Merantau Bagi Tumiesn




Setiap dari kita memiliki arti tersendiri tentang merantau.
Ada yang merantau cari pengalaman. Cari kebutuhan sandang, pangan dan papan. Mencari jati diri. Meneruskan pendidikan. Mencari pendamping hidup. Bahkan ada yang merantau karena menghindari mantan agar tak terserang bujukan balikan sama mantan.

Balik lagi, semua itu tergantung masing-masing dari kita. Merantau mau apa?

Sebuah renungan semalam datang menyerang, hingga malam gak nyaman tidur. Mengilhami sekali lagi soal tujuan saya merantau itu apa sih?
Pas menghitung kembali, ternyata sudah 12 tahun merantau, saat itu lulus SMP memutuskan keluar dari tanah Sumatera (sementara waktu) ke pulau Jawa mengenyam pendidikan SMK hingga lulus kuliah.

Menghitung lagi juga sudah berapa kali pindah tempat tinggal, pas dihitung sudah 10 tempat tinggal yang dijajali.
Dan mengingat lagi, sudah 6 perusahaan hingga saat ini dilakoni.

Tadi malam selepas shalat isya, adik menghampiri. Mengajak diskusi, sambil menangis. Berbicara tentang orang tua.
Sudah 41 hari kami kehilangan seorang figur dari nenek yang begitu kami sayangi. Sebuah keadaan yang harus membuat kami berpikir serius untuk kondisi Ibu dan Kakek di kampung halaman yang tinggal sebelahan di rumah masing-masing.

Sebuah keputusannya melesat, "Yu, lulus kuliah ini aku balik Kampung ya. Aku mau jaga Mamak. Surga ku ada di Mamak."
"Kemarin kita lihatkan, Kaki mainan gendang di atas meja, menghibur diri. Pasti karena kesepian."
"Kalau kamu gimana, Yu?"

Hingga tadi pagi saya berpikir ulang tentang diskusi sederhana tapi serius.
Sebuah renungan yang akhirnya menyadarkan tentang arti merantau itu sendiri. Apa sih?
Bekal apa yang diambil dari merantau?

Dan hal ini menyadarkan tentang saat ini kita yang masih hidup di dunia ini seperti sedang merantau kan? kira-kira bekal apa yang udah disiapkan untuk pulang nanti (meninggalkan dunia ini).

Hari ini kita mungkin diselimuti dengan serunya bertemu orang banyak, tapi pada akhirnya saat kita pulang kita bakal sendirian, gak ada teman kecuali amal baik.

Menurutmu apa itu merantau?

Cikarang, 3/6/19
-Tumiesn-

#seminggumenulis #tanpahenti #challengemenulis #tumiesn #fiza #nulissyukasyuka #nulisbebas




    Jumpa Mentor Paket Lengkap




    Biasanya kalau minggu siang kamu ngapain?
    Apa lagi bulan puasa. Berjam-jam ngumpet di kamar alias tidur, nyari gebetan, ketemuan sama mantan atau apa?

    Gak usah dijawab di sini, nanti panjang hehe. Jawab saja dalam hati masing-masing, kamu yang lebih tahu ngapain.

    ____

    Minggu, 19 Mei 2019 dengan kekuatan gas motor ditemani terik matahari yang aduhai, saya dan beberapa orang yang belum kenalan menuju satu tempat. Yap, ke Waroeng The Box bukan ke rumah mantan, soalnya sudah lupa rumah mantan #eeh

    The Box salah satu tempat yang lagi ngehits abis pada kaula muda, setengah muda, dan mendekati tua. Nah Kalo kamu yang mana?

    Udah deh dari pada Tumiesn #curcoltumiesn muter-muter gak jelas, tolong ya baca review Saya ini yang seneng banget gitu lho dari siang ketemu mentor-mentor yang muda, menginspirasi, bikin meleleh ilmunya nyessss.

    ___

    Pada pertemuan kemarin saya beri judul "Jumpa Mentor Paket Lengkap"
    Wih cadaskan? hehehe

    Sebenarnya tema pertemuan kemarin adalah DEBOX TALK, Ngabuburit Bareng Mentor.

    Pematerinya itu ada 4 orang, tapi saya bilang ada 5 orang. Siapakah satu orangnya itu?
    Baca aja terus tulisan ini sampe habis (budayakan membaca, siapa tahu kamu makin jatuh cinta sama tulisan Tumiesn #eeh)

    1. Bisri Kembar
    Pria muda yang konon terlahir di bumi beberapa tahun silam gitu (mungkin di atas 20 tahunan) merupakan seorang public speaker yang sering saya kepoin dari tahun lalu, hal ini disebabkan beliau merupakan kembarannya salah satu teman nulis saya.
    Duh... Bukan itu maksudnya, jadi Bisri Kembar ini seorang public speaker yang Keren abis.
    Nah, saat kemarin beliau ngisi acara materinya berhasil buat aku terpana, sambil mikir "Aku bisa gak ya bicara di depan kek gitu tanpa beban, tanpa malu-malu, energik, pandai dan ulala kece!"

    Berikut ulasan tentang penyampiannya:

    Mentor Bisri Kembar bertanya, "Apa alasan besar anda berbicara di depan umum?"
    Dan saya menjawab lewat catatan buku kecil :
    "Saya Tumiesn, ingin menyampaikan cerita / pesan bukan sekadar tulisan (sebagai penulis pemula), tetapi juga lewat lisan, pesan yang bermanfaat untuk banyak orang."

    Nah, sebagian dari kita pastilah punya jawaban masing-masing alias punya alasan tersendiri.
    Saya punya alasannya, kamu juga.

    OK, sebelum terlalu jauh. Biar Tumiesn bisikin apa itu public speaking.
    *Public Speaking ialah menyampaikan gagasan alias ide di depan umum ataupun kompetensi berpidato.
    Dan Kalo kompetensi ini artinya bisa dilatih.


    Kadang kita mungkin suka bertanya pada diri sendiri, "Aku bisa gak bicara kek gitu? Gak malu? Gak gerogi?"

    Ya, bisa saja dong. Misalkan kamu menyampaikan ide kepada dihapan teman-temanmu, bilang "Gaes besok bukber yuk, rencankan yang matang jangan hanya wacana sampai ketemu lebaran tahun depan!" #tuhkansakit hihihi

    Public speaking itu ternyata luas, dan agar lebih meluas kita butuh ilmunya, carilah mentor, baca buku dan latihan.

    Bocoran dari Mentor muda satu ini, ternyata public speaking merupakan salah satu sunahnya Rosulullah, lho. Yakni tentang menteladani sifat wajib Rosul salah satunya yakni Tabligh yang artinya menyampaikan.
    Yapz, sampaikan kebaikan walau satu ayat.

    Dan untuk sampai ke hal ini alias menyampikan pesan lewat public speaking, kita harus mengubah ingin jadi kebutuhan. Cari Big Why nya.
    (Kita sendiri, masing-masing yang tahu Big Why kita sendiri).

    Untuk menjadi public speaker ternyata simple, tapi harus dilakuin dong, yakni setting mindset public speaker :
    *Bagaimana kita menghargai peserta
    *Niatkan karena Allah
    *Niatkan ibadah
    *Niatkan berbagi

    Dengan menyetting mindset kita, terlebih libatkan Allah, semoga yang mau kita sampaikan akan sampai pada penerima pesan (banyak orang).

    Modal utama bicara ala mentor Bisri yakni SLB.
    S = Seyum
    L = Lihat
    B = Bicara
    Dan lakukan hal ini secara bersamaan.

    2. Fikri Kembar
    Sudah kenal Fikri Kembar? Itu lho Penulis buku "Udah, Sendiri Saja Dulu"
    Dan bukunya masih banyak lagi. Puluhan gaes.
    Disesi ini, beliau sebagai mentor nulis. Memberi tebak-tebakan, tentang tokoh-tokoh seperti Ir. Soekarno sampai tokoh Tiktok yang tahun kemarin lagi ngehits #kayanya, saya gak ngikutin , tapi sebagai salah satu warganet kadang tak sengaja jadi tahu haha.

    Nah, disesi ini merupakan tamparan tajam.
    Kita sebagian orang pasti kenal dong sama tokoh-tokoh legenda di Indonesia atau bahkan luar negri, misal Mark Zuckerberg.

    Kenal? Kalo belum, kenalan gih cari di google.

    Namun, naas sungguh parah kita kadang mentok tahunya sebatas nama orang tua, nenek-kakek, dan bahkan embah buyut apa lagi Bapaknya apa lagi Kakeknya Buyut, sebagian dari kita gak tahu namanya, Iya gak? (termasuk saya), miris.

    Hal ini sebenarnya terjadi karena para sesepuh kita gak meninggalkan jejak nama, salah satunya berupa buku.
    Maka, Mentor Fikri ngasih pesan, "Jangan Mati Dulu, Sebelum Nulis Buku!"

    Jleb... Seketika saya sebagai Penulis yang masih urakan suka ngumpulin outline di laptop, teringat nasakah-naskah yang harusnya segera meyelesaikan buku-buku Tumiesn, ngeri keburu mati dulu :(

    Jadi, meninggalkan jejak dengan menulis merupakan salah satu cara agar anak cucu kita kelak tetap akan tahu siapa kita, meninggalkan rekaman dalam karya. Nah, kalau mereka kenal dan mereka merupakan generasi soleh dan soleha semoga akan terus doain kita. :)

    Oh Iya, mentor Fikri sebagai Penulis senior, memberikan tips kepada kita yang masih pemula atau baru banget mau gerak belajar nulis :
    *Hilangkan masalah minder, intinya nulis terus aja. Semakin banyak yang mengkritik, pedas, asem, manis, itu artinya makin oke. Gaspol saja terus.

    *Riset 80%, nulis 20%
    Nah, ternyata rahasia nulis lancar dan berkualitas itu banyakin riset, baik tulisan berbau non fiksi maupun fiksi.

    *Ubah sudut pandang

    *Hibur diri kita sendiri untuk menambah vitamin nulis

    Dan yang pasti menulis dan teruslah berlatih. Sebab, gak akan pernah ada tulisan berkualitas serta tulisan selanjutnya tanpa ada awalan tulisan yang sangat membuat pedas mata (membaca alias mblegedes), jadi semua itu butuh proses, ada masanya.

    3. Jee Muhammad
    Salah satu teman nulis saya juga nih disalah satu komunitas nulis, beliau merupakan Penulis Fiksi yang diksi-diksinya Keren.
    Nah, ternyata beliau merupakan mentor yang jago Slide Design.

    Pada sesinya, mentor Jee memberikan tips membuat tips slide presentasi yang menarik.

    Ooh ya, diawal masuk materinya, mentor Jee memberikan salah satu contoh slide yang buruk, membuat mata gatel alias jadi males liatnya. Dan itu merupakan cara pembuatan slide saya pas jaman-jaman 4 tahun lalu saat jadi mahasiswi hehe. Duh, coba pas jaman kuliah sudah ketemu mentor yang satu ini, mungkin slide presentasi saya tak seburuk dulu hahaha.
    Yang pasti ilmunya Keren, jadi mikir, "Aku kok dulu polos amat ya, gak ada kreatif-kreatifnya!" hehe.

    Mentor Jee memberikan tips nih agar membuat slide yang menarik.
    1. Pesan yang jelas
    2. Ilustrasi yang sesuai
    3. Efek yang harmonis

    Dan penting diingat bahwa, slide yang menarik itu : satu slide, satu pesan.

    Jangan takut, slide presentsi kita jumlahnya banyak, yang utama kan pesannya sampai.
    Setuju?

    Dan pada silde ini kita juga harus belajar, peka, dan kreatif dong. Tentang giman caranya agar silde sederhana tapi menarik. Mainkan konten di dalamnya, transisinya dan banyak lagi.

    Kalau mau memasukan animasi yang harmonis maka tipsnya adalah masukan animasi yang sesuai.

    Serta, perbaiki mindset kita.


    4. Fajaruddien Zakiany
    "Bila saja Tuhan memanggil dengan sebutan jiwa-jiwa yang tenang....
    Lantas mengapa hati harus diisi dengan keresahan."

    Sebuah pesan yang jleb.

    Mentor Fajar, merupakan seorang mentor yang baru pertama kali kemarin tanggal 19-5-2019 bertemu. Beliau merupakan seorang mentor Spiritual Motivation.

    Dan disesi akhirnya beliau berhasil membuat para peserta menangis, termasuk saya.
    Pada sebuah pertanyaan : Who am I?

    1. Kenapa anda ada di dunia ini?
    2. Apa tujuan anda di dunia ini?
    3. Mengapa Allah ciptakan anda?

    Dan... tangan saya bergetar, hati ini berdebar, air mata luruh tatkala tangan berusaha menulis, menjawab pertanyaan tentang "Who am I?"

    Sebuah tanya, yang pada akhirnya kita sadar. Betapa baiknya Allah, tanpa Allah kita bukan siapa-siapa.

    ___

    Pada awal sesi mentor Fajar mengisi, beliau memberikan pertanyaan kepada peserta, yang dimana kami diminta untuk menjawab pada halaman kertas atau catatan pada ponsel, secara pribadi. Tentang renungan.
    1. Mengapa anda bekerja?
    2. Mengapa hal itu anda pilih?
    3. Hal apa saja yang ingin dipersembahkan kepada kelurga, minimal 3.
    4. Apa yang membuat anda special?
    5. Mengapa anda special?
    6. Setiap anda adalah teladan.

    Pada Spiritual Motivation ini, mentor Fajar juga berbagi tentang :
    *Positive Felling.
    Luruskan niat
    *Positive Thinking.
    Selaraskan hidup kita dengan keinginan Allah.
    *High performance.
    positive growing.

    Kadang kita sering sekali sengaja atau entah tidak sengaja, suka tak melibatkan Allah pada urusan kita. Lupa bahwa Allah yang memiliki kendali.

    Kita perlu merenungi tentang apa-apa segalanya niatkan karena Allah, kembalikan pula hanya pada-Nya.

    5. Nunik (@teh_enik)

    Tahun 2015 lalu, bulan Oktober atau November gitu. Saya bertemu dengan seorang Ibu muda cerdas, energik dan memiliki banyak impian.
    Dalam sebuah pertemuan-pertemuan tempo lalu, kebaikan, ketulusannya berbagi dan mengajari saya tentang banyak hal. Saya yang masih anak bawang, kala itu semester 3 saat kuliah. Kami bertemu dalam wadah yang sama. Memperjuangkan yang diharapakan.
    Tak ada pertemuan tanpa perantara, yapz. Kami bertemu dengan perantara suatu bisnis.

    Beliau merupakan mentor saya yang gak pelit. Suka berbagi motivasi lisan, bahkan memberikannya berupa bacaan tentang motivasi agar berjiwa besar.

    Mba Nunik namanya. Salah satu mentor dibisnis itu yang paling saya idolakan, dengan kebijaksanaan, kesederhanaan dan tanpa pamrih.

    Saya banyak belajar dari beliau, tentang bagaimana bicara, bersikap, menemukan target dan tetap tenang.

    Kita Gak bisa bilang sembarangan tentang bisnis yang salah! Tapi mungkin hanya saja hati gak nyaman.
    Bisnis itu bersamanya (saya sebagai downline nya) memutuskan memundurkan diri, pada hitungan beberapa bulan saja untuk joint. Saya pamit, tak peduli tentang materi yang terlepas. (Mungkin bukan rejeki saya).
    Dan sebenarnya dalam hati saat memutuskan meninggalkan bisnis itu, mendoakan semoga mereka menemukan pilihan terbaik. Entah merasa nyaman pada bisnis itu, atau segera Allah berikan jalan bisnis yang terbaik dari yang baik.

    Saya pun demikian, anak bawang yang memutuskan pergi dengan membawa ilmu mental (percaya diri khusunya), memilih fokus pada kuliah yang saya sadari kala itu nilai kuliah dan kuliah saya berantakan. Serta memperbaiki impian awal, saya pengen jadi Penulis.

    Waktu berlalu, saya belajar menemukan jati diri dengan hilir mudik perjalanan hidup. Tentang mulai suka jualan dari hal-hal receh apa pun dicoba hehe. Mulai dari jualan : ice bubble, sosis bakar, jualan buku, jualan slempang wisuda, jualan kue. Saya lakukan di kampus :)

    Dan tahu-tahu udah lulus kuliah saja hehe.

    ____

    Sebuah keajaiban waktu pun datang. 8 Mei 2019 sebuah postingan disalah satu akun teman muncul tentang sebuah acara di daerah Cikarang.
    Wih, kerennya 2 pemateri yang disebut mentor ini saya kenal, teman nulis dalam sebuah padepokan menulis terkeren di muka bumi ini hehehe.

    Yapz, Kak Fikri dan Kak Jee. Terlebih ada Kak Bisri, kembarannya Fikri.
    Aku mikir pas liat postingan, "Wah ini nih salah satu do'a ku terkabul bisa ketemu Bisri dan Fikri si Kembar yang menginspirasi dalam satu waktu, di Cikarang pula."

    Saya hubungi Kak Jee deh, yang beberapa minggu sebelumnya sempat bertemu dalam acara kepenulisan dengan salah satu mentor nulis saya di Jakarta Timur.

    Akhirnya sore itu di musolah tempat bekerja selepas Ashar, dengan telah mengecek jadwal pada kalender yang masih kosong (Cie elah sok sibuk Tumi ya wkwkwk) saya daftarkan diri dan ngajak si Yuni teman kuliah, temen kerja, teman curhat, temen yang kadang-kadang butuh kealayan buat menghibur diri hehe.

    Waktu berjalan selepas daftar acara ke Kak Jee sebagai admin + salah satu mentor, jobnya beliau banyak ya hehe.

    Kejutan pun datang...
    Satu hari kemudian, tepatnya tanggal 9 Mei 2019, sebuah pesan pribadi lebih kerennya DM pada instagram muncul dari seseorang follower baru hehe.
    Namanya Teh Enik akunnya.
    Dan ternyata beliau adalah salah satu mentor saya, mba Nunik. Terkejut saya, senang dan haru.

    Selepas tahun 2016 sekitar Maret atau April gitu memutuskan hengkang dari bisnis yang saya merasa kurang nyaman ada di sana, Ponsel saya sempat rusak dan ganti, jadilah banyak nomor-nomor yang disimpan di memori telpon lenyap, termasuk nomor mba Nunik hihi.

    Ternyata usut demi usut, beliau adalah temannya teman saya. Yaitu, Fikri, Jee (yang udah kenal sebelumnya).

    Duuh terharu.
    Ramadan ini berkesan, bertemu teman lama yang tak terduga dan serunya lagi beliau temanannya masih di area yang sama.

    Mba Nunik, yang saya bilang tadi Ibu muda yang energik, merupakan seorang pemilik Waroeng Debox, tempat kece buat nongkrong.

    Pas kami ngobrol, beliau gak berubah, tetap sama. Tetap sederhana, dan berjiwa besar.
    Beliau bilang dan ini bikin saya haru saat saya tanya, "Itu semua Debox mba yang punya?"

    Jawabnya, "Yang punya Allah saya mah cuma diamanahin ngurusin."

    Jawaban yang membekas, meneduhkan dan itulah mba Nunik, seorang yang saya kenal di masa lalu tahun 2015. Beliau yang alhamdulillah sudah menemukan salah satu jalan bisnis dan semoga ini yang terbaik.

    Kami yang pernah bertemu dalam ruang yang sama, lalu saling meninggakan ruang itu, meski memiliki jarak waktu.
    Semuanya, Allah yang punya.

    Cikarang, 20 Mei 2019

    -Tumiesn-

    Bertemu, berbincang dengan para mentor, paket lengkap. Ilmunya daging.
    Alhamdulilah, terima kasih.




    WAKTU





    Kita tidak pernah bisa menghentikan waktu atau ingin kembali mengulangnya.
    Sebab, ia akan terus berjalan.

    Ini tentang waktu yang hari ini izinkan aku menuliskan, tentang waktu yang membuat kejutan-kejutan tersendiri. Kamu boleh membacanya, atau sama sekali tidak. Bila kelak aku sudah tiada (wafat) biarkan tulisan ini salah satunya yang tersisa.

    ~~~~~

    Satu minggu lalu, sekitar setengah tujuh pagi tepatnya di hari Jum'at, 3-5-2019 sebelum berangkat bekerja (aktivitas seperti biasa) aku berbicara dengan Ninik (*Nenek), sebuah suara yang tak asing, dan terekam hingga hari ini. Perempuan berusia 86 tahun yang raut wajahnya terbasuh sabar dan tenang. Tak pernah mengeluh dengan sakitnya yang mendera sejak Desember 2018 lalu.
    Satu minggu lalu, kami berbicara seperti biasa lewat jejaring telephone. Yah, handphone adalah salah satu alat komunikasi kami, sebab tidak bisa tiap hari melihat. Februari 2019 kemarin aku pulang ke Lampung untuk mengecek kondisinya, yang belum terlalu parah seperti tanggal 3-5-2019.

    Aku tahu beliau sakit, dan beliau pun mengadukan hal itu. Makin parah katanya, tapi tetap suara tenangnya terdengar. Aku mencoba menahan tangis, berharap semua baik-baik saja.

    "Ninik sudah sarapan?"
    "Sudah tadi pakai tahu." jawabnya.

    Yah, semenjak sakit beliau tidak bisa makan enak, hanya beberapa makanan yang bisa dimakan.

    Hari itu jam sudah menunjukan waktu aku harus berangkat kerja,
    "Ya sudah aku berangkat kerja dulu ya, Ninik jangan lupa makan, shalat."
    seperti biasa, aku tak pernah bosan bilang seperti itu. Beliau mengiyakan, dan mengingatkan aku juga.

    Dan sebelum ku akhiri salam diujung telephone seperti biasa ku bilang, "Aku sayang Ninik."
    dan seperti biasa pula hari itu beliau membalas dengan suara tawa diujung telphone. (Semoga itu tawa bahagia bahwa aku menyayanginya).

    Hari itu aku memang merasa aneh, ada yang berbeda.Tapi tak tahu ada apa dan kenapa. Saat ku tutup telephone ada hal yang tak seperti biasa ku rasa.

    Jum'at sepanjang bekerja, hatiku gelisah, kepala sakit ringan, sakit kepala yang kadang ku rasa datang tiba-tiba beberapa hari sebelum hari jum'at hingga hari tersebut.

    ******

    Jum'at sore aku sudah ada jadwal bertemu dua dosen disalah satu tempat makan, ada hal yang harus dibahas untuk project kami. Sambil menunggu, aku membalas beberapa pesanan puisi. Namun, dibalik sedang merangkai puisi ada pesan masuk dari sepupu, mengabarkan Ninik masuk rumah sakit. Perasaanku makin gak jelas. Menahan air mata, sebab menjaga profesional dan malu pula banyak orang.

    Selepas pertemuan itu aku hubungi seluruh orang rumah di Lampung dan beberapa keluarga di pulau Jawa. untuk kabar itu. Dan Jum'at malam aku masih sempat menulis satu tulisan diblog, tentang Ruang Renung yang dimana mata ku mulai basah, aku tak bisa menghentikan air mata tentang ujian-ujian yang kali ini Allah memberi di periode kehidupan ini. Mungkin karena Allah sayang, datangnya ujian di keluarga untuk menguatkan, manaikan kelas. Aku menulis pun tentang Ninik. Sebab, salah satu caraku melegakan perasaan ialah dengan menulis.

    Malam sabtu aku sama sekali tak tenang, tidak bisa tidur. Hingga selepas subuh aku telephone Mamak yang sedang berjaga di rumah sakit. Katanya Ninik belum sadarkan diri, dan hal itu membuatku tak tenang.

    Kalender aktifitas ku ditanggal 4 dan 5 Mei itu penuh, sudah ada jadwal hingga minggu malam. Mau tak mau dihentikan, aku meminta maaf pada mereka, para relasi yang sudah menjadwalkan untuk pertemuan sejak minggu-minggu sebelumnya :-(. Niatku segera ke Lampung mau bilang sayang dan menguatkan Ninik, mau bilang "Ninik pasti sembuh, aku ada di sini, berbisik di gendang telinganya."

    Tapi, hari sabtu 4-5-2019 jam 11:00 WIB, sebuah panggilan telephone dari Kakak Ipar dengan isak tangis yang sulit bicara, sesak di dada. Ninik sudah meninggal. Aku menjerit, kehilangan.

    Sabtu itu aku gak ngerti kenapa Allah cepat banget menggulung waktu. Baru saja kemarin aku bilang sayang seperti biasanya. Tapi dengan pergantian waktu, Allah yang punya kendalinya, kapan saja nyatanya Allah yang punya kuasa untuk mencabut nyawa siapa pun.

    *****

    Perasaan kehilangan itu menyadarkan ku tentang banyak hal. Tentang pentingnya waktu, tentang menyanyangi, menghargai, menghormati, saling memaafkan dan kesempatan. Jika waktu berhenti segalanya usai yang ada dipergerakan bumi ini.
    Kita memang gak bisa mengulang waktu, tapi kita memiliki peran untuk mengelolanya.

    Sederhananya begini, sayangi orang-orang disekitar kita yang masih ada, terutama orang tua.
    Sebab, kita gak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkan dunia ini lebih dulu, kita atau mereka?
    Saling memaafkan, mengharagai dan mendo'akan.

    Dan dari menyaksikan berpulangnya orang terdekat, nyatanya membawa hikmah dan pesan mendalam,
    "Tum, kalau kamu mati nanti udah siapa bawa bekal apa aja?"

    Yah, pertanyaan untuk diri sendiri.

    *****
    Waktu adalah pedang, kita akan gunakan untuk membabat semak belukar untuk mencari jalan terang, atau justru kita yang akan terbabat habis oleh pedang itu karena hura-hura pada waktu, menyia-nyiakan).

    Do'akan Ninikku khusnul khotimah ya, dan semoga kita yang masih diberi kesempatan hidup ini kelak meninggal dalam keadaan baik pula :-)


    Cikarang, 10-5-2019

    -Tumiesn-







    Perpisahan




    Kita tidak bisa menjeda pertemuan atau semaunya ingin selalu bersama tak mau dipisahkan, sebab dunia nyatanya sementara.

    Setiap yang terjadi pada kita, adalah bentuk cinta dan nikmat yang Allah beri, disiapkan khusus untuk kita. Entah itu bahagia atau bahkan lara. Tentang senang, tawa, ceria, sedih, pahit, kecewa dan macam-macam tawaran warna pada perjalanannya.

    Setiap takdir antara manusia yang satu dengan yang lainnya pun berbeda-beda, tidak sama. Mungkin inilah seninya.

    Bicara soal pertemuan, kebersamaan, kenyamanan, ketenangan, kegembiraan merupakan hal yang menyenangkan. Misal saja, tentang perkumpulan keluarga besar. Tentang pasangan, anak, orang tua, kakek, nenek, keponakan, sepupu, paman, uwa, dan sebagainya merupakan komponen-komponen penting yang menjadi ladang semangat bagi setiap orang. Tatkala tengah berbaur, tumpah ruah kebahagiaan dan rasanya tak mau cepat berlalu.

    Setiap potret kebersamaan biasanya menjadi bukti dan meninggalkan jejak hitam putih untuk cerita esok agar tak usang. Gelak tawa, senyum merona menjadi penawar untuk obat rindu di waktu mendatang. Apa kamu juga merasakan begitu takala tengah berada diantara kumpulan keluarga kecilmu atau besar?
    Tapi, pertanyaannya apa kita sudah siap akan kata perpisahan datang pada lembaran hidup kita?
    Yah, tentang perpisahan pada persinggahan di dunia ini. Entah kita duluan yang akan pamit meninggalkan mereka, atau diantara mereka yang akan berpulang dulu, menghadap sang pencipta.

    Sebuah keadaan yang tak pernah bisa kita hindari tatkala Allah yang punya kuasa menetapkan takdir itu pada kita.

    Perpisahan memang memilukan, sebab berpisah untuk selamanya dengan berakhirnya kehidupan dunia itu membuat hati tak kuasa, air mata luruh menjadi saksi kehilangan. Kita yang ditinggal hanya mampu melapangkan hati dan terus mendo'akan untuk yang berpulang duluan.
    Sebab, bersibuk ria pada gemuruh perih, jeritan tangis tak akan menjadi solusi bukan cara baik pula berlarut-larut tanpa do'a yang di langitkan.

    Do'akan orang-orang yang sudah berpisah dari kita dan tak terlihat lagi tawanya, sabarnya, sikapnya, senyumnya. Semoga tenang, damai dan diberi tempat terbaik disisi Allah. Dan tugas kita yang masih dipercaya untuk melanjutkan hidup, bernapas dengan apik tanpa harus kita bayar. Banyaklah bersyukur, terus belajar memperbaiki diri, dekati Allah dan cari jalan terang agar kelak rumah terakhir (perut bumi) kita pasti berharap terang.

    Allah yang terbaik, yang punya kuasa. Dan kita mahluknya teruslah berbaik sangka. Memaknai perpisahan, bahwa setiap dari kita dalam ruang pertemuan pasti akan ada waktu perpiasahan. Semangat untuk kita yang masih diberi banyak kesempatan.

    Cikarang, 8-5-2019

    -Tumiesn-




    Hidup dan Kesempatan ke-2




    Ini cerita tentang hidup & kesempatan ke-2

    Malam itu seperti biasa aku menyempatkan diri ke rumah Paman. Berada di ruang keluarga, berbincang hangat.

    "Besok Paman dan Ibun bisakan datang di hari aku diwisuda?"

    "Insya Allah."

    "Gak malu acara wisuda kamu diantar Paman pakai tongkat?" timpal Ibun (Istrinya Paman).

    "Buat apa malu? Aku bangga dong punya Paman." jawabku serius.

    "Lihat nanti ya bagaimana kondisi kaki Paman." matanya beralih ke kakinya.

    _____
    Tentang kesempatan hidup.
    Hari itu tanggal 8 January 2018, kecelakaan hebat terjadi. Hingga Paman harus merasakan patah tulang kaki, rahang diwajah dan tulang rusuk.
    Ruang ICU menyambutnya. Kami, berderai air mata. Pasrah.

    Kejadian malam itu selepas Isya itu berhasil membuatku tak bisa tidur hingga subuh, pagi, siang dan sorenya.

    Subuh itu aku cuma minta satu hal sama Allah. Kasih Paman kesempatan hidup sekali lagi untuk ibadah lebih baik.
    Yah, hari pertama hingga hari ke sepuluh, do'a itu berpihak padaku, Allah kabulkan hingga hari ini. Bahkan saat masa-masa aku harus turut bolak-balik Cikarang ke RS. Polri Jakarta, sebuah perjalanan ditemani menulis di blog tentang Paman. Bahkan aku menuliskan 10 hari tentang Paman dan aku bilang, "Kalau Paman sudah sadar, lihat dan bisa baca harus baca tulisanku."
    (Kekuatan menulis, tulisan dan harapan).
    ____
    Kejadian itu berlalu tapi masih membekas, hingga hari wisudaku di bulan November 2018 Paman (bapak angkat) ini belum bisa jalan. Beliau yang selalu berusaha ada di acara pentingku.
    Paman, salah satu alasan penyemangat skripsiku kelar dan lulus Sidang.

    Saat acara wisuda aku gak peduli orang melihat ke arah Paman entah aneh atau Iba, dengan tongkatnya yang masih jadi teman setia. Aku tetap bilang, "Aku bangga sama paman."

    Pagi ini, 30-4-2019 aku telpon Paman, mengucapkan selamat dan lekas sehat untuk keberhasilan operasi ketiga. Yah, setalah tahun kemarin 2 Kali operasi besar untuk persoalan badannya yg tulang-tulangnya alhamdulillah bisa diselamatkan, kemarin siang operasi pelepasan salah satu pen di lututnya.
    Aku bilang, "Paman hebat, mau minta belikan makanan apa."
    _____

    Tentang hidup dan kesempatan. Dan untuk membahagiakan. Menapaki perjalanan kehidupan yang gak selalu lancar jaya, sebab jalan tol aja ada kalanya macet.

    Setiap orang memiliki jatah takdir berbeda, ujian hidupnya pun berbeda.
    Kita diminta sama Allah, gimana sabar menjalaninya.

    Ada orang yang di uji dengan sakit, kepedihan, punya anak yang bandel, belum punya keturuanan, berada pada kemiskinan, kehancuran rumah tangga, orang tua bercerai dan banyak lagi. Dan setiap manusia (kita) gak mungkin hidup tanpa ujian.

    Kita perlu bersyukur, jalanin hidup ini dengan tulus. Sebab kita kelak gak akan tahu ketulusan mana yang akhirnya akan membantu kita dalam segala kondisi.
    _____
    Kalau kamu saat ini sedang mengalami ujian dari Allah, jangan putus asa dan jangan pernah menyerah. Percayalah, jika kamu yang mendapatkan jatah ujian atas takdirmu, sebab karena kamu mampu.

    Jangan pernah minder atau malu dengan kondisimu, keluargamu dan kekuranganmu.

    Setiap dari kita pasti istimewa. Semoga hati kita selalu berbahagia. ☺

    Cikarang, 30-4-2019

    -Tumiesn-

    #tumiesn #bercerita #nikmatAllah #bahagia




    Kenapa Belum Nikah?




    Hari ini lepas Ashar ketemu salah satu teman (mantan sekelas, eeh maksudnya sekelas pas kuliah jamannya kosentrasi, sekarangkan udah lulus dan gak sekelas hehe)

    Sebuah jadwal ketemu, dan diskusi. Biasa kalau sesama anak pemasaran hal yang banyak dibahas soal bisnis, strategi penjualan. Karena aku belum jago bisnis, mayankan sharing-sharing sore dapat ilmu dan nambah wawasan haha.

    Sebuah pertanyaan nyelip diantara hal pembahasan dan curhatan teman secara pribadi, sebagai pendengar ku dengarin dah.
    (*note : kalau seseorang mau cerita hal pribadi berarti dia percaya sama kita. So, dijaga.)
    Dia tanya, "kenapa belum nikah?"
    Ku jawab simple, "belum ada yang klik."

    Pembahasan pun jadi panjang.
    ______
    Pada dasarnya pria atau wanita diusia 25 tahun ke atas pasti pengen yang namanya Nikah.
    Setuju?

    Tapi, nikah itu bukan hal yang main-main asal comot yang penting rubah status di KTP, bukan itu netijen.

    Bahkan pembahasan ku sama si teman yang katanya lagi galau soal mau memperjuangkan seorang wanita, semakin menarik. Dan mungkin solusinya ada tuh banyak refrensinya dibuku-buku, googling mbah google atau minta solusi sama yang ahlinya, kalau minta solusi sama aku jelas belum ahli wkwkwk

    Sederhananya kalau mau memperjuangkan seseorang, harus saling berjuang, searah, saling menerima kekurangan serta kelebihan masing-masing, menerima keluarga satu sama lain, dan punya tujuan yang jelas.
    Kamu dan dia saling suka, klik, tumbuh rasa buat kearah lebih serius. Ya lanjutkan, sebab jodoh gak langsung cling muncul di depanmu. Dijodoh-jodohkan orang tua saja butuh proseskan?
    Apa lagi nyari sendiri hehe.

    Siapa pun kamu yang masih sendiri dengan usia yang makin pantas buat menuju kata Nikah, selalu semangat dalam berikhtiar. Jangan lelah berjuang menujunya, minta sama Allah. Toh, Allah kan satu-satunya pemberi apa yang pantas, layak, pas untuk kita butuhkan?

    ___
    Salah satu kebiasaanku itu Kalo kemana-mana pasti ada buku yang dibawa, teman ketika bengong dan bosen liat HP hehe, dan kebetulan aku lagi ngelanjutin baca buku ini yang ku pegang karya temanku uda @robiafrizan1 ,Keren isi buku ini pesannya penuh makna.

    Cikarang, 3-4-2019

    -Tumiesn-




    Beridiri Pada 5 Jari, Telapak Tangan





    "Kalau kita beridiri pada tapak kaki itu sudah biasa, tapi bagaimana jika kita bertahan berdiri pada telapak tangan yang terdiri dari 5 jari?"
    Kalimat dari seorang alumni Pelita Bangsa, namanya Ceceng Saepuloh.

    ________




    Sebuah pembahasan seru, dari #kolaborasi #mudaberkarya. Kebetulan Kamis sore selepas Magrib ditanggal 28-2-2019. Dalam kolaborasi rencana yang semoga terlakasana diberikan kelancarana, salah satu rencana bikin buku #tumiesn tahun ini adalah kolaborasi bareng 2 Dosen yakni Bu Yunita, Pak Edy dan Juga salah satu tempaan satu angkatan yakni Yuni Puspita.
    Kalau mau lihat perjalanan tentang 2 dosen ini bisa cek ditulisan ku :

    1. Gerbang Skripsi,Nulis Asik, Hati Bahagia

    2. Terima Kasih Untuk Kamu Triangulasi Sumber (Pembaca, Penulis & Komunitas) Skripsi Solusi

    Salah satu hal yang membuat kami dekat adalah soal Skripsi sejak tahu 20170-an. Hingga sebuah buku yang Insya Allah akan digarap bersama judul bukunya terinpspirasi dari soal penelitian juga, tepatnya sharing rencana penelian Pak Edy S.

    _____

    Oke, balik soal diskusi kemarin sore dengan Ceceng yang kami undang sebagai salah satu narasumber yang pasti inpiratif banget ya. Beliau ini bukan sembarang mahasiswa ugal-ugalan (biasa aja) tetapi, luar biasa. Banyak hal yang diceritakan saat proses #ceritaambilpesannya , ada hal yang paling menarik dan akhirnya saya tulis di blog ini.

    Pernah gak kita ngebayangin berdiri ditelapak tangan kita pada 5 jari? dimana biasanya tuh kalau berdiri di telapak kaki kan?
    Ini salah satu pandang Ceceng yang menurutku big idea and inspiration . Sebuah sudut pandang yang sayang kalau diabaikan, didengarkan mentah-mentah alias gak sampai ke seluruh ingatan (ruang otak).

    Jadi, yang dimaksud Ceceng berdiri di 5 jari pada telapak tangan ini adalah dia berpikir gimana sih dalam menghadapi polemik kehidupan ini mampu tetap berdiri alias hidup. Dengan jari-jarinya bisa mengahasilkan uang dalam kondisi ya intinya dia harus bertahan hidup.

    Jaman kuliah dulu, salah satu mantan karyawan disebuah perusahaan yang memutuskan resign tentang sebuah pilihan hidupnya, dan pasti ada alasan sendiri ya.
    Dan ketika itu dia harus tetap kuliah serta membiayai hidupnya. Alumni jurusan manajemen pemasaran ini yang awalnya saat mendaftar kuliah ingin ambil jurusan tekhnik infomatika karena terinpirasi dari teman (mentor) yang mengingatkannya untuk melanjutkan pendidikan ini, dia harus berpikir lho saat penghasilan jadi karyawan sudah off, berangkat ke kampus pakai bensi berarti mengeluarkan uang, gimana caranya di kampus gak sia-sia, mengeluarkan dan mendapatkan. Dan anak muda ini punya pikiran, melupakan malu dan gengsi, Ia jualan.

    Saat itu jualan nasi kuning, aqua botol dan snack. Baginya ambil barang di orang lain, dia harus dapat keuntungan. Katanya jika di ibaratkan 5 jari itu :
    1. Jempol dapat penghasilan dari nasi kuning
    2. Jari telunjuk dapat penghasilan dari aqua botol
    3. Jari tengah dapat pengasilan dari snack
    4. Jari manis penghasilan dari tempat lain
    5. jari kelingking pengasilan ditempat lain juga

    Dan secara continues . Dia yang kini juga memiliki ide buat bisnis, mulai dari rental PS di kampung halamannya Cianjur, serta photo copy di dekat kampus. Good idea soal bisnis dari sudut pandangnya tentang jari yang dimiliki, gimana caranya mendapatkan penghasilan dari berbagai sumber.

    ______

    Menjadi perantau dan berpetualang di kota orang, terkadang kita harus berani naik level ya meskipun prosesnya gak mudah. Salah satunya banting rasa malu, kantongin gengsi. Jalanin aja, dan nikmati prosesnya.Sebab dihidup ini gak ada hasil tanpa proses yang dilalui?

    ______

    Berdiri pada 5 jari, telapak tangan yang kita punya nyatanya perlu. Jalanin kehidupan yang bentar ini dan terlalu singkat menjadi hal yang tidak monoton. Sumber-sumber pendapatan untuk menjadi bekal perjuangan hidup itu perlu lho, kurangi kebanyakan gaya temukan cara menjadi diri yang lebih berisi.

    Cikarang, 1-3-2019

    -Tumiesn-

    Baca Juga : Walau Buruh Pabrik Bukan Penghalang Melanjutkan Pendidikan Kerja Sambil Kuliah? Siapa Takut! Ruang Saksi Bersama








    Mamak, Perempuan Setia





    *adek = adik
    *Yayuk = Sebutan kakak perempuan.

    ....

    27 tahun menjadi bagian dari kelurga ini. Sejak kecil kami hidup tanpa seorang pria di rumah. Bapak izin pulang duluan menghadap Allah sejak usia ku masih 2 tahun 2 bulan, dan Mamak tengah mengandung 9 bulan kurang 17 hari.

    Sebuah takdir dan ujian kala itu, tapi aku gak ngerti persoalan urusan dewasa. Hingga pas kecil aku penasaran, lihat teman maupun sepupu yang sebaya di rumah mereka ada seorang lelaki dewasa. Masih ingat dan membekas, waktu itu ku tanya Mamak, "Bapak itu kemana?"

    Mamak selalu jawab, "Bapak lagi ngaji di rumah Allah."

    Aku diam, dan masih membekas lagi sebuah pertanyaan muncul, "Mamak kenapa gak nikah lagi sih, biar aku punya Bapak."

    Saat itu sekitar aku kelas 3 SD (belum bisa baca lancar, dulu aku ngalamin keterlambatan baca dibandingkan 5 saudara perempuan yang lain).

    Mamak bilang, "Jangan ngomong begitu lagi ya."

    Dan saat itu aku gak pernah minta bapak baru.

    Menjalani hidup masa kecil dengan seorang Ibu, 4 Yayuk dan 1 adik perempuan bukanlah hal mudah. Kami hidup saat itu harus menumpang tanah orang hingga belasan tahun, agar tetap hidup menggarap tanah.

    Sejak kecil aku bahkan dilatih hidup keras, menjadi tukang petik buah jambu, penunggu duren dan hal-hal yang berhubungan di kebun. .
    Saat itu tetapi aku dan Yayuk ke 1 & 2 terpisah, mereka harus ke Palembang ikut Mbah Lanang (Sebutan kakek). Agar hidup kami mendingan, mereka bekerja.

    Di susul lagi Yayuk ke 3 di sekolahkan di Kebumen ikut Buyut, dan Yayuk ke 4 ke Palembang untuk sekolah hingga tamat SMA. .
    Dan aku pun demikian lulus SMP ke tanah jawa hingga sekarang, begitupun adek.

    Hingga seluruh yayuk menikah, karena kodrat perempuan ikut kemanapun sang suami pergi, yayuk ke 1 & 2 menetap di Palembang, Yayuk ke 3 & 4 menetap di Bandar Lampung, dan Aku anak ke 5 dan adek ke 6 masih merantau di Pulau Jawa.

    Meski Mamak masih satu daerah dengan yayuk ke 3 & 4 mereka semua sudah beda atap.

    Hingga suatu hari ku ajukan pertanyaan ke Mamak, "Mak, kalau aku udah berkeluarga ikut aku ya. Meski mungkin gak di Lampung. Entah nanti akan tinggal di pulau mana."

    "Tidak, Mamak mau di sini saja, kalau nengok kuburan Bapakmu, dekat."

    Aku gak bisa mengajukan tawaran lagi.

    Suatu hari aku wawancarai Mamak, soal cintanya ke bapak kenapa bisa setia?
    Gimana awal jatuh cinta? Proses, menikah dan tidak menikah lagi.

    Satu pesan yang akan ku simpan dan ku praktekan, "Mamak cukup nikah sama seorang pria sekali seumur hidup. Semoga bisa ketemu di akhirat."

    Aku beruntung punya seorang wanita yang Kuat dan gak baperan tergoda cinta lain.
    Sering aku ajak diskusi atau sekadar bercerita tentang pilihan cinta dan setia.

    Mamak selalu bilang, cinta itu sekali seumur hidup. Bersama orang yang sederhana dan seiman, sejalan.

    Kadang aku suka bilang, Mamak aku bikin tulisan buat Mamak di blog. Ku bacain meski kami via suara. Mamak menangis, aku tanya.
    "Mamak bahagia, gak menyangka kamu yang sekarang."

    Nyatanya cinta dan Setia adalah jalan untuk merengkuh bahagia. Meski pasangan sudah di panggil lebih dulu, ada ikatan dan janji untuk terus setia. Dan yang masih di tinggal di dunia bertugas mengemban kepercayaan, mendidik dan menghidupi anak-anak.

    Kadang aku suka mikir, Mamak kok bisa melaluinya, aku tahu betul gimana dulu susahnya hidup.

    Balik lagi, Allah lah satu-satunya yang memberi jalan hidup dan menetapkan rasa cinta, tulus dan setia bagi yang mau menjalaninya.

    Bagi yang sudah menikah, setialah dengan pasangan suka dan duka.

    Adek, Yayuk setia pula ya kaya Mamak, begitupula aku nanti ☺

    Cikarang, 22-2-2019
    -Tumiesn-

    #story #family #love #Allah




    Teman Datang Dan Pergi, Sahabat?






    Setiap hari perjalanan hidup akan menemukan hal baru, perubahan-perubahan hidup bisa jadi ruang maupun teman baru.
    Entah itu teman saat memasuki dunia sekolah SD, SMP, SMA, Kuliah, Bekarja, Organisasi, Kajian dan sebagainya.

    Kita akan menemukan banyak ragam teman-teman baru.

    Tapi, sayangnya setelah lulus sekolah, kuliah ataupun sebagainya kita akan merasakan kehilangan, entah bagaimana pun caranya perlanan demi perlahan kabar teman-teman akan raib seiring berjalannya waktu. Dan entah bagaimana pun jua teman-teman baru berdatangan pada ruang lingkup yang baru.

    Sebab nyatanya teman itu sangat mudah datang dan pergi bukan?

    Ada satu yang tidak akan pergi atupun tertelan waktu karena kesepakatan atas perpindahan ruang waktu, Ia akan tetap ada entah mengapa selalu betah mengikuti kabar kita, menanyakan kesehatan, kesibukan dan segala hal yang ada pada kita.

    Ia bernama seorang sahabat yang ditemui entah saat Sekolah, Kuliah, organisasi, rekan kerja, komunitas dan sebagainya.

    Tak bosan dan justru masih kerap menjadi payung yang rela kehujanan saat kita dalam ketakutan, yang menjadi selimut saat kepercayaan diri hampir tumbang dan siap pula menjadi orang yang sangat berani mengatakan jika kita Salah. Tapi, memberikan solusi bukan sekadar kata.

    Dia yang akan selalu meminta maaf meski tak salah, yang selalu ada meski kita sibuk. Itulah sahabat, Ia tak akan pergi meski perjanjian ruang pendidikan misalnya telah usai, atau Ia telah menikah.
    Tetap saja, Ia enggan pergi selalu asik membersamai. Itulah sahabat yang hanya bisa kita temui di dunia ini hanya dengan hitungan jari jemari, sahabat-sahabat yang saling mengingatkan untuk kebaikan, mahluk Allah yang di hadirkan menjadi teman yang selalu ada dari puluhan, ratusan bahkan ribuan teman-teman yang kita temui untuk datang dan pergi.

    Jika kita sudah menemukan seorang sahabat, jaga dia dan jadikan layaknya keluarga. Bagaikan jari jemari yang jika satunya terluka, kita akan saling merasakannya, entah bagaimana pun caranya ada saja hal yang mendekatkan sahabat dengan sahabatnya.

    Terima kasih untuk yang sudah menjadikan ku sahabat.

    Cikarang, 16-2-2019

    -Tumiesn-

    #tumiesn #sahabat

    Tag :sahabat




    Penulis Susah Di Tebak




    "Kak aku mau tanya dong?

    "Kak kalau tulisannya sedih pengalaman ya?"

    "Galau-galau mulu, lagi galau ya?"

    "Lagi dekat sama siapa?"

    "Mbak, kamu itu kok bisa sih nulis kaya gitu, kalau ketemu aslinya mah, beda."

    "Kak baper, kakak lagi baper ya?"

    "Aku penasaran deh, planing ke depanmu apa? Soalnya penulis susah ditebak."

    Dan masih banyak lagi teman-teman yang tanya seputar ini, baik langsung atuapun kepo dengan tanya-tanya melalui chat personal.

    Dan bahkan ada teman penulis juga yang tiba-tiba DM (curhat), "Kenapa sih kalau aku posting galau suka dikira galau. Padahal itukah tulisan (gaya tulisannya emang galau terus)"

    Disitu aku cuma ketawa, intinya hal-hal macam itu emang sudah sering dirasakan (banyak yang tanya) dimana kadang tulisan @tumiesn23 demikian.

    Sedikit dijelaskan ya, siapa tahu membantu dan bisa paham sama penulis lain pun begitu hehe .

    Menulis adalah bentuk apresiasi seseorang melalui seni berupa tulisan. Setiap yang ditampilkanpun berbeda dong, dan satu penulis dengan yang lain beda.
    Untuk tulisan ku sendiri, gimana kalau kamu sebagai pembaca sudah bisa merasakan?

    Kalau belum, coba aja sesekali perhatikan setiap postinganku dengan personal branding yang diangkat sebagai Penulis Baper Positif.

    Terus ada yang bilang, "Penulis susah ditebak."
    Mungkin kamu sebagai penulis, pernah merasakan?
    Sebanarnya begini, Penulis itu gak susah ditebak kok. Bakal paham kalau sudah berteman dekat. Penulis memang punya tuntutan tersendiri untuk mencapai goalsnya dengan genrenya, yang kadang mau gak mau harus membawanya pada ruang yang berbeda dengan aslinya.

    Misal saja, tulisannya galau mulu, padahal aslinya ceria, ataupun sebaliknya.

    Lalu, inspirasi itu datang dari mana?

    Aku dulu di blog pernah menulis atas hasil apa yang di lakukan selama belajar menulis dan ini juga ku tulis (kembangkan dibuku yang sedang dibuat dari Skripsi jadi Buku) yakni tentang inspirasi itu sebenarnya simple datang dari mana saja yakni LDR (lihat, dengar & rasa) bisa tengok di blog saya cari di google dengan kata kunci itu pakai Tumiesn, nanti juga ketemu hehe.

    Jadi gak semua serta merta yang ditulis itu pengalaman pribadi si penulis, kan penulis harus peka dan bisa merasakan apa yang sedang ditulis meskipun itu bikan pengalaman pribadinya, misalkan saja pengalaman teman yang curhat dan dijadiin tulisan (hati-hati curhat sama penulis karena semakin di gali ceritamu, semakin menarik baginya hehehe)

    Kalau mengira penulis susah ditebak sah-sah saja, mungkin bingung kali ya soal gaya si penulis dari kontennya atau isi sosial medianya tulisan mulu?
    Kalau untuk aku pribadi, memang seluruh media sosial yang dimiliki ya memang untuk berkarya, kalau kenal secara pribadi pada tempatnya. Hehe..

    Jangan kangengin ataupun nunggu-nunggu postingan pribadi banget ya hehe, tapi saya terbuka kok, gak tertutup yang dikira wkwkwk

    Sejak 2018 aku memang membuat kuputusan, bahwa kenali sosial media Tumiesn ya tentang karya, bukan soal share foto selfie lagi kaya dulu tak berfaedah (karena bukan tempatnya) hehe.
    Kenapa? Ya itu pilihan.

    Sebagai penulis, ya aku begini bukan begitu hehe
    Kalau lihat tulisan lagi baper bukan berarti lagi galau abis, ya karena konten yang sedang diangkat seperti itu.
    Dan seterusnya.

    Harapanku sederhana saja, semoga tulisan yang dihasilkan memiliki pesan kebaikan ya, dan jika baper ambil yang baik-baik, yang gak baik jangan diambil.

    Terima kasih penuh sayang buat pembaca.




    Cikarang, 6-2-2019
    -Tumiesn-