April Quote Day-28





April Quote
Day-28
28-4-2018

Karena pada akhirnya setiap wanita akan dipersunting oleh lelaki pilihan.
Seseorang yang datang kepada orang tuanya, sungguh-sungguh.

-Tumiesn-

Yeay, personil genk Ibu-Ibu Hits, akhirnya ada yang Go Pelaminan siang ini
@iyasssin
Selamat merayakan Cinta.
Terima kasih untuk kerempongan pasukan pink-pink hari ini,
#NulisAsikGreget




    Bincang Manis Bareng Bu Dosen Yunita, Wanita




    Bicara soal wanita itu gak ada habisnya.
    Selalu ada hal yang menarik yang ingin dibahas, mulai dari soal fashion, makeup, makanan, dan masih banyak lagi. Tapi ngomong-ngomong saya sendiri sebagai seorang wanita ini paling antusias jika berada dikumpulkan wanita bahas soal yang bukan itu-itu melulu.

    Nah, malam minggu yang dimana banyak orang sibuk jalan sama doi-doinya, lain halnya saya dan Yuni dua single yang mudah-mudahan gedung Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pelita Bangsa ini gak sebel liat kami berdua sering banget kesana kemari, entah itu sekedar nyapa tembok hehehe, bercanda ya.

    Yang pasti kalau ke kampus tercinta kami ada tujuannyalah. Seperti sabtu sore jam 17.30 wib Yuni sahabat saya ini masih betah dan setia menunggu saya dengan sabar yang dimana memang jadwal baru pulang kerja ampe sore hehe.



    Tujuan ke kampus saya sendiri sore tadi ada 4.
    1. Ketemu Yuni, teman diskusi soal nulis, skripsi, kuliah dan kadang curhat soal "Gimana yak biar aku sukses, bisa keluar negri, cara hilangin jerwat, pakai toner ini itu dan masih banyak lagi!"

    2. Ketemu bu Yunita yang memang ada yang mau dibahas soal lomba Esay di tahun ini.

    3. Ketemu Bu Diyan dosen yang pengen saya ajak photo bareng hehe

    4. Ketemu kak Eky salah satu mahasiswa Pelita Bangsa yang mau bantu sablon clemek warung Ibun

    Nah, alhamdulillah semuanya bisa ketemu kecuali bu Diyan yang memang pas saya chat via Whatsapp beliau udah di jalan menuju pulang ke rumahnya.

    ***
    Naek turun tangga dari lantai satu ke dua, dua turun ke satu, dari ruang satu keruang yang lain saya dan Yuni lakukan, demi mengejar bu Yunita. Aduh, akhir-akhir ini kami berdua punya hobi baru yakni mengejar Dosen hehehe.

    Karena Bu Yunita ponselnya tidak bisa dihubungi ya akhirnya setelah shalat magrib kami cari cara nyari beliau di ruangan yang sering di jamah, caranya tanya-tanya. Seringnya tanyanya ke Pak Dosen Edy, pangerannya Bu Yunita alias suaminya.

    Setelah ketemu Bu Yunita, saya dan Yuni di ajak keruangnya. Dan di awal kami bahas mengenai esay yang memang akan menjadi bahasan pokok malam ini. Dimana lomba tingkat nasional antar pelajar, Mahasiswa ini jatuh deadlinenya di akhir Maret tahun ini. Soal menang atau kalah mah belakangan, yang penting coba saja dulu. Cari data, info dan terlebih terjun langsung ke lapangan buat cari data-data yang akurat.
    Soal Desa, ini hal yang seru dan pasti banyak tantangannya. Bismillah saya dan Yuni sepakat buat belajar mengeksekusi project ini.

    ***
    Nah, biasalah kalau wanita ketemu kami gak monoton bahas itu-itu mulu. Bu Yunita yang orangnya bersahabat ini mulai cerita dan bahas soal bisnis, anak, pendidikan dan yang pasti obrolan kami daging semua isinya. Dan dari beliau juga saya semakin termotovasi ingin lanjut sekolah lagi di tingkat selanjutnya, insya Allah. Inget betul ucapnya, "Wanita itu pendidikan harus tinggi, dan penting, kan semua itu buat anak."

    Beliau yang seorang dosen tetapi sangat hangat terhadap mahasiswanya ini memberikan banyak sekali arahan, motivasi buat saya dan Yuni. Terlebih beliau dan pasangannya yang menginspirasi ini selalu sedia meluangkan waktu di akhir pekan buat ngajak anak-anak pemasaran semester akhir buat diskusi soal skripsi. Masya Allah keren banget dah pokonya beliau ini.

    Bu Yunita ini menurut saya adalah seorang dosen wanita yang menginspirasi. Ramah, sederhana, cerdas, dan memiliki motivasi hidup yang tinggi, terutama soal pendidikan. Beliau adalah salah satu dosen wanita idola saya di kampus. Bahasa gaulnya, "Gue ngefans banget bro!" Ibu satu anak ini yang asik banget jika lagi ngajar, terlebih saya sendiri senang sekali jika di ajarkan beliau soal marketing, beuh cuamik pokoknya.

    ***
    Malam minggu yang katanya horor bagi si jomblo sebenarnya itu hanya mitos! Justru sangat berwarna jika kita bisa memaknai hidup, mengajak hati, otak dan tenaga agar saling berjalan beriringan. Belajar membangkitkan diri dengan hal-hal yang positif, melupakan sesuatu yang tak ada maknanya.

    Hidup ini sederhana, kita yang maknai dan menjalankannya. Berproses untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Menjadi wanita yang berjuang untuk cerdas agar melahirkan generasi yang cerdas.
    Terima kasih banyak buat bu Dosen Yunita atas bincangan manis penuh inspirasi. Meski singkat tapi berisi daging diskusinya.


    Cikarang, 10 Februari 2018
    Tumiesn




    10 Hari Tentang Paman






    Tertelungkup diri dalam kekacauan
    Terombang-ambing dalam ketiada berdayaan
    Gulungan badai perih menerobos hati yang lunglai
    Jatuh tak bertuan, berderai linangan mutiara kelabu dari lensa

    Ribuan do'a terucap
    Keheningan memendam kegundahan menyatu
    Tak ada tempat yang tentram selain bersujud kepada-Nya untuk mengadu
    Kekalutan tak mampu ditenangkan kecuali mengingat nama-Nya
    Hanya Dia pemberi segalanya
    Pasrah diri tanpa harus banyak kompromi







    Pejuang Sekantong Darah




    Jum'at malam pukul 18.30 WIB saya cukup panik manakala telepon dari keluarga mengabarkan Paman yang lagi di rawat butuh sumbangan darah. kemarin saya yang masih mengenakan seragam kerja yang memang baru aja sampe kosan dari tempat kerja bergegas cari pendonor.

    Segeralah update status di Whatsapp dan kirim pesan di beberapa group Watshap.
    Baik itu group rumpi di kantor, rumpi genk di kampus, group keluarga dan group kelas Japania Juku.
    Alhamdulillah satu pesan masuk dari seorang teman, namanya Kak Eni teman kerja di tahun 2013 lalu. Dan kebetulan udah lama juga gak pernah ketemu tapi dengan tekadnya melawan jarum, yang memang kak Eni takut sama jarum memutuskan buat ikut mendonorkan darah A yang di cari.

    Beberapa respon pun masuk dari banyak teman yang bermacan-macam golongan darah.
    Alhamdulillah terima kasih atas keperdulian yang tidak bisa dibalas ini. Semoga Allah yang membalas atas kebaikan kalian.

    Teman dari adik pun si Ahmad bersedia mendonorkan darahnya buat paman yang sangat butuh darah. Saya, adik dan Ahmad pun bergegas menuju stasiun Cikarang untuk ketemuan sama Kak Eni yang menunggu. Kami bergegas siap menuju PMI Kramat jati Jakarta.

    Saat sedang menunggu kereta datang, tiba-tiba seorang teman dari rekan kerja paman kirim pesan dan bilang mau ikut serta donor darah. Alhamdulillah, namanya Kak Puja.

    Saya, Kak Eni, Ahmad dan Acin pun segera menuju stasiun Bekasi dengan kereta yang suaranya nyaring menelindas rel-rel besi.

    Jam sudah menunjukan jam setengah 10 malam. Saya dan 3 teman bergegas bertemu dengan kak Puja untuk naik kereta lagi menuju Stasiun Jatinegara.

    Dari Jatinegara menuju PMI (Palang Merah Indonesia) Kramat Jati kami naek Go-Car dan sampai PMI jam 22.00 WIB. Sekitar jam 00.00 WIB proses pengambilan darah setelah melewati beberapa tahap administrasi dan pengecekan kondisi.
    Kebetulan yang bergolongan darah A itu Ahmad, Puja, Eni dan Saya. Karena saya berhalangan alias tidak diperkanankan mengambil darah maka yang maju mereka bertiga.

    Dan alhamdulillah Puja dan Ahmad lolos kesehatan dan bisa ambil darah.
    2 kantong pendonor buat Paman Yanto pun siap di kantongi.

    Kondisi tengah malam PMI masih cukup ramai, tujuan mereka kebanyakan adalah donor untuk keluarga. Saya bergegas mencoba ngobrol dengan beberapa orang yang bersedia menodonorkan darahnya untuk Paman. Alhamdulillah 1 orang bergolongan darah A yang juga sedang menunggu keluarganya sedang berdonor untuk saudaranya yang juga butuh darah AB. Kak Kartika namanya, berambut sedikit ikal dengan kaca mata bulat serta senyum ramah bersedia membantu malam tadi.

    Alhamdulillah 3 kantong darah dalam hitungan 24 jam dengan proses melewati Lab akan bisa diambil untuk membantu Paman.
    Sekali lagi alhamdulillah, alhamdulillah dan alhamdulillah Allah memudahkan urusan.

    Betapa bersyukur Allah memudahkan ketika rasa gelisah hadir, Allah sediakan penawarnya. Allah permudahkan dengan komponen kesabaran yang masih di berikan di hati. Lagi pula urusan hidup ini memang kembalikan lagi ke Allah, serahkan ke Allah dan karena memang hanya Allah yang punya solusinya. Manusia diberikan otak untuk berpikir, hati untuk merasa dan lebih bergerak cepat serta kaki yany terus siap gesit melangkah dalam kondisi apapun.


    Saya percaya dibalik ujian musibah tabrakan parah yang terjadi terhadap Paman saya tanggal 8 Januari 2018 sekitar jam 19.30 WIB akan ada hikmahnya. Allah yang kasih sakit dan pasti Allah yang kasih sehat.
    Beliau yang berhasil melewati masa kritisnya di ICU tempo hari lalu, dan pasti bisa melewati proses operasi beberapa hari lagi. Serta pemulihan yang stabil hingga segera normal kembali.



    Allah lagi, Allah saja dan Allah terus.
    Terima kasih buat para pejuang sekantong darah.
    Kebaikan kalian sangat berarti dan membantu,
    Semoga Allah membalas kebaikan kalian atas jiwa sosial yang tertanam dalam jiwa serta keikhlasan yang tersusun indah.

    Stasiun Tambun, 13 Januari 2018

    Tumiesn
    "Perjalanan di dalam kereta menuju Cikarang"




    Mengejar Dosen Cahaya




    Ini cerita tentang kami yang konon adalah para penduduk bumi yang sedang merasakan moment kejar tayang penuh dek-dekan.
    Pagi,siang, malam kepikiran tatkala jam semakin mendekat, soal prosiding yang harus segera di kumpulkan.

    Kamu bisa lihat di curcol Tumiesn sebelumnya ya "Mengejar Dosen Pengampu" tapi kali ini saya bersama 4 teman yang lain "Mengejar Dosen Cahaya"

    Pengen tahu ceritanya?
    Baca terus!

    ****
    6 Januari 2018 adalah hal yang membuat nafas saya, Yuni, Citra, Kiki dan Pipit bisa bernafas lega.
    Sebuah lembar Acc dari dosen pembimbing telah nampak, taburan tintanya telah menempel indah.
    Nyengir, seru, haru dan bisa ketawa. Terlebih beberapa hari sebelumnya kami sempat rada stres karena memang kelalaian kami.


    Beberapa hari yang lalu, group whatsapp untuk bimbingan bersama Ibu dosen ini nyaris angker, serem dan dakdikduk. Gimana enggak, pengumpulan hasil penelitian harus dikumpulkan mendekati sidang, sementara jangankan tanda tangan, hasil penelitian saja belum rampung. Sungguh, stres gimana enggak, Ibu dosen menegurnya seriusan. Kami yang sejak desember bimbingan jarang datang, dan komunikasi kurang.
    Alhasil, setelah liburan UAS di desember, kami malah khilaf tidak mengikuti bimbimbangan dan sibuk sendiri.


    Dan awal januari, kami dapat teguran gara-gara ya ulah kami kelompok 7 dan kelompok yang lain yang masih suka menyepelakan waktu hingga membuat dospem naik darah.

    Ceritanya besok itu harus dikumpulkan hasil penelitian tapi dosen sebal sama kami dan bilang angkat tangan. Kecewa! Dan bilang buat mahasiswa bimbingannya yang belum dapat acc darinya silahkan hubungi Kaprodi. Beliau gak bisa ditemui jika diluar jam kampus.

    Dan saat itu kami resah berkepanjangan. Minta maaf atas kesalahan karena menyepelekan tugas. Menyia-nyiakan waktu. Tapi, Bu Dosen seperti belum ada titik terang buat baikan menerima kami hihihi #sedih

    Pengumuman dari Manajeman Kampus, hasil penelitian harus dikumpulkan hari jum'at sore. Dan saya yang pulang kerja langsung meluncur ke kampus hanya berbekal abstrak yang belum di acc hihi. Miris tugas ini belum kelar.
    Dosen hari itu masih belum lentur sikapnya untuk diajak baikan dan memberikan kesempatan.
    Dan laporan belum finish pula hari itu.

    Malam sabtu sepulang dari kampus saya dan yang lain masih resah, belum tenang dan saling berusaha menyelesaikan tugas prosiding ini (persyaratan buat lanjut ke skripsi).
    Sambil Do'a "Lembutkanlah, lembutkanlah hati Bu Dosen"

    Dan sekitar jam 9 malam si Ocha salah satu anak Bimbingan beliau juga masih terus berusaha merayu Bu Dosen agar memberikan kesempatan sekali lagi. Terlebih jadwal pengumpulan informasi terbaru di undur (rada tenang). Ocha kirim pesan rayuan maut di group panjang kali lebar, berharap eta lembutkanlah hihi.

    Dan setelah menunggu rada lama, Bu Dosen balas "Gak Papa, Ibu gak Marah. Hanya Kecewa saja sama kalian. Temui Ibu di Kampus besok jam 9 pagi. " pesannya malam kemarin buat hati jingrak-jingkrak.

    Kami semua siap sedia begadang, kelarkan persoalan ini. Terlebih Yuni sang ketua yang lupa makan lupa mandi, mati-matian atur semua ini buat kelarkan tugas ini. Makasih..

    ****
    Ini mungkin yang dinamakan mengejar cahaya tatakala gelap merangkul cemas. Gelisah yang dilunturkan oleh terang dari cahaya.
    Pagi menjelang siang, dengan hasil penelitian saya dan yang lain lari-lari, kebut-kebutan ke Kampus masuk ke ruangannya menunggu giliran bimbingan. Dengan masih mengenakan seragam Kerja, yang memang sabtu dimana saya masih harus bekerja mencari sesuap nasi dan seluas berkah, dengan nafas tak beratur saya merapikan diri siap di bimbing. Dan 4 teman yang lainpun satu persatu datang dengan wajah-wajah yang sulit dijelaskan karena efek apalah-apalah (seperti lupa pakai pensil alis hahaha).

    Bimbinganpun dimulai panjang kali lebar, sempat di tegur sih tapi banyak di nasehatinnya hehe.
    Makasih banget Bu Dosen.
    Alhamdulillah hari ini tanggal 6-1-2018 penelitian kami di Acc, segera di daftarkan. Semoga sidang nanti lancar dan lanjut persiapan skripsi hehe.


    Dear Dosen Cahaya yang sudah meluangkan kesempatan sekali lagi bagi kami.
    Terima kasih atas cahaya yang kau beri disaat gelap menyergap, nafas sesak karena kalut kau lepaskan dengan kebijaksanaanmu.

    Pesan dari curcol ini :
    Penting banget menghargai waktu dan mengutamakan hal-hal yang sangat penting. Jangan mengabaikan dengan alasan kesibukan dan lain Sebagainya. Mengejar Dosen Cahaya ini adalah pelajaran buat kami Khususnya saya pribadi.

    Lemah Abang, 6 Januari 2018
    Tumiesn




    Mengejar Dosen Pengampu




    Jika engkau ingin memiliki kerajaan yang damai, maka damaikanlah diri sendiri terlebih dahulu.
    Jika kakimu ingin berpijak lebih jauh, maka bersiaplah untuk berlari dan terus maju.
    Dan jika engkau ingin hidup selalu muda, maka perbanyaklah bekal ilmu serta sebarkan dalam kebaikan.
    -Tumiesn-

    Sabtu, 28 Oktober 2017 adalah hari yang dimana menguji hati dan juga rasa lapar hehe.
    Ditemani cuaca yang saat siang panas berubah mendung saat sore, saya dan Yuni masih menjadi mahluk yang konon disebut anak semester tua, betah di Kampus.


    Sepulang kerja hari ini yang cukup panas, menyempatkan diri pulang ke kosan (tempat tidur) dahulu sebelum melanjutkan tugas buat kaki ini melaju ke Kampus.
    Pikiran yang lagi banyak macam-macam di kepala ini berharap agar buat hati dan seluruh anggota tubuh buat bekerja sama, mulai dari saat ini sedang memasuki gerbang sibuk-sibuknya di semester akhir dan "Jangan oleng kapten" ini semacam guyuran semangat buat diri sendiri yang sedang di tantang, "Tumiesn sanggupkah meneruskan perjalanan atau langkahmu akan terhenti disini? Dimana kejutan-kejutan untuk sebuah perjuangan harus di lalui, seimbang."

    Hari ini benar-benar sesuatu banget dan yang pastinya bumbu perjuangan gak kalah apik berada di barisan terdepan.
    Siang dimana meluncur ke kampus, mengerjakan sedikit revisi proposal prosiding yang belum dapat bintang terang buat melangkah ke proses selanjutnya.
    Dan ini yang mungkin dinamakan sedikit eror, mau ngedit gak bawa laptop.
    Otak diputer, taram di lowbi Kampus bertemu salah satu teman yang dahulu bertemu di salah satu komunitas.

    Saling sapa, tanya kabar dan to the point, "Nika bawa laptop? Boleh minta bantuan?"

    Si gadis syantik ini alhamdulillah mau pinjamkan laptopnya kepada saya dan si Yuni buat perbaiki sedikit proposal yang malam ini harus di acc.
    Makasih ya

    Sekitar satu Jam, kelar. Dan lanjut ngeprint itu proposal yang demen banget diperhatiin, (terus yang nulis kapan diperhatiin? Wkwkwk)
    Karena tempat print di dalam kampus lama alias antri panjang, saya dan Yuni memutuskan buat segera cari tempat print di luar Kampus.

    Ini yang mungkin dinamakan ujian lagi, kamu bisa bayangkan gimana gemesnya print out satu lembar kertas bisa memakan waktu 3 menit? Waktu udah mepet banget. Dan bisa di rasakan deh gimana hati ini gemes pengen bawa pulang tuh printer hehe.

    Sekitar satu jam, yang kami print pun kelar. Dan aduh ternyata kami lagi-lagi harus kerja ekstra keras, dimana gak bawa uang banyak buat bayar.
    Okelah, kamipun Go ke ATM di kampus. Dan apa yang terjadi? ATM sedang mengalami eror

    Okelah, dengan minta tolong nitip hard copy dari proposal itu kepada penjaga jasa print tersebut saya dan Yuni Gas motor mencari ATM, dan cukup jauh.

    Jadwal ketemuan Dosen Pengampu yang awalnya ketemuan di Metland Tambun, di ganti lokasi ke Lippo. Alhamdulillah lebih dekat meskipun informasi mengatakan setengah sembilan malam baru bisa bertemu beliau.

    Saya dan Yuni pun mikir, selepas bayar hasil print out, Shalat Magrib, makan Nasgor Emak depan Kampus mau ngapain?
    Ide buat ke Salemba (Toko Buku) Lippo pun jadi target sambil nunggu jam bertemu pak Kuwat (Dosen Pengampu).
    Yuni ini salah satu temen yang saya miliki dimana Kutu Buku cocok banget buat sosok seorang Yuni hehe.
    Bersyukurlah ada temen yang pelahap Buku dimana saat ngobrol dia meguasai banyak topik, terlebih soal korea-korean, dia jagonya tukang kepo soal ini hihihi.


    Taram, selepas makan nasi goreng cukup terkejut mana kala lihat hand phone dimana ada pesan masuk dari si syantik Icha menginformasikan bahwa, "Mbak pak Kuwat udah ada di MCD Lippo Sekarang."

    Gak pake lama saya dan Yuni pasang gas menuju lokasi.
    Entah kurang fokus atau kurang piknik ya, bahwa Icha sudah menginformasikan lokasi pak Dosen ada di MCD, tapi kok saya dan Yuni malah larinya ke Mall lippo. Dan ini yang mungkin dinamakam Greget!

    Dari salah lokasi itulah saya berpikir, apakah jalan hidup saya sudah benar?
    Cara saya berjalan di atas muka bumi ini sudah baik? Dan akh.. Rasa lelah penguji nyali, penguat iman sedang berkibar.

    Lanjut Gas saya dan Yuni menuju MCD yang sebenarnya saya pernah kesitu, tapi kok jadi oleng gitu ya haha
    Alhamdulillah proposal kami di acc untuk menuju ketahap selanjutnya.

    Banyak hal yang saya pelajari dari mengejar dosen Pengampu yang super baik ini.

    1. Belajar sabar
    2. Komitmen pada diri sendiri apapun yang terjadi
    3. Waktu itu berharga banget
    4. Jika mau bertumbuh ya usaha
    5. Hasil gak akan menghianati dari sebuah proses
    6. Tantangan adalah sebuah ujian pendewasaan

    Makasih banyak Yuni buat sabtu malam bareng terus buat tugas hahaha
    Dan makasih banyak juga buat Kiki, Citra dan Pipit buat kerja sama tugas ini.
    Meski kalian gak bisa menemani buat ngejar pak Dosen karena kesibukan masing-masing, tenang Genk alhamdullilah udah di Acc. Semangat lanjut ke tahap selanjutnya.


    Semoga curcol Tumiesn ada manfaatnya ya hehehe

    Cikarang, 28-10-2017
    Tumiesn