan UAS di desember, kami malah khilaf tidak mengikuti bimbimbangan dan sibuk sendiri.


    Dan awal januari, kami dapat teguran gara-gara ya ulah kami kelompok 7 dan kelompok yang lain yang masih suka menyepelakan waktu hingga membuat dospem naik darah.

    Ceritanya besok itu harus dikumpulkan hasil penelitian tapi dosen sebal sama kami dan bilang angkat tangan. Kecewa! Dan bilang buat mahasiswa bimbingannya yang belum dapat acc darinya silahkan hubungi Kaprodi. Beliau gak bisa ditemui jika diluar jam kampus.

    Dan saat itu kami resah berkepanjangan. Minta maaf atas kesalahan karena menyepelekan tugas. Menyia-nyiakan waktu. Tapi, Bu Dosen seperti belum ada titik terang buat baikan menerima kami hihihi #sedih

    Pengumuman dari Manajeman Kampus, hasil penelitian harus dikumpulkan hari jum'at sore. Dan saya yang pulang kerja langsung meluncur ke kampus hanya berbekal abstrak yang belum di acc hihi. Miris tugas ini belum kelar.
    Dosen hari itu masih belum lentur sikapnya untuk diajak baikan dan memberikan kesempatan.
    Dan laporan belum finish pula hari itu.

    Malam sabtu sepulang dari kampus saya dan yang lain masih resah, belum tenang dan saling berusaha menyelesaikan tugas prosiding ini (persyaratan buat lanjut ke skripsi).
    Sambil Do'a "Lembutkanlah, lembutkanlah hati Bu Dosen"

    Dan sekitar jam 9 malam si Ocha salah satu anak Bimbingan beliau juga masih terus berusaha merayu Bu Dosen agar memberikan kesempatan sekali lagi. Terlebih jadwal pengumpulan informasi terbaru di undur (rada tenang). Ocha kirim pesan rayuan maut di group panjang kali lebar, berharap eta lembutkanlah hihi.

    Dan setelah menunggu rada lama, Bu Dosen balas "Gak Papa, Ibu gak Marah. Hanya Kecewa saja sama kalian. Temui Ibu di Kampus besok jam 9 pagi. " pesannya malam kemarin buat hati jingrak-jingkrak.

    Kami semua siap sedia begadang, kelarkan persoalan ini. Terlebih Yuni sang ketua yang lupa makan lupa mandi, mati-matian atur semua ini buat kelarkan tugas ini. Makasih..

    ****
    Ini mungkin yang dinamakan mengejar cahaya tatakala gelap merangkul cemas. Gelisah yang dilunturkan oleh terang dari cahaya.
    Pagi menjelang siang, dengan hasil penelitian saya dan yang lain lari-lari, kebut-kebutan ke Kampus masuk ke ruangannya menunggu giliran bimbingan. Dengan masih mengenakan seragam Kerja, yang memang sabtu dimana saya masih harus bekerja mencari sesuap nasi dan seluas berkah, dengan nafas tak beratur saya merapikan diri siap di bimbing. Dan 4 teman yang lainpun satu persatu datang dengan wajah-wajah yang sulit dijelaskan karena efek apalah-apalah (seperti lupa pakai pensil alis hahaha).

    Bimbinganpun dimulai panjang kali lebar, sempat di tegur sih tapi banyak di nasehatinnya hehe.
    Makasih banget Bu Dosen.
    Alhamdulillah hari ini tanggal 6-1-2018 penelitian kami di Acc, segera di daftarkan. Semoga sidang nanti lancar dan lanjut persiapan skripsi hehe.


    Dear Dosen Cahaya yang sudah meluangkan kesempatan sekali lagi bagi kami.
    Terima kasih atas cahaya yang kau beri disaat gelap menyergap, nafas sesak karena kalut kau lepaskan dengan kebijaksanaanmu.

    Pesan dari curcol ini :
    Penting banget menghargai waktu dan mengutamakan hal-hal yang sangat penting. Jangan mengabaikan dengan alasan kesibukan dan lain Sebagainya. Mengejar Dosen Cahaya ini adalah pelajaran buat kami Khususnya saya pribadi.

    Lemah Abang, 6 Januari 2018
    Tumiesn




    Dari Kereta Jalur Sumatera Saling Bercengkrama




    Januari 2016, saya melakukan sebuah perjalanan seorang diri dari Cikarang ke Palembang (Sumatera Selatan).

    Dari Cikarang (Perjalanan malam) menggunakan Bis ke Merak dan naik kapal laut menuju Bakau.


    Dari Bakau menuju Terminal Rajabasa (B. Lampung) menggunakan Bis lagi (sampai pagi jam 6)






    Dan dari terminal Rajabasa di jemput oleh seorang sahabat yang rumahnya di Bandar Lampung menuju stasiun Tanjung Karang Bandar Lampung, dan
    Kereta melaju menuju Stasiun Kertapati (Palembang) Jam 08.30 WIB.
    Perjalanan di mulai.



    Perjalanan dari Cikarang ke Palembang yang dimana lokasi yang saya tuju di Air Batu membutuhkan perjalanan 1 hari, 1 malam. Berangkat malam jam 19.00 WIB (tgl 22-1-2016) dari terminal Cikarang ke Palembang jam 22.30 WIB (tgl 23-1-2016). Bisa di hitung sendiri ya berapa jam yang saya habiskan di perjalanan hehe.
    Dan ini merupakan perjalanan yang cukup lumayan buat kaki rada bengkang karena duduk terus, badan cukup lelah, tetapi Alhamdulillah senang.

    Bersyukur, saat di dalam gerbong kereta saya duduk dengan wanita yang sebaya dengan saya. Serta bangku berhadapan dengan seorang ibu yang membawa anak masih SD. Sehingga dengan kondisi perjalanan membuat hati saya lebih tenang dengan wanita (mukhrim) hehe.

    Stasiun kami sama, berhenti di Stasiun Kertapati yang artinya stasiun paling akhir dari Bandar Lampung ke Palembang (Kereta antar Sumatera).

    Di dalam gerbong Kereta dengan suara khasnya kendaraan ini, menggilas rel-rel, bunyi merdu ketika jalan sedikit melengkung. Kami bercengkrama seperti manusia pada umumnya. Bicara soal tujuan, asal, sekolah, status dan masih banyak lagi. Kebetulan para 3 wanita bertemu saling berhadapan bicaranya pasti panjang. Dan sesekali mengajak bercanda anak laki-laki di depan saya yang masih kecil.

    Nah, di samping saya yang masih sebaya ini namanya Ayu. Gadis yang sangat hobi jalan. Dara manis keturunan Lampung dan Padang ini pantas saja dia demen yang namanya sate Padang hehe. Ayu ini salah satu sosok wanita yang hobi banget naik gunung, yakni gunung Rinjani dan lain-lain. Bicara dengannya gak ada habisnya, apa lagi ketika bercerita soal sebuah perjalanan. Seru abis pastinya.

    Tujuan saya ke Palembang adalah ke rumah kakak yang akan mengadakan syukuran khitanan saat itu, sementra Ayu datang ke acara nikahan teman (bertemu di perjalanan).
    Gadis ini yang masih kuliah di fakultas Ekonomi kemana-mana lebih sering sendiri, menikmati setiap aroma perjalanan dan membungkusnya dalam kenangan. Teman-temannya kebanyakan dari luar Lampung untuk soal travelling.

    Saat itu tahun 2015, selain ngobrol panjang Kali lebar saya dan Ayu yang nyambung bicara dan bercerita bertukar nomor serta sosial media (maklum anak jaman now hehe)

    Perjalananpun sampai, kami berpisah di Stasiun menuju tujuan masing-masing.
    Dalam hati saya bergeming, "Yu moga kita lain waktu bisa ketawa lagi dan seru bicara soal perjalanan. "



    Dari kerta jalur Sumatera saling bercengkrama bukan tandas di ujung stasiun Kereta Api.
    Tanggal 1 Januari 2018 alhamdulillah kami bertemu kembali. Rumah saya yang masuk ke puncak dengan dingin yang menusuk jika malam dan rumah Ayu yang di pusat kota Bandar Lampung.



    Saya bertemu Ayu, bersama adik dan sepupu. Main bareng bukan saling jaim. Puncak Mas tujuan utama. Di sambung Bakso Marem dan lanjut ke pantai siang bolong. Namun, Karena kondisi tahun baru itu libur, jalanan macet merayap. Dan kami berempat memilih jalan ke gramedia Bandar Lampung saja, lalu pulang ke rumah hehe.


    Itu tentang sekilas pertemuan yang bukan sekedar bercengkrama. Semoga Allah selalu hadirkan orang-orang baik yang selalu berpegang teguh pada agama.
    Saling menghargai satu sama lain. Mencintai tanah Air ini, contoh kecilnya saja, tolong jangan buang sampah sembarangan.

    Bandar Lampung, 2 Januari 2018
    Tumiesn




    Tentang Syukur, 2017 ke 2018




    Hitam putih hidup ini.
    Terang, gelap, sepi, ramai jadi teman penawar risau.
    Telusuri dan ingat kembali tentang waktu-waktu yang telah terlampaui.
    Syukuri apa yang telah Dia berikan pada sosok tulang belulang yang terbungkus kulit, jiwa yang rapuh, bisa Kuat tak lain karena-Nya.

    Setiap waktu adalah hal berharga.
    Tertulis melekat dalam melodi terindah pada jiwa.

    2017 adalah kado manis dalam setiap peristiwanya di bungkus dengan syukur tak berujung.
    2018 adalah langkah baru yang di depan sana akan membuka setiap kejutan hidup selanjutnya.

    Bersyukur, berjuang lengkapi setiap Kaki yang akan terus melangkah semestinya.

    Bandar Lampung, 1 Januari 2018
    Tumiesn