Cinta Terbentur Oleh Kotak Keadaan




Janji Jodoh




Kau tahu mengapa sampai saat ini aku masih tetap sendiri? Bersahabat dengan sepi setiap waktu, yang cukup aku saja yang merasa. Baiklah bagiku ini tak apa, asal kau bahagia.

Ini bukanlah sekedar coretan rindu dalam ukiran pena, maksudku bukan hanya bualan dari seorang hamba-Nya yang sedang merasa, ooh Tuhan rasa rindu ini berat, tapi harus segera diobatinya.Kau dan aku yang pernah bersama, tapi tak selamanya disini. Sebuah petualangan cinta yang dulu pernah kita lalui bersama, semak belukar pedihnya hidup pernah dibabat habis. Kerikil tajam ujian pernah dilewati dengan keriangan saat dua insan dimabuk kepayang, rasanya masa-masa pahit dulu tetap indah saat kita jalani bersama. Namun, saat kau dipaksa atau entah memang memutuskan pergi dari hidup ini rasa pedih dan pahitnya hidup ini mengerak sudah.
Akh… aku selalu payah manakala mengingat tentang manisnya cinta.Mangkuk-mangkung yang dulu selalu berisikan sayuran kesukaanmu telah kering, sepi, dan mungkin menjerit karena kekosongan yang tak sanggup lagi di isi seperti sedia kala mana kutatap majahmu yang begitu lahap menandaskan seluruh isi sup dalam mangkuk.


Ooh ya, apa kabarmu disana? Besar harapaku agar kau tetap tertawa riang, tersenyum manis dan bahkan masih tetap semangat melambaikan tangan , “Hai Sayang!” meski dari kejuahan bahkan 10 meter saja senyum manismu begitu khas sudah nampak, dan aku selalu membalasnya, tapi itu dulu. Sekarang? Akh.. Maaf aku terlalu lemah bahkan siap tersungkur kedalam jurang masa saat mengenang. Sekali lagi maafkan diri ini yang sangat rindu kau panggil, Sayang.

Sekarang mutiara-mutiara yang kita tanam dengan pupuk cinta telah besar, bahkan dewasa. Mereka sudah bergerilya menyusuri hidup masing-masing, membangun rumah cinta yang seperti dahulu sama halnya kita lakukan. Bahkan kudengar sendiri, mereka berbisik untuk saling berjanji setia, nyatanya sama halnya seperti kita, dulu. Tapi, aku enggan mengatakan jika janji agar berjodoh saat masa-masa dahulu saja, tidak! Sungguh mauku sampai nanti hari-hari dimana akupun akan terlelap sama sepertimu belasan tahun lalu. Sayang, berat perjuangan ini tapi hati ini yakin bahwa semua akan Indah pada masanya.

Sayang, kamu ingat bahwa dulu saat pertama ikrar cinta diucap lisanmu disaksikan oleh banyaknya pasang mata dan ku sangat yakin Sang pemberi cinta dan para malaikat menyaksikan dimana kita sangat berharap dan berjuang untuk berjanji sehidup sesurga? Ku harap kau masih mengingatnya dan tak akan lupa. Ya ampun, maaf aku lupa jika Janji jodoh untuk kita pasti selalu ada, sungguh keterlaluankah jika ku masih terus bersikeras mengatakan ini agar kau masih terus mengingat atau mendengar suara lirih ini yang rapuh, bahkan siap terjatuh berkali-kali manakala rindu menyergap hati ini bahkan membombardir seluruh kepercayaan bahwa cinta tak akan pernah berubah! Sungguh berat, kau tahu? Ku harap kaupun percaya.

Rambut ini kini telah separuh memutih, keriputan di wajah nampak dan bahkan para penerus cinta kita yang sering memanggilku, “Nenek!” dan mereka yang kerap merengek, “Gendong Nek!” dan kau harus tahu, aku kini sudah tua danencokku kerap kumat manakala beban berat ku angkat, termasuk menggendong para cucu kesayangan. Kau pasti akan tertawa, bahkan terpingkal-pingkal menyaksikan bagaimana celoteh, ulah, dan aksi para cucu yang kerap menengok ku ke istana kita. Bayangkan sayang, ini adalah kisah indah.

Aku memang telah merasa sempurna sebagai seorang wanita yang dimana telah menikah, melahirkan dan bahkan kini telah menjadi seorang wanita tua dengan rambut putih yang dipanggil, “Nenek sayang!” ya, mereka selalu memanggilku dengan sebutan itu, sengaja aku yang mengajarinya. Karena sayang adalah satu kata dimana diri ini akan selalu teringat tentangmu, lelaki yang telah berhasil mengajariku untuk kuat. Namamu yang terus ku sebut, dan cinta yang saling terpaut dan mengukir janji jodoh jikalau kebersamaan yang telah dirajut tidak hanya sebentar atau berakhir di ujung belasan tahun lalu, tidak! Kau percayakan? Bahwa cinta ini telah melambung tinggi, melupakan kesedihan hanya saja kerap memunculkan kerinduan.

Sayang, maafkan diri ini yang kerap menyebutmu dalam do’a, entah itu dalam kesepian maupun keramaian. Rindu ini besar, tunggulah aku yang bukan sekedar ingin hidup menua bersama dalam senjanya masa. Tapi, benar-benar tetap bersama sampai ketempat yang paling tenang yang selalu diharapkan oleh setiap insan yang percaya, bahwa Surga itu ada. Biar cinta ini ku bangun meski sebelah hati, ku percayakan hatimupun bertahan disana, menungguku.

-Tumiesn-




    Mantan tak bernama #part 3




    Mantan tak bernama #part 1




    Peranmu mengapa berbeda? #part 1







    “Ayah... Andin ingin jalan-jalan!” anak kecil berambut kepang itu terus merengek sepanjang malam kepada ayahnya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

    “Andin, ayahkan sibuk....!” berkali-kali Bram memberikan penjelasan kepada anaknya yang masih berusia 8 tahun itu. Namun, belum selesai ia menjelaskan dan berkali-kali itu pula setiap kali ia berbicara terganggu oleh suara handphonenya yang terus berbunyi nyaring mengalahkan suara jangkrik.

    “Sayang.. Tidur ya, sudah malam!” Alika yang tak tahan melihat anaknya yang terus merengek sementara suaminya begitu acuh tak acuh kepada putri semata wayangnya.

    “Bawalah anakmu kekamar! Aku ini sedang pusing dan banyak kerjaan.” Ucapnya selesai menutup handphonenya. Entahlah panggilan telpon dari rekan bisnisnya atau siapa, yang jelas Alika sudah paham sekali tentang kebiasaan suaminya yang seperti itu saat dirumah. Hingga terkadang handphone ataupun pekerjaannya lebih berharga dari pada dia dan anaknya.


    Suaminya seperti bukan yang ia kenal dulu. Kehadiran dirinya dan Andin seakan tak dianggap. Bagaikan hiasan rumah dan mungkin hanyalah patung yang berjalan. Bram berubah, benar-benar berubah sejak ia mengalami perubahan hidupnya yang lebih baik hingga lupa akan keadaan keluarganya.

    Bram amat bersikap lembut, ramah dan selalu ada waktu untuk customernya, teman-temannya, sahabatnya namun tidak untuk keluarganya sendiri. “Peranmu mengapa berbeda?” sering kali Alika terisak sendiri jika merasa kesal melihat suaminya yang berubah drastis.

    ***
    “Mas, besok Andin ada acara disekolahnya. Bisakah mas Bram datang menghadiri acara sampai selesai. Kasiankan Andin sudah lama sekali mas gak pernah datang disetiap acara specialnya.” Perlahan Alika berbicara kepada Bram yang sedang asik jari-jemarinya memainkan handphone sementara tak sedikitpun ia menoleh kearah istrinya yang berwajah ayu itu.

    “Kan ada kamu, tidak perlulah aku ikut. Pekerjaanku lebih penting.” Jawab Bram terasa begitu menyakiti hati Alika. Sungguh ucapannya terasa menyayat-nyayat jantung hatinya lalu dilemparkan dijurang lalu hanyut dan dimakan ikan paus. Akh.. Sudah 2 tahun belakangan Bram benar-benar berubah.

    Berbicara dengan Bram bagi Alika ibratkan berbicara dengan selembar ilalang yang melambai-lambai ditiup angin lalu pada musim bunganya ia terbang begitu saja... dan sudahlah itu sudah terlalu sering dirasakan oleh Alika. Bram bukanlah pria yang ia kenal tempo dulu. Sosok hangat yang selalu ada untuknya. Uang adalah tujuan bagi Bram yang ia kira itu adalah kebahagiaan. Jika saja di dunia ini ada komnas istri-istri terabaikan mungkin Alika sudah melapor sejak lama. Tetapi, ya sudahlah. Alika hanya bisa bersabar dan meyakini jika bram akan berubah.

    Alika mungkin bisa bersabar memahami sikap suaminya yang dingin yang memiliki peran berbeda. Tetapi, sikap seperti itu sulit dimengerti dan diterima oleh Andin putrinya. Andin yang teramat masih kecil dan tak memahami apa-apa. Hanya perhatianlah yang Andin harapkan dari ayahnya tidak lebih dan tidak kurang.

    ***

    Andin hanya bisa tertunduk lesu saat acara disekolahnya usai. Dan semua orang sudah bergegas pergi berhamburan meninggalakan tempat itu, sementara Andin masih diam seribu bahasa duduk dikursi dan hanya menunduk menahan isak tangis dihatinya.

    "Kita pulang ya sayang!" perlahan Alika mencoba membujuk putrinya yang ia tahu hati anaknya yang masih polos pasti amat hancur ketika melihat teman-temannya didampingi keluarga yang utuh. Sementara dia..... hanya menduduklah yang bisa ia lakukan.

    Alika rasanya ingin marah kepada Bram, tetapi apalah daya. Ia sedih melihat Andin hanya tertunduk hingga 30 menit tanpa suara sementara suasana ruangan semakin sepi. Alika sudah kehabisan cara untuk membujuk anaknya hingga suatu pertanyaan pertama muncul dari bibir mungil Andin, "Ayah mengapa berperan berbeda?" matanya yang sayu menatap mata sang bunda yang nampak berkaca-kaca dan hatinya semakin hancur saat pertanyaan itu muncul dari anak berusia 8 tahun.

    *to be continued

    nantikan kisah selanjutnya ya!

    Cikarang, 16-6-2016

    Tumiesn








    Sepeninggalan Cinta #part 1



             "Sorot matanya tajam bak pisau yang siap memangsa siapa yang mendekat! alisnya tebal dan hitam mengalahkan lebatnya bulu domba di kampung nenekku!siapa dia?" bisik Alila lirih disaat menatap sebuah biodata karyawan yang ia bereskan dimeja barunya, yang tak lain kantor barunya ia bekerja sebagai seorang staff HRD disalah satu perusahaan.
           "Selamat pagi!" sebuah sapan yang membuat Alila hampir kejang-kejang dipagi hari. Seseorang yang sedang ia amati alis matanya yang lebat seperti bulu domba yang tak lain adalah Adlan salah seorang karyawan diperusahaan tersebut.
            "Pagi!" jawab Alila dengan wajah yang memang yang sedikit jutek, meskipun ia sebenarnya lembut seperti kue bolu kukus yang sering dibuat oleh mamanya.
             "Bu, saya mau mengajukan cuti!" dengan senyum tipis ia menyodorkan selembar cuti kepada Alila yang hampir kewalahan menahan geroginya.
             "Taruh saja disitu!" jawab Alila gadis berambut panjang yang tak lurus dan juga tak keriting dengan wajah yang sedikit ia jutek-jutekan meskipun sebenarnya ia ingin senyum lebar melebih lebarnya senyumnya mak lampir.
             Dengan wajah ramah Adlan menaruh pengajuan cuti diatas meja Alila dan memilih berlalu dari hadapan gadis itu. Adlan berlalu membuat hati Alila lega. Meskipun ia masih penasaran siapa Adlan?
            
    ***
          Yang cepat itu waktu, sementara yang lama adalah hati seorang jiwa yang tak pernah merasakan ketenangan hati. Kegelisahaan yang diciptakan dan rasa syukur yang sering dilupakan. Hingga merasa waktu begitu lama berjalan, padahal ia begitu cepat berlalu.

          Tak terasa Alila bekerja diperusahaan tersebut sudah hampir satu tahun dan dibulan desember yang tinggal menghitung hari adalah hari jadinya.  Dimana usianya yang semakin hari semakin bertambah.
    Alila yang begitu dekat dan akrab dengan seluruh karyawan, meskipun sebelumnya ia adalah seorang gadis yang jutek dan bisa dikatakan embahnya cuek ala metropolitan.
    Namun, sikapnya mendadak berubah. Rambutnya yang sebelumnya yang selalu terurai panjang yang tak lurus dan tak kriting kini tertutup oleh sebuah hijab yang rapi.
           Melalui sebuah proses Alila berubah, bukan berubah menjadi power ranger atau mak lampir yang tertawa lebar. Tetapi berubah semakin anggun.
    "Lalu siapa yang berhasil merubahnya?" sebuah tanda tanya yang amat besar dari sekelilingnya yang tanpa ia sadari begitu memperhatikan sosok Alila.

    *to be continued

    nantikan kisah selanjutnya ya!

    Tumiesn
    Cikarang, 7-1-2016






    Selamat untuk bulanmu #part 3




                 "Selamat pagi Indonesia dibulan Desember!" ucapku seraya membuka jendela kamar. Pagi yang sejuk namun tak dapat kurasakan utuhnya embun pagi ini.
    Ku lihat lagi undangan biru yang masih kuletakan diatas laptop, "Hmmmm! aku harus bagaimana?"

             Ku tatap jauh pandanganku kelangit pagi, kuamati beberapa kupu-kupu yang terbang diluar rumah. Entahlah mereka terbang sekedar untuk menghiburku atau sengaja meledekku yang sedang kalut.
    Kalut ku akui! bagaimana tidak, kak Afar beberapa jam lagi akan menikah.  Bukan dengan Nindi tetapi dengan Dinda.

            Seandainya hari itu aku tidak pernah pergi!
    Seandainya aku tidak membiarkan berlalu,
    Dan seandainya aku mengakui jika ia yang ku mau kepada semua orang.
    Mungkin tidak akan seperti ini. Penyesalanku tiada berarti lagi.

             "Nindi kamu kok belum siap-siap! acara sebentar lagi loh! jangan sampai telat ya! mama tunggu dibawah." mama membangunkanku dari lamunanku.
    Mama benar-benar tidak mengerti bagaimana dengan perasaanku saat ini.

               "Datang? tidak? datang? tidak?" aku benar-benar seperti orang plimplan sambil menghitung kancing dibajuku, antara datang atau tidak! selama 1 jam.

            "Ya ampun Nindi! sudah satu jam mama tunggu kamu dibawah dari tadi, malah masih bengong disitu. Apa sih yang kamu pikirkan? Kita harus datang, mama gak enak sama jeng cici kalau kita tidak hadir." ucap mama tanpa mengerti perasaanku.
          
            "Mama benar-benar tidak mengerti." dalam hatiku bergejolak. Agrhhh... jika saja aku bisa lari mungkin aku akan lari sejauh-jauhnya. Apa kata dunia!
    "Iya ma, tunggu 10 menit lagi ya!" ucapku lesu sambil beranjak kekamar mandi.

            Perjalananku kerumah pengantin hanya ditempuh selama 1 jam  lamanya. Ini adalah perjalananku yang sangat tidak menyenangkan. Haruskah aku berlapang dada? atau menangis darah?

    Janur kuning melambai-lambai ria menyambut kedatangan para tamu undangan, termasuk aku. Suara penghulu terdengar. Akad segera dimulai.
    Dadaku sakit, langkahku lunglai! rasanya tubuhku ingin jatuh ditempat. Namun aku harus kuat, karena aku harus menghargai mama dan papa. Perlahan ku langkahkan kaki bersama menuju rumah mempelai wanita.
      
                       "Sah! sah!" suara para saksi akad pernikahan itu berucap antusias, bahagia dan suasana ruangan begitu ceria. Aku mencoba tersenyum menatapnya dari sudut ruangan.
    "Kak Afar!" air mataku tidak dapat dibendung, entah mengapa ia justru tumpah disaat aku mencoba kuat!

            "Nindi sayang!" teh cici teman akrab mama menyapaku lembut seperti biasanya.
    "Kamu baik-baik saja?"ia menatap mataku curiga yang berlinang air mata.

             "Aku baik-baik saja teh, hehehe." ucapku menghibur diri. Aku berusaha tenang dan berharap ia tidak curiga dengan apa yang aku rasa.

           "Matamu kenapa merah?" ia masih belum percaya dan seperti ingin mengukur kedalaman mataku yang memerah.
     
             "Diperjalanan tadi kena debu teh." jawabku singkat, aku berbohong lagi!
    Tapi kebohongan menutupi rasa ini rasanya sakit Tuhan, lebih sakit.
    Salahku...

               "Ya sudah teh cici mau menyapa tamu yang lain ya." ujarnya sambil menunjuk arah tamu undangan yang lain, dan berlalu dari hadapanku.

               Tubuhku sangat lemas Tuhan. Langkahku terasa lunglai. Andaikan aku punya pintu ajaib
    Doremon, aku ingin pergi dari tempat ini. Dan memilih pergi ketempat masa depan, dari pada aku harus ada disini dimana kusaksikan ia masa lalu ku yang salahku tak pernah mengakuinya jika ia berarti bagi hidupku.

               "Nindi! ayo beri selamat kepada kak Afar!" mama mengejutkanku, ia meraih lenganku dan mengajakku berjalan menuju kepelaminan. Dimana kedua mataku ini kusaksikan sepasang pengantin yang amat-amat serasi. Dan seandainya wanita itu aku.

                "Selamat ya kak!" ucapku terbata-bata. Mataku memerah, aku mencoba menahan air mataku. Tetapi aku tidak berhasil menahannya, ia tumpah.
          
                 "Maksih de!" jawabnya menatap ku tajam. Dan entahlah aku tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Entah bahagiakah ia atau justru merasa bersalah. Aku berusaha menyeka air mataku dan melengkungkan senyum tipisku.
    Tuhan! bantu aku berlari! berlari dari kenyataan.

                Aku memeluk erat Dinda yang kini menjadi pendamping pilihan kak Afar. Aku memeluknya sebagai tanda selamat, meskipun hatiku! perih.

               Aku tidak kuat membiarkan tubuhku berlama-lama di tempat ini. Aku memilih berlalu.
    Dengan seribu alasan kukatakan kepada mama aku harus pergi dari tempat acara. Aku memilih pulang sendiri.

    Aku menyesal,
    Aku membiarkan hatiku jatuh hati
    Aku lebih menyesal,
    Aku tidak mengakui kehadirannya dihidupku yang sebenarnya kubutuhkan.

    Aku menyesal,
    Ku kira aku dan ia akan tetap baik-baik saja
    Ternyata caraku salah
    Maafkan aku

    Jika waktu dapat diulang!
    Tapi, sudahlah itu sudah terjadi,
    Biarkan aku pergi dan meninggalkan lambaian janur kuning saksi cintanya.
    Cinta Afar dengan Dinda, yang sebelumnya ku kira denganku.

    Selamat untuk bulanmu, maafkan aku yang pernah kau sebuat adik.
    Maafkan aku yang pernah menyia-nyiakanmu.
    Selamat untuk bulanmu di Desember ini,
    ini salahku bukan salahmu.
    Bahagia selalu dengan wanita yang ditakdirkan untukmu kak Afar.
    Biarkan aku berjalan melanjutkan hidupku selanjutnya.

                                                            *The End*

    Tumiesn








    Selamat untuk bulanmu #part 2






           Kubaca perlahan sebuah undangan biru muda. Sebuah undangan cantik, anggun dan rapih.
    Undangan yang tertuju untukku. "untuk : Dek Nindi"
    Sebuah nama panggilan manis itu tertulis jelas. Untukku darinya. Pria yang kukira akan bersanding dengan jiwa ini. Namun, Tuhan berkata lain. Dia bukanlah untukku, tetapi untuk wanita yang memang ditakdirkan untuknya. Aku bukanlah tulang rusuknya.
         
             Kubuka perlahan dan ku eja setiap huruf demi huruf agar tidak keliru. Seperti episode dimana kutaruh hati ini untuknya, hingga aku keliru atas penantian ini.
    "Afar dan Dinda" sebuah nama yang serasi tertulis pada undangan tersebut. Sepasang calon pengantin yang akan bertemu dengan bulannya desember nanti.

            Air mata ini perlahan tumpah ruah mendarat dipipi. Sesak itu yang kurasa. Karena baru 1 minggu saja diri ini sembuh dari sakit. Tetapi lebih sakit hati ini. AKu mencoba ikhlas, namun hatiku terasa perih seperti luka bakar yang tersiram air laut. Perih bukan sekedar perih tapi sakit Tuhan.

            Berkali-kali aku mencoba membaca surat undangan biru tersebut, ku kira akan ada yang berubah dari tulisan itu. Tetapi tidak, tetap utuh dan sama. Hingga ku sadari malam semakin pekat. Sementara aku yang masih duduk disebuah cafe untuk sekedar minum segelas kopi hangat tetap saja tidak menghangatkan hati.

    Kutarik nafas panjang, mencoba tersenyum namun aku gagal lagi setiap kulihat undangan berwarna biru itu.

           "Assalamualaikum sayang sudah terima undangankan? Teh Cici berharap kamu datang ya."
    Sebuah pesan masuk keponselku.

    "Teh cici!" ucapku lirih. Ia memang tidak pernah tahu jika aku dan adik iparnya pernah merancang sebuah hubungan yang serius. Ia memang tidak pernah tahu jika 5 tahun rasa itu tetap ada. Dan kini hanya berlalu.

            "Waalaikumsalam teh, Insya Allah." jawabku singkat. Dan kemudian ponselpun dinonaktifkan. Aku sendiri memilih berlalu meninggalkan cafe tersebut dan secangkir kopi yang masih utuh.

        "Ini salahku!" sebuah penyesalan terus menghakimi keadaan. Diri ini yang salah, memilih duniaku dan meninggalkan semuanya. Dalam diam kukira aku dan ia akan baik-baik saja.
    Dalam kesibukan dunia masing-masing kukira aku dan dia akan tetap bertahan.
    Ku katakan belum siap, kukira ia tetap menunggu.
    Ku bilang aku sedang meraih mimpi, kukira ia mengerti.
    Tetapi, ia memutuskan memilih mencari tulang rusuknya yang sesungguhnya.
    Aku menyesal Tuhan!
     
             Salahku, bukan salahnya. Tetapi salahku sibuk dengan duniaku, diam dengan caraku.
    Dan kini aku hanya bisa tersenyum tipis menatap undangan biru.

    Ku coba menghela nafas dan menyadarkan diri ini bahwa kak Afar telah bahagia.
    Waktu tidak pernah dapat diulang. Ini salahku, dan entahlah diri ini dapat hadir atau tidak.

            "Hey Nindi!" sebuah suara menyadarkanku dari lamunan saat kaki ini berjalan ditrotoar, dibawah lampu tidak terang dan tidak gelap. Entahlah itu lampu apa, atau hanya hatiku saja yang sedang mendung.

            "Fatir!" kumenoleh kearah sosok pria itu yang tak lain adalah teman kecil.
    Dengan senyum sederhananya ia menghampiri. Entah memakai media apa ia tahu tempat persembunyianku yang sedang ingin lari dari kenyataan. Sungguh terlalu dia berhasil menjumpaiku yang sedang ingin menyendiri.
     
         "Kamu kenapa jalan? kamukan baru sembuh sakit? kok sendiri? dari kemarin kemana kok menghilang? aku cari kerumah, mamamu tidak tahu? ada apa sih? penyakit menyendirimu jangan kumat nanti kamu diculik loh sama spongebob!" ucapnya tak ada spasi.

         "Aku sedang menikmati hidup. Hanya ingin jalan kaki sampai rumah. gak akan ada yang berani nyulik. Dan pliss jangan ganggu, Tir. Go!"

        "Galak banget Nin! gak seperti biasanaya?" Gerutunya.
    "Itu undangan siapa?" ia masih saja kepo. Dan itu benar-benar membuatku "Agrrrr! benar-benar ingin lari dari kenyataan."

         "Dari ka Afar!" jawabku sok tegar. Agar aku terlihat baik-baik saja.

    "Apa? serius?" ia terkejut. Meskipun ia yang sudah di anggap sebagai sahabat tetapi ku tidak pernah
    bercerita atas berakhirnya hubungan kami beberapa bulan yang lalu.
    Hingga akhirnya sebuah undangan biru ada ditangan ini.
    Bukan Afar dengan Nindi, tetapi Afar & Dinda.

    *to be continued
    nantikan kisah selanjutnya ya!


    Tumiesn