Di balik rasa kecewa ada bingkisan manis di dalamnya





Pernahkah kau merasa kecewa?
Bagaimanakah rasanya?
Sungguh pedih dan sesak didada bukan?
Kecewa
Rasa Kecewa bisa terjadi kepada siapa saja manusia yang bernyawa.
Rasa kecewa bisa hadir kapan saja tanpa di kompromi.
Terkadang Rasa kecewa hadir menyelinap di sela-sela hati bahagia.
Namun, taukah engkau?

Jika rasa kecewa hadir didalam hidup kita itu adalah sebuah kejutan dan proses perjalanan.
Terkadang hanya saja kita tidak memahami semua itu.
Rasa kecewa pasti ada ketika seseorang harus kehilangan sesorang yang ia cintai karena takdir Illahi.
Seseorang sangat kecewa ketika hubungan dengan seseorang yang terjalin indah dan berencana ke jenjang selanjutnya, namun Tuhan berkehendak lain jikalau cinta itu harus pupus di tengah jalan.

Rasa kecewapun menyapa ketika seseorang yang merasa gagal disaat berjuang, contoh :
Ia harus gagal ujian karena tidak memilik uang.
Ia gagal ujian karena tidak lulus.
Ia harus gagal berlari karena kakinya terluka.
Ia gagal mendapatkan pekerjaan yang ia mau karena banyak hal.
Ia gagal merayakan pernikahan karena kandasnya cinta.
Ia gagal rumah tangga karena pertikaian demi pertikaian menyelimuti rumah tangga.
Ia gagal karena bisnis yang dirancang harus berantakan dan bahkan jatuh terhempas.
Ia gagal tidak dapat melanjutkan pendidikan karena masalah ekonomi dan sebagainya.
Ia gagal karena di kecewakan oleh orang yang di percaya.
Ia gagal menggapai tujuannya karena banyak hal dan masih banyak lagi perasaan kecewa manusia karena kegagalan apa yang di inginkannya.

Pernah terdengar sebuah pepatah mengatakan bahwa “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.”
Ya, pepatah itu adalah sebagai penyemangat. Pada dasarnya, semua itu kembali kepada diri masing-masing.
“Mengapa aku bisa gagal hingga aku kecewa?”
“Mengapa hati ku terluka hingga begitu kecewanya hati ini?”
“Mengapa engkau pergi di saat aku akan meminangmu?”
“Mengapa engkau bla.. bla.. bla.. bla…”

Sering kali kita sebagai manusia benar-benar merasa kecewa ketika apa yang diharapkan dan digadang-gadangkan dalam angan harus kandas di tengah-tengah perjalanan.
Namun, taukah engkau?
Jika apa yang terjadi dalam hidup ini dan rasa kecewa itu menyapa, semua itu pasti ada hikmah dan akan ada hadiah manis nan indah dari rasa kecewa itu.
Semua itu harus di lalui dengan rasa sabar dan memperbaiki diri.
Seperti layaknya jarum yang menancap di kaki pasti rasanya sakit bukan?
Jika kita biarkan saja pasti lama kelamaan kaki yang terkena duri akan bengkak dan bernanah.
Namun, jika duri yang menancap dikaki perlahan demi perlahan kita cabut dengan kesabaran pasti ia akan lepas dari kaki dan tidak akan mengakibatkan bernanah.

Seperti halnya dengan hati kita yang merasakan kecewa.
Jika kita kecewa terhadap sesutu dan kita hanya diam dan tak mau merubah diri sendiri dan berpikir mengapa ini terjadi?
Pasti kita akan berada di zona yang sama dan sulit untuk keluar dari rasa kecewa itu, yanga ada hanyalah rasa penyesalan dan keluh kesah.
Sementara jika kita mau mengukur diri sendiri mengapa hati ini kecewa?

Dan kita sebagai manusia memperbaiki diri dan terus belajar dari kegagalan yang mengakibatkan kecewa pasti kita kan mendapatkan hal yang manis dan indah bukan.
Sejatinya, rasa kecewa itu adalah bumbu-bumbu perjalanan kehidupan manusia yang mewarnai hari demi hari untuk membangun kehidupan lebih baik.
Tetap semangat dan terus berjuang meraih mimpi,
Angaplah jika rasa kecewamu adalah hadiah dan bentuk cinta Allah kepadamu agar engkau menjadi manusia yang lebih baik.

Terus belajar dari setiap episode-episode kehidupan.
Karena, menuju bahagia kita harus melewati duri-duri tajam yang mampu menusuk hati dan membuat rasa kecewa mampir dalam kehidupan.
Hanya diri sendirilah yang mampu merubah kehidupan diri sendiri,
bukan orang lain. Mereka hadir di hidupmu hanyalah sebagai pelengkap dan pendukung perjalanan mu.
Tetap semangat, tersenyum dan jangan diam di tempat.
Buka jendela hati dan pikiranmu.
Teruslah berpikir positive.

Tumiesn


Tag :Kecewa




    Pesan dari Pelangi #Part 2




    Tubuh yang terbujur kaku kinipun telah tertanam di perut bumi. Ia meninggalkan sejuta kenangan.
    Ia meninggalkan ribuan kisah hidup untuk keluarganya. “Ayah!” sesak didada Pelangi begitu terasa saat menatap nisan sang ayah. Ia memang harus mendapatkan kado pahit di hari jadinya yang ke tujuh belas tahun. Kedua tangan Pratama sang kakak terus memdekap adik dan ibunya yang masih tersedu-sedu dalam tangis batinnya, yang masih menatap lekat nisan sang ayah. “Bu, dek ayo kita pulang!” ajak Pratama perlahan. Namun, tak ada jawaban dari ibu dan adiknya. “Semua orang sudah pergi dari pemakaman ini bu! dan hari sudah sore, biarkan ayah tenang disana.” Pratama berusaha mengajak mereka pergi.

    “Hmmm, mari kita pulang nak. Kasihan Ayahmu jika kita masih disini menangisi kepergiannya. Do’akan semoga ia tenang dialam sana.” bu Fatma menarik nafas panjang, matanya yang bengkak akibat menangis mencoba untuk terlihat terang saat menatap Pelangi yang sangat terpukul.
    Merekapun beranjak pergi dan berlalu meninggalkan pemakaman itu tempat perisitirahatan sang ayah.

    “Bahagia dan tenang ya Yah, Pelangi sayang ayah. Pelangi yakin ayah sudah mengucapkan ulang tahun untuk Pelangi, meskipun Pelangi belum mendengarkannya sendiri.” Pelangi menoleh ke nisan itu saat langkah kaki semakin menjauh dari area pemakaman.

    Waktu pun berlalu, tak terasa kepergian sang ayah sudah hampir satu minggu. Sang ayah yang meninggal karena terhempas ombak saat menelayan. Sang ayah yang meninggal tepat disaat hari jadi Pelangi. Sang ayah yang mengatakan akan mengajak Pelangi menunjukan sesuatu untuk hadiah ulang tahunnya. Namun, semua itu kini telah pupus. “Pelangi, kamu tidak sekolah dek?” pratama mencoba mendekati adiknya yang sudah satu minggu enggan pergi kesekolah sejak kepergian ayah mereka.
    Pelangi hanya diam seribu bahasa. Pratama dan bu Fatma mulai resah tak terarah. Mereka hanya takut jika Pelangi mengalami gangguan jiwa karena guncangan batinnya.
    Pratama dan bu Fatma sudah berusaha menenangkan Pelangi atas kepergian Ayahnya, namun entahlah semua usaha itu tak mampu membuka kekosongan fikiran pelangi yang begitu tandus dan buntu.

    “Apa yang harus kita lakukan bu?” Pratama menatap mata ibunya lekat. “Entahlah nak, ibu juga tidak tahu.” bu Fatma menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hujan!” tiba-tiba Pelangi berucap bersamaan dengan jatuhnya hujan pagi itu yang sontak membuat bu Fatma dan Pratama terkejut.

    Pelangi berlari keluar dan menengadahkan tangannya ke atas dan merasakan nikmatnya butiran-butiran air hujan yang jatuh keatas kepalanya dan tubuhnya. “Ada apa yang sedang terjadi dengan pelangi bu?” Pratama sangat heran melihat pelangi yang begitu terlihat girang menyambut jatuhnya hujan.
    Bu Fatma hanya menggeleng-gelengkan kepala.

    “Kak Pratama, Ibu!” Pelangi berlari medekati mereka yang sedang berdiri depan pintu rumah sederhana mereka. “Ibu, Kak. Hujan turun, ayo kita hujan-hujanan. Sudah lama hujan tak turunkan!” Pelangi begitu terlihat gembira dan tak banyak kompromi ia menarik tangan kakak dan ibunya ke halaman rumah untuk merasakan tetesan-tetesan hujan di pagi itu.
    Bu Fatmah berlinang air mata, dalam hatinya anatara senang karena Pelangi akhirnya mau berbicara namun sedih karena ulah putrinya itu yang mengingatkan sosok suaminya sang pencinta hujan.

    “Kau memang benar-benar seperti ayahmu nak, sangat mencintai turunnya hujan.”pekik bu Fatma dalam hati kecilnya, tetesan air matanyapun tak nampak karena ia menangis diantara hujan. Pratama dan bu Fatma mencoba tersenyum. “Ayah! hujan turun.” teriak Pelangi diantara hujan pagi itu.
    Dianatara hujan mereka bertiga mengenang sang ayah.
    Dibawah hujan mereka mencoba tersenyum.
    Dan dibawah hujan pagi itu, Pelangi mencoba memahami dan menerima atas kepergian sang ayah yang tak di duga.

    “Ayah, hujan turun sangat romantis. Seperti apa yang engkau katakan saat kita muda dulu.” ucap bu Fatma dalam hatinya dengan senyum dan air mata dianatara tetesan hujan.


    *to be continued

    nantikan kisah selanjutnya ya!

    Tumiesn



    Tag :hujan




    Ketika Wanita Jatuh Cinta





    Ketika wanita jatuh cinta! Sungguh ia tak banyak bicara.
    Ketika wanita jatuh cinta, ada perasaan yang tak dapat di jelaskan.
    Seandainya seisi bumi tahu apa yang dirasakan oleh wanita saat jatuh cinta!
    Sungguh malu hati nan menjelaskannya.

    Ketika wanita jatuh cinta, ada rasa gelora yang menggebu-gebu.
    Ketika wanita jatuh cinta! Ada perasaan yang sulit di jelaskan.
    Tak dapat dipungkiri jika semua insan membutuhkan hati untuk mencintai dan di cintai, karena itu adalah naluri insani.

    Namun, jangan sampai jatuhkan hati pada orang yang tidak tepat, karena dapat membuat penyakit hati.
    Ketika cinta itu datang menyelinap di hati seketika waktu yang tak di duga,
    Maka jatuhkanlah hati itu pada Sang Maha Cinta.
    Karena hanya Allah lah yang tahu apa isi hati mu.

    Ketika wanita jatuh cinta, sungguh rasa seisi dunia ini miliknya.
    Ketika wanita jatuh cinta, sungguh bahagianya ketika ia dapat bersanding dengan sosok yang di nanti.
    Namun, alangkah bahayanya ketika wanita jatuh cinta. Jika tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.
    Karena jatuh cinta memang nurani manusia, namun tepatkanlah cintamu pada waktu dan hati yang tepat wahai wanita.

    Karean ketika wanita jatuh cinta, hanya sosok satu oranglah yang selalu ada didalam setiap do’a-do’anya dan selalu ia ceritakan kepada Sang pemilik Cinta.
    Sampaikanlah rindu-rindumu yang hadir melintasi sanubari mu pada sang Illahi.
    Jagalah hati dan cinta mu wahai wanita,
    percayalah cinta kan menjemputmu pada waktu yang tepat.

    Tumiesn





    Hidup ini Indah secantik Mawar Putih





    Kamu adalah Pemeran utama dalam setiap cerita hidup mu!
    Bukan aku, dia atau mereka.
    Maka jadilah tokoh yang baik dalam setiap cerita hidup mu yang indah.


    Tumiesn




    Ada Sosok yang sejatinya membutuhkan kita!!!




    Terkadang kita terlalu sibuk dengan duni kita.
    Ketika kita sudah asik dengan dunia baru terkadang sering kali kita lupa dengan hal lama. Sebuah cerita dimana awal mula kita melangkah.
    Hmmm.... Namun sosok itu tidak pernah protes mengeluh dan menghakimi atas kesibukan kita.
    Justru sering kali sosok itu memahami meskipun sejujurnya hatinya sangat rindu.
    Sosok itu adalah orang tua.

    Yah, orang tua yang sedia kala telah berjuang bersusah payah mengajak anak-anaknya melangkah.
    Sosok yang sering kali kita lupakan karena kesibukan kita yang semakin hari semakin terus bertambah.
    Entah itu kesibukan tentang pendidikan, pekerjaan, teman bahkan kesibukan dengan pasangan.
    Sementara sosok itu jarang kita sapa dengan alasan "Maaf bu, pak, aku sedang sibuk, nanti aku telepon lagi ya!"
    atau "Maaf bu, pak aku buru-buru, temanku sudah menanti sejak tadi. Maaf aku tidak bisa sarapan bersama pagi ini."
    Dan sering kali itu terjadi bukan?

    Sosok itu selalu tersenyum mencoba memahami kondisi putra-putrinya yang semakin hari memang semakin tumbuh dewasa, dan semkin banyak pula kesibukan yang di kerjakan hingga terkadang lupa akan sosok itu.
    Namun, sosok itu tidak pernah berkata, "Tega sekali kau nak!" ia justru malah tersenyum dan mendukung putra-putrinya, meskipun entah bagaimana kondisi perasaanya saat anaknya menolaknya karena sibuk dengan dunia barunya.

    Hari terus bejalan, kita semakin tumbuh dewasa. Kesibukan terus datang memaksa.
    Sementara sosok-sosok itu semakin lama semakin tua.
    Kita terkadang terlena akan kesibukan dunia ini. Teman baru, kekasih baru, pekerjaan baru, cerita baru dan sebagainya. Namun, sosok-sosok itu setiap hari terus semakin menua.
    Ketika saat itu justru sesungguhnya mereka sangat membutuhkan pelukan sang anak, mereka ingin mendengarkan cerita sang anak setiap harinya. Seperti apa yang ia lakukan kepada anak-anaknya saat ia masih Kuat dan gagah , sosok itu senantiasa memberikan cerita kehidupan kepada buah hatinya.
    Mereka tak pernah bosan-bosannya menceritakan tentang kehidupan di dunia ini. Entah itu tentang apa saja agar menjadi bekal anaknya setelah tumbuh dewasa agar tahu mana yang terbaik untuk menghadapi dunia ini.

    Sayangnya, terkadang sang anak terus berkecimpung dalam dunianya. sampai-sampai ia tak pernah mengetahui sosok-sosok itu sedang sakit. Karena kesibukan yang menuai banyak hal.
    Bapak & ibu, mereka mungkin enggan memberi tahu kepada anak-anaknya saat mereka jatuh sakit dengan alasan mereka tak ingin mengganggu kesibukan anaknya. Mereka tak ingin jika keadaan mereka menjadi beban fikiran anak-anaknya, meskipun sejujurnya mereka sangat memerlukan kehadiran anak-anaknya yang semakin hari semakin sibuk dengan kegiatannya.

    Sebelum semua terlambat, pahamilah akan sosok-sosok itu di rumah. mereka selalu menanti kehadiran kita, Mereka ingin sekali kita ada didekatnya. Meskipun kita mempunyai tugas yang harus di jalankan, baik kita harus berjauhan jarak dengan mereka karena tugas yang harus di kerjakan.
    Namun, ingatlah dan sempatkanlah untuk selalu menghubungi sosok-sosok itu.
    Mereka sangat merindukan kita.

    Saat kita dewasa dan sosok itu kian hari kian menua, mereka tak membutuhkan sekedar materi yang kita berikan. Namun, kasih sayang dan waktu luanglah yang mereka inginkan untuk mereka.
    Sebelum terlambat,
    Kasihani dan sayangilah mereka.
    Dekaplah mereka dalam pelukan hangat.
    Teruslah memberikan cerita tentang hidup kita.
    Tentang mimpi dan hal indah kepada mereka.
    Seperti apa yang mereka persembahkan tentang segala macam cerita saat kita belum tumbuh besar dan dewasa seperti saat ini.

    Hubungilah mereka setiap saat meskipun hanya via suara karena jarak yang memaksa kita untuk mengejar impian.
    Do'a orang tua adalah do'a yang dahsyat.
    Ridha Allah adalah ridha orang tua.
    Sayangilah dan dekap erat dalam kehangatan, sosok itu membutuhkan kita.


    Tumiesn

    Tag :orang tua




    Pesan dari Pelangi #Part 1




    “Pelangi, apa yang sedang terjadi di rumahmu?” tanya Ananda sahabat baik Pelangi. “Bendera kuning?” jantung Pelangi terasa terhenti. Kakinya mulai gemetar matanya berkaca-kaca seketika melihat bendera kuning yang melambai-lambai dipagar rumah. Angin pantai yang saat itu memang cukup kencang membuat bendera kuning itu berkibar semakin kencang menorehkan sejuta kabar duka.

    “Pelangi?” Ananda mencoba menguatkan hati sahabatnya dengan menggenggam tangan Pelangi yang saat itu mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu. Cerahnya matahari siang itu sepertinya tak secerah suasan pemukiman warga di tepi pantai sumatera. Suasana tangis terdengar mengharu biru. “Pelangi!” beberapa orang mencoba mendekatinya dan perlahan mengajak Pelangi masuk kerumah. Namun, Pelangi masih terdiam terpaku di depan pagar rumahnya yang sederhana. Aliran darahnya seketika terasa terhenti. Ia sungguh tak mengerti tentang apa yang terjadi dan maksud dari bendera kuning yang berkibar menjadi pertanda.

    Apa yang terjadi? saat aku hendak berangkat sekolah tadi pagi tidak terjadi apa-apa dengan meraka?” desisnya dalam hati mengingat-ingat akan kondisi ayah, ibu dan kakaknya yakni pratama. Pelangi mencoba mantap melangkahkan kakinya, meskipun kakinya terasa bergetar begitu hebat, ia mencoba mengatur nafasnya yang mulai tersenggal seakan sesak tak mau diajak kompromi.
    Sesampainya di dalam rumah Pelangi semakin hancur hatinya, seketika apa yang ia lihat seakan hanya mimpi belaka. Namun, sungguh itu nyata. “Ayah, ayah, ayah!” bisiknya lirih.

    “Pelangi!” ibunya yang bernama Fatma mendekat dan memeluknya lembut. “Ayah mu telah tiada nak.” sambungnya di iringi isak tangis yang semakin menjadi dan mengguncang suasana siang itu. Semilir angin pantai pun terasa tak dirasakan dan dihiraukan lagi, yang dirasa hanya kelam.

    “Ini hanya mimpikan bu?” pelangi masih belum percaya dan ia masih bertahan berdiri kokoh di samping jasad yang terbujur kaku. Pelangi tak mampu bergerak.

    “Pelangi duduklah nak.” ajak ibunya perlahan. Pelangi mencoba duduk disamping jasad itu. Air matanya mulai mengalir deras mengenai seragam sekolahnya. “Ayah!” seketika suara pelangi mencekik kencang dan membuat semua orang memperhatikannya dan bingung apa yang harus mereka lakukan melihat pelangi histeris. “Ayah kenapa? Ayah sedang tidurkan? ayo bangun Ayah! hari ini Pelangi ulang tahun, katanya ayah mau temenin Pelangi bermain siang ini! katanya ayah mau ajak pelangi berkeliling kepulau seberang dengan perahu baru ayah! ayah ayo bangun temani Pelangi!” pelangi terus berbicara ia masih tak percaya bahwa sosok yang didepannya telah terbujur kaku.

    “Pelangi, Istrighfar dek. Ikhlaskan ayah!” Pratama mencoba menenagkan hati adiknya. “Kak, ini semua Cuma mimpikan? ayah pasti sedang bercanda! mengapa semua diam? atau ini kejutan ulang tahun Pelangi hari ini? ayah pasti mau kasih kejutankan buat pelangi?” celoteh Pelangi masih tak percaya.

    “Pelangi, ayah memang sudah tiada. Ini sudah takdir dari sang Illahi.” tegas Pratama pemuda tampan kakak kandung Pelangi yang saat itu sudah bekerja di sebrang pulau sumatera.

    “Ini bohong!” Pelangi sungguh masih tak percaya ia mengacak-acak rambutnya yang panjang terurai.
    “Ayah bangun ayo kita main.” Pelangi masih terus mencoba membangunkan ayahnya.

    “Pelangi istighfar nak!” semua orang berusaha menenangkannya. Namun, Pelangi masih tak percaya ia terus berusaha dalam egonya membangunkan dan memanggil-manggil nama ayahnya. Air mata beningnya tumpah seakan membentuk danau duka. Tak ada jawaban, ayahnya tetap terdiam terbujur kaku. Ayahnya tetap tenang dalam tidurnya diselimuti wajah yang tersenyum bahagia.

    Sementara Pelangi masih terisak, ia sungguh tak percaya, karena hari itu adalah hari yang seharusnya ia bahagia karena bertambah satu tahun usianya yakni hari jadinya ke tujuh belas tahun.

    *to be continued

    nantikan kisah selanjutnya ya!

    Tumiesn





    DOA YANG TERSELIP DALAM SEBUAH HADIAH






    Hadiah atau sebuah cindera mata yang diberikan seseorang untuk orang lain adalah sebuah bentuk penghargaan, kasih sayang dan semacamnya.
    Betapa senang dan gembira hati kita ketika mendapatkan sebuah hadiah dari seseorang. Baik dari seorang teman, kekasih dan sebagainya.

    Namun, tahukah kamu?

    Ada sebuah hadiah yang begitu berharga hingga membawa kita melangkahkan kaki sampai saat ini.
    Ya,, sebuah hadiah yang sederhana namun mengandung makna luar biasa.
    Sebuah hadiah yang saya sendiri baru memahami maknanya.

    Dahulu saat kita kecil dan mulai disekolahkan oleh orang tua kita,
    selain memberikan kita seragam sekolah, Ayah dan ibu memberikan kita sebuah buku dan pensil untuk di jadikan sebagai alat tulis menulis pertama kalinya.
    Mereka memberikan buku yang berisi kertas putih kosong tersebut adalah bertujuan agar kita belajar menulis dengan menggoreskan pensil diatas kertas-kertas tersebut.

    Tahukah kamu?
    Dari hadiah buku kosong dan sebatang pensil awal kita belajar, ada sebuah harapan yang terpampang disana, meskipun tak terucap dan dijelaskan secara gamblang
    Mereka berharap agar buku dan pensil itu dapat menghantarkan anak-anaknya ke masa depan yang lebih baik dari pada kesuksesan dalam hidup mereka.
    Orang tua sangat menginginkan anak-anaknya lebih baik dari mereka.

    Masih ingatkah awal mula kita menulis dalam buku kosong tersebut?
    Dahulu begitu sulit dan sungguh penuh perjuangan bukan?
    Dari kita memulai munulis garis-garis yang membentuk sebuah huruf dan angka.
    Dahulu kita berjuang keras untuk menulis di buku kosong tersebut agar buku tersebut terisi goresan-goresan pensil yang membuat kita bisa menulis.

    Tahukah kamu?
    Perjuangan kita menulis dahulu tidak seberapa dengan perjuangan orang tua kita untuk mendapatkan uang untuk membeli buku dan pensil untuk anak-anaknya.
    Tetapi, buat mereka itu taka da apa-apanya.
    Mereka hanya berharap agar anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan dengan di mulai dari sebuah tulisan yang terdapat dalam buku itu.
    Ada sebuah do’a di dalam hadiah buku kosong pertama kali yang kita terima.
    Ada do’a yang terselip dalam hadiah itu.
    Ayah dan ibu sangat berharap agar anak-anaknya kelak mampu melangkah maju dan menjadi orang hebat. Menjadi anak-anak yang berguna bagi Nusa dan Bangsa.

    Ayah, ibu….
    Maaf kan aku yang baru menyadari hal itu.
    Entah mengapa ingatan masa kecil pemberian hadiah buku dan pensil pertama kali itu muncul dan membungkam memori.
    Terimakasih ayah, ibu!
    Terimakasih.
    Kau berikan hadiah buku dan pensil itu pertama kali dan awal mula aku menulis garis demi garis yang membentuk sebuah huruf dan angka didalamnya sangat bermakna,
    semua itu dapat menghantarkan aku sampai saat ini aku berpijak.

    Ayah, ibu terimakasih untuk hadiah buku dan pensil itu.
    Maafkan anak mu ini yang belum bisa menjadi kebanggan kalian.
    Terimakasih atas kasih sayang dan cinta kalian meskipun kalian bukanlah orang yang selalu berkata
    “Nak, ibu dan ayah menyayangi mu.”
    Namun, semua yang telah kalian berikan kepadaku adalah bentuk cinta kasih sayang kalian yang tak perlu di jelaskan.

    Cikarang, 9 Juni 2015
    Teruntuk ayah dan ibu

    Tumiesn





    Jangan Jatuh Cinta!




    Cinta,...
    Banyak orang berkata tentang cinta.
    Entahlah apa itu cinta.
    Panjang kali lebar terkadang orang bertutur kata tentang cinta.
    Hmmm... kali ini saya akan menulis tentang cinta. Sedikit alay sih. Tetapi, memang cinta itu fitrah manusia.

    Eitzzz... Jangan cuma cinta kepada manusia terutama ke kekasih atau yang di sebut dengan pacar! orang-orang sih bilang gitu, ... harus inget loh, cinta yang utama itu cinta kepada Allah sang Maha pencipta.
    Oke.. sering kali saya dapet curhatan dari teman-teman saya, baik itu teman cewek atau teman cowok.
    Terkadang mereka bercerita tentang masa depan dan tujuan hidup, dan terkadang topik cinta dari curhatan merekapun diangkat dan buat saya itu topik cukup berat.
    So... jika didefiniskan secara gamblang apa itu cinta? sang punjangga mungkin juga akan kualahan mendefinisikan hehehehehehehehe.

    Di antara teman-teman yang suka share sama saya, unik-unik cerita cinta mereka.
    Ada yang mulus kaya jalan aspal yang bagus ga ada lubang,
    ada yang berliku kaya tikungan jalan,
    dan macem-macem.
    Saya mendengarkan cerita mereka dan memahami karakter dan pendirian mereka.

    Tetapi, ada salah satu curhatan diantara mereka yang akan saya angkat dalam tulisan ini.
    Tak perlu di sebutkan siapa narasumber yang menagalami cinta di hatinya.
    Hmmm... dia seorang pria, dibilang tampan memang tampan, di bilang soleh saya akui dia memang soleh, di bilang pinter sudah jelas.
    Tetapi ada hal yang menarik dari cerita beliau.
    Dan memang teman pria yang saya jumpai yang mengalami ini bukan dia seorang dan masih ada banyak lagi, namun ceritanya mungkin lebih menarik.

    Dia bilang suka sama seseorang memendam perasaan kepada si perempuan berjilbab yang punya senyum manis. Dan dia bilang dia gak berani ngomong sama itu perempuan.
    Terus saya bilang, "Kalau cinta di perjuangkan."
    Dia jawab, "Saya belum jadi apa-apa dan saya ingin datang mengungkapkan perasaan kepadanya setelah saya sukses."

    "Apa kamu tidak takut keduluan?"
    Dia diam lalu berkata, "saya tidak berani. dan saya takut."
    Saya masih mendesak segudang pertanyaan, yang akhirnya membuatnya diam terpaku dan nampak matanya berkaca-kaca.
    "Hmmm... Jangan jatuh cinta kalau tidak ada tujuan?"
    ucapan saya itu membuatnya ternganga...

    "Cinta itu sejatinya menjaga bukan merusak. Boleh saja jatuh cinta, tetapi jangan sampai merusak iman. Banyak sekali kejadian-kejadian yang saya amati dari berbagai segi kehidupan soal cinta, hmmm... tapi tak perlu dibahas di sini. Yang pasti jika memang jatuh cinta terhadap seseorang perjuangkanlah jika sudah mampu yakni serius menemui orang tuanya. Jika belum siap dan hanya memiliki sebuah persasaan saja, lebih baik tahan dan amati dia dalam kejauhan."

    Saya kagum dengan teman saya itu meskipun terkadang agak suka galau,
    Tetapi dia bilang akan datang kepada wanitanya itu ketika pada waktu yang tepat. Dia bilang akan berjuang dalam urusan pendidikan dan karirnya, dan saya bilang "Semangat dalam tujuan."
    Inti dari tulisan ini yang saya maksud yakni, jangan hanya berkata "aku cinta kamu!" tetapi alhasil nihil yakni tidak ada tujuan.

    Menurut saya pribadi cinta adalah sebuah hakekat manusia yang didalamnya terselip rasa rindu yang mengingatkan akan kehadiran Tuhan.
    Dan sebaik-baiknya cinta adalah yang menjaga bukan merusak.
    "Jangan jatuh cinta jika tidak ada tujuan!"

    "Obat dari jatuh cinta itu sendiri adalah menikahinya bukan menjadikannya pacar yang bisa di gandeng tanpa setatus yang resmi dan di tinggalkan begitu saja karena tidak ada tujuan."
    Menikahlah jika sudah mampu!
    dan berpuaslah jika belum mampu!

    "Maaf kalau ada salah-salah kata dalam penulisan.
    "Salam kreatifitas anak bangsa.

    Tumiesn




    Jadilah wanita seperti mawar di tepi jurang! bukan di tepi jalan...





    Allah menciptakan wanita begitu sempura. Wanita bukanlah mahluk yang lemah. Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang begitu kuat. Namun, disisi lain begitu besar fitnah yang timbul dari wanita. Karena ujian menjadi seorang wanita begitu besar. Terutama fitnah dari pandangan pria yang bukan mahramnya.
    Wanita tercipta begitu indah, namun keindahan itu akan hilang dari wanita jika ia tidak dapat menjaganya. Wanita... dari ujung kepala sampai ke ujung kuku kaki memang harus benar-benar di jaga.

    Wahai wanita dan aku pun wanita, cara menjaga diri dari pandangan liar penuh dengan nafsu adalah menutup aurat, berucap seperlunya dan berinteraksi dengan sesama sewajarnya.
    Wanita itu seperti sebuah bunga mawar indah dan mempesona. Bunga mawar mempunyai duri-duri yang tajam, sehingga dapat melukai siapa saja yang mencoba memetiknya.

    Namun, taukah anda?
    Duri - duri yang ada pada tangkai mawar adalah untuk melindungi mawar dari tangan-tangan jahat.
    Seperti halnya dengan wanita, wanita harus melindungi dirinya sendiri dari pandangan-pandangan dan godaan pria tak bertanggung jawab perusak ahlak.
    Jadilah mawar yang berada di tepi jurang, bukan di tepi jalan.
    Karena, dengan adanya mawar yang berada di tepi jurang. tidak semua dapat mampu memetiknya. Hanya seseorang yang sungguh-sungguh akan berani memetik mawar di tepi jurang, karena nyawa adalah taruhannya. Sedangkan mawar yang berada di tepi jalan, akan sangat mudah di petik dan di campakan begitu saja ketika sudah tidak indah.

    Begitu halnya dengan wanita.
    Jadilah wanita yang menjaga kehormatan dan ahlaknya,
    jangan biarkan diri di sentuh oleh siapa saja.
    Jadi lah wanita yang akan di genggam oleh tangan seseorang yang benar-benar akan berjuang di jalan yang benar.
    Menjaga wanita,
    melindungi wanita,
    mencintai wanita,
    dan tak mudah mencampakannya.

    Wanita yang baik pasti untuk pria yang baik dan sebaliknya.

    Tumiesn

    Tag :wanita