Tips mudik 2016






Tak terasa bulan Ramdhan akan segera berlalu meninggalkan kita. Dan bulan syawal akan segera tiba menyapa yaitu artinya hari raya besar umat muslim segera datang menyapa hati-hati kita yang insya Allah semakin lebih baik nan bersih.

Selalu ada yang menarik dari setiap moment menyambut hari Raya nan fitri itu tiba. Yakni salah satunya pulang kampung atau yang sering disebut dengan istilah mudik.
Tidak dapat dipungkiri moment mudik ini selalu ada setiap tahunnya dan disetiap belahan dunia pasti ada bagi orang-orang yang merantau hendak pulang kerumah orang tua, mertua ataupun calon mertua #eaaa

Berikut tips mudik dari Ican :

1. Niat
2. Harus punya uang biar bisa sampai tempat tujuan
3. Fisik yang sehat dan prima saat hendak mengahadapi hari mudik
4. Jangan memaksakan diri jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk berpergian jauh.
5. Naek kendaraan, kalau jalan kaki namanya maraton atau lari-lari dari kenyataan "Ahihihi"
6. Periksa kelayakan kendaraan yang akan diajak mudik, "khusus yang bawa kendaraan pribadi."
7. Punya tiket, "buat yang naek kendaraan umum harus punya tiket ya jangan nyelip-nyelip aja. hehehe."
8. Bawalah barang-barang seperlunya karna ini mudik bukan pindahan rumah.
9. Bawa bekal secukupnya jangan berlebihan karna ini bukan piknik ditaman Safari.
10. Bawalah obat-obatan (P3k) bukan obat-obatan mengusir kegalauan.
11. Jika membawa kendaraan pribadi, patuhilah rambu-rambu lalu lintas. Dan saat di lampu merah ingat lihatlah warna jangan dikira warna hijau saja seperti sudah diberikan lampu hijau oleh camer.
12. Hati-hati saat mengemudi, perhatikan jalanan berlubang, sempit rusak atau bergelombang.
13. Beristirahatlah jika merasa lelah diposko mudik.
14. Pastikan kembali punya kampung halaman yang dituju ya.
15. Dan tambahkan sendiri.

Hati-hati dijalan, patuhilah peraturan, hargai orang lain, jangan merusak fasilitas umum dan banyaklah beristighfar serta jangan lupa berdoa dan bersyukur.

Cikarang, 30-6-2016

Tumiesn





    Teruntukmu, terimakasih.





    Kita bukanlah dua orang yang sempurna yang berjalan disuatu tempat atau bahkan berlari kencang menggapai tujuan.
    Kitapun bukan manusia yang begitu baik, hanya sedang saling memperbaiki.
    Rasa itu mungkin tak bisa disembunyikan manakala kisah cinta fatimah dan Ali.
    Atau sesempurna cinta Zulaikha dan Yusuf.
    Sungguh, ini hanyalah sebuah rasa dari manusia yang begitu masih banyak dosa.

    Mungkin engkau adalah syair-syair yang tertahan untuk ku tulis saat ini.
    Entahlah akan ku lanjutkan lagi atau tidak syair-syair rindu nan elok itu.
    Aku tak tahu.......

    Aku tak menangis apalagi ini bukan patah hati.
    Ini adalah sebuah rasa yang justru membangun.
    Rasa yang tak pernah disadari, namun harus saling mundur melangkah jauh, berjalan terus dan mungkin saling membelah dunia masing-masing.
    Kita yang tak bisa saling menggenggam atau saling asik menatap lamat-lamat.

    Sekali lagi ini bukan patah hati tapi ini terimakasih.
    Banyak hal yang telah diajarkan, tak terlewatkan dan tersimpan penuh teduh disanubari.
    Yah..., teruntukmu, terimakasih.

    Aku bukanlah Hawa yang baik,
    Apa lagi Khadijah yang begitu dicintai Muhammad.
    Aku hanyalah seorang hawa yang merindukan seseorang yang mampu membimbing menuju syurga-Nya, tidak lebih dari itu.

    Hidup memang adalah pilihan,
    Begitu pula soal rasa dan keyakinan.
    Teruntukmu, terimakasih.
    Begitu baik atas keputusan saat ini.
    Percayalah ini bukan soal patah hati, namun ini tentang terimakasih atas bimbinganmu yang tanpa disadari antarkan ku berhijrah untuk semakin mencintai-Nya.

    Rasa apapun yang datang dari Allah pasti baik.
    Terimakasih untuk rasa yang begitu indah.
    Biarkan cinta itu terbang membelah dunia, menemukan jalannya. Dan akan berlabuh pada yang tepat sesuai apa yang telah ditulis oleh-Nya.

    Cinta tak akan kemana-mana, ia hanya sedang berjuang memantaskan diri hingga menemukan cinta yang sebenarnya.
    Teruntukmu, terimakasih.

    Cikarang, 28 Juni 2016

    Tumiesn




    Bersyukurlah atas rasa patah hatimu







    Mungkin engkau sempat berbisik lirih mengatakan jika Tuhan tidak adil.
    Pikiranmu bergulat dan menerka-nerka jika dunia itu kejam.
    Detik itu mana kala hari seakan begitu tega terhadap hatimu yang penuh rasa.
    Kecewamu hadir menyelimuti seluruh dinding hati.
    Dan kau terlukai lemas,tak berdaya bahkan bagaikan daun kering yang jatuh lalu hilang ditelan masa.

    Kau ingin marah pada angin! namun ia hanya berlalu.
    Kau ingin berteriak mengalahkan suara ombak dilautan lepas, namun pita suaramu hanya seberapa.
    Matamu meleleh mengeluarkan sesuatu yang berharga yakni air mata.
    Bahkan, air matamu seakan berubah menjadi darah. Namun karena terlalu pedihnya luka itu berubah menjadi nanah.

    Pedih! yah, detik itu hati mu terasa hancur.
    Tercabik-cabik bagaikan kain yang dirobek-robek lalu dibakar, hangus bahkan menjadi abu.
    Berkali-kali saat itu kau hanya berharap jika hancur hatimu hanyalah mimpi.
    Kau berharap, setelah bangun dari tidurmu semua akan baik-baik saja, jika dia tidak benar-benar pergi dari hati dan hidupmu.

    Tangismu begitu amat menyedihkan, bahkan tembok-tembok raksasapun seakan berhasil kau runtuhkan karena kepedihan akan hati mu oleh dia.
    Dia yang sebelumnya begitu berharga, dia yang kau sayangi bahkan kau cinta.
    Cinta dalam terang-terang atau bahkan cinta dalam diam tersembunyi.

    Menyembuhkan hatimu yang sudah teramat pedih bukanlah perkara mudah seperti mana kala saat pertama kali Tuhan mempertemukanmu dengan dia.
    Dia yang berhasil menyentuh hatimu.
    Matanya yang memancarkan aura cinta hingga kau terpanah asmara.
    Namun, detik itu beriringnya berganti senja kau terlukai lemas karena cinta pada hatimulah yang telah menggerogoti jiwamu.

    Detik berganti menit lalu berjalan terus menjadi jam, bergulir menjadi hari, minggu, bulan bahkan bertahun-tahun kau sempat menjadi gila atau bahkan kau kira mereka yang gila.
    Mereka yang tak pernah mengerti betapa pedihnya hatimu, sakitnya bahkan sudah hampir sekarat.

    Cinta itu berhasil membuatmu gila, membuatmu berbeda namun saat ini karena cinta yang sempat membuatmu terluka berubah menjadi lebih hebat.
    Saat ini jika kau mengingatnya kembali, rasanya begitu geli bahkan ingin rasanya tertawa terbahak-bahak menertawakan kebodohanmu.
    Kau adalah manusia yang amat beruntung, kau berhasil lepas dari cinta yang bukan untukmu.
    Detik itu adalah menjadi detik yang amat kau syukuri saat ini.
    Karena kau begitu bersyukur atas rasa patah hati itu.

    Kini kau berubah jauh lebih baik.
    Berdamai dengan diri sendiri itu yang utama.
    Tak perlu membenci dia yang telah pergi meninggalkan goresan-goresan kenangan didinding hati.
    Kau teramat bersyukur atas patah hati.
    Karena kini, kau menjadi manusia hebat, tangguh dan kebal pula hatimu.

    Air mata itu kini berubah menjadi tawa bahkan bahagia.
    Karena rasa syukur yang utama kau telah temukan sepotong hati yang sebenarnya.
    Bukan patah hati lagi yang menghantui seluruh ruang hatimu,
    namun, kebahagiaan yang sebenarnyalah tercipta untukmu.
    Bersyukurlah atas rasa patah hatimu.

    Cikarang, 20 Juni 2016

    Tumiesn





    Peranmu mengapa berbeda? #part 1







    “Ayah... Andin ingin jalan-jalan!” anak kecil berambut kepang itu terus merengek sepanjang malam kepada ayahnya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

    “Andin, ayahkan sibuk....!” berkali-kali Bram memberikan penjelasan kepada anaknya yang masih berusia 8 tahun itu. Namun, belum selesai ia menjelaskan dan berkali-kali itu pula setiap kali ia berbicara terganggu oleh suara handphonenya yang terus berbunyi nyaring mengalahkan suara jangkrik.

    “Sayang.. Tidur ya, sudah malam!” Alika yang tak tahan melihat anaknya yang terus merengek sementara suaminya begitu acuh tak acuh kepada putri semata wayangnya.

    “Bawalah anakmu kekamar! Aku ini sedang pusing dan banyak kerjaan.” Ucapnya selesai menutup handphonenya. Entahlah panggilan telpon dari rekan bisnisnya atau siapa, yang jelas Alika sudah paham sekali tentang kebiasaan suaminya yang seperti itu saat dirumah. Hingga terkadang handphone ataupun pekerjaannya lebih berharga dari pada dia dan anaknya.


    Suaminya seperti bukan yang ia kenal dulu. Kehadiran dirinya dan Andin seakan tak dianggap. Bagaikan hiasan rumah dan mungkin hanyalah patung yang berjalan. Bram berubah, benar-benar berubah sejak ia mengalami perubahan hidupnya yang lebih baik hingga lupa akan keadaan keluarganya.

    Bram amat bersikap lembut, ramah dan selalu ada waktu untuk customernya, teman-temannya, sahabatnya namun tidak untuk keluarganya sendiri. “Peranmu mengapa berbeda?” sering kali Alika terisak sendiri jika merasa kesal melihat suaminya yang berubah drastis.

    ***
    “Mas, besok Andin ada acara disekolahnya. Bisakah mas Bram datang menghadiri acara sampai selesai. Kasiankan Andin sudah lama sekali mas gak pernah datang disetiap acara specialnya.” Perlahan Alika berbicara kepada Bram yang sedang asik jari-jemarinya memainkan handphone sementara tak sedikitpun ia menoleh kearah istrinya yang berwajah ayu itu.

    “Kan ada kamu, tidak perlulah aku ikut. Pekerjaanku lebih penting.” Jawab Bram terasa begitu menyakiti hati Alika. Sungguh ucapannya terasa menyayat-nyayat jantung hatinya lalu dilemparkan dijurang lalu hanyut dan dimakan ikan paus. Akh.. Sudah 2 tahun belakangan Bram benar-benar berubah.

    Berbicara dengan Bram bagi Alika ibratkan berbicara dengan selembar ilalang yang melambai-lambai ditiup angin lalu pada musim bunganya ia terbang begitu saja... dan sudahlah itu sudah terlalu sering dirasakan oleh Alika. Bram bukanlah pria yang ia kenal tempo dulu. Sosok hangat yang selalu ada untuknya. Uang adalah tujuan bagi Bram yang ia kira itu adalah kebahagiaan. Jika saja di dunia ini ada komnas istri-istri terabaikan mungkin Alika sudah melapor sejak lama. Tetapi, ya sudahlah. Alika hanya bisa bersabar dan meyakini jika bram akan berubah.

    Alika mungkin bisa bersabar memahami sikap suaminya yang dingin yang memiliki peran berbeda. Tetapi, sikap seperti itu sulit dimengerti dan diterima oleh Andin putrinya. Andin yang teramat masih kecil dan tak memahami apa-apa. Hanya perhatianlah yang Andin harapkan dari ayahnya tidak lebih dan tidak kurang.

    ***

    Andin hanya bisa tertunduk lesu saat acara disekolahnya usai. Dan semua orang sudah bergegas pergi berhamburan meninggalakan tempat itu, sementara Andin masih diam seribu bahasa duduk dikursi dan hanya menunduk menahan isak tangis dihatinya.

    "Kita pulang ya sayang!" perlahan Alika mencoba membujuk putrinya yang ia tahu hati anaknya yang masih polos pasti amat hancur ketika melihat teman-temannya didampingi keluarga yang utuh. Sementara dia..... hanya menduduklah yang bisa ia lakukan.

    Alika rasanya ingin marah kepada Bram, tetapi apalah daya. Ia sedih melihat Andin hanya tertunduk hingga 30 menit tanpa suara sementara suasana ruangan semakin sepi. Alika sudah kehabisan cara untuk membujuk anaknya hingga suatu pertanyaan pertama muncul dari bibir mungil Andin, "Ayah mengapa berperan berbeda?" matanya yang sayu menatap mata sang bunda yang nampak berkaca-kaca dan hatinya semakin hancur saat pertanyaan itu muncul dari anak berusia 8 tahun.

    *to be continued

    nantikan kisah selanjutnya ya!

    Cikarang, 16-6-2016

    Tumiesn








    Shalat itu nikmat, bukan sekedar kewajiban tetapi kebutuhan






    Suara Adzan Isya terdengar begitu merdu dimalam ini. Suara panggilan Allah untuk para kaum muslimin.
    Langkahku terburu-buru takut tertinggal shalat isya berjama'ah.


    "Neng disini!" Suara orang tua separuh baya memanggilku dan adikku yang sedang mencari-cari tempat dibarisan shaft yang memang diawal-awal ramadhan itu masjid alhamdulilah pasti penuh.
    Aku dan adikku pun mengambil posisi didekat wanita bermukena putih.


    Shalat isya pun selesai dan para jama'ah menunggu waktu shalat tarawih. Hingga sebuah pertanyaan terlontar dari mulutku yang entah mengapa ingin memulai sebuah bisikan dari percakapan kepada wanita yang berbaik hati memberikan ruang untukku dan adikku duduk disampingnya.


    "Ibu habis jatuh?" Pertanyaan awal kumulai dengan pelan karena takut mengganggu yang lain. Meskipun suara anak-anak didalam masjid menghiasai suasana. Wajarlah anak kecil apalagi balita. Dan jangan larang-larang mereka untuk belajar shalat di masjid ya!


    "Tidak!" Ia menampakan senyum yang tulus kepadaku manusia asing yang belum sama sekali ia kenal begitupun sebaliknya. Sementara aku masih melihat kedua kakinya yang di julurkan kedepan.


    "Ini bukan jatuh, tapi efek sakit jantung." Sambungnya dengan masih tersenyum.


    "Ya Allah, kok bisa?" Aku yang memang awam terhadap penyakit apalagi penyakit jantung karena yang ku tahu adanya penyakit patah hati hehehe hanya melihat lekat wajahnya dan ingin tahu apa hububgannya sakit jantung dengan kedua kakinya yang terasa ngilu karena berkali-kali ia nampak meringis menahan sakit.


    Mulailah ia sedikit bercerita....

    Wanita bermukena putih itu teramat menyejukan wajahnya, ia yang tak seberuntung dengan orang lain. Namun mungkin ia lebih baik dari pada orang-orang yang mengaku muslim tetapi enggan mendirikan shalat.


    Yah, sakit jantungnya yang sudah komplikasi itu hingga membuat aliran darah pada kakinya tidak bisa mengalir secara normal. Sehingga mengakibatkan ia harus berjalan amat pelan menahan sakit (maaf : pincang) dan shalatpun ia tidak bisa berdiri hanya duduklah yang bisa ia lakukan.


    Saat ku tanya sejak kapan? Dan kukira baru hitungan bulan penyakit itu menyapanya. Namun, aku salah. Ternyata sudah bertahun-tahun disapa oleh ratusan purnama ia merasakan sakit tak tertahankan.


    Malam ini, dimasjid berwarna hijau hatiku langsung ngilu. Memikirkan diriku sendiri yang sering tak bersyukur. Kedua kakiku yang masih bisa berjalan bahkan berlari kencang kadang sering lalai pada kewajiban nikmat ini yakni mendirikan shalat. Apalagi shalat sunah yang masih jarang-jarang dikerjakan denga berbagai alasan.


    Saat ku tanya lagi rumahnya jauhkan dari masjid?
    Ia tersenyum menjawab, "lumayan jauh." Benar memang jauh saat ia memberitahu lokasinya yang sekitar ratusan meter, itu pun harus menyebrang jalan raya yang selalu ramai akan hilir kendaraan umum dari becak hingga kontainer. Sudah dapat dibayangkan bukan? Terlebih ia sama sekali tak memakai tongkat.


    "Ini ujian dari Allah. Yang penting harus tetap terseyum." Sebuah ucapan yang menyentuh hati sekali dan ku tahu tatapan matanya tak pernah bisa berbohong jika ia ingin menahan tangis akan kondisi dirinya.


    Dan satu lagi kalimat yang buatku ingin menangis lagi saat shalat tarawih telah usai dan para jama'ah satu persatu berhamburan meninggalkan jejak-jejaknya, "kita tidak akan pernah tahu apakah bisa bertemu dengan ramadhan tahun depan atau tidak." Nyess... pas kena hati.


    Sesampainya dirumah aku masih teringat akan ibu bermukena putih tadi, namun sayangnya lupa siapa namanya. Karena tak sempat bertanya, hanya terakhir menyebrang jalan raya bersama dan bilang "mari!" Dipersimpangan jalan.


    Ingatan ku kembali bermunculan manakala tahun 2013 silam tepatnya dibulan Ramadhan sebuah musibah terjadi pada diriku. Dipagi yang cerah tak secerah wajahku.
    Wajahku yang pucat pasih dan ambruk diruang UGD disalah satu rumah sakit di cikarang.


    Aku yang lemah dan tak berdaya saat itu hanya dapat terdiam pasrah. Belum siap rasanya jika nyawa ini diambil saat itu. Mengingat dosa-dosa ku yang menumpuk. Shalatku yang saat itu masih jarang-jarang dan aku masih teramat jauh dari-Nya atas kesombongan hati.


    Tubuhku yang teramat lemas bagaika kapas putih yang siap terbang entah kemana. Dokter memvonis types hasil dari sample darahku yang warnanya merah bukan biru dan mengharuskan aku yang saat itu masih berumuran imut harus di rawat.


    Mataku rasanya gelap.
    Lidahku rasanya kelu.
    Saat itu aku pasrah jika memang waktu hidupku hanya tinggal hitungan jari.
    Namun, jika diberi kesempatan hidup aku ingin berubah terutama dari soal kewajibanku sebagai hamaba-Nya yang terutama adalah tentang shalat tiang dari agama.


    Seperti yang dirasaka ibu bermukena putih itu bagaimana rasanya shalat sambil duduk itu tidak enak!
    Aku merasakannya sendiri, sungguh tak ingin lagi.
    Shalat duduk dengan dihiasi selang impusan ditangan. Sungguh tak enak!


    Kejadian itu menyadarkanku bahwa pentingnya sahalat. Nikmatnya shalat itu subhannallah apalagi shalatnya tepat waktu.
    Beruntunglah kita yang diberikan kesehatan, mengapa kita enggan mendirikan shalat?


    Lihatlah mereka! Dengan keterbatasan pada dirinya bahkan mereka dengan susah payah tetap menjalankan shalat bahkan berjuang menuju ke masjid untuk shalat berjama'ah meskipun sambil merangkak.


    Sahabat muslim...
    Shalat itu nikmat, bukan sekedar kewajiban tetapi kebutuhan.
    Yah,... kita sangatlah membutuhkan shalat. Karena shalat mencegah kemungkaran dan dengan shalat rasanya Allah teramat begitu dekat dengan hati kita.


    Pernah mendengarkah jika kau tak mampu shalat dengan berdiri, maka shalatlah dengan duduk. Jika shalat dudukpun tak bisa maka shalatlah dengan berbaring. Jika dengan berbaringpun tak bisa maka siap-siaplah untuk dishalatkan.


    Shalat itu benar-benar nikmat.
    Bersyukurlah jika kita berada ditengah-tengah orang yang selalu mengajak kebaikan. Dan mundurkanlah langkahmu jika kau terjebak kepada kebatilan. Ingatlah hidup ini teramat singkat.
    Mari kita saling berpikir dan berkaca diri untuk apa manusia tercipta jika bukan untuk bertaqwa kepada-Nya.
    Semoga kita menjadi manusia-manusia yang rindukan oleh syurga-Nya.
    Nikmatnya shalat itu subhannallah, bukan sekedar kewajiban tetapi kebutuhan.


    Cikarang, 9.Juni 2016

    Tumiesn
    *Ramadhan bulan yang dirindu.





    Bulan yang dirindu datang lagi.




    Wajah-wajah itu nampak berseri
    Kaki-kaki mereka dilangkahkan penuh semangat menuju masjid
    Tak lupa di ucapkan kata syukur

    Shalat sunah tarawih didirikan oleh seluruh penjuru bumi ini yang menyertai hati-hati muslim
    Bangun lebih awal dari sebelumnya untuk menjalankan makan sahur bersama keluarga.

    Puasa....
    Bulanmu yang dirindu datang lagi.
    Bulanmu yang berbeda dari bulan-bulan lain.
    Didalam bulanmu penuh keberkahan, dan moment dimana para muslim berlomba-lomba mendapatkan pahala dan cinta-Mu.

    Wahai bulan yang dirindu.
    Tahukah engkau? Jika bulanmu adalah bulan yang berbeda dari sebelumnya.
    Dimana ketika makan sahur dan berbuka puasa adalah waktu dimana keluarga saling berkumpul penuh kehangatan dan semangat mencari pahala darimu.
    Dimana saat buka bersama terkadang para sahabat akan lebih saling mempererat talisilaturahmi.

    Bulan yang dirindu datang lagi.
    Betapa bahagia hati-hati kami yang penuh dosa ini.
    Betapa bersyukur atas karunia-Mu engkau berikan sejuta nikmat hidup.

    Bulan yang dirindu datang lagi.
    Semoga kami yang mengharapkan cinta-Mu dapat melaksanakan ibadah puasa lebih baik dari sebelumnya.

    Ya Allah Yang Maha Cinta.
    Terimakasih untuk kesempatan nafas hidup yang masih dirasakan.
    Terimakasih atas manisnya Islam dihati.
    Jagalah Iman Islam dihati kami agar selalu menjadi hamba-hamba-Mu yang terbaik mengharapkan ridha dan cinta-Mu.

    Terimakasih untuk bulan yang dirindu datang lagi atas setiap nafas dan hati yang insya Allah selalu terbalut iman.

    Matahari, bulan, bintang, langit, awan dan seluruh isi dari penjuru bumi menjadi saksi bulan yang dirindu datang lagi.
    Selamat datang bulan ini...
    Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahit dan batin.
    Semoga keberkahan dan kecintaan dihati kepada-Nya semakin baik.

    Semoga kita dapat menjalankan puasa dengan baik.
    Kita tidak akan pernah tahu apakah esok kita akan merasakan bulan yang dirindu ini dengan penuh dan masih menemukan bulan ini ditahun mendatang atau justru bulan ini menjadi puasa terakhir kita.
    Maka dengan cinta lapangkanlah hati dan niat untuk menjalankannya lebih baik lagi.

    Selamat berpuasa.
    Mohon maaf atas segala khilaf yang disengaja ataupun tidak.

    Cikarang, 6 Juni 2016

    Tumiesn




    おたんじようび おめでっとう adikku sayang




    Selamat ulang tahun adikku sayang @YatinRagiel yang ke 22 tahun. Semoga semakin bertambahnya usia menjadi sosok yang lebih baik lagi. Sisa umurnya semakin berkah. Semakin baik ibadahnya, di lapangkan rizkinya, dipermudahkan setiap urusannya dan yang pasti menjadi sosok yang lebih baik lagi untuk agama dan negar.

    おたんじようび おめでっとう