Cinta akan tetap berjuang walau berbeda jarak tempat tinggal




Suruh siapa beda suku?
Suruh siapa beda kasta?
Suruh siapa beda wilayah?
Suruh siapa jarak tempat tinggal begitu beribu-ribu kilometer!

Cinta sebenarnya tak pernah mengenal jarak, suku, kasta, wilayah dan embel-embel lain yang berbau khas tidak ingin berjuang! Menyerah kepada keadaan, Meninggalkan cinta hanya kata-kata itu! Itu bukan cinta!

Cinta akan tetap berjuang walau berbeda jarak tempat tinggal
Bukan halangan baginya menempuh jalan panjang, berliku, bernanah, berdebu dan tantangan dihadapannya siap menerkam. Ia akan tetap berjuang.

Terkadang banyak sekali orang yang saling menyukai dan ingin berbagi hidup bersama untuk tetap tinggal dalam satu genggaman memilih berlari dan memupuskan harapannya hanya karena jarak begitu jauh. Dan banyak yang mengatakan jika harus berjuang demi jarak yang jauh yang akan terjadi adalah "Cinta berat diongkos!"

Haruskah harapan dikalahkan oleh jarak?
Sudah siapkah jiwa-jiwa penakut akan ditertawakan terbahak-bahak oleh jarak?
Cinta tak mengenal itu! Ia akan senantiasa berjuang,
Tidak pandang bulu.

Cinta bukan terhalang hanya sekedar kata jarak.
Ia akan berjuang dan memilih untuk untuk melanjutkan perjalanan bersama.
Bukan sama-sama berjalan mundur masing-masing,
tetapi berjalan beriringan menempuh jarak bersama walau beribu-beribu kilometer.

Cinta bukan berat diongkos!

Tetapi, cinta itu berkomitmen bersama.
Menembus pekatnya ujian jarak,
Memilih berjuang untuk harapan tinggal bersama.
Karena cinta akan tetap berjuang walau berbeda jarak tempat tinggal.


Depok, 31 Oktober 2015

Tumiesn








    Selamat untuk bulanmu #part 1




    "Insya Allah bulan desember tahun ini Afar akan menikah dik." sebuah pesan masuk diponselku, balasan pesan dari teh cici saat kutanyakan adik iparnya yang bernama Afar tentang pernikahannya.
    Hati ini Bukan sekedar terkejut! Benar-benar terkejut. Bahkan suara gemuruh ombak dilautanpun yang begitu besar tak dapat ku dengar lagi.
    Bukan tuli! Tapi hati ini begitu terperanjat seketika begitu mendengarkan kabar tersebut.
    "Inikah jawaban atas penantianku?" pertanyaan menyerbu dikalbu.

    "Syukur alhamdulilah teh, salam buat ka Afar dan nitip selamat ya buatnya, semoga bahagia selalu." balasku dengan gemetar jari jemari mengetik huruf demi huruf diponsel untuk sebuah pesan kepada teh cici.Entah berapa menit lamanya diri ini mencoba membalasnya.

    Aku hanya bisa terdiam membisu menyaksikan isi pesan tersebut. Kuamati setiap hurufnya, berkali kali kueja, hanya berharap salah mengejanya.
    Dan ternyata aku tidak salah atas apa yang ku lihat dan huruf-huruf itu benar adanya, jika ia yang pernah mampir direlung hati ini akan bertemu bulannya.
    Bulan bahagianya bersanding dengan seorang wanita, tetapi bukan aku.

    "Iya sayang." sebuah pesan masuk lagi, balasan dari teh cici. Iya masih sering memanggilku sayang, sudah jelas-jelas namaku Nindi!
    "Hmmm!" aku menarik nafasku panjang berulang-ulangkali.

    "Selamat sore mbak Nindi, bagaimana keadaannya sudah sehat?" sapa seorang dokter masuk keruangan dimana tubuh ini terbaring lesu. Bukan lemah hanya lesu. Lebih dari lesu saat kudengar kabar itu.

    "Alhamdulilah sudah baik dok." balasku mencoba tersenyum meski sebenarnya getir. Tubuh ini yang sudah 3 hari memang harus tidur didipan, sungguh aku sendiri tidak menginginkannya. Benar-benar aku tidak menginginkannya, sudah seperti anak manja, makan disuapin dan sebagainya.

    Dokter itupun beberapa pertanyaan menyerbu dari bibirnya, sementara aku yang sedikit galau hanya senyum-senyum tipis dan berusaha menjawabnya dengan terbata-bata. Bukan terbata-bata karena gerogi bahwa sosok dokter tampan dihadapanku! melainkan ucapan terbata karena perihnya hati. Bukan hanya kondisi badanku yang sakit, tetapi hatiini sepertinya ikut sakit.

    Ku coba menyembunyikan nama kak Afar dalam-dalam didinding masalalau. Tetapi, entah mengapa nama dan bayangan wajahnya terus mengganggu yang sedang terbaring ini. Aku jadi benci. Agrrr... bukan benci karena aku yang tidak terpilih! tetapi karena mengapa ku tanyakan dia lagi! terlebih pertanyaan yang singkat langsung terjawab dengan singkat juga, tentang bulan Desember adalah bulannya.

    *to be continued
    nantikan kisah selanjutnya ya!


    Tumiesn





    Sekenario Cinta dari-Nya itu Indah


    Cinta,
    Sebuah kata benda yang penjabarannya begitu panjang kali lebar.
    Terkadang cinta itu alur ceritanya begitu rumit, berdarah-darah bahkan terkadang membuat derai air mata.
    Sebelum menemukan cinta yang sejati dan pelabuhan terakhir, setiap insan yang mengharapkan hadiah cinta dari sang khalik akan sosok lawan jenis, berbagai cerita dan lika-likupun dimulai.
    Menanggapi soal cinta itu sendiri, ada banyak hal yang saya rasakan dan saya lihat dari kacamata kehidupan ini.

    Terkadang kita terlalu jauh berkelana mencari cinta, sementara seiringnya waktu berputar cinta itu telah disiapkan ada di hadapan kita sendiri. Hanya saja waktu yang tepat yang akan menyadarkan dan akan berpihak.

    Terkadang pula adakalanya sosok dua insan yang saling mencinta dan selalu mengabadikan moment kebahagiaan mereka, agar cinta itu kekal. Sementara takdir mengatakan cinta itu harus terpisah dan takkan bersama.

    Adakalanya, seorang insan yang sedang menanti orang lain namun, justru ada sosok lain yang menanti. Karena hati hanya tertuju pada satu titik yang ia fokus terhadap orang yang ia harapkan maka ia lalai dan mencapakan cinta yang sebenarnya ada di hadapannya.

    Kadang ada hal yang lebih pedih menghujam jantung, ketika kita mencintai orang lain. Namun, orang yang kita nanti justru bergandengan dan melangkah bersama sahabat yang sudah kita percayai. Mengenai kasus ini, hal ini bukan hanya terjadi dalam sebuah sekenario sinetron atau cerita fiktif belaka. Namun, terkadang fakta adanya dalam lingkaran kehidupan ini.

    Sebelum lampu terang cinta itu datang menghampiri jiwa-jiwa yang pasrah namun tetap berusaha memperbaiki diri, cinta-cinta yang berlalu lalang berusaha menggoyahkan iman kerap kali datang berusaha menghantam hati yang tengah tentram dalam keasikan sendiri dan berfikir tentang sosok masa depan.

    Ada yang mengatakan jika hati bahagia, jikalau cinta yang pernah tumbuh di hati telah menemukan kebahagiaan bersama orang lain tanpa sosok diri sendiri. Jika di amati dengan kaca mata kehidupan, memang bisa dikatakan benar. Namun, proses atas penerimaan itu cukup sulit dan melelahkan hati yang kehausan akan kegoncangan nurani dan butuh waktu lama untuk menata hati menerima akan sebuah kenyataan cinta.

    Andai saja cinta dapat memahami dan mudah terbaca, pasti semua insan tidak akan menghabiskan waktunya lama dengan orang yang salah. Namun, karena perjalanannya yang bisa di katakan salah akan penantian itu maka terkadang itu karunia. Karena kelak hati itu akan di sapa dan di jemput oleh hati yang menghormati dan menjaga.

    Sesulit apapun cinta atas penantiaan saat ini, percayalah jikalau cinta itu akan datang pada masanya, pada waktu yang tepat. Dan sekenario cinta dari sang Maha Cinta itu lebih indah.
    Karena cinta pasti akan selalu ada untuk jiwa-jiwa yang mengharapkan cinta yang hakiki dengan jalan yang di Ridhai.
    Cinta itu sebenarnya adil, hanya saja waktu yang tepat yang akan menyapa, menggenggam, berjalan beriringan dengan cinta.
    Cinta tidak akan beranjak pergi ketika cinta telah menemukan siapa cinta sejatinya sebagai pelabuhan terakhir.

    Jagalah hati, menata hati, berpasrah hati dan berusaha memperbaiki diri adalah cara terbaik untuk menjemput cinta dalam sekenario dari-Nya yang sebenarnya begitu indah tentang cinta.


    Tumiesn

    Cahaya malam yang sunyi, 9-8-2015





    Tag :Cinta