15 Hari Menulis Tentangmu




Aku adalah apa yang pernah kamu do'akan, meski ku tak pernah tau apa yang tengah kau juangkan.
Dan engkau adalah pemilik nama yang selalu ku ceritakan kepada-Nya.
Kau tahu, kita sama-sama tahu. Ada rahasia hati yang pernah saling di juangkan.
Gelora rasa yang bersama-sama di tumbuhkan, meski akhirnya kita tak akan pernah tahu.

Aku betah menulismu, Lima belas hari tepatnya.
Jangan tanya mengapa?
Meski ku tahu pada akhirnya kau sadari, aku tengah gemar menulis namamu dan membingkainya dalam aksara cinta.

Kau pamit, dan aku ikhlaskan.
Kita berjalan sesuai perputaran waktu.
Meski tak ada yang pernah tahu, kemana hati nanti akan berlabuh.
Kau untukku dengan gaya terbaru penuh pertumbuhan diri atau nyatanya benar-benar bukan untukku.
Engkau adalah sosok yang betah ku tulis namamu. Ku do'akan meski tak perlu tahu.

Aku pernah merayu-Nya, memintamu untuk datang ulang.
Tapi diri ini tak bisa memakasa, Dia yang lebih tahu apa yang terbaik untukku dan untukmu.

Kau adalah rahasia yang ku usahakan dalam bait do'a.
Berpuisilah yang indah meski saat ini bukan bersamaku.
Berdo'alah penuh cinta, walau ku tahu saat ini rasa mu bukan untukku, dan entah rayumu dalam do'a untuk siapa?

Dariku untukmu, kau adalah rahasia yang ku semogakan.
Meski bukan untukku, tapi untuk yang terbaik untuk yang kau mau.
Ku panggil namamu, cukup dengan dua huruf.


Cikarang, 3 Maret 2018
Tumiesn

#Cerita Bersambung, entah fiksi maupun nyata. Silahkan diterka-terka.
Terima kasih telah membaca cerita bersambung Dua Huruf Dalam Bingkai

Dua Huruf Dalam Bingkai #1

Dua Huruf Dalam Bingkai #2


Dua Huruf Dalam Bingkai #3


Dua Huruf Dalam Bingkai #4


Dua Huruf Dalam Bingkai #5


Dua Huruf Dalam Bingkai #6

Dua Huruf Dalam Bingkai #7

Dua Huruf Dalam Bingkai #8


Dua Huruf Dalam Bingkai #9


Dua Huruf Dalam Bingkai #10

Dua Huruf Dalam Bingkai #11

Dua Huruf Dalam Bingkai #12

Dua Huruf Dalam Bingkai #13


Dua Huruf Dalam Bingkai #14

Dua Huruf Dalam Bingkai #15








    Dua Huruf Dalam Bingkai #15





    Sampai saat detik ini aku masih gemar memandang bahkan memotret gerombolan awan dengan ponsel biasa ini. Bagiku, pemadangan langit adalah hal yang selalu harus disyukuri, indah sama seperti halnya ku syukuri telah mendapatimu dalam ruang waktu. Mengenalmu dan memahmi masa itu.

    Kita pernah saling bertukar pikir, meski terkadang tak jarang dari semua itu berselisih, berdebat dan saling terdiam. Tapi, semua hal yang terlihat menyebalkan tersebut justru menjadi magnet kesadaran diri serta rindu yang sering datang bertubi-tubi. Kau tahu? Hal itu lah yang membuat juangku untuk mengusahakanmu begitu yakin.

    Kita adalah pemilik dua pasang kaki yang masih betah berjalan berjauhan. Mencari sesuatu yang mungkin bisa membuat hati bahagia. Padahal bukanlah bahagia itu sederhana jika kita saling paham dan ada disaat kondisi apapun?

    Gumpalan awan itu ibaratkan kumpulan dari rindu yang di jaga. Tentangmu sosok dua huruf yang masih enggan hilang dari kenangan. Kau yang tak lekang oleh waktu meski berusaha untuk menghilang dan tenggelam dalam pandangan dan masa yang semakin sulit di pahami.

    Dariku untukmu, aku tak pandai merayu. Apa lagi memaksa kakimu mendekat untuk melangkah sesuai harapanku. Kali ini, biar saja hati dan lisan hanya bisa merayu-Nya.
    Biar dijunjung tinggi rasa tanpa harus saling melemahkan hati.
    Bila kau untuk ku atau pun nyatanya kita kan bersatu, pastilah kan ada artikel pendekatan yang ajaib.

    Aku ada dan kaupun dekat, hanya saja kita sama-sama belum tersadarkan.
    Raihlah kunci untuk membuka gembok cita-citamu. Berpuisilah yang indah meski kita belum bisa saling berbalas.
    Berdo'alah lebih tenang lagi tanpa harus saling tahu tentang apa yang dipanjatkan.
    Dan kita hanya perlu saling belajar dan memaknai tentang, "Baiknya apapun dari Allah saja."
    Aku rindu, tapi maaf bukan ku Kaku.

    -Tamat-

    Cikarang, 23 Februari 2018

    #tumiesn
    #ceritaDuaHuruf
    #NulisAsik
    #fiksiataunyata
    #cintapositif




    Dua Huruf Dalam Bingkai #14





    Hai, bagaimana kabarmu?
    Ku harap harimu selalu biru, terang dan selalu tangguh.
    Sudah lama sekali kita tak bercakap-cakap, tak ada cerita terdengar yang dulu kita saling menyimak. Rasanya aku rindu sekali, lalu bagaimana denganmu?

    Kau tahu betapa cantiknya pohon durian yang menjulang tinggi dan jika di lihat dari bawah, pucuknya seperti mencangkar langit? Buah-buahnya menggantung bebas dan daun-daunnya melambai girang tertiup angin dan dipeluk awan.
    Kau pasti tahu dan sepakat itu semua cantik dan indah. Sama halnya dengan apa yang kamu lihat ketika berhadapan dengan sosok lain, hatimu bisa saja mudah berkata kagum dan suka atau hanya biasa. Akh... Maafkan aku selalu terbiasa terkurung pada cemburu tatkala mengkaitkan sesuatu terlebih tentangmu dengan sesuatu yang mungkin lebih menarik. Seperti halnya menariknya masa lalu mu bukan?
    Ooh.. Maaf aku luput, masih gemar mengingat hal yang bisa saja buat gemuruh cemburu melambung. Meski itu dulu saat ku dengar cerita mu, tentang sosok lain. Kau terlalu terbingkai apapun tentangmu, maaf.

    Aku enggan membahas apapun yang sempat melanda pedihmu, meski hadirku mungkin tak mampu pupuskan lukamu. Aku yang biasa, keyakinanku tak mampu menebus dinding dinginmu hingga kau biarkan jarak kini tercipta.
    Baiklah, ku sadar dan akui ini menyiksa meski harusnya disadarai bahwa kaki ini harus hengkang jauh-jauh, seperti mau mu.
    Aku rindu bagaimana kisahmu. Serta tentang bagaimana caramu mempersilakan setiap cerita terlontar masak-masak dalam nyaring keceriaan, aku rindu tentang kisah sesaat kita.
    Apa kau juga rindu?

    Bila melihat awan yang menggumpal, ku teringat sosok mu yang sering hinggap di jendela hati. Entah mengapa, aku tak tahu.
    Baiklah, baiknya kita renungkan setiap jeda-jeda gejolak hati yang meradang ini. Semoga kita baik-baik saja, seperti ucapmu dulu.
    Bersambung..

    Cikarang, 22 Februari 2018

    #tumiesn
    #ceritaDuaHuruf
    #NulisAsik





    Dua Huruf Dalam Bingkai #13




    Ruang-ruang itu perlahan mulai tertutup. Seperti bulatnya mata yang mulai terkatup. Lupa dan memilih melupakan. Bukan soal tak adil, hanya butuh ketenangan.

    Kau dan aku memilih membentuk jarak. Terdiam dan saling menepi. Kelu saat kaki tak sengaja bersua diatas lantai-lantai yang rasanya biasa mendadak dingin, menggigil.
    Tertunduk dan berusaha baik, meski gemuruh gejolak hati tak menentu, sadari kabar rasa ini masih asik terjatuh pada sosokmu.

    Kau yang biasa dengan cara sederhana dalam pembawaan. Tak banyak cakap, cukup berkisah seperlunya. Bagiku saat itu kau izinkan sosok lain menengok hidupmu lebih dalam adalah keberuntungan yang tak semua orang dapat merangkul kisahmu. Dan aku sempat merasa sangat beruntung.

    Aku menyukai keramaian yang terkadang membuatku merasa utuh. Tapi kau lebih damai dalam keheningan.
    Caraku berdiksi lebih sedikit melangit, dan kau membumi. Aku suka berjalan dan bahkan berlari-lari kecil saat terburu-buru untuk meraih waktu. Tapi kau, lebih senang berjalan santai tapi tepat waktu tanpa harus menyiksa diri karena bagimu membuang waktu itu tidak efektif. Kau yang rapi dan aku cukup berantakan. Berbeda? Yah kita banyak bedanya, tapi aku bahagia. Darimu dan petuahmu sering ingatkan kekurangan ini, tapi dulu saat kau masih memiliki waktu untuk menyempatkan diri ada diarea cerita hidup.

    Kau baik, sangat baik. Tak mungkin aku sampai saat ini masih betah menggores namamu dalam bingkai cerita rahasia dengan meledoi rindu jika dirimu tak penting.
    Entahlah aku atau kamu yang beruntung atas kekacauan hati yang cukup rumit, meski sederhana kejelasan yang kita inginkan. Hanya saja mungkin waktu belum berpihak.

    Kau bak jendelanya waktu hidup.
    Berikan udara sejuk dikala pagi, dan berikan ruang waktu kehangatan petang tiba. Kau yang tertutup, tapi ku sempat membuka tirai hidupmu dalam harmoni kenang.

    Jika kau tanya, "Apakah ku masih rindu?"
    Harusnya kau sudah tahu jawabannya, semua ada di caramu memandang pola pikir ini, meski terkadang kita tak sama.

    Bersambung...

    Cikarang, 21 Februari 2018

    #tumiesn
    #ceritaduahuruf
    #NulisAsik




    Dua Huruf Dalam Bingkai #12





    Kosong, saat ku yakin tak ada goresan.
    Sepi tatkala ditengok berulang-ulang tak ada lagi senyum itu. Sosok biasa yang pernah menyapa ku teduh diantara segerombolan pasang mata manusia.
    Hari itu aku tertawa lepas, berbicara panjang bahkan luput waktu terus berjalan.

    Beberapa waktu kemarin rasanya ramai, saat banyak sekali petuah mu terlempar dan masuk menusuk ke ruang otak.
    Diingat, coba pahami meski ada beberapa hal bertolak belakang hingga sempat membuat saling meradang, emosi.

    Ruang tunggu di gedung itu sering membuatku tersenyum sendiri, mendapati mu dalam sapa yang mampu membuat hati berbunga, mekar.
    Hari-hari dilewati seperti biasa, namun gedung itu membuat hati rasanya janganlah cepat berlalu agar aku tetap melihatmu.

    Kau yang kadang lebih asik sendiri mendengarkan musik tanpa bernyanyi di deretan bangku sepi maupun ramai.
    Sosokmu yang mudah ku kenal meski beberapa meter jarak dibuat.
    Aku girang, senang ada kamu di ujung mata meski sekadar melirik lalu memutuskan berlalu.

    Kali ini putaran purnama telah terjadi, semua berlalu dan berubah sedemikian asing.
    Kita tak saling mengenal, entah itu sengaja atau berpura-pura.

    Juangku dan juangmu mungkin belum sepenuhnya. Hingga ayunan kaki rasanya terpental jauh dan jatuh.
    Berbisik pada bumi, menanyakan apakah masih ada sisa-sisa rasa yang gemar terlukis dan tersimpan rapat dihati?
    Meski berkali-kali terperosok pada lembah pedih.
    Pergi lalu entah ingin pulang kembali atau tidak.

    Bersambung...

    Cikarang, 20 Februari 2018


    #tumiesn
    #ceritaduahuruf
    #nulisasik





    Dua Huruf Dalam Bingkai #11





    Sebelas hari aku masih tetap betah menulis tentangmu.
    Dua huruf namamu yang masih nyaman terbingkai dalam kisah rahasia. Kau yang jarang basa-basi, penegur keras untuk sesuatu yang nenurutmu baik. Ada jika bagimu itu penting dan perlu. Namun, kau sosok mahluk yang paling mudah bilang, "Baik aku hilang."

    Mudahnya kau hilang, jika bagimu itu sudah waktu. Saat dua otak tak bisa saling bertukar pikir. Ketika hati tak mampu saling terikat. Lepas, terberai dan saling berdiri menjauh, terbentuk jarak.
    Kau adalah kisah rumit yang pernah hadir, tapi kau pemilik wajah yang entah mengapa betah ku sapa dalam sejuta do'a.
    Tak usah tahu ku bisikian apa pada Dia saat ku bercerita tentangmu. Bagiku dan yang terbaik adalah engkau selalu berbahagia dan lebih baik dengan apa pilihanmu.

    Setiap senja hadir aku mengingatmu.
    Seakan kau dekat, meski rasanya justru sosokmu berjuang untuk berjarak.
    Saat langit mulai berganti gelap, diri ini masih terus bertanya kabarmu, meski ku tahu kau tengah berjuang dalam kesepian dan penataan hati dengan dunia ajaibmu.

    Aku tak pandai berdialog pada diri sendiri, menanyakan berulang-ulang tentang apa yang tengah melanda pada kita.
    Hanya saja seingatku kau bilang, "Bagaimana baiknya Allah saja."
    Kau keras sama juga diriku, mungkin kita butuh ruang untuk istirahat sejenak dari hilir mudiknya perasaan tak jelas. Cukup jarak kali ini menjadi tuan rumah hati yang mudah saja rapuh.

    Bersambung...

    Cikarang, 19 Februari 2018

    #tumiesn
    #ceritaDuaHuruf
    #NulisAsik





    Dua Huruf Dalam Bingkai #10





    Kaki terus bergerak, melangkah lebih cepat melanjutkan perjalanan menuju tujuan.
    Seperti roda-roda kendaraan yang terus melaju girang dan menelindas aspal basah yang kini tak terhirup bau tanah karena hujan sedang rindu terus menyapa bumi.

    Tetesan hujan satu persatu jatuh, mengguyur dengan merdu. Menari di halaman kaca kendaraan yang ditumpangi.
    Lalu lalang dengan suara-suara nyaring di luar membuat mata betah menatapnya.
    Hari itu dan hari ini masih sama, sepi.
    Sepi ku bukan karena kau yang telah memilih berlalu. Saat senja-senja maupun derasnya hujan aku terus berpikir apa masih ada getar rasa atas kerinduan?
    Aku sempat memilihmu, mengenalmu dan beberapa ruang waktu mengharuskan melepasmu.
    Kau yang dulu hadir dengan kelucuan, dan ketegasan yang tak pernah luput dari bingkai wajah mu, membuatku sempat merasa ramai saat itu.
    Aku tak pandai bersajak saat berhadapan denganmu.
    Atau, membalas puisi indah seperti keahlianmu.
    Aku melaju pada putaran waktu, entah mengapa sering berbalik mengenang masa lalu. Mengingatmu ulang yang dimana kau lebih sering terikat dan terbelenggu pada masa kelammu.
    Tak mampu diri ini meyakini bahwa ada sebentuk hati yang siap menyelimuti dinginnya masalalu itu.
    Akh.. Aku mati gaya dan berkali-kali jatuh tak mampu meraihmu.

    Kau bahagia dengan sunyimu, dan lebih merasa utuh tanpa harus ada kicauan sosok lain yang megusahakanmu.
    Meski ku tahu kau butuh ruang yang bisa mengobati hatimu.
    Dirimu lebih yakin sosok lain menjauh agar tak tersakiti.
    Apakah itu adalah sebuah bentuk bahagia?
    Meski kau bilang cinta itu sederhana tak rumit?
    Mungkin saja kesendirian itu seperti roda-roda kendaraan yang terus melaju.
    Tak peduli meski ada hati yang masih tertinggal.

    Bersambung...

    Cikarang, 18 Februari 2018

    #tumiesn
    #ceritaDuaHuruf
    #NulisAsik




    Dua Huruf Dalam Bingkai #9





    Kemarin ku lihat langit terang, gumpalan awan pun sudah nampak di birunya langit yang terang.
    Aku rindu dengan gerombolan awan putih yang seakan menyapa bumi dengan girang. Akh.. Rindunya cerah suasana siang kemarin membuatku bergerak lebih cepat untuk menyelesaikan banyak hal.

    Di rel kereta aku harus berhenti, terhalang oleh beratnya penghadang terbuat dari besi. Perhentian ini tak ada alasannya, tepatnya mengizinkan gerbong-gerbong penguasa jalan besi itu menyapa sebentar lalu hilang dari hadapan.

    Seperti itu lah rasa, diantara terangnya hari maupun mendungnya waktu kau sempat hadir.
    Sempat ada dan kini menyempatkan diri untuk hilang.
    Entah sebentar atau selamanya.
    Aku tak tahu, dan cukup diam menikmati setiap goresan di hati yang tak dapat di utarakan.

    Aku masih tetap di sini, menikmati setiap proses hidup seperti apa yang kau bilang dulu.
    Kau yang hadir dengan sebagaimana dirimu sebenarnya, mengajarkan hal yang patut di perjuangankan dalam hidup. Namun, adakalanya kita pun belajar untuk saling merelakan.

    Aku rindu pada gumpalan awan di langit biru.
    Seperti nampak lukisan senyummu.

    Bersambung...

    Cikarang, 17 Februari 2018

    #tumiesn
    #ceritaDuaHuruf
    #NulisAsik





    Dua Huruf Dalam Bingkai #8





    Ada hal yang lebih indah dari sekedar singgah sebentar, yakni tetap tinggal.
    Aku ada dan kau pun dekat, hanya saja mungkin kali ini kita sama-sama belum tersadarkan.

    Kita saling bertanya, apakah warna-warni kehadiran sosok lain hanya sebagai pemanis hidup?
    Atau memang warna itu justru adalah sebuah dekapan untuk terus berlabuh? Bukan berlalu.

    Kita pernah tertawa, merasa lucu atas pembicaraan. Dan hal itu seakan kita sepakat ada lawakan diantara pembicaraan sebagai bentuk kedekatan.
    Perdebatanpun tak mau kalah menghampiri saat kita berniat berdiskusi, dua pikiran manusia yang berbeda disatukan itu memang bukan hal mudah. Pada akhirnya kau bilang, "Tak usah diskusi tak ada pangkalnya."

    Ku tahu kita sebenarnya saling mengingat, atau bahkan rindu itu masih tetap ada?
    Aku dan kau masih betah membisu.
    Kita kini memiliki ruang berbeda.
    Meski rumah untuk pulang ku inginkan tetap kau, meski mungkin jarak ribuan kilometer harus jangkau.

    Aku dan kamu sama-sama saling mencari, apa mungkin tempat tinggal tujuan hati dan jiwa itu sama?
    Bukan soal ingin, tapi yakin.

    Bersambung...

    Cikarang, 16 Februari 2018


    #tumiesn
    #ceritaDuaHuruf
    #NulisAsik




    Dua Huruf Dalam Bingkai #7





    Senja segera merapat, menyapa alam dengan lembut.
    Selepas hujan di sore kemarin Pelangi indah melengkung hingga membuat mata betah menatapnya, takjub.

    Warna-warni yang beberapa menit itu ku amati dalam perjalanan mengingatkan tentang sosokmu yang gemar ku tulis.
    Dirimu yang saat ini tak perlu ku tanya kabar, apa lagi dicari.

    Kau yang bak pelangi, penuh misteri.
    Tatapmu tajam, tapi wajahmu teduh yang membuat mata ini memilih baik menunduk saat berhadapan denganmu, kau tahu? Karena pesonamu tak bisa dijelaskan dalam hati.

    Senja kemarin membuatku tersenyum sendiri, dan bertanya "Apa ada Bidadari diantara pelangi?" sama halnya apakah sudah ada Bidadari di hatimu yang akan menemanimu melihat pelangi sore kemarin atau lengkungan warna-warni di langit esok nanti?

    Aku tak ingin menghabiskan waktu, apa lagi terus bertanya pada sebuah kesepian yang pernah diramaikan oleh hadirmu.
    Meski fajar atau senja saat ini kita saling belajar menyepikan diri dan mencari hal yang perlu di perhatikan, persoalan yang nyata.

    Bersambung..

    Cikarang, 15 Februari 2018

    #tumiesn
    #ceritaDuaHuruf
    #NulisAsik