Perpisahan




Kita tidak bisa menjeda pertemuan atau semaunya ingin selalu bersama tak mau dipisahkan, sebab dunia nyatanya sementara.

Setiap yang terjadi pada kita, adalah bentuk cinta dan nikmat yang Allah beri, disiapkan khusus untuk kita. Entah itu bahagia atau bahkan lara. Tentang senang, tawa, ceria, sedih, pahit, kecewa dan macam-macam tawaran warna pada perjalanannya.

Setiap takdir antara manusia yang satu dengan yang lainnya pun berbeda-beda, tidak sama. Mungkin inilah seninya.

Bicara soal pertemuan, kebersamaan, kenyamanan, ketenangan, kegembiraan merupakan hal yang menyenangkan. Misal saja, tentang perkumpulan keluarga besar. Tentang pasangan, anak, orang tua, kakek, nenek, keponakan, sepupu, paman, uwa, dan sebagainya merupakan komponen-komponen penting yang menjadi ladang semangat bagi setiap orang. Tatkala tengah berbaur, tumpah ruah kebahagiaan dan rasanya tak mau cepat berlalu.

Setiap potret kebersamaan biasanya menjadi bukti dan meninggalkan jejak hitam putih untuk cerita esok agar tak usang. Gelak tawa, senyum merona menjadi penawar untuk obat rindu di waktu mendatang. Apa kamu juga merasakan begitu takala tengah berada diantara kumpulan keluarga kecilmu atau besar?
Tapi, pertanyaannya apa kita sudah siap akan kata perpisahan datang pada lembaran hidup kita?
Yah, tentang perpisahan pada persinggahan di dunia ini. Entah kita duluan yang akan pamit meninggalkan mereka, atau diantara mereka yang akan berpulang dulu, menghadap sang pencipta.

Sebuah keadaan yang tak pernah bisa kita hindari tatkala Allah yang punya kuasa menetapkan takdir itu pada kita.

Perpisahan memang memilukan, sebab berpisah untuk selamanya dengan berakhirnya kehidupan dunia itu membuat hati tak kuasa, air mata luruh menjadi saksi kehilangan. Kita yang ditinggal hanya mampu melapangkan hati dan terus mendo'akan untuk yang berpulang duluan.
Sebab, bersibuk ria pada gemuruh perih, jeritan tangis tak akan menjadi solusi bukan cara baik pula berlarut-larut tanpa do'a yang di langitkan.

Do'akan orang-orang yang sudah berpisah dari kita dan tak terlihat lagi tawanya, sabarnya, sikapnya, senyumnya. Semoga tenang, damai dan diberi tempat terbaik disisi Allah. Dan tugas kita yang masih dipercaya untuk melanjutkan hidup, bernapas dengan apik tanpa harus kita bayar. Banyaklah bersyukur, terus belajar memperbaiki diri, dekati Allah dan cari jalan terang agar kelak rumah terakhir (perut bumi) kita pasti berharap terang.

Allah yang terbaik, yang punya kuasa. Dan kita mahluknya teruslah berbaik sangka. Memaknai perpisahan, bahwa setiap dari kita dalam ruang pertemuan pasti akan ada waktu perpiasahan. Semangat untuk kita yang masih diberi banyak kesempatan.

Cikarang, 8-5-2019

-Tumiesn-




    Kamu itu Berkualitas!




    Kamu mungkin pernah mengayuhkan sepeda begitu kencang hanya untuk mengejar seseorang. Mencoba mengiringinya, tapi tetap saja tertinggal. Dia yang merasa bahwa kamu tak pantas membersamainya, hingga dia melesat begitu jauh, hatimu terluka.

    Terkadang perasaan soal cinta memang begitu, rumit. Yah, rumit untuk pertemuan-pertemuan masa lalu yang memang bukan takdir. Percayalah jika waktu tiba dan berpihak padamu, pasti tak akan serumit seperti yang sudah-sudah.

    Tak dipilih olehnya bukan berarti kamu buruk. Bukan pula karena dia terlalu hebat. Sebab, dia tak memiliki jatah jodoh yang begitu berkualitas seperti kamu. Dan kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang tepat. Yah, teman hidupmu kelak yang nanti ketika dengannya kamu akan semakin berkualitas.

    Jangan bersedih bila kamu pernah gagal, meski kakimu sudah sulit rasanya mengayuhkan sepedam.Teruslah berjalan meski pincang-pincang karena terluka, sembuhkanlah. Jangan biarkan pertemuanmu dengan orang yang tepat masih menyimpan luka lama.

    Sibuklah menjadi sosok yang kuat, tak mudah dihancurkan hanya persoalan patah hati dengan seseorang yang mungkin saja tak selaras, tak sefrekuensi.


    Cikarang, 23-4-2019
    -Tumiesn-

    #tumiesn #pesankebaikan #yukmoveon #hidup #cinta #kaudandia #takdir #jalanjodoh #prosa




    Untuk Seorang Teman di Masa Depan





    Untuk seseorang yang ku tulis di blog kali ini, tapi aku belum tahu siapa namamu, alamat hingga bagaimana segala bentuk kelebihan dan kekuranganmu. Hari ini aku ingin menuliskan, tentang hidupku dan nanti bagaimana pun caranya biar saja Allah saja yang mengatur caranya kamu akan membaca tulisan ini, entah sebelum kita bertemu, sebelum menikah atau setelah pernikahan terlaksana.

    Dari aku, yang ingin menjadi teman di masa depanmu, dimana surga begitu dekat dan jalan yang kita tempuh untuk pengharapan surga kita miliki, meski kita hina banyak dosanya, tapi alangkah pedih siksa neraka bukan. Maka dengan ini aku yang kelak akan menjadi temanmu, ingin sekali bahwa engkau siap mengajakku mencari jalan menuju surga Allah.

    Ini surat dari aku untuk kamu.

    __________

    Tahun 2019, sebuah buku telah ku tulis, sebuah kado saat pertemuan kita nanti, judul buku itu adalah "Menunggumu dengan Puisi" , buku yang ku tulis di bulan Februari 2019 dan selesai di 10 April 2019. Saat ini sedang proses penerbit (indie).

    Pada halaman blog kali ini aku bukan mau membahas isi buku itu, karena terlalu panjang. Mungkin kamu akan tahu jelas bagaimana aku menulis tentangmu setelah membaca tiap halaman pada buku tersebut, buku ke 7 Tumiesn.

    Dear kamu...
    Pada halaman blog ini aku ingin bercerita kepadamu tentang panjangnya waktu yang ku nanti tentangmu. Hingga kadang hampir saja aku lelah, putus asa. Namun, saat lelah ini mendera, aku sadar kembali bahwa perjalanan hidup masih panjang. Dan dalam penantian ini mungkin aku di minta Allah agar terus memperbaiki diri, menjadi manusia yang berkualitas, belajar sabar agar nanti menjadi hadiah buat kamu.

    Kamu tahu tidak? pada setiap perjalanan yang ku lalui terkadang seorang diri, tanpa teman. Sebab, tak semua teman-teman memahami kesukaanku, perjalanan yang ku cari, makanan dan sebagainya. Yah, aku melewati itu. Mencari dan terus mencari apa yang ku mau. Tapi nanti saat bertemu denganmu dan kita menjadi teman yang searah dalam membangun rumah dan menyusun tangga, aku ingin kamu menjadi benar-benar teman. Kamu pahami aku, aku akan lebih memahamimu. Akh.. indah sekali.

    Di kota ku saat ini tinggal, tidak mudah melewatinya. Aku harus menikmati pagi, siang,malam, hujan, panas dan segala urusan kehidupan. Kejar-kejaran pekerjaan, deadline menulis dalam berkarya, dan masih banyak lagi. Pada kota ini kadang aku berpikir, apakah kamu adalah teman yang juga dari kota ini? atau bukan? atau kamu berbeda kota? atau justru berbeda pulau?

    Akh.. tapi aku yakin, dimana pun dan sejauh apa pun jarak yang tengah kita lewati, jika sudah takdir pasti bertemu bukan? akan ada rencana dan sekenario yang semoga indah dari Allah untuk kita.

    ****

    Kamu apa kabar di sana? bagaimana dengan Ibu, ayah, atau jika punya adik atau kakak, bagaimana kabar mereka semua? Semoga saja, saat kita bersua dan wajahku pun bertemu mereka, keluargamu menerimaku. Sama denganmu nanti tatkala tanganku terbuka lebar mengizinkanmu berkenalan dengan Ibu, kakak-kakak, adik dan keluarga besarku. Sebab, saat dua orang menjadi satu (pernikahan) bukan hanya tentang kita saja bukan? tapi tentang kita semua, yah keluarga kita. Dua keluarga menjadi satu.

    Kadang aku suka terdiam dan senyum sendiri, senyum tipis. Tatkala teman-teman berkabar akan menikah atau melihat sebaya sudah pada menikah. Apa lagi jika banyak suara-suara yang bertanya, "kapan kamu menikah?"
    Tahu tidak? kala itu aku berjuang menahan segalanya, tersenyum seadaanya, meski kadang tanyaku sering bermunculan lagi, "Aku kapan bisa bahagia seperti mereka?" yah, bertemu denganmu. Kamu yang dengan gagah mengenalkan diri, bahwa kamu adalah teman yang akan menjagaku, dan mempercayakan diri ini kita akan menjadi teman di masa depan, teman sehidup sesurga.

    ****

    Hidup merantau mengajarkan aku lho tentang mandiri, kedewasaan, mencari peluang, mencari jati diri, dan melihat dunia lebih luas. Di sini aku banyak belajar, bagaimana menata diri, mengolah rasa, belajar sabar, ikhlas dan tulus berbagi. Namun, sepertinya semua itu belum lengkap, ada satu yang masih aku cari. Yah, sesuatu di masa depanku. Tentang orang asing yang pertama kali akan menggenggam tanganku hingga selamanya. Aku banyak belajar dan ingin sekali belajar bersamamu, kamu menuntunku. Mengajakku agar semakin ta'at.

    Di kota ini ataupun tatkala aku tengah melakukan perjalanan seorang diri, aku masih betah memotret langit. Tahu tidak kenapa?
    Alasanku sederhana, sebab aku masih betah menunggumu pada puisi selanjutnya. Yah, penjelasan puisi ada dibuku yang ku tulis.
    Kita berada dibawah atap langit yang sama bukan? hanya saja ada jarak yang mungkin mungkin belasan kilometer, puluhan kilometer, ratusan kilometer atau ribuan kilometer. Kita hanya sedang dan tengah berusaha kan?

    Cinta memang begitu, butuh perjuangan untuk kita meraihnya. sabar menantinya dan tulus saat bersama. Semoga kamu di sana juga tengah berjuang, kamu menuju ku, aku menyambutmu.

    Bagaimana, sampai sini kamu bisa merasakan?
    Perjuangan soal kita bukan cinta-cintaan saja, tapi bagaimana tentang rasa-rasa yang dimiliki dalam penyatuan yang akan ditumbuhkan untuk generasi mendatang. Aku harap dan do'a ku kelak dari kita akan lahir generasi yang mencintai Islam, agama ataupun kepercayaa kita. Dan juga anak-anak yang begitu giat meneruskan visi misi kita.

    Untuk kamu seseorang di masa depan, teruslah semangat berjuang. Aku di sini menunggumu.
    Semoga niat baik yang kita miliki, Allah mudahkan dan limpahkan rahmatnya. Jangan bosan dalam perjuangan. Bila aku dan kamu ingin menjadi kita, maka teruslah berjalan dan semoga jalan yang kita pilih merupakan jalan yang Allah mau, yang Allah suka.
    Salam pertemuan di episode selanjutnya.

    Cikarang, 20-4-2019

    -Tumiesn-
    (Seseorang yang akan menjadi teman hidupmu)








    Cemburu Pada Sosok Yang Tak Memilihmu




    Kau jatuh cinta padanya. Entah baru hitungan jam, hari, minggu, bulan atau tahun. Tak bisa dipungkiri, perasaan itu begitu membuncah.

    Setiap dekat dengannya kau tersenyum, bahagia. Namun, seketika hatimu begitu terluka saat dia berbicara tentang orang yang katanya telah dipilihnya.

    Hatimu bagaikan terhempas dari tingginya langit menuju dataran terendah di bumi, sakit tapi tak berdarah. Begitulah, sebab kau cemburu pada sosok yang tak memilihmu. Dia yang kerap sibuk dan asik pada perasaannya sendiri, tak peka bahwa lumpuran luka tengah menenggelamkanmu secara perlahan.

    Sabar ya.

    Cikarang, 20-4-2019

    -Tumiesn-
    #tumiesn #prosa #cinta #baper