Aca Ucu Go Pelaminan part 2




Janur kuning melambai-lambai menyapa mata, mengundang senyum, menyentuh debar-debar rasa bahagia. Dipelataran rumahmu awan tengah bersorak-sorak bahagia menyaksikan pesona ayumu penuh bahagia. Teruntuk engaku sahabatku, selamat menempuh hidup baru.

Jum'at pagi di tanah jawa, tepatnya di Pemalang. Salah satu personil Aca Ucu yang bernama Dwi alhamdulillah telah tiba waktunya untuk mengenakan kebaya dengan rangkaian melati mewangi menghiasai diri sebagai tanda bukti telah datang seorang pangeran beruntung yang telah memenangkan hatinya sebagai pelabuhan terakhir. Dari tanah sumatera, rasa haru bahagiaku untuk kalian berdua Dwi dan suami.

Meski gak bisa menghadiri acara sakral pagi ini untuk Dwi, tetapi aku tetap merasakan bahagiamu dari kejauhan. Sinar mata bahagiamu tetap terasa lewat bingkai yang dikirim dari group Aca Ucu hehe.

Sakinah, mawadah, warohmah ya Dwi.
Alhamdulillah ya satu persatu Aca Ucu melepas masa jomblo, Maret lalu Ayu, di akhir Juni ini Dwi. Hayo tahun 2017 ini siapa yang sudah siap menjadi sejarah Aca Ucu Go Pelaminan part 3? Hehehe

Sehidup sesurga ya buat kalian yang telah halal. Semoga melahirkan generasi penerus bangsa dan pejuang agama.

Meski status berubah, bukan berarti mengurangi kata "Kita Sahabat, Aca Ucu" bahagia selalu buat semuanya.

Tika, Sari, Ela, Ulfah, Novi, Vivin dan Tumi (saya sendiri hehe) semoga lekas disegerakan bertemu dan dihalalkan ya seperti Ayu dan Dwi Hehehe.



Salam sah dari Sumatera
Bandar Lampung, 30 Juni 2017

Tumiesn




    Assalamualaikum, Pak





    Awan di langit tanah sumatera berbondong-bondong saling menggumpal, meneduhkan. Mata memandang nanar, di amati sekali lagi sebuah nisan yang terbalut oleh semen, batu, pasir dan bata. Ditahan berulang-ulang agar mata tak mengeluarkan berlian berharga, air mata. Namun, mendustakan agar tak menangis dihadapnya adalah kemunafikan, sulit rasanya menutupi sebuah kerinduan yang telah tersusun bak bangunan tembok raksasa. Sebuah kata sayang yang kini hanya mampu terucap lewat do'a.

    "Pak." bisikku lirih dalam hati yang semakin menggema hebat, mata memerah tajam. Sedih mengenang masa lampau.

    Ku pandangi nisan itu yang telah bertaburan bunga berwarna-warni dan baunya yang semembrak. 23 tahun telah diarungi hidup tanpanya.

    Getir, pedih, asam dan manis adalah karunia yang tetap diselipkan oleh-Nya sebagai penghibur lara. Kau bisa bayangkan bagaimana rasanya seorang wanita yang dengan perut besar mendekati angka sembilan bulan harus di tinggal pergi oleh lelakinya. Seorang imam yang harus kalah akan sakitnya dan hembusan terakhir adalah bingkai awal dari sebuah kata pisah oleh sepasang suami istri.
    Kepergian dan nisan yang kini ku pandangi adalah benar-benar nyata.

    Do'a-do'a terdengar syahdu, nyamuk-nyamuk hitam dipekaragan pemakaman umum beraksi mengganggu kulit para lisan yang tengah mengamini do'a. Ini adalah kegiatan yang bukanlah sekedar tradisi semata. Namun, pelepas dari rasa rindu anak dan cucu yang menghampiri lelaki yang dua puluh tiga tahun lalu pamit pergi untuk selamanya.

    "Assalamualaikum, Pak." dan aku adalah salah satu anak yang dulu kau gendong hanya dalam hitungan puluhan bulan.


    Selanjutnya Insya Allah di Novel Tumiesn.


    Bandar Lampung, 24 Juni 2017
    Tumiesn




    Menulis, investasi akhirat




    Siapa yang tidak kenal dengan Asma Nadia?
    Penulis wanita yang menginspirasi dunia melalui tulisan. Salah satu sosok idola, karena karyanya yang bener-bener keren. Penulis yang telah melahirkan puluhan buku ini benar-benar buat semua orang terpukau. Bukan hanya soal karyanya yang sudah melalang buana, baik itu di Nusantara maupun Luar Negri. Tetapi, pesan-pesannya kemarin yang membuat saya nyess..



    Detos (Depok Town Square), 17 Mei 2017 adalah hari pertama pertemuan saya dengan beliau dalam acara BEAUTY (Be A Truly Youth) dengan tema WINNER (wanita Eksis Generasi Rabbani) yang diselengkarakan oleh KPMD (Kesatuan Pelajar Muslim Depok) yang menghadirkan beberapa pembicara wanita, salah satunya bunda Asma Nadia.

    Sudah lama saya mengenalnya, tersenyum dan kadang juga baper saat membaca novel karyanya maupun menonton film yang diangkat dari Novelnya.



    Doa terucap dari bumi, terdengar hingga ke langit dan di saksikan oleh para malaikat, dan di kabulkan oleh Sang Pemberi Segalanya. Sekali lagi ini bukan soal kebetulan, tetapi sebuah kesempatan dan hadiah atas do'a-do'a yang terucap. Yapz, Ramadan ialah salah satu bulan yang indah maka banyak-banyaklah berd'oa. Dan pertemuan kemarin siang adalah salah satu bingkisan manis yang Alllah berikan untuk saya, alhamdulillah.

    "Do'akan semoga melalui tulisan menjadi pahala bagi Bunda di Akhirat."
    Kalimat demi kalimat saya amati dan rasanya itu menyaksikan langsung Asma Nadia berbicara itu bak mendapatkan hujan seusai gersang. Hati saya bergetar, haru, terinspirasi tentang sharingnya kemarin. Meski hanya sempat bertemu beberapa menit mendengar dan berbicara langsung dengan beliau adalah hal yang sangat di syukuri. Energi semangat menulis saya seakan berlipat-lipat tumbuh.



    1 hal yang saya dapatkan dari pertemuan kemarin dan menarik itu diangkat diartikel kali ini, yakni tentang Menulis itu adalah investasi pahala di akhirat nanti. Semua orang akan mengalami satu hal yang tidak akan pernah di hindari meski satu detikpun yakni tentang kematian. Dan menulis adalah jalan terbaik dalam menyampaikan hal yang baik.

    Menulis, investasi akhirat dimana jika kita menulis dan tanpa di sadari mampu membuat orang tergerak hatinya untuk hijrah misalnya, bukankah itu akan menjadi pahala tersendiri? Karena sesuatu yang baik kita suguhkan pastilah akan dihadiahkan kebaikan pula. Begitu pun seorang penulis yang lewat penanya menjadi tabungan yang bukan berupa hadiah dunia semata saja, namun karena pesan-pesan yang disampaikan pun Insya Allah akan menjadi investasi di hari akhir nanti.

    Wanita yang dengan lembut, hangat, ceria, supel dan pasti menginspirasi saya pun semakin menggerakan hati ini manakala beliau berujar bahwa, "Menulis untuk wanita Indonesia" Yapz, beliau menulis dengan hati dan meramu tulisanny bukan sekedar tulisan namun juga pesan-pesan yang pasti selalu diselipkan didalam karyanya.

    Semoga Kita semua wahai generasi Indonesia makin semangat dalam memberikan hal yang terbaik. Menulis akan mengajarkanmu tentang banyak hal, menemukankan hal-hal yang luar biasa. Semoga dengan menulis akan menjadi pahala di Yaumul Hisab nanti.
    Menulis adalah perjuangan, menulislah maka kau akan mengerti.

    Depok, 18 Juni 2017
    Tumiesn




    Temani aku berkarya suatu saat nanti




    Bunga ilalang memang datang hanya pada musimnya, melambai riang penuh keanggunan.
    Seperti halnya cinta, keangunan yang di jaga dalam ketaatan untuk pemantasan.

    Penantian bukanlah sebuah penghabisan waktu dalam kesendirian.
    Bukan menanti untuk bahagia tatkala Dia menyatukan sepotong hati dengan yang tepat. Namun, mencari Ridha-Nya saat nanti bersama.

    Bersama bukan karena alasan cinta yang berupa kedipan mata saja mudah terlupa. Namun, rasa atas pengharapan hidup untuk bersama membangun dinding cinta sehidup sesurga.

    Duhai engkau nama yang dipilihkan-Nya untuk ku, jangan ragu atas setiap langkah benarmu.
    Ingat selalu atas tujuan namamu terlahir di Bumi-Nya.

    Cinta bukan soal saling menunggu, tetapi saling memantaskan diri untuk dipantaskan.
    Temani aku berkarya suatu saat nanti.

    -Tumiesn-

    Lemah Abang, 16 Juni 2017

    Tumiesn




    Ramadan, semoga masih bertemu lagi




    Kehilangan bak senja yang membungkam terang.
    Menyembunyikan riang, menampakan kelam.
    Diutuslah linangan permata dari lensa, menganak kecemasan.

    Tahukah engkau?

    Rasa kehilangan pastilah akan tercipta, menyapa pelan-pelan dan membuka mata jalan sebenarnya.

    Hilang bukan akhir dari perjalanan. Tapi, hadir sebagai penyempurna akan sebuah kehadiran.

    Jangan sedih manakala kehilangan hati manusia. Tetapi, lihatlah diri apakah iman dihati sendiri masih menemani?

    Ramadan semoga masih bertemu lagi. Dan tak bosan mengingatkan diri yang masih gemerlap akan keruhnya hati.

    Lemah Abang, 13 Juni 2017

    Tumiesn




    Tumisan ala Tumiesn, Menu sehat dari Desa




    Setinggi apapun pendidikan seorang wanita, secantik apapun ia, sekeren apapun sosoknya, segaul bak penguasa sebuah wilayah, ataupun sepopuler bagaimanapun dia di mata lingkungannya. Wanita haruslah mengenal yang namanya ruang pembuat hidangan alias dapur. Karena calon mantu idaman maupun Macan (mama cantik) haruslah bisa membedakan bawang putih maupun bawang merah misalnya hehe.

    Minggu, 11 Juni 2017 adalah jadwal Mamiuni (bukan geng ugal-ugalan) masak bareng untuk menu buka bersama. Nah, kali ini dapur Erni yang rumahnya berada di Tegal Danas Cikarang menjadi target Acak-acak dapur masak Syantik hehe.

    Setelah siang belanja ke pasar sayuran, saya bersama Isnu dan Risma segera meluncur ke Rumah Erny.
    Dan menu tumisan yang saya buat kali ini ada dua, yakni Oseng Kates Bintang dan Genjer Ikan Asin.

    1. Oseng Kates Bintang
    Ini adalah menu yang udah beberapa kali saya coba dan bahan-bahannya pun mudah lho.


    Bahan :
    -Kates (Pepaya mentah / muda)
    -Cipir
    -Daun muda melinjo (daun tangkil / tekil)
    -Bawang putih, bawang merah secukupnya
    -Bawang bombay sebagai pelengkap agar makin cuamik
    -Cabe Rawit yang kemerah-merahan dan hijau juga boleh
    -Tomat
    -Garam
    -Penyedap rasa seperti Masako misalnya
    -Minyak goreng secukupnya

    Cara membuat :
    *Bawang putih, bawang merah, bawang bombay, tomat merah, cabe di iris-iris.

    *Kupas kates, dan iris-iris tipis-tipis lalu bentuk menjadi kecil-kecil panjang seperti irisan kentang goreng
    *Potong-potong cipir dan bentuk seperti bintang
    *Iris-iris daun melinjo panjang-panjang

    Panaskan minyak goreng, masukan bawang sampai harum dan masukan bumbu-bumbu yang lain dan kemudian masukan sayurannya dimulai dari kates, setelah layu masukan cipir, dan mendekati matang masukan daun melinjo. Jangan lupa penyedap rasanya.

    2. Genjer Ikan Asin


    Bahan :
    -Genjer 2 ikat (untuk porsi 1 mangkuk)
    -Ikan Asin rebus (Ikan Asin Khas Lampung yang enak banget)
    -Bawang merah, bawang putih, cabe rawit, tomat
    -Minyak secukupnya
    -Penyedap Rasa
    -Gula putih sedikit saja untuk mengurangi asin pada ikan asin
    -Garam

    Cara membuat :

    *Potong Genjer
    *Pisahkan ikan asin dari durinya, di suwiri (Dibentuk panjang-panjang)

    *Iris bawang, cabe dan tomat

    *Tumis bumbu kedalam minyak yang sudah dipanaskan

    *Masukan Ikan asin yang sudah dicuci bersih kedalam tumisan bumbu yang sudah harum

    *Masukan genjer yang sudah di cuci, setalah ikan asin dirasa sudah layu

    *Tidak usah dikasih air Karena genjer sendiri sayuran yang memiliki kadar air banyak.

    *Jangan lupa masukan penyedap rasa.


    Nah, dua menu tumisan ala Tumiesn mudah bangetkan?
    Meski ini masakan dari desa tetapi gak kalah kekotaan kok, soalnya itu dimodifikasi dengan bahan lain. Ooh ya untuk Genjer Ikan Asin itu kebetulan adalah hasil Trial pertama saya haha. Tapi Alhamdulillah katanya enak dan ludes seketika.

    Jangan lupa saat memasak selipkan rasa cinta dan bahagia ya, biar rasanya makin mantap.

    Sekian terima kasih, semoga bermanfaat dari saya yang berharap bisa menjadi istri yang memberikan suguhan terbaik untuk suami kelak dengan cara sajian makanan pengenyang perut hehehe

    Cikarang, 13 Juni 2017

    Tumiesn




    Nanti jangan dinanti-nanti





    Pada waktunya kamu akan merasa risih sendiri manakala mengenakan jeans, dan akhirnya kau pilih tinggalkan dia.

    Pada akhirnya kau akan merasa malu manakala kerudung yang dikenakan tidak menutupi dada.

    Pakaian longgar yang kini kau kenakan adalah senyaman pakaian yang pernah kau kenal.

    Saat kau hendak keluar rumah, selain sepatu yang dicari ialah kaos kakimu. Dan kau akan merasa patah hati manakala tidak mengenakannya.

    Dulu pakian ketat yang dibanggakan kini terasalah asing, dan sedih manakala kerabatmu masih mengenakannya.

    Kau akan mengerti itu semua, dan memilih mengenakan yang tertutup sebagai pelindung diri dan takut akan Allah.


    Teruntuk saudariku sesama muslim, Nanti kamu akan mengerti bahwa betapa nyamannya pakaian yang dulu mungkin asing bagimu, pakaian longgar yang dianggap dulu tidaklah modis!
    Nanti kau akan mengerti, betapa sedih manakala melihat bingkai kenangan dulu yang bertaburan dengan gemerlap meski sekedar yang kau kenakan (tidak menutup aurat).

    Nanti kau akan mengerti, betapa menyesal dan tak akan ada kesempatan lagi tatkala nafas sudah di kerongkongan.
    Nanti jangan dinanti-nanti (menunda) keburu mati.

    Yuk mari belajar mengenakan pakian yang menutup aurat. Setiap orang memiliki masa lalu, tetapi keluar dari masa lalu untuk perubahan yang lebih baik itu lebih indah bukan?

    Aurat jangan diumbar-umbar, sebelum menikah ayahmu yang menanggung.
    Aurat di jaga sebaik-baiknya, setelah menikah suamimu yang menanggung.

    Nanti jangan dinanti-nanti, nanti keburu mati.

    Salam Sayang untuk muslimah.

    Cikarang, 12-6-2017
    Tumiesn




    Dipertemukan untuk dipersatukan





    Kaki mengayun lembut, menapak kuat meski diatas krikil tajam
    Melawan ombak ujian, hati diperkuat tajam
    Bibir melengkung bak bulan sabit
    Mata memancarkan haru nan bahagia

    Dijatuhi bahagia seluruh ruang hati
    Taburan kelopak bunga mewangi seakan riang menyambut setiap alunan langkah
    Bisik rindu sekian lama terobati tanpa tabib
    Dipertemukan untuk dipersatukan nyatanya ramuan teriang untuk jiwa sepi yang sempat melayang

    Do'a-do'a terdengar, terucap dari bibir membasuh dalam-dalam palung hati
    Bersama dalam pemantasan tuk menyambut masa depan
    Alunan melodi syukur bersorak-sorai hadiah dalam sebuah penantian

    Datangmu bukan akhir segalanya
    Dipertemukan denganmu adalah awal dari sebuah perjalanan
    Tiang-tiang kokohnya cinta telah menanti dalam dermaga kasih sayang
    Bersama denganmu mari kita kuatkan bangunan rumah tangga
    Sakinah bersamamu, sehidup sesurga


    Cikarang, 11 Juni 2017
    Tumiesn




    Ini Sabtu?





    Ini Sabtu face02

    Selagi muda banyaklah melakukan pertualangan. Berkisah tentang banyak hal, yang kelak akan dibagikan kepada anak cucu
    Merapatkan barisan dengan teman-teman yang saling berjuang untuk belajar, bukan sibuk mengeluh pada kegaluan yang belum kunjung surut

    Teman terbaikmu akan selalu mengingatkan hal yang terbaik, meski hatimu sedang gersang memanas enggan diberi nasihat. Yang terbaik akan selalu merapat, menemani, berbagi meski tak melulu soal pembagian waktu yang selalu ada.

    Persahabatan Sebenarnya adalah yang jika berbicara bukan melulu soal dunia.

    Ini sabtu? Iya sabtu kudu semangat girang biar cetar face02

    Cikarang, 10-6-2017
    Tumiesn





    Hujan jatuh di matamu





    Terperangah mataku menyaksikan lensa riangmu
    Mati kaku tubuh ini saat kakimu melangkah disampingku
    Lisanku membisu, lirih, kata yang berterbangan di otak sulit di lepaskan
    Sendi-sendi perasaanku membuncah tak karuan, kepayang sudah hati ini

    Senja tenggelam, langkahmu dan langkahku segera berlalu menjauh
    Menanti fajar kembali esok tuk pertemuan kembali inikah yang dinamakan satu hari ku jatuh hati?
    Hujan-hujan perasaan tepat jatuh di matamu?
    Akh.. Seluruh urat nadi ini rasanya lebam oleh perasaan yang mulai menyiksa

    Hujan jatuh di matamu
    Hadirmu merubah sepi yang sempat menganga
    Warna pelangi jatuh cinta selepas hujan telah melambai indah
    Hati membuncah, bisik rindu semakin berkuasa

    Bayang wajahmu betah menyambar-nyambar retina mata
    Senyum girangmu terlukis merekat didinding otak
    Gelegar petir cinta melambung tinggi, mengudara dan menjatuhkan tetesan-tetesan perasaan
    Inikah yang dinamakan hujan jatuh di matamu?
    Gersang sepi menyerang kini telah dibasahi oleh air cinta yang jatuhnya dipilikan untukmu
    Bukan aku yang memilihmu, tapi Dia yang menggerakan


    Cikarang, 9 Juni 2017
    Tumiesn