Lepaskanlah masalalu mu, biarkan ia terbang






Melepaskan masalalu mu yang telah mewarnai hari-hari, menemani manis, asam, pahit, pedes dan nano-nano dalam kehidupan itu seperti sedang merasakan sakit gigi seorang diri dan seluruh rumah sakit tutup. Lebih ngenes dari hal yang terngenes, #eaa

Ia telah bahagia dengan jalannya,
buat apa menangis berlebihan! apa lagi  harus menangis darah.
Cukuplah menangis sekedarnya, karena ia takkan pernah kembali lagi. Kecuali ada keajaiban.
Jika ia memilih pergi dari hidupmu,
maka lepaskanlah, biarkan ia terbang bahagia dengan jalannya.

Masalalu itu bukanlah sebuah titik (.)
Ia hanyalah sebuah koma (,) yang memang terkadang kamu harus diam sesaat untuk merenung atau pun instropeksi diri mengapa semua terjadi.
Ketika bunga-bunga telah mekar kau sirami namun ia meminta agar bunga  itu layu mengering.

Tapi percayalah, selayu-layunya bunga yang mulai mengering ia akan tetap berguna,
berguna sebagai pupuk bagi tumbuhan lain.

Lalu apa hubungannya denganmu?

Hubungannya adalah mesikupun kau harus merasakan perih ditinggal pergi oleh masalalu mu. 
Kau tetap berhak hidup bahagia dengan jalanmu sendiri.
Berhentilah mengikuti jalannya yang sudah terbang dengan kebahagiaannya.
Karena tugas mu saat ini ialah melanjutkan hidup mu yang lebih baik. 
Lebih baik dari pada saat kau bersamanya.

Jangan pernah mengatakan "Mengapa Tuhan tidak adil?" saat kau merasakan kegagalan.
Kegagalan yang terjadi pada hidup mu yang sengaja Tuhan selipkan dicerita hidup mu adalah sebagai pembelajaran yang indah, bukan cara-Nya menghakimi mu yang sering kau kira.

Lepaskanlah masalalu mu, biarkan ia terbang.
Terbang bersama angin saat senja yang mulai menghilang saat berganti petang.
Biarkan  ia bahagia.
Tersenyumlah dan berdo'a yang terbaik untuknya.
Allah sudah mempunyai rencana untukmu yang lebih baik.

Jangan habiskan waktumu yang tidak lebih dari 24 jam setiap harinya, bahkan bisa saja berkurang.
Lanjutkanlah hidupmu dengan kehidupan yang lebih baik.
Berdamailah dengan diri sendiri itu lebih baik dari pada engkau menyalahkan diri sendiri.

"Siapa suruh punya masa lalu!"

Tumiesn