My Superman, Mbah Tu




Beliau ini bapaknya Mamak, usianya 91 tahun.
Dekat dengan beliau, dan selalu dikangenin beliau adalah hal yang menyenangkan. Kalo aku baru tiba matanya berkaca-kaca bahagia, tapi kalo aku pamit pulang matanya berkaca-kaca, sedih.
Sehat selalu my superman.

_________

Aku memanggilnya Kakine, julukan kebanggan adalah My Superman, Mbah Tu. Tu itu bukan Tumi ya, kebetulan nama beliau Turiman hehe, mungkin jaman dulu bapak terinspirasi kali ya aku pas bayi dikasih awalan Tu hehehe.

Usianya yang sudah tidak muda lagi yang tahun ini 91 tahun karena lahirnya tahun 1929. Jadi kadang kalau aku kangen diajak bercerita, aku suka banget tuh ajak ngobrol beliau yang alhamdulillah ingatannya masih tajam, aku tanya prihal pas Indonesia dijajah dan beliau yang masih 14 tahun kala itu, dan siang tadi cerita soal suasana pas tentara penjajah menjajah dan tentara Indonesia yang tak mau kalah dengan senjata bambu runcingnya. Imajinasiku kaya lagi nonton kejadiannya hahaha.

Kadang juga aku suka kepo soal perjalanan cintanya sama almarhumah Ninik (yang meninggal awal Mei 2019 kemarin), beliau yang suka bercerita, dengan ekspresinya cerita deh banyak hal. Termasuk kadang aku kepo kenapa beliau orang Jawa bisa sampe pulau Sumatera :)

Kakine ini pas muda suka banget ngebolang lho. Bahkan usianya sudah saat ini paling suka diajak jalan, tadi Bundo Pipit cerita, "Kakine bilang kalau bisa bawa motor mah mau ke Cikarang sendiri."

Auto aku senyum-senyum sendiri, jiwa bolangnya memang tetap melekat. Ya karena kondisi sudah sepuh gak mungkinkan bawa motor :( hehehe.


Alhamdulillah untuk penglihatan masih tajam, bahkan suka ngeledekin aku kalo lg nonton tv kalo gak pake kaca mata aku gak terlalu jelas hahahaha.
Beliau pake kaca mata paling kalo baca Al-Qur'an :)


Untuk pendengaran memang sedikit terganggu, jadi kalau bicara harus bersabar. Jangan keras-keras ya, dan dari sini aku belajar bagaimana berbicara pakai metode gerakan tangan misal bilang "Aku mau makan." maka aku tunjuk mulut dan gaya makan sambil bicara hehehe.
Sebab, aku rasa setiap orang akan sepuh pada masanya, begitu pula aku (jika Allah kasih umur panjang), dan aku percaya perbuatan / perlakuan kita saat ini bisa terjadi dimasa mendatang. Kalau saat ini kita perlakukan orang tua dengan baik, lembut, percaya deh kelak anak, cucu, buyut kita pun demikian. Dan sebaliknya, kalau kita bersikap kasar ya akan dibalas demikian.


Setiap orang tua itu berharga, bisa cek ya ditulisanku sebelumnya ada tentang Komunikasikan cinta dengan orang tua, dan beberapa tulisan inspirasi lainnya hehehe.

Jangan sia-siakan keberadaan mereka ya. Baik orang tua, mertua, mbah kandung, mbah dari suami, keluara kita dan semua deh.
Sebab setiap keluarga itu berharga.

Jaga mereka ya, dan selalu berdoa agar kita saling menjaga dan Allah selalu menjaga kita semua. Serta saling berlomba-lomba dalam kebaikan.

Cibitung, 19 Januari 2020
-Tumiesn-
Day19OF365D




    Kau Selalu Ada, Dekat Lebih Dari Kekasih




    Bila senja katanya indah, tapi bagiku kau lebih indah.
    Jika suara biola itu merdu, namum bagiku kau lebih merdu dan menenangkan.

    Untukmu, dengarkanlah aku tak akan kemana-mana, seperti cinta dan perjuanganmu yang enggan jauh.

    Kau selalu ada, dekat lebih dari kekasih.
    Hatimu selalu lapang, senyummu mendamaikan, betapa beruntungku.


    Kau ada, kasihmu utuh, meski anakmu yang semakin dewasa mungkin akan sibuk dengan urusan hati.
    Anakmu yang pria akan sibuk memperhatikan wanita lain dan anak wanitamu akan sibuk dimanjakan oleh keperdulian kekasih yang dipilihkannya.

    Kau tak marah, apa lagi mengurangi kasih sayangmu.
    Sungguh, cintamu tak berkurang meski satu detik saja.

    Kau ada, dan selalu hadir untuk anak-anakmu.
    Kau ciptakan damai di rumah tanpa perlu ada suara-suara nyaring dari musik manapun.
    Bagimu, damai cinta adalah manakala anak, Ibu dan ayah saling bercengkrama di ruang bersama.

    Saat kanak-kanak mereka yang menjadi pelatih cinta.
    Saat anak-anaknya dewasa Sudah saatnya mereka lebih diperhatikan.


    Cinta Ibu dan Ayah tak akan menua, meski kriput dan rambut memutih kini dijajaki.

    Engkau selalu ada, menerima tamu yang hadir sebagai keluarga.
    Tak pernah cemburu justru bahagia selalu.

    Teruntuk Ibu dan Ayah yang anaknya semakin tumbuh Dewasa.

    Cikarang, 22 Desember 2017
    Tumiesn