AENA, Namanya




30 September tahun lalu sosok paras ayu nan sederhana tak sengaja menyambangi mata.
Di bawah langit Tangerang sejak pagi menjelang siang hingga senja merapat.
Namanya Aena, sosok gadis yang entah mengapa memabukkan hidup, mengajak langkah ini ingin terus berjuang menujunya. Sosok periang yang tak bisa dihindari dari ingatan. Senyumnya yang merona enggan hilang dari bayangan. Dia yang akan ku ceritakan dari separuh hidup, tentang rasa yang entah mengapa bisa muncul begitu saja tatakala dua bola matanya yang bulat menatapku lekat.
.
Aena, yang akan menjadi bagian cerita hidup tahun lalu, hari kemarin, hari ini tapi belum tahu untuk urusan hari esok.
.
Ada harapan di hati ini dia memiliki perasaan yang sama, tapi aku belum yakin.
.
“Salam Kenal Kak Arka.” Katanya kala itu.
Sosok gadis lincah yang gemar menulis, dan pertemuan kami tak lain di ruang yang sama. Aena namanya, yang akan ku ceritakan dalam panjangnya aksara.
.
Perkenalkan, aku Arka.
.
____
Bersambung....
.
Silahkan meluncur ke cerita Aena di @ipa_moesticha tunggu kelanjutan kisah mereka.
.
.
#tumiesn #cerita #kisah #aenaarka #cinta #romansa #tantangan menulis #produktif #mudaberkarya #kolaborasi #Indonesia #menulis #fiksi #Penulis #pertemuan




    Untuk Tetap Tinggal





    Akan ada satu alasan bagi seseorang untuk tetap tinggal,
    Karena engkau berikan dia kepastian.

    Jangan berlama-lama tenggelam dalam irama keraguan,
    jika kau seperti itu maka bersiaplah untuk kehilangan.

    Cinta bisa saja menunggu, tapi waktu tak bisa seperti itu.

    Cikarang, 15-8-2017
    Tumiesn





    Assalamualaikum, Pak





    Awan di langit tanah sumatera berbondong-bondong saling menggumpal, meneduhkan. Mata memandang nanar, di amati sekali lagi sebuah nisan yang terbalut oleh semen, batu, pasir dan bata. Ditahan berulang-ulang agar mata tak mengeluarkan berlian berharga, air mata. Namun, mendustakan agar tak menangis dihadapnya adalah kemunafikan, sulit rasanya menutupi sebuah kerinduan yang telah tersusun bak bangunan tembok raksasa. Sebuah kata sayang yang kini hanya mampu terucap lewat do'a.

    "Pak." bisikku lirih dalam hati yang semakin menggema hebat, mata memerah tajam. Sedih mengenang masa lampau.

    Ku pandangi nisan itu yang telah bertaburan bunga berwarna-warni dan baunya yang semembrak. 23 tahun telah diarungi hidup tanpanya.

    Getir, pedih, asam dan manis adalah karunia yang tetap diselipkan oleh-Nya sebagai penghibur lara. Kau bisa bayangkan bagaimana rasanya seorang wanita yang dengan perut besar mendekati angka sembilan bulan harus di tinggal pergi oleh lelakinya. Seorang imam yang harus kalah akan sakitnya dan hembusan terakhir adalah bingkai awal dari sebuah kata pisah oleh sepasang suami istri.
    Kepergian dan nisan yang kini ku pandangi adalah benar-benar nyata.

    Do'a-do'a terdengar syahdu, nyamuk-nyamuk hitam dipekaragan pemakaman umum beraksi mengganggu kulit para lisan yang tengah mengamini do'a. Ini adalah kegiatan yang bukanlah sekedar tradisi semata. Namun, pelepas dari rasa rindu anak dan cucu yang menghampiri lelaki yang dua puluh tiga tahun lalu pamit pergi untuk selamanya.

    "Assalamualaikum, Pak." dan aku adalah salah satu anak yang dulu kau gendong hanya dalam hitungan puluhan bulan.


    Selanjutnya Insya Allah di Novel Tumiesn.


    Bandar Lampung, 24 Juni 2017
    Tumiesn




    Novel Sepotong Hati di Lereng Merapi. Sudah punya?





    "Sebuah nama, Cinta berlabuh pada pria penjaga hatinya yang tersembunyi."

    Miliki segera si biru beserta tanda tangan penulis face01








    Segaris rindu




    Terima kasih untuk para Pemesan part 1 Novel SHDLM






    Sinopsis :

    Rindu ini sederhana.
    Aku hanya meyakini bahwa rindu akan sampai pada waktunya.
    Bermuara dan bertujuan atas pendewasan.
    Biar rindu ini kutanam dalam setiap baris do'a.
    Aku rindu, maaf bukan aku kaku.
    Cinta ini tumbuh laksana biji-biji bunga matahari yang ditanam dipalung hati.
    Ketika bunga matahari itu mekar, ia begitu mempesona layaknya berikan kesejukan tiada batas.
    Seperti itulah cinta.

    Diusianya yang boleh dikatakan tak muda lagi, kini kecemasan dan kegalauan menimpanya.
    Aquila, gadis ayu keturunan jawa ini boleh jadi telah berhasil mendapat gelar kesuksesan. Namun, itu belumlah cukup sempurna tanpa sepotong hatinya. Dekapan dan kasih sayang lembut yang lebih dibutuhkannya saat ini.

    Sosok seperti apakah yang kelak membawakan sepotong hati untuknya?
    Jawabnnya, ada di novel "Sepotong Hati di Lereng Merapi."