Hujan dan basah






Ketika tugas numpuk, belum selesai dan susah buat mikir itu salah satunya di akibatkan karena Lapar hehe.

Begitu pun dengan saya yang baru menyadari Jika dari kemarin sore lupa makan nasi.
Rasa laparpun tercipta, dan mau tidak mau harus mencari sesuap nasi hihi.


Cikarang di guyur Hujan sejak 6 pagi. Dari hujan kecil, sedang sampai besar. Karena, perut membutuhkan haknya. Saya pun tetap keluar kosan dengan payung berwarnakan hitam putih yang terbilang besar.


Saya berharap gak ada petir karena Hujan jatuh berserakan begitu besar.
Ku kira jalanan sepi, mahluk hidup memilih bersembunyi di dalam sarangnya. Karena, kotanya sedang disapa Hujan.
Namun, perkiraan saya salah. Para Mobil dari angkot, Mobil mewah, Mobil biasa sampai truk dan kontainer pun malah asik bergerilya menggilas aspal basah. Bukan sekedar basah karena Hujan, genangan air pun nampak merajalela di pinggir jalanan.

Mau balik ke kosan lagi, perut sangat Lapar. Asupan makanan sangat dibutuhkan agar saya bisa mikir. Karena tugas numpuk, terlebih siang ini akan ada ujian tengah semester.

Kaki pun melangkah dengan hati-hati, takut terpeleset karena jalanan pastilah licin digenangi air yang terus bergemericik mencari pelabuhan.


Zzzzrrr... Sebuah angkot membabi buta menggilas aspal beserta kubangan air.
Berjarak sekitar 1 meter saya menjerit karena terkejut.
Bagaimana tidak, rok Abu-abu beserta jaket tebal yang saya kenakan basah kuyub. Padahal, payung besar telah hadir sebagai peneduh. Tetap saja, kubangan air yang digilas dengan brutal oleh angkot mampu membuat pakaian saya basah menyedihkan. Untung saja, saat saya menjerit tak ada orang yang melihat. Bayangkan saja, jika ada. Apa jadinya? Hihihi

Kesal, mungkin iya.
Mau Marah, apa guna? Toh kendaraan jasa umum itu sudah melarikan diri tanpa pamit. Saya pun masih terus menyusuri jalan, menemui rumah makan tempat biasa akhir pekan yang sering saya kunjungi Jika tidak memasak.

Baru beberapa melangkah, Mobil hitam dengan angkuh pun melakukan hal yang sama seperti kendaran jasa tadi. Lebih parah, dua kali lipat membabi butanya. Akh... Lagi-lagi Mobil itu lari tanpa pamit. Saya hanya bisa pasrah, dan perut pun sangat membutuhkan haknya. Karena, jika balik lagi akan sia-sia.


Melangkah lagi, dan Lagi-lagi truk berwarnakan kuning menggilas kubangan air. Dan Lagi-lagi membasahi pakaian saya. Hihi sedih ya jika dibayangin.

15 menit saya berjalan.
Jalan kaki cukup jauh. Karena sudah lama gak jalan kaki hehe.
Dan taram.. Saat tiba di tempat yang dituju ternyata tutup gak jualan. Hihi saya hanya bengong sebentar. Lalu liat Kanan kiri, beberapa pilihan makanan siap santap ada. Tetapi, akhirnya bubur ayam kakek tua jadi pilihan hihi.

Cerita pagi yang memberikan kesan dan pelajaran.
Pelajaran yang saya ambil adalah, bahwa hidup harus Saling berselaras. Jika berada di atas kita harus menghargai yang dibawah.
Jika hidup masih berada dibawah, Maka tetap kuatkan tekad agar Jika diri sudah pantas berada di atas.

Apapun yang di Miliki di dunia ini sekedar titipan. Maka, gunakan sebagai mana semestinya.
Mau Hujan atau panas tetaplah disyukuri. Jangan pernah mencibir apa lagi mendustakan nikmat dari Allah.

Saat di sakiti tetaplah ucapkan yang baik-baik. Tak perlu mencaci, apa lagi menghakimi.
Dan janganlah saling menyakiti karena Jika berbeda presepsi.

Hujan dan basahnya hari ini memberikan banyak pelajaran.
Semoga hidup selalu berkah dan bermanfaat.

Cikarang, 19 February 2017

Tumiesn




    Menulis, persiapan untukku membangun rumah tangga bersamamu






    Untukmu yang kelak akan ku dampingi sebagai raja di istana kita.





    Ragu tak bertuan




    Bukan soal jalanin saja! tetapi ini soal masa depan






    "Yuk jalan!"
    "Kemana?"
    "Kemasa depan."
    #Eaaa... segera mungkin ajak doi menghadap orang tua.